PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Tampar Aku ya Ku Tampar Balik!
Mina menutup pintu kamar tidur Gino dengan gerakan yang sangat perlahan, memastikan tidak ada derit sekecil pun yang bisa mengusik tidur nyenyak bocah mungil itu. Dia mengembus napas panjang, melonggarkan kardigan rajutnya yang terasa sedikit gerah setelah menggendong Gino dari lobi sampai ke atas.
Namun, baru saja dia membalikkan tubuhnya untuk melangkah menuju dapur, langkah kaki Mina mendadak terkunci. Jantungnya hampir saja melompat keluar dari rongga dada saat mendapati sesosok wanita paruh baya sudah berdiri tegak tepat di hadapannya.
Wanita itu mengenakan setelan pakaian formal yang sangat berkelas, lengkap dengan perhiasan berlian yang berkilau di leher dan jemarinya. Namun, yang membuat Mina bergidik ngeri bukanlah penampilannya, melainkan sepasang mata tajam yang kini menatapnya dengan pandangan nyalang. Sorot mata itu dipenuhi kilat amarah yang begitu pekat, seolah-olah ingin menguliti dan memakan Mina hidup-hidup detik itu juga.
Mina mengerjapkan matanya beberapa kali, benar-benar kebingungan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat wanita paruh baya tersebut semenjak terbangun di tubuh Alicia.
“Ini orang tua siapa lagi sih? Datang-datang udah kayak hantu di film horor, mukanya serem banget!” batin Mina heran. Dan memangnya, apa salah Mina sampai harus ditatap dengan sedemikian rupa?
"Bagus ya. Baru pulang kamu, perempuan tidak tahu diri?!"
Suara wanita itu menggelegar memecah keheningan koridor penthouse, terdengar sangat kasar dan sarat akan kebencian.
Mina tersentak, otomatis mundur satu langkah.
"Eh? Sebentar, Tante... Anda ini siapa ya? Datang-datang kok langsung marah-marah gak jelas begini?" tanya Mina dengan gaya bahasanya yang santai, mencoba menanggapi situasi dengan kepala dingin meski otaknya yang sembrono mulai merasa kesal.
"Tante?! Kamu panggil saya Tante?!" Wanita itu tertawa sinis, suaranya melengking tajam.
"Wah, sepertinya urat malu dan otakmu sudah benar-benar hilang ya, Alicia! Berani-beraninya kamu bersikap seolah tidak punya dosa setelah apa yang kamu lakukan pada cucu saya!"
Mina melotot, dahinya berkerut dalam. Baru saja dia membuka mulutnya, bersiap untuk membalas ucapan tajam bin kasar dari wanita di depannya dengan kalimat yang tak kalah menohok, tiba-tiba...
PLAK!
Sebuah tamparan yang sangat kuat dan bertenaga mendarat dengan telak di pipi mulus Mina. Saking kerasnya benturan itu, wajah Mina sampai terlempar ke samping, dan beberapa helai rambutnya berantakan menutupi mata.
Keheningan malam seketika terasa mencekam. Mina mematung, telapak tangannya perlahan bergerak menyentuh pipinya yang kini terasa kebas, panas, dan nyeri berdenyut-denyut. Perasaan marah dan rasa syok berkecamuk hebat di dalam dadanya. Di dunia asalnya, Mina adalah gadis mandiri yang bebas dan tidak pernah sekalipun mendapat kekerasan fisik dari siapa pun. Mengapa sekarang, di dunia ini, dia harus menerima tamparan dari orang asing?
Belum sempat rasa terkejut Mina mereda, wanita paruh baya itu kembali menudingkan jarinya yang dihiasi cincin mewah tepat di depan wajah Mina.
"Dengar ya, Alicia! Saya tidak akan pernah membiarkan perempuan iblis sepertimu terus-menerus menyiksa cucu saya! Arsenio mungkin bisa kamu bohongi dengan drama barumu, tapi saya tidak!" bentak wanita itu dengan napas memburu.
"Saya sudah tahu semuanya! Saya punya semua bukti kelakuan bejatmu yang menelantarkan dan melukai Gino selama ini! Dan malam ini, saya sendiri yang akan memastikan kamu didepak dari rumah ini dan dijebloskan ke dalam penjara sampai membusuk!"
Mendengar kata "cucu saya" dan "Arsenio", barulah otak Mina yang sempat nge-blank langsung terkoneksi dengan cepat. Informasi tentang latar belakang keluarga Alicia mendadak berputar di kepalanya. Wanita paruh baya dengan tatapan dingin dan tajam saat bicara di depannya ini tidak lain dan tidak bukan adalah Diana, ibu kandung dari Narendra, alias ibu mertua Alicia sendiri!.
Mina menurunkan tangannya dari pipi yang memerah. Rasa nyeri itu kini menguap, digantikan oleh rasa dongkol dan amarah yang membakar dadanya. Jika Diana mengira dia sedang berhadapan dengan Alicia yang asli, yang mungkin akan menangis bombay, bersimpuh memohon ampun, atau memanipulasi keadaan, maka Diana telah salah besar.
Mina bukanlah wanita menye-menye yang akan diam saja saat ditindas, apalagi menerima kekerasan fisik tanpa sebab yang jelas atas kesalahan yang bahkan tidak pernah jiwanya lakukan. Jiwa Mina yang berjiwa bebas dan sembrono menolak mutlak untuk menjadi keset kaki ibu mertua yang toxic.
Mina perlahan menegakkan tubuhnya. Dia menyelipkan beberapa helai rambutnya yang berantakan ke belakang telinga, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Diana. Sebuah senyuman sinis yang terkesan meremehkan terukir di bibir ranumnya.
"Oh... jadi Anda ini Ibu Diana? Ibu mertua saya yang terhormat?" tanya Mina dengan nada suara yang sangat santai, namun terdengar begitu dingin dan menantang.
Diana menyipitkan matanya, merasa tersinggung dengan senyuman sinis tersebut.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?! Kamu pikir saya sedang bercanda—"
PLAK!
Kalimat kasar Diana terputus di tengah jalan oleh sebuah hantaman keras yang bergaung nyaring di udara. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, tangan kanan Mina melayang dengan kekuatan penuh, mendaratkan sebuah tamparan balasan yang tak kalah kuat tepat di pipi kiri Diana.
Benturan itu sukses membuat tubuh paruh baya Diana limbung ke samping, bahkan anting berliannya sampai sedikit bergoyang. Diana terengah-engah, memegangi pipinya dengan mata yang melebar sempurna karena syok yang amat sangat. Seumur hidupnya menjadi wanita sosialita kelas atas dan istri dari konglomerat, tidak pernah ada satu orang pun yang berani menyentuh seujung kukunya, apalagi menampar wajahnya dengan sekasar ini!
"K-Kamu... kamu berani menampar saya?!" pekik Diana histeris, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya.
Mina melipat kedua tangannya di depan dada, menatap ibu mertuanya dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat santai seolah baru saja melakukan hal yang biasa.
"Ya beranilah. Kenapa enggak?" sahut Mina blak-blakan dengan nada bicaranya yang santai tanpa beban.
"Prinsip hidup saya itu simpel, Ibu Diana yang terhormat. Kalau Anda bisa menampar saya tanpa permisi, ya saya juga bisa dong membalasnya dengan cara yang sama. Anggap aja ini sistem barter yang adil. Gimana? Rasanya pas, kan?"
"Alicia! Kamu benar-benar sudah gila! Kamu itu menantu di rumah ini! Dasar perempuan kurang ajar, tidak tahu sopan santun!" maki Diana, wajahnya memerah padam karena menahan malu dan amarah yang memuncak ke ubun-ubun.
Mina maju selangkah, membuat Diana otomatis mundur karena terintimidasi oleh aura berani yang dipancarkan menantunya.
"Sopan santun? Maaf ya, Ibu Diana. Sopan santun saya itu cuma berlaku buat orang yang juga tahu cara menghargai orang lain. Kalau Anda datang ke sini baik-baik, nanya baik-baik, saya juga bakal sambut dengan karpet merah. Tapi kalau Anda datang langsung main tangan dan maki-maki saya kayak orang kesurupan, ya jangan harap saya bakal cium tangan Anda!"
Mina menghembuskan napas pendek, menunjuk ke arah kamar Gino dengan ibu jarinya.
"Dan satu lagi. Kalau Anda ke sini cuma mau meributkan soal Gino, mending Anda lihat dulu ke dalam kamar. Cucu kesayangan Anda itu baru aja tidur pulas setelah seharian saya ajak jalan-jalan dan makan enak di luar sampai dia ketawa senang. Jadi, kalau Anda mau teriak-teriak dan bikin keributan sampai anak itu bangun dan ketakutan lagi, silakan saja. Biar sekalian saya telepon Arsenio sekarang juga buat lihat kelakuan ibunya yang hobi bikin keributan malam-malam!"
Diana terbungkam seribu bahasa. Kata-kata Mina yang begitu blak-blakan, santai, namun menusuk tepat sasaran sukses meruntuhkan harga diri tingginya dalam sekejap. Wanita paruh baya itu hanya bisa menatap Mina dengan dada yang naik turun karena emosi yang tertahan, menyadari bahwa Alicia yang ada di depannya saat ini benar-benar telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya dan tidak bisa lagi dia kendalikan dengan ancaman-ancaman kosong.
Bersambung.....
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.😘
semngat update lagi ya kak