Cerita Chef yang ogah nikah dan Dokter yang juga ogah menikah.
Arletta Peterson, cucu-cicit-buyut chef terkenal dari keluarga Reeves McCloud itu belum kepikiran menikah di usianya yang menginjak 26 tahun. Chef cantik itu sangat menikmati hidup lajangnya. Hingga di bulan Desember, dia melayani pesta natal di sebuah rumah sakit di London Inggris . Disana Arletta bertemu dengan Dokter Jeff Clarke yang 12 tahun lebih tua darinya. Gara-gara sebuah mistletoe dan kecerobohan Arletta, dokter Jeff mencuri dua kali ciuman dari chef cantik itu. Pertemuan kacau mereka, membuat dokter tampan itu jatuh cinta pada Arletta. Bagaimana cara Dokter Jeff bisa meyakinkan chef cantik itu kalau mereka memang berjodoh?
Generasi ke delapan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Arletta di Australia
"Boleh aku tanya sesuatu?" Jeff menoleh ke Arletta. Mereka sedang berjalan-jalan sambil ke arah parkiran mobil.
"Apa?"
"Apa kamu benar-benar ingin mengajak Diane ke restauran kamu?"
Arletta tersenyum. "Tentu saja. Aku selalu suka anak yang antuasias soal memasak. Dan anak-anak down syndrome adalah anak jujur. Mereka tidak bisa berbohong, Jeff."
"Apakah kamu ada pengalaman pribadi?" Jeff menatap lembut ke Arletta.
"Saat di Sydney. Aku baru saja selesai syuting untuk season satu aku bergabung. Aku pikir, aku liburan dulu deh di Sydney sebelum ke keluarga aku di Kingaroy Queensland. Aku punya keluarga disana yang menjadi petani, peternak dan sekarang menjadi produsen daging potong halal di Australia. Mereka bahkan sudah mengekspor banyak buah-buahan dan sayuran keluar Australia terutama ke Indonesia, Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya," jawab Arletta.
"Kamu ada keluarga di Aussie?"
Arletta tertawa kecil. "Sejujurnya, keluarga aku tersebar di seluruh benua. Jadi yah, begitulah. Kalau kami semua kumpul, sudah seperti mini PBB."
Jeff ikut tertawa. "Tidak terbayangkan banyaknya bahasa yang kalian pakai dan ucapkan disana."
Arletta tergelak. "Jangan kamu bayangkan! Bahkan yang tinggal di Indonesia, terkadang keluar bahasa daerahnya. Makanya kami wajib bisa bahasa Indonesia meskipun kami bisa bahasa yang lain. Garis darah kami memang asal muasalnya dari Jawa juga."
"Lalu ... bagaimana dengan cerita di Sydney?" tanya Jeff.
"Jadi ...."
***
Sydney, Tiga Tahun Lalu
Di sebuah sore yang dingin di Sydney, Arletta baru saja keluar dari sebuah pusat perbelanjaan. Angin musim gugur berhembus lembut, membawa daun-daun kering berguguran di trotoar. Ia berjalan santai, berniat membeli kopi sebelum pulang, ketika suara gaduh di sebuah taman kecil menarik perhatiannya.
Beberapa anak remaja tampak mengerumuni seorang anak laki-laki. Mereka tertawa keras, mengejek, bahkan ada yang mendorong bahunya.
“Masakannya gosong lagi, ya? Hahaha!”
“Ngapain sih kamu sok jadi chef?”
Arletta mengernyit. Tanpa berpikir panjang, ia mendekat.
“Hey! Cukup!” suaranya tegas, membuat anak-anak itu terdiam.
Mereka saling pandang, lalu perlahan bubar dengan wajah kesal. Anak laki-laki itu tertinggal sendirian, menunduk, tangannya gemetar memegang sebuah kotak makan.
Arletta mendekat perlahan. “Kamu nggak apa-apa?”
Anak itu mengangkat wajahnya. Matanya jernih, tapi penuh ketakutan. Dia mengangguk kecil.
“Aku … aku baik-baik saja,” katanya terbata.
Arletta duduk di bangku taman di sampingnya. “Nama kamu siapa?”
“Ethan.”
“Arletta,” jawabnya sambil tersenyum hangat. “Boleh aku lihat yang kamu pegang?”
Ethan ragu sejenak, lalu menyerahkan kotak makan itu. Arletta membukanya dan langsung terkejut.
Di dalamnya ada makanan yang tertata rapi: pasta dengan saus krim, dihias daun parsley kecil, bahkan plating-nya terlihat seperti dari restoran mahal.
“Kamu yang bikin ini?” tanya Arletta tak percaya.
Ethan mengangguk pelan. “Aku suka masak … tapi mereka bilang aku aneh.”
Arletta menatapnya dalam-dalam. Ia langsung paham. Ethan adalah anak dengan Down Syndrome. Tapi yang lebih jelas baginya, anak ini punya bakat luar biasa.
“Ethan,” kata Arletta lembut, “ini bukan aneh. Ini luar biasa.”
Mata biru Ethan membesar, seperti baru pertama kali mendengar pujian itu.
“Mau coba sesuatu?” lanjut Arletta.
Ethan mengangguk ragu.
“Aku punya restoran keluarga. Namanya RR’S Meals. Gimana kalau kamu ikut aku ke sana besok? Kita masak bareng.”
Ethan terdiam. “Aku… boleh?”
“Boleh banget.”
***
Keesokan harinya, Ethan datang dengan gugup. Tangannya menggenggam erat tas kecil berisi alat masaknya. Arletta menyambutnya di depan restoran dengan senyum lebar.
Dapur RR’S Meals cukup sibuk, tapi Arletta sudah memberi tahu stafnya.
“Ini Ethan. Dia chef baru kita,” katanya santai.
Beberapa staf sempat terkejut, tapi Arletta memberi tatapan yakin. Perlahan, mereka mulai menerima.
Ethan berdiri di dapur, awalnya kikuk. Namun begitu ia mulai memotong bahan, mencicipi saus, dan menyusun hidangan … semua berubah.
Gerakannya tenang. Fokus. Presisi.
Seorang koki senior bahkan berbisik, “Dia … jago banget.”
Hari itu, Ethan membuat satu menu spesial: creamy garlic pasta versinya sendiri.
Saat hidangan itu disajikan ke pelanggan, hasilnya di luar dugaan, semua menyukainya.
“Ini enak banget!”
“Chef baru kalian siapa?”
Arletta tersenyum bangga sambil melirik Ethan yang berdiri di dapur, matanya berbinar.
Untuk pertama kalinya, Ethan tidak merasa berbeda.
Dia merasa dibutuhkan. Dia bisa membuat orang lain bahagia dan Ethan merasa menjadi Santa Claus karena sudah membuat banyak orang senang.
***
Beberapa minggu kemudian, menu “Ethan’s Special Pasta” resmi masuk ke dalam daftar RR’S Meals.
Dan setiap kali ada pelanggan yang memujinya, Ethan akan tersenyum lebar, senyum yang dulu hampir hilang karena ejekan orang lain.
Arletta berdiri di dekatnya suatu hari dan berkata pelan,
“Kamu lihat? Dunia nggak salah. Cuma kadang orangnya aja yang belum tahu cara melihat.”
Ethan mengangguk. “Terima kasih, Kak Arletta.”
Arletta tersenyum hangat. “Bukan aku yang hebat, Ethan. Kamu yang luar biasa.”
***
Present Day
"Dan Ethan masih bekerja di restauran milikmu?" tanya Jeff.
"Tidak."
"Tidak?" Jeff menaikkan sebelah alisnya. "Tapi, saus ciptaannya ada di menu kalian."
Arletta membalikkan tubuhnya menatap sendu ke arah danau. "Resep Ethan masih dan tetap ada di menu kami yang di Sydney tapi Ethan sudah tidak bisa membuatnya lagi."
"Kenapa?" tanya Jeff sambil mengikuti Arletta yang duduk di pagar pendek dekat parkiran mobil.
"Karena ...." Arletta menghapus air matanya yang mengalir dari mata hazelnya. "Seorang pemabuk merenggut nyawanya saat Ethan hendak pulang ke rumah."
"Innalilahi ...." Jeff langsung memeluk Arletta. "I'm so sorry, Letta."
"Ethan baru dua puluh tahun Jeff! Dia sangat senang bekerja di restauran aku!" isak Arletta yang tanpa sadar memeluk tubuh pria itu.
"Ya Allah, Letta ...."
"Aku benar-benar marah Jeff! Ethan tewas, si pemabuk itu hanya luka ringan! Luka ringan! Kenapa dunia ini tidak adil Jeff!" tangis Arletta makin kencang di dada Jeff. Pria itu tidak perduli kemejanya basah dari air mata Arletta.
"Jika kamu bertanya padaku kenapa dunia tidak adil, aku tidak bisa menjawabnya, Letta. Karena aku pernah berada di posisi kamu," jawab Jeff. "Kita hanya bisa menjalaninya ...."
Arletta masih menangis di pelukan Jeff.
"Letta, kamu tidak melakukan sesuatu kan?" tanya Jeff cemas.
Arletta melepaskan pelukannya dan menatap Jeff. Matanya yang basah, tampak berkilat dingin. "Siapa bilang aku tidak melakukan sesuatu?"
***
Yuhuuuu up malam Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
tapi belum mau menikah, beda ya ☺️☺️
Jeff kudu extra semangat menyakinkan cheff yg keras kepala ny
kamu harus berusaha lebih keras lagi Jeff