Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
BAB 25: Usapan Lembut di Lantai Teratas dan Redanya Gemuruh Sang Singa
Deru halus mesin mobil sport hitam milik Zayn Dominic membelah jalanan ibu kota yang mulai temaram oleh lambaian senja. Di dalam kabin mobil yang sejuk, keheningan yang tercipta terasa begitu pekat. Zayn menyetir hanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Elva Ileana dengan cengkeraman yang sangat erat—hampir posesif—di atas paha cowok itu.
Rahang tegas Zayn masih mengeras sempurna. Sisa-sisa adrenalin dan ketegangan dari pertandingan basket satu lawan satu melawan Christian Narendra di sekolah tadi siang tampaknya belum sepenuhnya menguap dari tubuh tegapnya. Meskipun Zayn keluar sebagai pemenang mutlak dengan poin penentu yang dramatis, fakta bahwa ada seorang murid baru pindahan London yang berani menantangnya secara terbuka demi menarik perhatian Elva tetap membuat ego dan sifat pelindung sang tuan muda terusik hebat.
Elva menoleh ke samping, menatap profil wajah tampan Zayn yang diterangi oleh kerlip lampu jalanan kota yang mulai menyala bergantian. Dia bisa melihat gumpalan otot di lengan kekar Zayn yang berbalut jaket kulit hitam tampak menegang. Rambut hitam acak-acakan cowok itu masih sedikit lepek di bagian pelipisnya akibat keringat pasca-tanding yang belum kering seutuhnya.
"Zayn... tangan kamu kencang banget megangnya. Agak sakit," bisik Elva lirih, suara lembutnya memecah kesunyian kabin mobil.
Mendengar cicitan pelan dari gadisnya, Zayn tersentak kecil. Dalam satu kedipan sekon, tatapan mata elangnya yang semula tajam menembus langsung melunak seratus delapan puluh derajat. Dia mengendurkan cengkeraman jemarinya, lalu membalik telapak tangan untuk mengusap punggung tangan Elva dengan ibu jarinya secara telaten.
"Maaf," ketus Zayn pendek, suaranya terdengar serak dan rendah.
"Gue cuma... masih kesal aja sama anak baru itu."
Elva tersenyum murni, sebuah senyuman manis yang selalu sukses mencairkan dinding es paling tebal di dalam hati Zayn.
"Kan kamu yang menang, Zayn. Lagian, aku sama sekali nggak peduli sama Christian atau siapa pun. Di mataku, cuma ada kamu."
Kalimat polos yang sarat akan ketulusan murni itu seketika membuat napas Zayn yang tadinya memburu berat menjadi lebih teratur. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Dia membawa tangan kecil Elva ke depan bibirnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana sebelum kembali fokus membelah jalanan menuju apartemen penthouse mereka.
Begitu lift pribadi berdinding kaca itu berdenting halus dan terbuka di lantai teratas gedung, interior apartemen mewah bernuansa monokrom langsung menyambut kepulangan mereka. Suasana yang biasanya sunyi kini terasa jauh lebih hidup semenjak kehadiran Milo. Anak kucing ras Scottish Fold berbulu putih kapas itu langsung berlari lincah dari arah sofa beludru, mengeong manja sambil menggosokkan tubuh mungilnya di sekitar pergelangan kaki Elva.
"Milo... kangen ya? Sebentar ya, aku taruh tas dulu," ucap Elva lembut, membungkuk sedikit untuk mengelus puncak kepala anak kucing tersebut.
Zayn melepas jaket kulit hitam andalannya, menyampirkan nya begitu saja di atas lengan sofa, lalu mendudukkan tubuh tegapnya dengan hentakan kasar. Begitu jaketnya terlepas, terlihat kaos oblong hitam polosnya agak menempel di dada bidang dan punggungnya yang kokoh karena keringat.
Zayn menyandarkan kepalanya di bantalan sofa, memejamkan mata elangnya sambil mengembuskan napas panjang yang berat. Otot-otot bahu dan lengannya mulai terasa pegal dan berkedut akibat benturan fisik yang cukup keras dengan Christian di bawah ring basket tadi siang.
Elva yang baru saja selesai meletakkan tas sekolah mereka di kamar utama, melangkah kembali ke ruang tengah. Melihat Zayn yang tampak begitu kelelahan dengan kening yang berkerut dalam, rasa tidak tega dan naluri ingin merawat langsung membuncah di dalam dadanya. Elva berjalan menuju dapur bersih, mengambil sebuah baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk kecil, lalu membawanya kembali ke ruang tengah bersama sebotol minyak aromaterapi mint kegemaran Zayn.
Elva mendudukkan dirinya di atas karpet bulu tebal tepat di samping lutut Zayn, memposisikan tubuh mungilnya agar bisa menjangkau bahu cowok itu.
"Zayn... buka matanya sebentar," panggil Elva lirih.
Zayn membuka perlahan sepasang mata elangnya, menatap ke bawah ke arah Elva yang kini menatapnya dengan pandangan mata bulat yang dipenuhi rasa sayang yang teramat sangat besar.
"Ngapain lo lesehan di lantai? Naik ke atas sofa," ketus Zayn, sifat protektifnya langsung keluar karena tidak mau Elva kedinginan akibat lantai marmer.
"Nggak apa-apa, kan ada karpetnya tebal," jawab Elva lembut, mengabaikan gerutuan judes cowoknya. Elva memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat, lalu dengan gerakan yang sangat telaten, dia mulai mengusap leher dan tengkuk tegap Zayn, membersihkan sisa-sisa keringat yang masih menempel di sana.
Sentuhan tangan kecil Elva yang begitu hangat dan lembut seketika mengirimkan desiran nyaman yang luar biasa ke seluruh saraf tubuh Zayn. Zayn menghela napas pendek, membiarkan tubuh kaku dan tegapnya rileks seutuhnya di bawah perawatan gadisnya.
Setelah selesai mengusap dengan air hangat, Elva menuangkan beberapa tetes minyak aromaterapi ke telapak tangan sendiri, menggosoknya hingga hangat, lalu menempelkannya di atas otot bahu Zayn yang tegang. Jemari lentik Elva mulai memberikan pijatan-pijatan kecil yang lembut dengan tekanan yang pas.
"Pegal banget ya? Tadi di lapangan kelihatan kasar banget mainnya," ucap Elva cemas, matanya fokus meneliti setiap jengkal kulit bahu Zayn, memastikan tidak ada memar kebiruan yang tertinggal.
Zayn tidak langsung menjawab. Menikmati kenyamanan dari pijatan Elva, dengan gerakan impulsif, tangan kekar Zayn mendadak meraih pinggang mungil Elva, mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah dalam satu sekon dan mendudukkannya tepat di atas pangkuannya di atas sofa beludru.
"Zayn?!" Elva terbelalak kecil, memegangi kedua bahu tegap Zayn karena terkejut dengan perpindahan posisi yang mendadak ini.
Zayn tidak melepaskan kedua lengan kekarnya yang kini melingkar erat di sekeliling pinggang Elva, mengunci tubuh kecil gadis itu agar melekat sempurna pada dada bidangnya. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Elva bisa merasakan detak jantung Zayn yang berdegup dengan ritme yang konstan dan kuat, selaras dengan debaran di dalam dadanya sendiri.
Zayn menyandarkan dagunya di atas pundak mungil Elva, menghirup dalam-dalam aroma wangi sampo stroberi yang manis dari rambut hitam panjang Elva yang tergerai indah. Sifat cemburu posesifnya yang menggemaskan kembali keluar seutuhnya dalam kesunyian apartemen.
"Gue cuma nggak suka ada cowok lain yang natap lo kayak cara anak London itu natap lo di kelas tadi pagi," bisik Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, dalam, dan serak tepat di samping daun telinga Elva, membuat bulu kuduk gadis itu meremang karena gugup sekaligus terharu.
"Gue rela tanding sampai patah tulang sekalipun, asal nggak ada satu laki-laki pun di sekolah itu yang mikir kalau mereka punya celah buat merebut lo dari gue."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan sarat akan rasa kepemilikan yang mutlak dari Zayn. Dia mengulurkan tangan, menyelipkan jari-jemarinya ke dalam rambut hitam acak-acakan Zayn, mengelusnya dengan kelembutan yang tiada tara untuk menenangkan sang singa pelindung yang sedang merengut kesal.
"Zayn... dengerin aku," ucap Elva lembut, memutar sedikit kepalanya agar bisa menatap langsung ke dalam manik mata elang milik cowoknya. "Christian atau siapa pun di luar sana nggak akan pernah bisa mengubah apa pun. Kamu yang membawaku keluar dari gudang bawah tanah yang gelap itu, kamu yang menjadikanku prioritas, dan kamu yang selalu pasang badan buat aku. Jiwaku... hatiku... semuanya sudah terkunci di kamu seutuhnya. Jadi, jangan cemburu lagi ya?"
Tatapan mata elang Zayn berubah menjadi begitu redup dan dalam, dipenuhi oleh gairah cinta yang luar biasa besar mendengar ketegasan janji dari bibir manis Elva. Semua rasa lelah, pegal, dan sisa emosi dari pertandingan basket siang tadi mendadak menguap tanpa sisa dari kepala Zayn, runtuh seutuhnya di hadapan kemurnian mentari kecilnya.
Zayn memajukan wajah tampannya perlahan, mengikis sisa jarak yang ada di antara mereka. Tangan kekarnya bergerak naik, menangkup rahang dan tengkuk Elva dengan mantap, menahan posisi kepala gadis itu agar tidak bisa menghindar. Dengan gerakan yang sangat lambat namun sarat akan intensitas yang intim, Zayn mendaratkan bibirnya di atas bibir manis Elva.
Sentuhan pertama itu terasa begitu hangat, mengalirkan gelombang sengatan halus yang membuat Elva refleks meremas kaos oblong hitam Zayn. Zayn tidak hanya menempelkan bibirnya; dia mulai memagut lembut, mengecap rasa manis stroberi yang memabukkan dari bibir gadis itu. Getaran posesif di tubuh tegap Zayn menuntut kepemilikan yang lebih dalam.
Di sela-sela pagutan intim itu, Zayn menjauhkan wajahnya hanya sekian milimeter, menyisakan napasnya yang memburu panas menerpa permukaan kulit wajah Elva yang sudah memerah sempurna. Matanya yang meredup menatap lurus ke dalam manik mata bulat Elva yang sayu karena terhanyut suasana.
"Buka bibir lo, Elva," perintah Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, serak, dan dalam—sebuah perintah mutlak yang sangat seksi dan tidak menerima bantahan.
Elva yang sudah kehilangan seluruh kekuatan dan akal sehatnya hanya bisa menurut pasrah. Dia perlahan membuka sedikit belahan bibir manisnya, mengizinkan Zayn untuk masuk lebih dalam. Begitu mendapat akses penuh, Zayn kembali merapatkan bibir mereka tanpa celah. Pagutan itu berubah menjadi lebih intens, dalam, dan menuntut. Lidah Zayn menyapu rongga manis Elva, mengunci dan merajai setiap sudutnya dengan kelembutan yang membuai sekaligus mendominasi seutuhnya.
Elva melenguh pelan di dalam sela ciuman mereka, tangannya bergerak naik memeluk leher tegap Zayn erat-erat, membiarkan dirinya tenggelam seutuhnya dalam gelombang gairah pelindung sang tuan muda.
Ciuman yang dalam, panas, dan sarat akan emosi itu berlangsung cukup lama di bawah temaram lampu tidur ruang tengah, menjadi sebuah segel janji baru bahwa seluruh jiwa, raga, dan kekuasaan Zayn telah diserahkan seutuhnya untuk mengunci takdir gadis di pelukannya ini seumur hidup.
Ketika Zayn akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan, Elva langsung bersandar lemas pada dada bidang cowok itu, meraup pasokan udara dengan napas yang terengah-engah. Zayn tersenyum puas, lalu mengecup kening Elva dengan sangat lama dan penuh perasaan.
Milo yang berada di bawah sofa tampak meringkuk nyaman, mengeluarkan suara dengkur halus (purring) seolah ikut merasakan kehangatan sejati yang kini melingkupi lantai teratas gedung apartemen mewah tersebut.