NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma kopi murah

Matahari Rabu pagi muncul dengan malu-malu di balik sisa awan mendung semalam. Cahayanya yang pucat menerobos celah gorden kamar Agnesa, membentuk garis-garis debu yang menari di udara. 

Jam beker di atas nakas belum sempat berbunyi—masih menunjukkan pukul enam kurang lima belas ketika Agnesa sudah duduk di tepi tempat tidur, menatap sepasang pantofelnya yang kini tampak kusam karena noda air hujan yang mengering.

​Agnesa berdiri, berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Rambutnya mencuat ke sana kemari, tidak seperti biasanya yang selalu jatuh rapi.

 Ia meraih sisir, namun tangannya berhenti di tengah jalan. Ia membiarkan helai rambut itu berantakan untuk beberapa detik lebih lama.

Di lantai bawah, terdengar suara gesekan kursi makan dengan lantai marmer.

 Srat. 

Disusul bunyi denting sendok yang beradu dengan piring porselen. 

Ting. Ting. 

Bau roti panggang yang hampir gosong mulai merayap naik melalui ventilasi kamar.

 Agnesa memungut kaus kakinya yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya ke dalam keranjang cucian yang sudah hampir penuh.

 Ia tidak merapikan tempat tidurnya dengan simetris pagi ini; selimutnya dibiarkan menumpuk di satu sisi seperti bukit kecil.

​Agnesa keluar dari kamar, menuruni tangga dengan langkah yang sengaja diredam. 

Di meja makan, Ayahnya sudah duduk rapi dengan kemeja putih kaku dan dasi yang terikat sempurna.

 Ibunya sedang menuangkan kopi, uapnya membubung tipis.

​"Kamu bangun terlambat lima menit, Nes," ujar Ayahnya tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangan.

​Agnesa duduk di kursinya. "Saya mencuci sepatu dulu tadi, Pa."

​"Supir sudah siap di depan. Jangan lupa mampir ke toko bunga sebelum sekolah. Mama mau ada tamu nanti sore," Ibunya meletakkan secangkir kopi di depan Agnesa.

​Agnesa menatap cairan hitam pekat itu. "Saya tidak minum kopi hari ini, Ma."

​"Lho, biasanya kamu bilang kopi bikin fokus."

Agnesa mendorong cangkir kopi itu menjauh hingga berhenti tepat di garis tepi taplak meja. 

Ia memutar-mutar sendok teh kosong di tangannya, matanya terpaku pada pantulan lampu gantung di permukaan meja marmer yang dingin.

 Ia tidak meminum jus jeruknya, juga tidak menyentuh roti panggangnya. Ia hanya diam, memiringkan kepalanya sedikit saat mendengar suara motor lewat di jalan raya depan rumah.

​"Ada apa?" tanya Ayahnya, akhirnya menoleh.

​"Tidak ada. Hanya... merasa kurang tidur."

​"Makanya jangan terlalu banyak mengurusi baksos itu. Kamu itu ketua OSIS, bukan kuli panggul," Ayahnya kembali ke tabletnya. 

Tap. Tap. Tap. 

Suara jarinya di layar terdengar ritmis.

​Agnesa berdiri. "Saya berangkat sekarang."

​"Sarapanmu belum habis," tegur Ibunya.

​"Saya makan di sekolah nanti."

​Agnesa berjalan keluar.

 Di teras, udara pagi Bandung masih terasa lembap. Ia masuk ke dalam mobil sedan hitam yang pintunya sudah dibuka oleh supir.

 Blam. 

Suara pintu tertutup kedap. Saat mobil mulai melaju, Agnesa menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin.

Di pinggir jalan, ada seorang pria tua sedang menyapu daun-daun basah. Sapunya terbuat dari lidi yang sudah pendek-pendek.

 Agnesa memperhatikan bagaimana pria itu berhenti setiap tiga kali sapuan untuk memijat pinggangnya. 

Srek, srek, srek... ah.

 Ia tiba-tiba teringat koleksi penghapus plastiknya yang berbentuk buah-buahan saat SD dulu. 

Ada yang bentuk jeruk, apel, dan stroberi. Ia tidak pernah menggunakannya karena takut bentuknya rusak, tapi akhirnya penghapus-penghapus itu mengeras dan pecah sendiri di dalam kotak.

 Mungkin kura-kura juga begitu, pikirnya. 

Cangkangnya keras bukan karena ingin kuat, tapi karena terlalu lama menyimpan sesuatu di dalamnya sampai membatu.

​Mobil berhenti di depan gerbang SMA Garuda pukul tujuh lewat sepuluh. 

Suasana sudah ramai. Motor-motor anggota ZENTRIX terparkir berderet di warung seberang sekolah. 

Agnesa turun dari mobil, merapikan roknya yang sedikit kusut di bagian belakang.

​"Woi, Bu Ketua! Pagi bener!"

​Suara cempreng itu milik Abyan. Ia sedang duduk di atas motornya sambil mengunyah cilok. Arion ada di sampingnya, sibuk membetulkan spion.

​Agnesa tidak menoleh. Ia terus berjalan masuk ke gerbang.

Naren ada di sana. Bersandar pada tiang gerbang sekolah dengan tangan terlipat di depan dada. 

Ia mengenakan jaket hoodie hitam yang tudungnya tidak dipakai, menutupi seragamnya yang entah disetrika atau tidak.

Agnesa memperlambat langkahnya saat jarak mereka tersisa dua meter.

Naren tidak bergerak, hanya matanya yang mengikuti pergerakan Agnesa.

Agnesa berhenti tepat di samping Naren, namun bahunya menghadap lurus ke arah lobi sekolah.

​"Plesternya kepake?" tanya Naren pelan. Suaranya serak, tipis di antara kebisingan siswa lain yang berlarian masuk.

​Agnesa meraba saku roknya. "Sudah saya simpan."

​"Nggak dipake?"

​"Luka saya sudah kering."

​"Bohong," Naren menegakkan tubuhnya. 

Srek.

 Kain hoodienya bergesekan dengan tembok. "Lo masih jalan agak pincang."

​"Itu karena sepatu saya baru dicuci, masih agak lembap."

​Naren tertawa kecil.

 Heh.

 "Alasan lo selalu rapi ya, Nes."

"Naren, jangan mulai. Saya ada rapat sebentar lagi," Agnesa melirik jam tangannya.

"Iya, iya. Oxford menanti," Naren merogoh saku hoodienya, mengeluarkan sebotol kaleng kopi murah yang dingin.

 Ia menyodorkannya pada Agnesa.

"Saya tidak minum kopi."

"Ini bukan kopi kafe mahal lo. Ini cuma gula sama pengawet. Enak."

​Agnesa menatap kaleng itu. Ada butiran air kondensasi yang membasahi tangan Naren.

​"Ambil. Sebelum gue minum sendiri."

​Agnesa mengambil kaleng itu. Dinginnya menusuk telapak tangannya. "Terima kasih."

​"Agnesa!" Nadiva berlari kecil mendekat, wajahnya tampak cemas. "Tadi Pak Herman nyariin, katanya berkas laporan anggaran baksos kemarin ada yang salah input."

​Agnesa langsung menegang. "Di bagian mana?"

​"Nggak tahu, pokoknya Bapak minta diperbaiki sebelum istirahat pertama."

​Agnesa mendesah. Ia menatap kaleng kopi di tangannya, lalu menatap Naren. "Saya harus pergi."

​"Sana. Selamat bertempur dengan angka," Naren kembali bersandar pada tiang, menutup matanya seolah ingin lanjut tidur.

Agnesa berjalan cepat menuju ruang OSIS.

Naren membuka satu matanya, melihat punggung Agnesa menjauh.

Nadiva memperhatikan keduanya, lalu mengedikkan bahu dan mengikuti Agnesa.

Lampu lobi sekolah berkedip sekali. 

Tek.

​Di ruang OSIS, suasana kacau. 

Mahendra sedang sibuk dengan laptopnya, wajahnya terlihat frustrasi. 

Beberapa anggota lain sedang berdebat tentang sisa sembako yang belum tersalurkan.

​"Nes, syukurlah lo dateng," Mahendra berdiri. 

"Ini data dari Venzo kemarin beda sama nota yang gue pegang."

​Agnesa duduk di kursi kebesarannya. Kursi itu berderit pelan. 

Kriitt.

 "Coba saya lihat."

​"Gue udah coba cocokin berkali-kali, tapi tetep selisih lima ratus ribu."

​Agnesa mulai memeriksa baris demi baris di layar monitor. Matanya mulai terasa perih. Ia membuka kaleng kopi pemberian Naren. 

Pshhh. 

Suara gas yang keluar terdengar nyaring di ruangan yang tiba-tiba hening karena semua orang menoleh ke arahnya.

​Agnesa meminumnya sedikit. 

Manisnya berlebihan, tapi kafeinnya langsung terasa menendang di belakang kepalanya.

​"Nes? Lo minum kopi gituan?" tanya Mahendra heran.

​"Kenapa? Tidak boleh?"

​"Nggak, biasanya kan lo cuma minum yang... lo tahu lah, yang bijinya digiling manual."

​"Ini lebih praktis," sahut Agnesa pendek. Ia kembali fokus pada angka-angka.

​Dua jam berlalu dengan suara ketikan tikus-tikus di keyboard dan helaan napas berat. 

Pukul sembilan pagi. 

Agnesa akhirnya menemukan kesalahannya.

​"Ini. Venzo salah tulis di bagian logistik transportasi. Dia masukin biaya bensin pick-up dua kali," Agnesa menunjuk layar.

​Mahendra memeriksa kembali. "Oh, iya. Bener. Si Venzo tumben amat nggak teliti."

​Agnesa terdiam. Ia teringat Naren yang menyetir pick-up itu kemarin di bawah hujan. Ia teringat bagaimana Venzo hanya diam memperhatikan dari kejauhan.

Agnesa menutup laptopnya dengan suara keras. 

Brak.

"Mahen, sisanya kamu yang rapikan ya. Saya mau ke kantin sebentar."

"Hah? Lo biasanya nggak pernah ninggalin kerjaan sebelum bener-bener beres, Nes."

"Saya butuh udara."

Agnesa keluar ruangan tanpa membawa ponselnya, hanya membawa kaleng kopi yang sudah kosong.

​Di koridor, ia bertemu dengan Gisella yang sedang tertawa bersama beberapa siswi lain.

​"Eh, Nes! Tadi liat Venzo nggak? Dia tadi di perpus tapi pas gue samperin udah nggak ada," Gisella bertanya dengan nada riang seperti biasa.

​"Mungkin di parkiran," jawab Agnesa singkat.

​"Lo pucet banget, Nes. Sakit?"

​"Hanya lapar."

​Agnesa terus berjalan menuju kantin belakang yang biasanya sepi di jam pelajaran seperti ini. 

Namun, di dekat gudang olahraga, ia mendengar suara gaduh.

​Bruk! Gedebak!

​"Lo pikir gue nggak tahu? Lo sengaja kan bikin laporannya berantakan biar Agnesa pusing?"

​Itu suara Naren.

​Agnesa berhenti di balik dinding kelas seni. Ia menahan napas.

Naren sedang mencengkeram kerah baju Venzo di depan pintu gudang yang berkarat.

Venzo hanya diam, tangannya tidak mencoba membalas, tapi matanya menatap Naren dengan tajam.

Arion dan Abyan berdiri agak jauh, berjaga-jaga kalau ada guru yang lewat.

Agnesa berdiri di bayang-bayang, tangannya meremas kaleng kopi kosong hingga penyok.

 Krek.

​"Gue nggak sengaja, Ren. Itu cuma salah tulis," suara Venzo terdengar tenang, terlalu tenang.

​"Salah tulis atau lo sengaja mau narik perhatian dia dengan cara bikin dia butuh bantuan lo lagi?" Naren mendorong Venzo ke pintu gudang. 

Dung! 

Suara besi beradu dengan punggung terdengar menyakitkan.

​"Lo terlalu banyak mikir, Ren. Lo pikir semua orang seburuk lo?"

​Naren mengepalkan tangannya. "Gue emang buruk, tapi gue nggak munafik kayak lo."

​"Naren! Berhenti!"

​Agnesa muncul dari balik dinding. Wajahnya datar, namun suaranya bergetar tipis.

​Ketiga anggota ZENTRIX itu menoleh.

 Naren perlahan melepaskan cengkeramannya dari baju Venzo. Ia merapikan hoodienya yang berantakan, lalu memalingkan muka.

​"Bagus. Penontonnya dateng," gumam Naren sinis.

Agnesa melangkah mendekat. Ia tidak melihat ke arah Naren, melainkan langsung ke arah Venzo.

Ia merapikan kerah baju Venzo yang kusut dengan gerakan mekanis.

Venzo tidak menolak, ia membiarkan tangan Agnesa bekerja.

Naren menatap gerakan tangan itu, lalu menendang kaleng bekas di dekat kakinya.

 Ting! 

Kaleng itu terpental jauh.

​"Laporannya sudah saya perbaiki, Ven," kata Agnesa dingin. "Lain kali jangan teledor."

​"Maaf, Nes. Gue kecapekan kemarin," Venzo menatap Agnesa dengan sorot mata meminta maaf.

​Agnesa beralih ke Naren. "Dan kamu. Jangan membuat keributan di sekolah. Kamu mau diskors lagi?"

​"Peduli apa lo? Bukannya bagus kalau gue nggak ada? Sekolah jadi tenang, nggak ada yang bikin kemeja lo basah."

​Agnesa terdiam. Kaleng kopi penyok di tangannya terasa semakin berat.

​"Ayo, cabut!" seru Naren pada Arion dan Abyan. 

Ia berjalan melewati Agnesa tanpa menyentuh, namun angin yang dibawa gerakannya membuat rambut Agnesa berkibar sedikit.

​Setelah mereka pergi, suasana di depan gudang menjadi sangat sunyi. 

Hanya terdengar suara dengung AC dari kelas di atas.

​"Nes," panggil Venzo.

​Agnesa menoleh. "Ya?"

​"Kopi yang lo minum tadi... itu dari Naren?"

​Agnesa melihat kaleng di tangannya. "Hanya kopi murah."

​"Gue bisa beliin lo yang lebih baik nanti sore."

Venzo tersenyum tipis, sebuah senyum yang biasanya membuat banyak siswi di sekolah ini luluh.

Agnesa tidak membalas senyum itu. Ia justru memasukkan kaleng penyok itu ke dalam tempat sampah di dekat gudang dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah kaleng itu adalah barang pecah belah.

"Terima kasih, Ven. Tapi saya sudah cukup kafein untuk hari ini."

​Agnesa berjalan kembali ke kelasnya. 

Saat melewati lapangan basket, ia melihat Naren sedang duduk sendirian di pinggir lapangan, melemparkan batu-batu kecil ke arah ring.

Agnesa tidak berhenti untuk menyapanya. Ia juga tidak mempercepat langkahnya. Ia hanya berjalan dengan ritme yang sama seperti saat ia berangkat sekolah tadi pagi. 

Namun, saat ia masuk ke kelas, ia tidak langsung duduk. Ia pergi ke wastafel di belakang kelas, mencuci tangannya lama-kali dengan sabun yang berbusa banyak, seolah ada noda yang tidak terlihat yang ingin ia hilangkan.

​Pukul sepuluh lewat lima belas menit. 

Bel istirahat berbunyi. Teeet!

​Agnesa duduk di bangkunya, membuka buku catatan Oxford-nya. 

Ia mencoba menulis rencana studi, tapi ujung pulpennya hanya berputar-putar di satu titik, membuat lubang kecil di kertas putih yang bersih itu.

Nadiva masuk ke kelas membawa roti lapis. "Nes, mau?"

Agnesa berkedip tiga kali sebelum akhirnya menoleh ke arah Nadiva.

"Tidak, terima kasih, Diva. Saya sedang memikirkan kura-kura."

Nadiva mengernyit. "Kura-kura? Di sekolah ini mana ada kura-kura?"

"Ada. Dia baru saja lewat membawa rumahnya yang berat."

​Nadiva hanya geleng-geleng kepala, menganggap temannya itu sedang stres berat karena tugas OSIS. 

Agnesa kembali menatap lubang di kertas catatannya. Ia tahu, hari Rabu ini baru saja dimulai, dan aroma kopi murah itu masih tertinggal di ujung lidahnya, pahit dan manis yang tidak seimbang, persis seperti perasaannya saat ini.

​Ia menghela napas, menutup buku catatannya, lalu bersandar pada kursi kayu yang keras. 

Di luar jendela, langit Bandung kembali mendung. 

Glegerr.

 Suara guntur terdengar di kejauhan, pertanda bahwa hujan semalam mungkin akan kembali lagi sore nanti.

​Agnesa memejamkan mata, membayangkan dirinya duduk di dalam sebuah mobil pick-up rongsok, di mana ia tidak perlu menjadi ketua OSIS, tidak perlu menjadi anak emas, dan tidak perlu takut bajunya menjadi berantakan.

​"Hanya kopi murah," bisiknya pada diri sendiri.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Stiker lumba-lumba? Serius, Ren?"

​"Dia suka laut, kan?" Naren menyandarkan kepalanya ke tembok yang lembap.

​Naren Ketahuan Kasih Hadiah? Yuk Intip Kelanjutan Hubungan Mereka di Bab 14: Sesuatu yang Berbeda

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!