NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Ketakutan yang Tidak Pernah Diucapkan

Malam itu mansion Dimitri terlihat tenang seperti biasa.

Lampu-lampu taman menyala menerangi halaman luas di depan rumah. Para pengawal berjaga di posisi masing-masing, sementara sebagian besar penghuni mansion sudah beristirahat.

Di lantai dua, Rubi baru saja selesai mandi.

Rambut panjangnya masih sedikit basah saat ia duduk di depan meja rias.

Tangannya tanpa sadar mengusap perut yang kini semakin membesar.

Enam bulan.

Tidak terasa usia kehamilannya sudah memasuki bulan keenam.

Kadang Rubi masih sulit percaya dengan kehidupannya sekarang.

Dulu ia hanya seorang gadis yatim piatu yang hidup sederhana di panti asuhan.

Bangun pagi, bekerja di kafe, lalu pulang ke kamar kecil yang menjadi tempatnya beristirahat.

Tidak ada kemewahan.

Tidak ada kekuasaan.

Tidak ada pria bernama Alexander Dimitri.

Namun sekarang semuanya berubah.

Dan perubahan terbesar justru bukan kehidupan mewah ini.

Melainkan orang-orang yang mulai mengisi hatinya.

Rubi tersenyum kecil saat mengingat bayi dalam kandungannya.

Lalu tanpa sadar pikirannya beralih kepada Alexander.

Pria itu masih berada di ruang kerja.

Seperti biasa.

Meski beberapa hari terakhir ia lebih sering pulang cepat, pekerjaan tetap tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

"Apa dia sudah makan malam dengan benar ya?"

gumam Rubi pelan.

Padahal sebelumnya ia tidak pernah memikirkan hal seperti itu.

Dulu Alexander hanyalah suami di atas kertas.

Sekarang...

Entahlah.

Rubi sendiri mulai kesulitan menjelaskan perasaannya.

---

Sementara itu di ruang kerja.

Alexander sedang membaca laporan keamanan terbaru.

Wajahnya terlihat jauh lebih dingin dibanding saat berada di dekat Rubi.

Di depannya berdiri beberapa orang kepercayaannya.

"Apa hasil penyelidikan?"

tanya Alexander.

Salah satu pria maju selangkah.

"Kami menemukan pergerakan anak buah Viktor di sekitar kota, Tuan."

Tatapan Alexander langsung berubah tajam.

"Berapa banyak?"

"Belum pasti."

"Aku tidak butuh jawaban belum pasti."

Suasana ruangan langsung menegang.

Pria itu menelan ludah.

"Kami masih mengumpulkan informasi."

Alexander menutup map di tangannya dengan keras.

Suara itu membuat semua orang refleks diam.

"Percepat."

"Baik, Tuan."

Setelah semua orang keluar, Alexander berdiri di depan jendela.

Tatapannya mengarah ke taman mansion yang terlihat tenang.

Namun pikirannya jauh dari kata tenang.

Instingnya mengatakan sesuatu akan terjadi.

Dan selama bertahun-tahun, instingnya hampir tidak pernah salah.

Yang membuatnya semakin tidak nyaman adalah satu hal.

Rubi.

Kalau dulu ia hanya perlu memikirkan dirinya sendiri, sekarang berbeda.

Sekarang ada seseorang yang harus ia lindungi.

Seseorang yang tanpa sadar telah menjadi bagian paling penting dalam hidupnya.

---

Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Alexander langsung menoleh.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Dan sosok yang muncul membuat tatapan dinginnya sedikit melunak.

Rubi.

Wanita itu masuk sambil membawa dua cangkir minuman hangat.

"Aku mengganggu?"

tanyanya.

"Tidak."

Rubi berjalan mendekat lalu meletakkan salah satu cangkir di meja.

"Aku lihat lampumu masih menyala."

Alexander memperhatikan wajahnya beberapa saat.

"Kau seharusnya tidur."

"Aku belum mengantuk."

jawab Rubi sambil duduk di sofa.

Alexander tahu itu bohong.

Belakangan ini Rubi sering menguap sebelum jam sepuluh malam.

Namun ia memilih tidak membahasnya.

Sebaliknya, ia mengambil cangkir yang dibawa Rubi.

"Terima kasih."

Rubi tersenyum kecil.

Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati suasana tenang.

Tidak ada pembicaraan penting.

Tidak ada masalah bisnis.

Hanya keheningan yang nyaman.

Hal yang dulu tidak pernah dibayangkan Alexander.

---

"Apa aku boleh bertanya sesuatu?"

ucap Rubi tiba-tiba.

Alexander mengangkat kepala.

"Tanya saja."

Rubi terlihat ragu.

Namun akhirnya tetap bertanya.

"Kamu takut tidak?"

Alexander mengernyit.

"Takut?"

"Iya."

Rubi memandang cangkir di tangannya.

"Dengan semua musuh yang kamu punya."

Ruangan langsung menjadi hening.

Alexander tidak segera menjawab.

Karena selama bertahun-tahun, rasa takut bukan sesuatu yang pernah ia pikirkan.

Ia hidup di dunia yang keras.

Kalau terlalu sering takut, ia tidak akan bertahan sampai sekarang.

"Aku terbiasa."

jawabnya akhirnya.

Rubi menggeleng pelan.

"Itu bukan jawaban."

Alexander memperhatikannya.

Wanita itu benar-benar ingin tahu.

Bukan karena penasaran.

Melainkan karena peduli.

Dan kesadaran itu membuat sesuatu bergerak di dalam dadanya.

"Aku tidak takut untuk diriku sendiri."

ucap Alexander pelan.

Rubi terdiam.

Lalu perlahan menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, pria itu terlihat sangat jujur.

Sangat terbuka.

"Kalau begitu untuk siapa?"

Suara Rubi hampir seperti bisikan.

Alexander tidak langsung menjawab.

Namun tatapannya sudah mengatakan semuanya.

Dan Rubi langsung mengerti.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Karena untuk pertama kalinya, Alexander tidak menyembunyikan kekhawatirannya.

Pria itu takut sesuatu terjadi pada dirinya.

---

"Aku baik-baik saja."

kata Rubi pelan.

Alexander tersenyum tipis.

Senyum yang jarang sekali muncul.

"Itu yang membuatku khawatir."

"Hah?"

"Kau terlalu baik."

Rubi langsung bingung.

Apa hubungannya?

Melihat ekspresinya, Alexander melanjutkan.

"Kau mudah mempercayai orang."

"Memangnya itu salah?"

"Terkadang."

jawab Alexander.

"Dunia tidak selalu baik."

Rubi terdiam.

Karena dalam hal ini Alexander memang benar.

Ia sendiri pernah merasakan sisi buruk dunia saat hidup di panti dan bekerja keras demi bertahan hidup.

Namun entah kenapa mendengar Alexander mengatakan hal itu terasa berbeda.

Seolah pria itu benar-benar ingin melindunginya dari semua hal buruk.

---

Tiba-tiba bayi dalam kandungannya bergerak.

Rubi refleks memegang perutnya.

Alexander langsung berdiri dari kursinya.

"Kuat?"

tanyanya.

Rubi tertawa kecil.

"Dia semakin aktif."

Tanpa berpikir panjang, Alexander berlutut di depan sofa.

Kemudian meletakkan tangannya di atas perut Rubi.

Gerakan yang sekarang sudah menjadi kebiasaan.

Dan tetap berhasil membuat Rubi gugup setiap kali melakukannya.

Beberapa detik kemudian.

Tap.

Gerakan kecil itu terasa.

Alexander langsung fokus.

Sedangkan Rubi memperhatikan wajahnya diam-diam.

Pria itu benar-benar berubah.

Dulu ia terlihat begitu jauh.

Begitu dingin.

Sekarang ia bisa duduk seperti ini selama berjam-jam hanya untuk merasakan gerakan bayi mereka.

Pemandangan itu membuat hati Rubi terasa hangat.

Sangat hangat.

---

"Tahu tidak?"

kata Rubi tiba-tiba.

"Apa?"

"Aku dulu takut padamu."

Alexander mengangkat alis.

"Hanya dulu?"

Rubi langsung tertawa.

"Sedikit sampai sekarang."

Alexander menggeleng pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu ia benar-benar tertawa kecil.

Suara yang sangat jarang didengar orang lain.

Dan Rubi menyadari satu hal.

Ia menyukai suara itu.

Sangat menyukainya.

---

Malam semakin larut.

Akhirnya Alexander memaksa Rubi kembali ke kamar untuk beristirahat.

Dan seperti beberapa malam terakhir, pria itu memastikan Rubi sudah berbaring dengan nyaman sebelum pergi.

Namun saat hendak keluar dari kamar, Rubi tiba-tiba memanggilnya.

"Alexander."

Pria itu berhenti.

"Hm?"

"Terima kasih."

Tatapan mereka bertemu.

Rubi tidak menjelaskan lebih lanjut.

Namun Alexander mengerti.

Terima kasih karena selalu menjaganya.

Terima kasih karena selalu ada.

Terima kasih karena membuat tempat asing ini terasa seperti rumah.

Untuk beberapa detik Alexander hanya diam.

Lalu akhirnya berkata pelan,

"Selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang menyakitimu."

Kalimat itu sederhana.

Namun terdengar seperti sebuah janji.

Dan saat pintu kamar tertutup, tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa di luar mansion, bahaya sudah semakin dekat.

Seseorang sedang menyusun rencana.

Seseorang yang bersiap menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka temukan.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!