NovelToon NovelToon
ILUSI HANGAT

ILUSI HANGAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:705
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."

Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.

Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.

Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.

Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang Merah Masa Kecil

Malam harinya, kedai martabak di dekat alun-alun kota terasa sangat ramai. Suara riuh pengunjung, desis adonan yang dituang di atas loyang panas, dan aroma adonan manis berbaur mentega membuat suasana malam itu begitu hidup.

Di meja sudut dekat pohon rindang, Lyra duduk bersama tiga sahabat dekatnya sejak zaman SMP. Nadia, Febby, dan Dhea.

Nadia, gadis berambut pendek dengan tawa yang nyaring, langsung menyenggol lengan Lyra. "Ly, gimana sekolah di SMA Gava? Seru gak? Pasti isinya anak-anak sultan semua ya?"

"Iya nih, lo kan pinter banget bisa tembus beasiswa di sana," sahut Febby, gadis berkacamata yang malam itu sibuk mengunyah martabak cokelat keju kesukaannya. "Ada cowok ganteng gak di kelas lo?"

Lyra terkekeh pelan sambil merapikan letak kacamata bulatnya. "Sama aja kok kayak sekolah biasa. Aku di kelas reguler, jadi suasananya tenang banget. Lagian aku ke sana kan cuma mau belajar biar beasiswaku aman."

"Halah, sok polos banget lo, Lyra Anya Cassandra," goda Dhea sambil mencolek dagu manis Lyra. "Padahal kalau lo lepas kacamata dan gerai rambut hitam panjang lo itu, anak-anak cowok di SMA Gava pasti langsung antre buat jadi pacar lo!"

"Ih, apa sih! Enggak lah," balas Lyra dengan pipi yang mulai merona kemerahan karena malu. Ia sengaja menyembunyikan kecantikannya di sekolah dengan bersikap tertutup karena tidak ingin kedamaian hidupnya terusik oleh drama remaja.

Tepat saat itu, sesosok pemuda bertubuh jangkung berjalan mendekati meja mereka sambil membawa empat gelas es teh manis besar di atas nampan.

Pemuda itu adalah Ryzan Jonarland. Penampilannya malam ini terlihat sangat casual namun tetap stylish. Ia mengenakan jaket denim pudar di atas kaus putih, celana jin hitam, dan rambut cokelat gelapnya yang dipotong rapi bergoyang tipis ditiup angin malam. Aroma tubuhnya wangi sabun segar yang sangat menenangkan.

Ryzan meletakkan gelas-gelas itu satu per satu di depan para gadis dengan gerakan yang sangat lembut. "Nih, es teh manis pesanan para putri. Jangan gosip terus, martabaknya keburu dingin."

"Wah, makasih Ryzan ganteng! Emang paling pengertian deh tetangganya Lyra ini," puji Nadia sambil langsung menyedot es tehnya dengan semangat.

Ryzan hanya tersenyum hangat, memperlihatkan lesung pipit di wajah tampannya yang membumi. Walaupun berasal dari keluarga yang lumayan kaya ayahnya memiliki beberapa cabang bengkel mobil besar Ryzan tidak pernah sombong. Ia selalu menjadi sosok yang baik hati dan sangat menjaga serta peka terhadap kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Ryzan mengambil tempat duduk di sebelah Lyra. Matanya yang berwarna cokelat hangat langsung menatap saksama ke arah wajah Lyra. "Ly, kamu pucat banget hari ini. Capek ya habis bantu Nenek di toko?"

"Enggak kok, Ryz. Aku cuma agak kurang tidur aja semalam," jawab Lyra sambil mengulas senyum manisnya, berusaha meyakinkan teman masa kecilnya itu.

Ryzan tidak langsung percaya. Ia meraih selembar tisu bersih, lalu dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati, ia mengusap sudut bibir Lyra yang terkena sedikit sisa cokelat martabak. "Kalau capek billing, Ly. Jangan dipaksa. Besok pagi aku jemput pakai motor ya? Biar kamu gak usah jalan kaki ke sekolah."

"Ciyeee! Uhuk! Uhuk!" teriak Nadia, Febby, dan Dhea kompak secara bersamaan, membuat suasana meja mereka semakin riuh oleh godaan.

Lyra langsung menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam seperti tomat matang akibat perlakuan manis Ryzan. "Gak usah, Ryzan. Jarak rumah kita ke SMA Gava kan beda arah sama sekolah kamu."

"Gak masalah, Ly. Selagi itu buat kamu, gak ada kata jauh," balas Ryzan santai sambil mengacak-acak rambut kuncir kuda Lyra dengan gemas, membuat jantung gadis itu berdebar karena rasa nyaman yang tulus.

Namun, di saat Lyra sedang menikmati momen kehangatan bersama para sahabat dan pelindung masa kecilnya itu, ia sama sekali tidak tahu ada sepasang mata elang yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Di seberang jalan alun-alun, sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir di bawah kegelapan bayangan pohon. Kaca mobil bagian belakang diturunkan hanya beberapa sentimeter.

Di dalam kabin yang dingin, Elian Gava Alaric duduk menyendiri. Pemuda tampan berseragam stylish itu mencengkeram erat setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang sehitam jelaga menatap lurus ke arah tawa lepas Lyra di kedai martabak.

Dunia Elian mendadak kembali kehilangan warnanya saat melihat tangan Ryzan menyentuh wajah Lyra. Rasa posesif yang pekat, gelap, dan manipulatif langsung meledak hebat di dalam rongga dadanya, membakar seluruh logikanya.

"Siapa cowok itu?" gumam Elian dengan suara berat yang teramat dingin dan bergetar menahan amarah yang teramat sangat.

Elian merogoh saku jasnya, mengambil ponsel pintarnya lalu menekan sebuah nomor dengan gerakan yang cepat dan kasar.

"Devan," panggil Elian langsung saat telepon tersambung, suaranya terdengar sangat tajam menusuk.

"Iya, El? Ada apa malam-malam gini telepon?" tanya Devan dari seberang sana dengan nada bingung.

"Cari tahu semua informasi tentang cowok yang sering bersama Lyra Anya Cassandra. Namanya Ryzan Jonarland," perintah Elian dingin tanpa pengalihan mata dari sosok Ryzan yang sedang tertawa bersama Lyra.

"Hah? Ryzan siapa, El? Kok lo jadi posesif banget sama anak beasiswa itu sih?" balas Devan heran.

"Jangan banyak tanya, Devan Raditya. Lakukan sekarang atau lo tahu akibatnya," ancam Elian dengan nada rendah yang amat mengerikan, membuat Devan langsung terdiam di seberang telepon.

"O-oke, El. Besok pagi gue kasih datanya," sahut Devan gugup sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.

Elian menurunkan kembali ponselnya, lalu menaikkan kaca mobilnya hingga tertutup rapat. Di dalam kesunyian kabin, senyuman asimetris yang mengerikan perlahan terukir di wajah rupawannya yang pucat.

Aroma parfum amberwood yang mewah di dalam mobil seolah mempertegas ambisi gelapnya malam itu. Elian tidak akan membiarkan ada satu laki-laki pun yang boleh memberikan kehangatan atau warna pada hidup Lyra selain dirinya sendiri.

"Kamu hanya boleh tersenyum untukku, Lyra," bisik Elian intens pada kegelapan. "Dan untuk cowok itu... mari kita lihat seberapa lama dia bisa bertahan di dekat milikku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!