NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Toples Cuka Kecil

Sosok tinggi Arjuna Pratama bersandar malas di dinding dekat pintu masuk, mengamati pemandangan di hadapannya dengan ketertarikan yang dalam.

Matanya sedikit menyipit. Gaun dusty pink pilihannya tampak pas di tubuh mungil Citra, kain sifonnya menangkap cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela, memberikan aura samar pada rambut panjangnya yang terurai.

Gadis itu masih menutup kedua telinganya dengan tangan mungilnya, kepalanya mengangguk-angguk kecil sebagai respons pasif terhadap omelan di telepon. Kedua betisnya yang putih saling menempel rapat. Tanpa alas kaki, jari-jari kakinya tenggelam ke dalam karpet empuk—melengkung dan lurus secara ritmis setiap kali ia mengangguk.

Ia tampak seperti boneka termahal di etalase toko. Cantik, rapuh, dan memancarkan aura kepolosan yang naif.

Terutama cara ia menutup telinga sambil bergumam *"mhm, mhm"* dengan suara lembut—itu menyentuh sesuatu yang jauh di lubuk hati Arjuna. Sesuatu yang jarang ia rasakan.

Sudut bibir Arjuna terangkat membentuk senyuman tipis.

Bukan kesombongan. Bukan rasa geli yang sinis. Senyum ini mengandung kepuasan murni, bahkan sedikit kasih sayang—seperti menyaksikan mainan kecil yang tidak hanya cantik, tapi memiliki kepribadian unik yang menghiburnya.

Di ujung telepon, suara Shafira Maharani masih terdengar samar-samar, penuh kekasaran dan kemarahan. Bagi Arjuna, itu hanyalah latar belakang bising yang tidak penting. Ia lebih tertarik pada gadis kecil di depannya.

Ia tidak berniat menyela. Hanya bersandar di ambang pintu, menikmati pertunjukan kecil ini.

---

Suara marah Shafira akhirnya terhenti dengan ultimatum tajam: "Jika ada kesempatan berikutnya, kau keluar!"

Citra menghela napas lega, seolah baru saja memenangkan perang kecil. Tubuhnya yang tegang akhirnya rileks. Ia menurunkan tangannya dari telinga—yang kini berwarna merah muda karena tekanan.

"Wah..." gumamnya pelan.

Ia baru saja berdiri dan melangkah dua kali ketika pandangannya membeku.

Arjuna Pratama sudah berada di tengah ruang tamu. *Kapan ia masuk? Citra tidak mendengarnya sama sekali.*

Pria itu menatapnya dengan tenang. Tatapan elangnya yang tajam memancarkan kilatan menggoda dan puas—seolah ia baru saja menyaksikan adegan teater pribadi yang sangat menghibur.

Wajah mungil Citra langsung memerah padam.

*Apakah dia sudah melihat semuanya? Cara konyolnya menutup telinga? Respons pengecutnya yang memalukan?*

Rasa malu itu begitu intens hingga Citra berharap lantai bisa membuka celah untuk menelannya hidup-hidup. Secara naluriah, ia mundur selangkah.

Arjuna terkekeh pelan. Suara itu rendah dan bergema di ruangan yang hening. Ia melangkah panjang, mencapai sofa dalam beberapa detik, lalu duduk dengan posisi santai. Sofa kulit itu ambles sedikit di bawah berat badannya. Kakinya yang panjang tertekuk nyaman, namun tatapannya tidak pernah lepas dari gadis pemalu itu.

Ia menepuk pahanya yang kekar dengan pola ritmis. Nadanya akrab, namun meninggalkan ruang untuk penolakan—meski Arjuna tahu penolakan itu tidak akan terjadi.

"Kemarilah."

Citra menggigit bibir bawahnya. Mata almondnya yang berair melirik Arjuna dengan ragu. Akhirnya, dengan langkah kecil dan tertatih, ia mendekat seperti anak kucing yang dipanggil pemiliknya.

Begitu ia berada dalam jangkauan, lengan panjang Arjuna melingkari pinggangnya. Dengan mudah, pria itu mengangkat tubuh mungilnya dan mendudukkannya di pangkuan dalam posisi menyamping yang intim.

Seketika, aroma bersih kayu oudwood bercampur sedikit tembakau mahal menyelimuti indra penciuman Citra. Melalui kain tipis gaunnya, ia bisa merasakan kekerasan otot paha Arjuna dan panas tubuhnya yang menyengat.

*Kenangan malam sebelumnya menyerbu kembali, membuat lutut Citra lemas tanpa izin.*

Arjuna jelas sangat puas dengan reaksinya.

Satu lengannya melingkari pinggang ramping Citra, menariknya lebih dekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Tangan lainnya memegang tangan kecil gadis itu. Jari-jarinya ramping, kukunya berwarna merah muda sehat seperti kelopak bunga persik. Arjuna memainkannya dengan minat, ujung jarinya yang kasar mengusap punggung tangan Citra yang halus. Sentuhan itu mengirimkan gelombang geli yang menjalar ke seluruh sarafnya.

"Sangat malu?" tanya Arjuna, menundukkan kepala. Napas hangatnya menyentuh cuping telinga Citra yang sensitif. "Kamu tadi banyak bicara. Banyak sekali gumaman 'mhm mhm' di telepon."

"Itu... itu berbeda..." Citra mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Arjuna semakin erat. Ia hanya bisa tersipu, memberikan pembelaan lemah.

"Oh? Apa bedanya?" Arjuna mengangkat alis, sengaja menekan tombol panik gadis itu.

Ia mencubit pipi Citra yang merah muda. "Katakan padaku. Berapa umurmu? Apa yang kamu sukai? Apa yang kamu benci?"

Citra terkejut dengan interogasi mendadak itu, namun instingnya mengambil alih.

"Saya delapan belas tahun... Saya suka berakting, suka membaca," jawabnya pelan. "Saya benci dimarahi... benci diintimidasi..." Suaranya semakin lembut di akhir kalimat, hampir seperti bisikan protes.

Arjuna mendengarkan dengan seksama. Senyum di matanya semakin lebar. Lengan yang melingkari pinggang Citra mengencang, menekan lekuk tubuh gadis itu lebih erat ke tubuhnya.

"Baiklah, mengerti," katanya santai, namun nadanya memanjakan. "Bereskan barang-barangmu. Kau akan pindah ke tempatku siang ini."

Citra menegang. Ia mengangkat kepala, menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca. "Pindah ke tempatmu?"

"Mhm?" Arjuna melihat penolakan itu. Alisnya sedikit terangkat, tanda ketidaksenangan mulai muncul. "Apa? Tidak mau?"

Tangan kecil Citra yang mencengkeram kemeja Arjuna semakin erat. Mengumpulkan sisa keberaniannya, suaranya keluar sedikit masam—menantang, dipenuhi kecemburuan yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Aku tahu, Tuan Arjuna... kau sudah pernah bersama banyak wanita sebelumnya..."

Citra menelan ludah, matanya menatap tajam. "Apakah ada orang lain yang pernah pindah ke sana? Saudari Siska dan mereka... apakah mereka semua..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi matanya berbicara jelas. Ada cemberut kecil di bibirnya—campuran antara rasa tersinggung dan cemburu buta.

Arjuna awalnya terdiam, terkejut. Kemudian pemahaman perlahan menggantikan kejutan itu, diikuti kegembiraan yang tak tertahankan.

*Apakah makhluk kecil ini... cemburu?*

Ia sangat menikmati ekspresi sedih, iri, dan iba yang terpampang jelas di wajah gadis kecil itu. Itu adalah validasi ego terbesar yang pernah ia terima.

Arjuna terkekeh pelan. Jari telunjuknya mengangkat dagu Citra agar gadis itu menatap matanya langsung.

"Toples cuka kecil," ejeknya, namun nada bicaranya penuh kasih sayang.

Ia menatap dalam-dalam ke mata Citra. "Rumah duplex di pusat kota. Belum pernah membawa siapa pun ke sana. Tidak pernah."

"Mereka yang mendekatiku di lokasi syuting? Itu semua hanya akting untuk mendapatkan peran. Transaksi bisnis belaka."

Arjuna berhenti sejenak, memastikan kata-katanya terserap sempurna. "Sedangkan untuk Shafira Maharani? Dia tidak pantas, dan tidak pernah, bermalam di ruang pribadiku."

Mendengar penjelasan itu, penolakan di hati Citra memudar lebih dari setengahnya.

*Dia belum pernah membawa wanita lain ke rumahnya.*

Meskipun Citra tahu masa lalu Arjuna mungkin tidak sebersih salju, fakta bahwa ia diberikan akses eksklusif ke ruang pribadi pria itu memberikannya rasa aman—atau mungkin, harapan nyata.

Untuk saat ini, itu cukup. Ia tidak harus berbagi tempat tidur dengan hantu-hantu masa lalu Arjuna.

Dan itu, bagi Citra Lestari, adalah kemenangan kecil di tengah badai besar.

1
cipung
makin seru thotlr👍👍
cipung
semangat thor
cipung
keren...lanjut👍👍
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!