Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan berliku & Pendaratan kembali
Kini, jiwa Ayyara yang berusia 17 tahun telah sepenuhnya mengambil kendali. Ia kembali menjadi gadis ambisius yang penuh perhitungan. Hasratnya untuk meraih hidup layak masih berkobar hebat, persis seperti sebelum kesadaran dewasanya "melompat".
Hebatnya, Ayyara beradaptasi dengan kecepatan yang mencengangkan. Ini juga dikarenakan, sosok "dirinya yang berjiwa 34 tahun" telah menyiapkan segalanya dengan sangat rapi, mulai dari catatan harian mendetail hingga panduan rencana masa depan yang sistematis".
Waktu pun melaju tanpa kompromi.
Bian, si adik jenius, membuktikan ucapannya dengan menyabet beasiswa dan menyusul kakaknya ke kota. Tak lama berselang, Rain menyelesaikan studinya lebih awal. Setahun kemudian, tibalah giliran Ayyara.
Di hari wisuda, Kedua adiknya yaitu Bian, Cinta dan kedua orang tua Ayyara berdiri dengan dada membusung bangga. Ayyara menyandang gelar sarjana di usia 22 tahun. Semangat belajar dan kerjanya menjadikan ia pejuang yang gigih di tengah kerasnya kompetisi.
Setiap malam sebelum memejamkan mata, ada satu ritual yang tak pernah ia lewatkan.
Ayyara akan duduk di tepi ranjang, menelaah jurnal-jurnal harian untuk mengembalikan memori yang tak kunjung datang dan rencana masa depan yang tersusun rapi di dalam tiap lembar halaman.
Ia membacanya dengan dahi berkerut, mencoba meraba sosok "dirinya" yang lain—si penulis misterius yang memberikan petunjuk hidup namun tak pernah bisa ia ingat sama sekali.
Tak ada hari untuk bersantai, Ayyara bergegas, dengan helaan napas panjang kini Fokusnya: mendapatkan pekerjaan purna waktu yang mapan. Ia mengikuti setiap inci panduan yang ditinggalkan "dirinya yang dewasa" dalam buku harian itu, sembari menyisipkan beberapa referensi baru yang ia temukan sendiri.
Beruntung, Ayyara tidak memulai dari titik nol. Kedisiplinannya selama bekerja paruh waktu menyisakan tabungan yang cukup untuk mulai menambal cicilan pertama pinjaman kuliah hingga tiga bulan ke depan. Ia memiliki sedikit napas untuk memilih sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional yang sesungguhnya.
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Rain telah lebih dulu melangkah. Ia sudah tenggelam dalam rutinitas kantor, membangun dinding tebal antara masa lalu dan masa kini. Antara dia dan Ayyara, komunikasi telah lama mati. Mereka seperti dua garis yang sempat bersinggungan karena sebuah insiden, lalu kembali menjauh menuju cakrawala masing-masing.
Perjalanan yang Berliku
Dunia kerja ternyata lebih kejam dari yang dibayangkan. Di tempat kerja pertamanya, Ayyara hanya bertahan beberapa bulan. Rasa keadilannya memberontak saat melihat jam kerja yang mencekik tanpa kompensasi lembur yang jelas.
Dua tahun terakhir menjadi masa petualangan yang melelahkan. Ia telah berpindah di tiga perusahaan berbeda. Di tempat terakhir, ia sebenarnya mulai merasa nyaman dan bertahan selama setahun, namun badai ekonomi membuat kontraknya tak diperpanjang karena perusahaan mengalami kemunduran.
Kini, di ambang usia 24 tahun, Ia kembali membuka buku harian panduannya. Matanya tertuju pada satu nama perusahaan yang tertulis sebagai "tujuan wajib" saat ia menginjak usia 25. Perusahaan itu masih rintisan beberapa tahun lalu, bahkan baru membuka lowongan secara umum setengah tahun belakangan. Tampak kurang meyakinkan bagi orang awam, namun ada dorongan insting yang kuat di sana.
Ayyara mendambakan stabilitas. Terlebih, sisa cicilan pinjaman mahasiswanya masih menggantung setahun lagi. Jika ia gagal melunasinya tepat waktu, bunga pinjaman umum akan mulai dihitung, sebuah risiko yang sangat dihindari oleh logikanya yang penuh perhitungan.
Di sisi lain kota, Rain menjalani hari-harinya dengan dinamika yang berbeda. Kehadiran Naila sebagai rekan kerja mulai menjadi warna yang terbiasa ia lihat setiap pagi. Meskipun percikan perasaan lama itu masih menyala di dada Rain, ada keraguan besar yang menahannya untuk melangkah lebih jauh. Ia belum berani mengajak Naila kembali merajut kasih; bayang-bayang alasan masa lalu yang belum tuntas masih menghantuinya.
Naila sendiri sering kali dibuat salah tingkah. Perhatian Rain terkadang terlalu terang-terangan untuk sekadar disebut sebagai rekan kerja. Ada rasa penasaran yang menggantung di antara mereka—sebuah bab yang belum benar-benar selesai, namun dipaksa berjalan dalam koridor profesionalisme kantor.
Tanpa mereka sadari, roda nasib terus berputar, membawa masing-masing karakter menuju persimpangan yang mungkin tidak pernah mereka duga sebelumnya.
Pendaratan Kembali dari Kereta Cepat!
Deru mesin bus pariwisata itu perlahan mereda, digantikan oleh suara deburan ombak yang samar dari kejauhan. Bus yang disewa perusahaan "Natural & Balance" (Natural Balance Corporation) akhirnya terparkir sempurna di halaman sebuah vila tepi pantai. Cahaya matahari sore yang keemasan menembus kaca jendela, menyinari wajah ku yang masih terlelap.
"Ra, bangun! Kita sudah sampai!" Maya, rekan barunya, mengguncang bahu ku dengan semangat. "Ayo turun, udaranya segar banget!"
Mata ku terbuka. Namun, ada yang berbeda.
Bukan lagi binar ambisius gadis 24 tahun yang penuh perhitungan yang terpancar di wajahku.
Kelopak mata ku terbuka dengan berat, membawa tatapan yang dalam, lelah, dan sarat akan beban pengalaman. Aku menarik napas panjang—napas yang terasa jauh lebih sesak daripada yang ku ingat.
aku tidak langsung turun. Ku terpaku menatap jemariku yang menggenggam erat tali tas. Ingatanku berputar liar, menyusun kembali kepingan realitas yang baru saja tumpang tindih.
Beberapa saat yang lalu, setidaknya dalam garis waktu kesadaran aku dan Rain sedang berada di dekade yang berbeda. kami telah berhasil mencapai tahun 2029, duduk bersisian di kursi gerbong kereta cepat yang futuristik, bersiap untuk kembali ke "rumah" yang seharusnya.
Namun, sistem Chronos yang kami tumpangi ternyata belum sesempurna hitungan di atas kertas. Saat mesin waktu itu mulai memicu lonjakan radiasi untuk melompati dimensi, sistem mendeteksi anomali. Energi yang dihasilkan terlalu masif dan mulai membahayakan penumpang kereta lain yang tidak terlibat.
Demi mencegah pembantaian massal akibat radiasi kuantum, sistem secara otomatis melakukan forced shutdown dan "memuntahkan" kesadaran subjeknya ke titik pendaratan terdekat yang stabil.
Bukan tahun 2029, bukan pula 2012. Kesadaran ku dan Rain "terlempar" dan mendarat di tahun 2019.
Di tahun ini, tubuh kami sudah lebih matang. Berbeda dengan pendaratan kasar di tahun 2012 yang menyebabkan pingsan berhari-hari akibat shock biologis, kali ini transisinya jauh lebih mulus. Seluruh sel tubuhnya seolah sudah mengenali frekuensi lonjakan waktu tersebut.
Tubuh ku di usia 24 tahun ini menerima kembali jiwa 34 tahunnya dengan sinkronisasi yang hampir instan.
"Ayyara? Kamu oke? Kok melamun?" Maya kembali bertanya, kali ini dengan nada khawatir yang lebih kentara.
Aku menoleh, menatap Maya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling interior bus yang dipenuhi karyawan senior dan baru. Aku teringat akan diari ku, catatan yang aku tulis sebagai panduan masa depan jika hal seperti ini terjadi.
Ternyata, "diriku yang muda" benar-benar patuh pada instruksi itu. Aku benar-benar melamar di perusahaan Natural & Balance.
"Iya, Mbak. Maaf, cuma sedikit pusing karena tertidur di jalan," jawab ku. Suaraku terdengar jauh lebih tenang dan berwibawa, kontras dengan kegugupan yang biasanya ku tunjukkan sebagai karyawan baru.
Aku berdiri, menyampirkan tas dan melangkah turun dari bus. Angin laut yang asin menyambutku seketika. Di antara kerumunan karyawan yang tertawa riuh menuju lobi vila, mata ku menyisir sekeliling dengan tajam. Aku tahu pasti, jika ia terdampar di sini, maka Rain pun pasti ada di suatu tempat di tahun 2019 ini.
Aku menyentuh saku celanaku, merasakan benda pipih di sana: ponsel. Aku harus segera memeriksa keadaan. Tahun 2019 seharusnya menjadi masa yang lebih stabil, namun bagiku, ini adalah awal dari perjuangan baru untuk memastikan kehidupan berjalan sesuai dengan alur yang tersimpan di kepalaku.
Note:
¹ Chronos: Nama sistem atau teknologi mesin waktu yang mengendalikan lompatan dimensi.
² Forced Shutdown: Penghentian sistem secara paksa untuk mencegah kegagalan fungsi atau bahaya radiasi.