NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dramatis

Raja Valden II menambahkan hukuman untuk Noah hingga konferensi pers diadakan.

Pangeran Mahkota itu resmi dikurung dalam pengawasan ketat agar tak lagi memberontak pada titah kerajaan.

Namun malam itu, Noah tak benar-benar diam.

Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar luas yang terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Sesekali pandangannya jatuh pada bunga kering yang tersimpan rapi di dalam kotak kaca pada sudut ruangan.

Bunga yang pernah ingin ia beri pada Lilly.

Sudah mengering sempurna.

Namun masih ia simpan.

Ingatan Noah perlahan kembali pada masa sekolah mereka.

Lilly adalah gadis yang aneh.

Polos.

Keras kepala.

Dan terlalu berani untuk ukuran seseorang dari kalangan biasa.

Ia menghadapi perundungan para bangsawan dengan kepala tegak, seolah hinaan mereka tak pernah mampu melukainya.

Dan saat itulah Noah melakukan kesalahan fatal pertamanya.

Ia jatuh cinta.

Kini bertahun-tahun setelahnya, ia kembali melakukan kesalahan yang sama.

Ia ternyata masih memiliki perasaan pada Lilly.

“Bagaimana ini…?” gumamnya pelan.

Noah berhenti di depan jendela kamar. Hujan di luar masih turun tipis membasahi taman belakang istana.

Ia sudah memikirkan ribuan kemungkinan.

Kabur dari pengawasan.

Menyelundupkan Lilly keluar.

Atau menghancurkan konferensi pers itu sebelum dimulai.

Namun semuanya terasa mustahil.

Penjagaan istana terlalu ketat.

Pintu kamar itu tiba-tiba diketuk cepat.

Morgan masuk dengan napas sedikit memburu.

“Tuan, Yang Mulia Permaisuri sedang mengobrak-abrik istana.”

Noah menoleh cepat.

“Ada apa?”

“Beliau memeriksa seluruh ruang pelayan. Bahkan ruang penyimpanan lama ikut digeledah.”

“Ayahanda memerintahkannya?”

Morgan menggeleng.

“Tidak. Ini perintah pribadi beliau.”

Noah mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Untuk apa?”

“Mencari pelaku sabotase pakaian kebesaran Anda sebelum jamuan dimulai.”

Alis Noah langsung bertaut.

“Sabotase?”

Morgan mengangguk pelan.

“Saya mendengar Nona Lilly sengaja mengganti pakaian Anda dua jam sebelum acara dimulai.”

“Kenapa?”

“Karena pakaian sebelumnya telah dicampur serbuk krisan.”

Noah membeku sesaat.

Serbuk krisan.

Alergennya.

Jika Lilly tidak mengganti pakaian itu…

Mungkin malam itu ia bahkan tak akan mampu menghadiri jamuan.

“Dan sekarang Permaisuri sedang mencari siapa pelakunya,” lanjut Morgan.

Urat pada rahang Noah langsung menegang.

“Cari tahu semuanya.”

“Baik, Tuan.”

Noah segera keluar kamar sebelum Morgan sempat menghentikannya.

Lorong istana malam itu terasa kacau.

Para pelayan berjalan terburu-buru. Beberapa pengawal kerajaan berjaga di depan aula tengah.

Dan dari kejauhan—

teriakan Permaisuri terdengar menggema.

“Siapa yang menyuruhmu?!”

Noah mempercepat langkahnya.

Begitu tiba di aula utama, ia langsung melihat seorang pelayan perempuan berlutut gemetar di lantai marmer.

Di belakang Permaisuri berdiri Selir Sonya beserta kedua anaknya.

Wajah mereka tegang.

Namun mata Sonya tampak terlalu tenang.

“Hamba melakukannya sendiri, Yang Mulia,” jawab pelayan itu dengan suara bergetar.

“Bohong!”

Permaisuri melempar sebuah botol kecil ke lantai.

Pecahannya berhamburan.

Serbuk putih beterbangan di udara.

Dan hanya dalam hitungan detik—

“Hacchiiim!”

Noah bersin keras.

Tenggorokannya langsung terasa gatal.

Ruam merah mulai muncul di lehernya.

Semua pelayan panik.

Morgan refleks menahan tubuh Noah sebelum kondisinya semakin buruk.

“Bawa Pangeran Mahkota kembali ke kamarnya!” titah Permaisuri tegas, meski wajahnya terlihat semakin pucat.

Noah masih sempat menoleh pada serbuk putih di lantai itu.

Krisan.

Mereka benar-benar mencoba mencelakainya.

Ketika ia sampai kamar, tubuh Noah telah memerah dengan beberapa ruam di tangan.

Bersin yang tak reda.

Ia segera berbaring di atas tempat tidur sembari menunggu dokter kerajaan yang datang dengan kelimpungan.

Memberikan obat alergi dan meminta Pangeran Noah untuk beristirahat.

Setelah merasa keadaan aman. Noah memanggil Morgan mendekat.

"Sebenarnya ada apa, Mor?" tanyanya.

"Saya mendengar bahwa pakaian Pangeran di sabotase sebelum acara."

Dahi Noah berkerut. Alis tebalnya menyatu. "Bisa kau perincikan?"

"Saya mendengar bahwa Yang Mulia Permaisuri baru saja mendatangi Nona Lilly perihal sabotase pakaian. Namun faktanya, Nona Lilly yang sengaja mengganti pakaian tersebut karena ia juga memiliki gejala alergi serbuk krisan seperti pangeran."

Noah belum puas mendengar jawaban itu, "Lalu?"

"Lalu dimulailah penyelidikan oleh Yang Mulia Permaisuri dari rekaman CCTV hingga daftar pelayan biro penjahit. Dan benar ada bagian yang terpotong. Maka dari itu mereka menggeledah. Bodohnya pelayan itu adalah ia menyimpan barang bukti."

Noah menggelengkan kepala. "Benar-benar pelayan yang berani."

"Benar, Pangeran."

"Bagaimana keadaan Lilly?"

"Kami tidak bisa mengkonfirmasi karena penjagaan yang ketat. Tapi setidaknya dengan ini penyelidikan untuk memperdalam hukuman Nona Lilly dapat dihentikan."

Noah memalingkan wajahnya cepat. Matanya menyipit. Ia melihat Morgan seksama. "Penyelidikan lebih lanjut?"

"Karena diindikasikan Nona Lilly sengaja menggoda Pangeran."

Noah hampir meledakkan tawanya.

Jika memang begitu maka dulu Lilly akan menerimanya sebagai kekasih. Tidak perlu dramatis hingga sabotase di acara jamuan.

Itu sama saja dengan mengantarkan daging segar ke kandang harimau.

"Lalu bagaimana penyelidikan dengan pelayan itu."

"Dia masih belum mengaku. Sekarang berada di penjara bawah tanah."

"Benar-benar setia yang keras kepala." Ujar Noah sembari menggelengkan kepalanya.

"Benar. Tapi ada kecurigaan terhadap Ronny sebab ia adalah orang yang tidak memiliki kepentingan datang ke biro penjahit tiga jam sebelum diadakan jamuan."

"Benar-benar rumit."

"Jelas. Lalu apa yang akan anda lakukan?"

Noah berhenti sesaat. Ia semenjak tadi memikirkan cara menyelamatkan Lilly. Bahkan Lilly saja memikirkan keselamatannya meski harus menanggung hukuman moralitas ini.

"Morgan, mendekatlah."

Maka langkah Morgan mendekat pada Noah yang terduduk di atas kasur.

...----------------...

Keesokan paginya, pada salah satu gedung di tengah pusat kota Vardoria. Setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya, Lilly berdiri beberapa saat di ruang HRD.

Ketika memasuki area kantornya, ia melewati berbagai cacian tak mengenakkan. Bahkan mengatainya Cinderella tak bersepatu kaca.

Kini, ia menghadapi kekacauan ini tanpa menundukkan kepala.

Rasanya Lilly sudah kebal.

Atau memang terpaksa menebalkan muka.

Tinggal hitungan menit lagi sebelum konferensi pers dimulai. Segala pidato yang akan disampaikan sudah hafal di luar kepala.

Ia juga sengaja membawa satu lembar untuk berjaga-jaga apabila grogi menggerogoti jiwanya.

"Kamu sudah siap?" tanya kepala HRD dengan congkaknya.

Wanita berkacamata itu tampil mencolok dengan kemeja lengan panjang yang digulung dan rok span pendek. Ditambah kecongkakkan nyata tanpa polesan.

"Siap." Ucapnya mantap.

"Silahkan tanda tangani. Tunggakan gaji akan di bayarkan paling cepat hari ini dan paling lambat tiga hari," ucap kepala HRD sembari menyodorkan sebuah kertas pemutusan kerja.

Lilly terdiam sesaat memandangi surat di hadapannya.

Karir yang ia bangun hingga menjadi senior bagian Humas kini telah pupus pada proyek besar yang diharapkan menjadi batu loncatannya ke posisi lebih tinggi.

Setelah segala urusannya dianggap selesai, Lilly segera turun ke lantai satu.

Pada satu ruang rapat yang telah di sulap.

Sebuah meja kursi berada di depan. Beberapa wartawan telah siap di kursi yang telah disediakan.

Para pengawal telah berjaga diluar area agar kondisi konferensi tetap kondusif.

Sebelum ia memasuki ruangan, Lilly mengambil nafasnya panjang. Ia melangkah dengan yakin, apa yang dipilihnya tentu akan baik ke depannya.

Beberapa kilatan kamera muncul menyorot pada Lilly yang berjalan menuju meja paling depan.

Ia benar-benar sendirian menghadapi wartawan yang lebih ganas. Gadis itu mengarahkan mikrofon pada bibirnya.

Satu helaan nafas panjangnya diiringi suara kamera yang bersahutan.

Matanya tak terbiasa dengan hal ini.

"Perkenalkan nama saya Lillyane Jones. Seperti yang kalian tahu, pada jamuan kerajaan saya telah melakukan kesalahan pada pangeran Mahkota, Noah d'Victoriam..."

Kalimat pembukanya bahkan belum selesai namun wartawan mulai menyerangnya dengan pertanyaan.

"Nona Lilly apakah anda sengaja mencium Pangeran?"

"Lillyan Jones apakah anda memang menggoda pangeran demi naik posisi sosial?"

"Lillyane Jones siapa yang menyuruh anda melakukan ini?"

Lilly mengepalkan tangan kirinya yang bebas dari mikrofon.

Keringat dingin meluncur di dahinya.

Bibirnya ia gigit.

Jemarinya sedikit gemetar.

"Saya...."

Lilly kehilangan kendali.

Ucapannya terhenti.

Ia belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu.

Dengan kesadaran penuh ia membungkuk lalu meminta maaf.

"Maafkan kesalahan saya telah membuat kekacauan di jamuan."

Namun tak disangka, langkah derap orang lain mendekat.

Kehebohan jauh lebih dahsyat.

Semua wartawan berbisik.

Kilatan kian mengganas.

"Bukankah itu Pangeran Noah?"

Kilatan kamera kian tak terkendali. Pertanyaan atas hubungan keduanya kini menyerang dari segala arah.

Pangeran Noah telah berdiri di samping Lilly. Gadis itu bangkit melihat ke arah Noah yang berpakaian formal, memakai coat putih.

"Saya dan Lillyane Jones memiliki hubungan pribadi yang serius,"

Tatapan pria itu tak bergeming. Ia menjeda kalimatnya sesaat. Pandangan yang lurus pada wartawan. Seolah kilatan kamera adalah hal biasa.

"Dan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas keseriusan saya, kami akan segera melangsungkan pernikahan."

Noah melihat ke arah Lilly yang membeku.

"Mohon dukungannya."

Sebelum wartawan sempat bertanya lebih lanjut. Noah menarik Lilly keluar dari ruang konferensi pers.

Noah baru saja menghancurkan rencana kerajaan.

****

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!