Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembakaran Tulang dan Kebangkitan Lapis Kedua
Di dalam Lembah Miasma Kematian, waktu seolah berhenti. Kepulan kabut beracun berwarna hijau keunguan yang biasanya tenang kini berputar liar, membentuk pusaran tornado kecil dengan Lin Tian sebagai pusatnya.
Di dalam ceruk batu, tubuh Lin Tian memancarkan cahaya merah seterang besi cair yang baru diangkat dari tungku penempaan. Suhu di sekitarnya begitu ekstrem hingga lumut beracun dan bebatuan di bawahnya mengering, retak, lalu hancur menjadi abu.
"ARGH!"
Lin Tian menggigit bibirnya hingga berdarah, menahan raungan yang mengancam akan merobek tenggorokannya. Sensasi menelan tiga kelopak Teratai Api Berdarah tidak ada bedanya dengan menelan ribuan jarum api yang terus membesar di dalam perut. Energi elemen api yang murni dan buas itu berusaha membakar meridiannya dari dalam.
Namun, Seni Pemurnian Tulang Naga Astral tidak mengizinkan ada energi lain yang mendominasi tubuh ini.
Di kedalaman kesadarannya, siluet naga hitam raksasa itu membuka matanya sepenuhnya. Dengan satu auman yang menggetarkan jiwa, Qi ungu keemasan meluap layaknya lautan yang tumpah dari langit, menekan lahar energi api tersebut secara mutlak.
Pertempuran dua energi masif ini menjadikan tubuh Lin Tian sebagai medan perang.
Kulit Lin Tian melepuh, namun sedetik kemudian sel-selnya beregenerasi dengan kecepatan tak masuk akal. Luka menganga di pinggangnya akibat tombak Serigala Mata Satu mendesis keras; daging dan ototnya merajut diri secara paksa, membuang sel mati dan menggantinya dengan jaringan yang ribuan kali lebih alot. Kepadatan tulangnya meningkat, suaranya berderak nyaring layaknya baja yang ditempa godam dewa.
BOOM!
Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam perutnya. Belenggu tingkat tiga ranah Mortal hancur berkeping-keping.
Tingkat empat!
Namun, sisa energi dari Teratai Api Berdarah itu masih bergolak liar. Herbal yang seharusnya diperuntukkan bagi kultivator ranah tingkat delapan ini memiliki simpanan tenaga yang terlalu besar, bahkan untuk fondasi jurang maut milik Lin Tian.
"Belum cukup... Jika aku keluar sekarang, aku tidak akan bisa membantai mereka semua," geram Lin Tian, matanya terbuka, memancarkan kilatan api ungu.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sisa Bunga Teratai Api Berdarah dari kantong spasialnya dan menelan semuanya secara utuh!
WUSHH!
Pilar api imajiner meledak dari tubuh Lin Tian, menyapu bersih miasma di sekitarnya hingga menciptakan radius ruang kosong sejauh belasan meter. Darahnya mendidih, mengalirkan kekuatan purba yang mulai mengikis sifat kemanusiaannya dan menggantikannya dengan insting dominasi seekor naga dewa.
Tingkat empat awal... Tingkat empat menengah... Tingkat empat puncak...
BOOM!
Sebuah gelombang kejut kembali meledak. Seluruh pakaian atas Lin Tian hancur menjadi debu. Aura yang jauh lebih berat, padat, dan menekan memancar keluar, meratakan tanah berbatu di sekitarnya.
Ranah Mortal tingkat lima!
Lin Tian menghembuskan napas panjang. Asap putih keunguan keluar dari sela bibirnya, melelehkan batu kerikil di depannya. Ia perlahan membuka mata. Mata hitamnya kini memiliki lingkaran emas kemerahan di bagian pupilnya.
Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di dalam pembuluh darahnya terasa tidak terbatas. Jika sebelumnya Qi miliknya terasa seperti air raksa yang berat, kini Qi ungu keemasannya memiliki tepi api yang membakar. Fondasinya telah kokoh di tingkat lima, namun kapasitas energi dan kepadatan ototnya melampaui logika dunia kultivasi.
"Lapis baja dari Beruang Punggung Besi ditambah regenerasi dan daya ledak Teratai Api Berdarah," gumam Lin Tian, menatap tangannya dengan senyum buas yang perlahan mengembang. "Bahkan jika aku berdiri diam, Serigala Mata Satu tidak akan bisa menggores kulitku lagi."
Ia bangkit berdiri. Pakaian atasnya telah lenyap, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang proporsional dan tanpa cacat, memancarkan kilau tembaga yang samar. Tanda lahir naga hitam di dadanya kini tampak lebih nyata, seolah siap melompat keluar kapan saja.
Lin Tian mengambil jubah cadangan dari kantong spasial Zhao Kuang dan mengenakannya santai. Ia melangkah keluar dari ceruk batu. Anehnya, miasma beracun yang tebal itu secara otomatis menyibak, seolah ketakutan untuk menyentuh tubuhnya.
Di luar Lembah Miasma Kematian, fajar mulai menyingsing. Semburat cahaya kelabu menerangi Hutan Darah Besi.
Para anggota Kelompok Taring Darah tampak kelelahan setelah berjaga semalaman suntuk. Mereka mendirikan kemah-kemah kecil membentuk setengah lingkaran yang mengunci satu-satunya jalan keluar dari lembah. Di tengah formasi itu, Serigala Mata Satu duduk di atas batu besar, matanya yang tersisa satu menatap tajam ke arah kabut beracun tanpa berkedip.
"Bos," seorang kapten tingkat enam mendekat sambil membawa kantung air. "Sudah sepuluh jam. Tidak ada yang bisa bertahan di dalam sana selama itu. Bocah itu pasti sudah mencair menjadi genangan darah. Biarkan beberapa orang beristirahat, kita baru bisa masuk dengan pil penangkal bulan depan."
Serigala Mata Satu mendengus kasar, merampas kantung air itu dan menenggaknya. "Jangan lengah! Selama aku belum melihat tengkoraknya, tidak ada yang boleh—"
Ucapan Serigala Mata Satu terpotong. Tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar ringan. Bukan getaran langkah kaki biasa, melainkan getaran ritmis dan berat, seolah sebuah gunung kecil sedang berjalan mendekat dari dalam kabut.
Tap. Tap. Tap.
Seluruh tentara bayaran serentak berdiri, menghunus senjata mereka dengan tegang. Ratusan pasang mata tertuju pada batas kabut miasma yang tebal.
Kabut itu perlahan terbelah.
Seorang pemuda berjubah abu-abu melangkah keluar dengan santai. Tidak ada luka. Tidak ada tanda-tanda keracunan. Bahkan langkah kakinya terdengar begitu stabil dan penuh otoritas, seolah ia baru saja kembali dari jalan-jalan pagi di taman bunganya sendiri.
"K-Kau... Mustahil!" Kapten tingkat enam itu membelalakkan matanya, mundur selangkah karena teror. "Kau masih hidup?!"
Serigala Mata Satu berdiri perlahan, otot rahangnya menegang. Keterkejutannya dengan cepat digantikan oleh kemarahan yang mendidih, namun di saat yang sama, matanya menangkap sesuatu yang salah.
Luka tembus di pinggang pemuda itu... telah hilang tanpa bekas! Dan fluktuasi aura yang terpancar dari tubuhnya bukan lagi di tingkat tiga.
"Tingkat lima..." Serigala Mata Satu menggertakkan giginya. Ia menyadari kenyataan pahit itu. "Kau menelan Teratai Api Berdarahku... KAU MENELAN HERBALKU DI DALAM SANA?!"
"Rasanya sedikit pedas," jawab Lin Tian dengan nada datar yang sangat memancing amarah, matanya yang berkilat keemasan menatap lurus ke arah Serigala Mata Satu. "Terima kasih atas hidangannya. Sebagai balas budi, aku akan memastikan kalian semua dikubur utuh hari ini."
"BUNUH DIA! CINCANG DIA SAMPAI JADI DEBU!" raung Serigala Mata Satu kehilangan kewarasannya. Ia melemparkan kantung airnya dan mencabut tombak bergeriginya.
Ratusan tentara bayaran yang haus darah menerjang maju dari segala arah, membentuk gelombang pasang manusia yang siap menelan Lin Tian hidup-hidup. Pedang, tombak, kapak, dan panah melesat ke arahnya.
Lin Tian tidak mundur sejengkal pun. Senyum predatornya melebar.
Alih-alih menghindar, ia mengambil kuda-kuda kokoh. Seluruh Qi ungu keemasan yang kini bercampur dengan elemen api merah menyala berkumpul di lengan kanannya, berputar membentuk pusaran yang mendistorsi ruang.
Jika di tingkat tiga ia bisa melepaskan Tinju Runtuh Lapis Pertama dengan sedikit cedera, maka di tingkat lima dengan fisik yang telah disempurnakan... batas kemampuannya telah berevolusi.
"Tinju Runtuh Sembilan Lapis..."
Lin Tian menarik napas panjang, membiarkan puluhan senjata berjarak hanya beberapa inci dari tubuhnya.
"...Lapis Kedua!"
BOOOOOOOOOOOOOOM!
Lin Tian menghantamkan tinjunya ke udara kosong di depannya.
Udara di depan tinjunya seketika retak layaknya cermin. Sebuah gelombang kejut berbentuk pilar pusaran api ungu keemasan meledak ke depan. Ledakan ini sepuluh kali lebih masif dan destruktif dibandingkan saat ia melawan Zhao Kuang.
Pilar energi mematikan itu menyapu ke arah depan dengan kecepatan kilat, menciptakan jurang selebar sepuluh meter dan panjang lima puluh meter di atas tanah berbatu.
Tiga puluh tentara bayaran yang berada di garis depan serangan—termasuk letnan tingkat lima—teruap seketika menjadi kabut darah sebelum mereka sempat menjerit. Senjata baja mereka meleleh dan hancur berkeping-keping. Gelombang kejut itu terus melaju, membelah Hutan Darah Besi dan menumbangkan puluhan pohon raksasa di jalurnya.
Keheningan yang mencekam turun bagaikan palu godam. Sisa tentara bayaran yang tidak terkena serangan langsung jatuh terduduk, senjata mereka terlepas dari tangan yang bergetar hebat. Muka mereka pucat pasi layaknya mayat.
Hanya dengan satu tinju, sepertiga pasukan elit Kelompok Taring Darah musnah tak tersisa.
Asap panas mengepul dari kepalan tangan kanan Lin Tian. Lengannya sama sekali tidak terluka. Ia menurunkan tangannya, menatap Serigala Mata Satu yang kini berdiri kaku dengan mata terbelalak ngeri, lalu melangkah maju melewati abu dan sisa-sisa darah.
"Satu pukulan," ucap Lin Tian memecah kesunyian yang mematikan. "Siapa yang ingin mencoba pukulan keduaku?"