NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

PERNIKAHAN KONTRAK IDOLA

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: Zhao Eunbi

Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Penentuan

Malam acara penghargaan musik tiba dengan suasana yang tegang dan penuh antisipasi. Di ruang ganti yang mewah, Hyeri berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur yang elegan, berpotongan anggun dan berkilauan, dirancang khusus agar tampil mempesona namun tetap berwibawa. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang dan anting berlian yang berkilau. Ia tampak sempurna, bagai seorang putri, namun di dalam hatinya, badai berkecamuk hebat.

Pintu ruang ganti terbuka perlahan. Heesung masuk, sudah berpakaian lengkap dengan jas hitam yang pas di badan, membuatnya tampak semakin gagah dan berkarisma—sesuai citra idola yang dipujanya jutaan orang. Namun, wajahnya tampak kaku, matanya terlihat lelah seolah tak tidur semalam.

Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Hyeri, dan menatap pantulan wanita itu di cermin. Hening sejenak, hanya terdengar napas mereka berdua.

“Kau sangat cantik,” ucap Heesung pelan, suaranya rendah namun jelas. Ada kekaguman di sana, tapi juga rasa sakit yang tak tersembunyi. “Maafkan aku, Hyeri. Kau harus melalui semua ini hanya karena kebodohanku.”

Hyeri menoleh perlahan, menatap wajah pria itu dari pantulan cermin, lalu berbalik menghadapnya. Ia mengangkat tangan, merapikan kerah jas Heesung dengan gerakan lembut namun mantap. Sentuhan itu terasa akrab, namun ada jarak yang tercipta di antara mereka.

“Sudah kubilang, jangan minta maaf lagi,” jawab Hyeri tenang, meski hatinya bergetar. “Kita sudah sepakat. Malam ini, kita adalah pasangan suami istri yang paling bahagia, paling serasi, dan paling saling mencintai di dunia. Tidak ada masa lalu, tidak ada keraguan. Hanya kau dan aku. Kau mengerti, Heesung?”

Heesung mengangguk pelan, menatap mata Hyeri lekat-lekat. Di kedalaman tatapan wanita itu, ia melihat ketegaran yang luar biasa, dan juga rasa takut yang berusaha disembunyikan. Untuk pertama kalinya, ia sadar betapa besar pengorbanan wanita ini. Ia bukan sekadar patung yang mengisi kekosongan, tapi manusia yang punya hati, hati yang perlahan ia hancurkan dengan keraguannya.

“Aku mengerti,” jawab Heesung pelan. “Malam ini… aku akan berusaha menjadi suami yang kau butuhkan.”

Sebelum mereka berangkat, ponsel Heesung bergetar lagi di dalam saku jasnya. Ia tahu siapa pengirimnya. Pesan dari Sooah terus masuk sepanjang hari: “Aku ada di sana malam ini, di tempat penonton khusus. Aku akan melihat setiap gerak-gerikmu. Tunjukkan padaku siapa yang sebenarnya ada di hatimu, Heesung. Jangan mengecewakanku.”

Heesung menghela napas panjang, menyembunyikan rasa gelisahnya. Ia membuang pandangan, lalu mengulurkan tangannya ke arah Hyeri.

“Ayo? Mobil sudah siap.”

Hyeri menyambut uluran tangan itu. Jari-jari mereka saling bertaut, dan untuk sesaat, genggaman Heesung terasa lebih kuat dari biasanya—seolah ia sedang berpegangan pada satu-satunya jangkar yang tersisa di tengah lautan yang bergelombang.

Sesampainya di lokasi acara, sorot lampu kamera langsung menyala terang menyambut kedatangan mereka. Jeritan penggemar memekakkan telinga, memanggil nama Heesung dengan penuh kekaguman. Di bawah sorotan lampu yang menyilaukan itu, Heesung seketika berubah menjadi dirinya yang karismatik dan percaya diri. Ia menggandeng Hyeri dengan erat, berjalan di atas karpet merah dengan langkah berirama, tersenyum, melambaikan tangan, dan sesekali menatap Hyeri dengan pandangan yang begitu mesra—persis seperti pasangan yang sedang jatuh cinta.

Di dalam gedung, suasana semakin panas. Berita tentang foto kafe itu masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan tamu dan awak media. Semua mata tertuju pada mereka, menunggu tanda-tanda retakan, menunggu kesempatan untuk melihat kebenaran di balik pernikahan kontrak ini.

Saat mereka duduk di kursi khusus tamu kehormatan, Heesung berbisik pelan di samping telinga Hyeri, suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua.

“Dia ada di sana. Di sebelah kanan, barisan belakang.”

Hyeri mengerjap pelan, matanya melirik sekilas ke arah yang ditunjuk Heesung. Di sana, duduk Jung Sooah mengenakan gaun berwarna hitam yang elegan, wajahnya tenang namun matanya tajam, menatap lurus ke arah mereka berdua, tepat ke arah Heesung. Tatapan itu penuh tuntutan, penuh kepemilikan.

Jantung Hyeri berdebar kencang, tapi ia tak membiarkan rasa takutnya terlihat. Ia malah semakin mendekatkan diri ke arah Heesung, menyandarkan lengannya di lengan pria itu, dan tersenyum manis saat kamera kembali mengarah ke mereka.

“Biarkan dia melihat,” bisik Hyeri balik dengan nada mantap. “Biarkan dia melihat apa yang seharusnya dia lihat: bahwa kau milikku sekarang, Heesung.”

Acara berlangsung. Heesung dinominasikan dalam beberapa kategori penghargaan. Setiap kali nama Heesung disebutkan, atau saat Heesung tampil di panggung, Hyeri selalu ada di sana—bertepuk tangan paling riuh, tersenyum paling bangga, mendukungnya sepenuh hati. Dan setiap kali itu pula, Heesung merasakan dorongan kekuatan dari wanita di sampingnya itu. Di tengah hiruk-pikuk, di bawah tekanan pandangan Sooah yang tak pernah lepas, kehadiran Hyeri justru terasa semakin nyata dan menenangkan.

Puncaknya tiba saat Heesung memenangkan penghargaan utama: Artis Pria Terbaik Tahun Ini.

Saat namanya disebutkan sebagai pemenang, sorak sorai bergema di seluruh ruangan. Heesung berdiri, jantungnya berdebar kencang bukan hanya karena kemenangan itu, tapi karena momen ini. Ia menoleh ke Hyeri. Wanita itu berdiri juga, tersenyum bangga, dan dengan berani mengangkat tangannya, mengecup pipi Heesung sekilas—sebuah sentuhan yang tulus dan publik.

“Selamat, Heesung. Kau pantas mendapatkannya,” ucap Hyeri pelan, matanya berbinar.

Heesung menatapnya lama. Di detik itu, di antara ribuan orang yang berteriak namanya, di bawah tatapan tajam cinta masa lalunya, ia sadar satu hal yang penting: penghargaan ini, kesuksesan ini, posisinya di sini… semua ini terasa jauh lebih berharga karena ada Hyeri di sisinya.

Ia berjalan naik ke panggung, menerima piala dari pembawa acara, lalu berdiri di depan mikrofon. Sorotan lampu menyorotnya, kamera merekam setiap gerak-geriknya, dan suara napas penonton seolah berhenti menunggu pidatonya.

Heesung menatap lurus ke arah penonton. Matanya sempat menangkap sosok Sooah yang duduk tegak, menunggu. Namun kemudian, pandangannya beralih, jatuh pada sosok Hyeri yang berdiri di antara kerumunan, tersenyum bangga padanya.

“Terima kasih banyak,” mulai Heesung, suaranya jelas dan bergetar sedikit karena emosi. “Penghargaan ini sangat berarti bagiku. Ini adalah hasil kerja keras bertahun-tahun, mimpi yang kujalani sejak aku masih muda, saat aku belum punya apa-apa.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang.

“Banyak orang yang datang dan pergi dalam hidupku. Ada kenangan yang tak terlupakan, ada masa lalu yang membentuk diriku. Tapi malam ini… aku sadar, untuk bisa berdiri di sini, kuat dan tegar seperti sekarang, ada satu orang yang paling berharga yang ada di sisiku.”

Heesung menatap lurus ke arah Hyeri, tak lagi peduli siapa yang melihat atau apa yang akan dipikirkan orang lain.

“Istriku, Hyeri. Dia adalah alasanku bisa tetap tersenyum di hari-hari sulit, dia yang menjadi pendukungku saat aku merasa lelah, dia yang membuat rumah terasa seperti rumah sejati. Tanpa dia, aku mungkin tak akan mampu memikul beban berat ini sendirian. Terima kasih, Hyeri… karena telah memilih berjalan bersamaku, dan karena bertahan meski aku sering kali menjadi orang yang sulit dimengerti.”

Tepuk tangan gemuruh meledak memenuhi ruangan. Para penonton bersorak gembira, terharu mendengar pengakuan yang begitu tulus dan romantis itu. Media mulai sibuk merekam momen indah itu, segera akan menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia.

Namun, di sudut ruangan, wajah Jung Sooah berubah pucat pasi. Pidato itu bukan sekadar ucapan terima kasih biasa. Itu adalah penolakan. Itu adalah garis batas yang jelas. Heesung telah memilih—bukan masa lalu, tapi masa kini.

Saat Heesung turun dari panggung, ia langsung berjalan menghampiri Hyeri, tak peduli siapa yang melihat. Ia meraih pinggang wanita itu, menariknya mendekat, dan di depan semua orang, di depan kamera, dan di depan mata Sooah yang penuh amarah dan kekecewaan, Heesung mengecup kening Hyeri dengan lembut dan penuh makna.

“Terima kasih,” bisiknya di telinga Hyeri. “Kau benar. Malam ini, hanya ada kau dan aku.”

Hyeri menatapnya dengan mata berkaca-kaca, campuran antara bahagia dan rasa lega yang luar biasa. Ia merasa seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Perang melawan bayang-bayang masa lalu mungkin belum sepenuhnya usai, tapi malam ini, Heesung telah membuat keputusan. Ia telah memilihnya.

Namun, jauh di dalam hati Heesung, ia tahu pertempuran sesungguhnya belum selesai. Saat ia melirik sekilas ke arah tempat duduk Sooah, ia melihat wanita itu berdiri, berbalik, dan berjalan pergi dengan langkah tegas namun gemetar. Di mata Sooah, Heesung tak melihat kekalahan—ia melihat tekad yang baru saja menyala.

Sooah tidak pergi begitu saja. Ia hanya mundur selangkah untuk bersiap menyerang lagi.

Dan Heesung sadar, untuk melindungi apa yang kini mulai ia miliki dan cintai, ia harus siap berjuang lebih keras dari sebelumnya.

1
HAN EUNBI
🤭 menarik banget💪 tingkatkan
VOYAGE LEUER: 🤭terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!