NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Kembalinya Penjaga Purba

Udara yang tadinya dingin, kelabu, dan berbau kematian, kini berubah seketika. Aura yang dipancarkan oleh kelima puluh sosok itu begitu murni, begitu alami, namun juga begitu dahsyat hingga energi merah darah yang menyelimuti kapal raksasa di atas sana tampak meringkuk, seolah takut dan tertindih. Langit yang gelap perlahan terbuka, berkas cahaya matahari kembali menembus turun, menyinari tanah yang hangus dan berasap itu, seolah alam pun ikut bersukacita atas kembalinya para pelindung sejatinya.

Elara mundur selangkah lagi, kakinya gemetar hebat di atas tanah yang panas. Darah keemasan masih menetes dari luka di tubuhnya, tapi rasa sakit fisik itu kini hilang tertutup oleh rasa takut purba yang mencengkeram jantungnya. Ia, yang selama ini merasa tak terkalahkan, yang merasa bangsa Langit adalah penguasa mutlak semesta, kini berdiri di hadapan sosok-sosok yang namanya saja sudah cukup membuat para tetua Kerajaan Langit bergidik ngeri saat diceritakan dalam legenda kuno ribuan tahun silam.

"Penjaga Elemen Purba..." gumam Elara parau, matanya tak lepas dari tongkat kristal di tangan lelaki tua berambut perak itu. "Kalian... bangsa yang menguasai akar kekuatan alam semesta... bangsa yang bahkan nenek moyang kami tak berani ganggu secara langsung... ternyata masih ada."

Lelaki tua itu melangkah maju perlahan, setiap langkahnya membuat tanah berhenti bergetar, membuat panas berkurang, membuat luka-luka kecil di sekitarnya perlahan tertutup oleh energi alam yang lembut namun teguh. Ia berjalan melewati Elara seolah panglima Langit itu hanyalah angin lalu yang tak berharga, berjalan lurus menuju ke tengah kawah, menuju ke tempat Raka terbaring lemah dan hampir tak sadarkan diri.

Pasukan Penjaga lainnya tetap diam berdiri membentuk lingkaran besar, memisahkan antara pasukan Garuda di bukit, Raka di tengah, dan Elara yang terpaku kaku. Mereka memancarkan aura pertahanan yang kokoh, siap menghadapi serangan apa pun dari atas atau dari musuh di depan mereka.

Saat lelaki tua itu sampai di depan Raka, ia berlutut perlahan, menatap wajah pemuda itu yang penuh luka, darah, dan kelelahan yang luar biasa. Ia mengulurkan tangan kanannya yang keriput namun kokoh, menyentuh pelipis Raka dengan lembut.

Seketika itu juga, rasa sakit yang menyiksa tubuh Raka mereda drastis. Energi hangat, sejuk, dan menyejukkan mengalir masuk melalui sentuhan itu, menyebar ke seluruh pembuluh darah, memulihkan otot yang robek, menenangkan saraf yang terbakar, dan mengembalikan sedikit demi sedikit kekuatan yang telah habis terpakai.

Raka, yang tadinya hampir menutup mata karena kelelahan berat, kembali membuka matanya lebar-lebar. Ia menatap wajah lelaki tua itu, menatap mata biru jernihnya yang seolah menyimpan seluruh rahasia dunia. Ada rasa akrab yang aneh, rasa seolah ia sudah pernah melihat wajah ini di mimpinya, atau di ingatan-ingatan samar yang bukan miliknya.

"Siapa... Kakek siapakah ini?" tanya Raka pelan, suaranya masih parau namun sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Kalian... kenapa kalian datang menolong kami? Dan kenapa nama Sumber Unggul... kalian sebutkan seolah itu milik kalian juga?"

Lelaki tua itu tersenyum lembut, senyum yang penuh kelembutan dan kebijaksanaan yang tak terukur. Ia mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah dada Raka, tepat di tempat di mana Sumber Unggul itu bersinar redup namun masih berdenyut hidup.

"Namaku adalah Kakek Aran, aku adalah Pemimpin Tertinggi Suku Penjaga Elemen Purba. Dan soal pertanyaanmu, Nak... Jawabannya sederhana saja."

Kakek Aran berhenti sejenak, menatap ke arah kapal raksasa yang diam tak bergerak di atas sana, lalu kembali menatap Raka dengan tatapan serius namun penuh kebanggaan.

"Sumber Unggul itu bukan milik siapa-siapa, tapi ia juga milik kita semua. Ia adalah inti kehidupan, adalah jantung dari seluruh energi yang ada di bumi ini. Ribuan tahun yang lalu, saat Kerajaan Langit pertama kali datang dengan keserakahan mereka, saat mereka ingin menguras habis kekuatan bumi ini dan menjadikannya tambang kosong... kamilah yang berdiri di barisan terdepan. Kamilah yang bertarung mati-matian melawan mereka."

Suara Kakek Aran mulai terdengar lebih berat, diisi dengan kenangan masa lalu yang kelam.

"Perang itu berlangsung ratusan tahun. Darah membanjiri benua, gunung runtuh, lautan mendidih. Kami kuat, kami menguasai elemen alam, kami bisa memanggil badai, gempa, api, dan petir... tapi jumlah mereka terlalu banyak, teknologi mereka terlalu maju, dan keserakahan mereka tak ada habisnya. Kami sadar, jika kami terus bertarung sampai habis tenaga, bumi ini sendiri akan hancur di tengah pertempuran kami."

Ia menghela napas panjang, mengusap pelan debu di pipi Raka.

"Maka dari itu, kami mengambil keputusan berat. Kami membagi Sumber Unggul menjadi beberapa bagian, menyembunyikan kekuatannya ke dalam inti bumi agar tidak bisa mereka ambil sembarangan. Dan kamilah yang bertugas menjaganya, bersembunyi di tempat-tempat yang tak terjangkau, menghapus jejak kami dari sejarah, dan menunggu... menunggu saat di mana seorang manusia yang berhati murni, yang berani, dan yang mencintai bumi lebih dari nyawanya sendiri, mampu membangkitkan kembali kekuatan itu sepenuhnya."

Kakek Aran menatap mata Raka lekat-lekat.

"Dan kamu, Raka Pratama... Kamulah orang itu. Kamu bukan sekadar wadah penyimpanan. Kamu adalah pewaris sejati. Saat kamu berjuang melindungi teman-temanmu, saat kamu berjuang melindungi rakyatmu, saat kamu berani melawan dewa-dewa palsu itu demi kebenaran... Sumber Unggul meresponsmu. Ia bangkit bersamamu. Dan saat ia bangkit... kami pun merasakannya. Itulah tanda bagi kami untuk keluar dari persembunyian."

Raka tertegun diam. Segala kebingungan yang selama ini ia rasakan—mengapa ia punya kekuatan ini, mengapa musuh begitu menginginkannya, mengapa rasanya ada ingatan asing di kepalanya—semuanya mulai menemukan jawabannya. Ia bukan sendirian dalam perjuangan ini. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang belum selesai.

Di sebelah mereka, Elara yang masih terpaku akhirnya mampu kembali berbicara, suaranya bergetar karena campuran amarah dan ketakutan.

"Omong kosong! Walaupun kalian kembali, walaupun kalian punya kekuatan kuno... kalian kira kalian bisa mengalahkan kekuatan Kerajaan Langit? Kapal itu di atas sana... 'Mata Penghakiman' itu... kekuatannya bisa menghancurkan benua dalam satu detik! Kalian dan kekuatan alam kalian... akan hancur jadi debu sebelum sempat bergerak!"

Kakek Aran tersenyum dingin mendengar ancaman itu. Ia perlahan berdiri tegak kembali, membalikkan badan menghadap Elara, dan kini wibawanya berubah drastis. Tidak lagi lembut, tapi tajam, menantang, dan mengerikan.

"Benar... Senjata itu memang dahsyat. Kami ingat betul kekuatan itu. Dulu, itulah alasan kami harus mundur dan bersembunyi. Tapi..."

Kakek Aran mengangkat tongkat kristalnya tinggi ke atas kepalanya. Seketika itu juga, kelima puluh Penjaga lainnya serentak mengangkat senjata atau tangan mereka ke arah langit, bersatu padu mengeluarkan energi mereka. Lima puluh cahaya berwarna-warni melesat ke atas, bertemu di satu titik tepat di atas kepala Kakek Aran, dan menyatu menjadi satu cahaya raksasa berwarna pelangi yang menyilaukan.

"Ribuan tahun kami bersembunyi bukan untuk tidur, anak Langit... Kami belajar. Kami mengembangkan kekuatan kami. Dan kami menyiapkan pertahanan yang cukup untuk menahan bahkan senjata penghancur dunia sekalipun."

Dari ujung tongkat Kakek Aran, sebuah kubah raksasa yang tembus pandang namun kokoh perlahan terbentuk, meluas menutupi seluruh wilayah pertempuran itu, meluas hingga menutupi pasukan Garuda di bukit, meluas hingga menyentuh awan di atas sana. Kubah itu berdenyut tenaga, berisi aliran elemen alam yang saling mengunci satu sama lain, membentuk perisai terkuat yang pernah ada di muka bumi.

"Ini adalah Kubah Pertahanan Alam Semesta," ucap Kakek Aran lantang, suaranya terdengar hingga masuk ke dalam kapal raksasa. "Cobalah tembakkan 'Mata Penghakiman' itu, Elara. Tembakkan segala kekuatan yang kalian punya. Dan lihatlah... apakah kalian mampu menembus pertahanan yang kami bangun selama ribuan tahun ini."

Di atas kapal induk, suasana di ruang kendali berubah menjadi panik. Para pengamat berteriak histeris melaporkan apa yang mereka lihat.

"Tuan! Terdeteksi lonjakan energi yang sangat besar! Ada perisai raksasa terbentuk di bawah sana! Analisis kekuatan... kekuatan perisai itu melebihi daya hancur 'Mata Penghakiman' kami!"

Sosok tua berjubah putih di singgasana itu akhirnya berdiri, wajahnya yang dingin kini berkerut penuh kekhawatiran dan kemarahan yang mendalam. Ia menatap layar dengan pandangan tajam dan kejam.

"Penjaga Purba... kalian benar-benar masih ada... dan kalian berani melawan kami lagi..." Ia mengepal tangannya erat. "Baiklah... Jika senjata penghancur wilayah saja tidak cukup... kita akan gunakan kekuatan penuh armada. Panggil kembali pasukan penyerang dari benua lain. Aktifkan seluruh menara senjata. Kita tidak akan menghancurkan satu wilayah saja... Kita akan mengubah seluruh permukaan bumi ini menjadi lautan api sampai bangsa itu musnah selamanya."

Di bawah sana, Elara yang mendengar perintah itu melalui alat komunikasinya, tersenyum kembali, meski senyumnya penuh kepahitan dan rasa sakit. Ia menatap tajam ke arah Kakek Aran dan Raka.

"Kalian bangga ya? Kalian kira dengan munculnya kalian, semuanya akan berubah? Kalian baru saja membuat kesalahan terbesar dalam sejarah hidup kalian, Penjaga Purba. Kalian baru saja mengundang kiamat datang lebih cepat."

Elara perlahan melayang naik ke udara, meski tubuhnya goyah dan darahnya masih menetes. Ia kembali ke bawah bayangan kapal raksasa itu.

"Kalian mau perang? Kalian mau melawan Kerajaan Langit? Baiklah... Akan kami penuhi keinginan kalian. Tapi ingatlah... setiap tetes darah yang tumpah, setiap debu yang terbang, setiap nyawa yang hilang... semuanya adalah tanggung jawab kalian."

Suasana menjadi sunyi kembali, namun kali ini bukan sunyi karena ketakutan atau keputusasaan. Ini adalah sunyi sebelum badai terbesar yang pernah disaksikan sejarah dunia. Di satu sisi, Kerajaan Langit yang marah besar, mengerahkan seluruh kekuatan armada luar angkasanya. Di sisi lain, Pasukan Garuda, Elang Bebas, dan kini para Penjaga Purba, berdiri bersatu di bawah pimpinan Raka Pratama, siap bertahan sampai tetes darah terakhir demi melindungi rumah mereka.

Raka berusaha berdiri tegak dengan bantuan tangan Kakek Aran. Ia menatap ke arah kapal raksasa itu, menatap ke arah Elara yang perlahan menghilang masuk ke dalam perut kapal, dan menatap ke arah teman-temannya yang mulai berjalan turun dari bukit untuk bergabung bersamanya.

Rasa sakit di tubuhnya masih ada, kelelahan masih terasa berat, tapi di dadanya kini ada sesuatu yang baru: Harapan. Dan tekad yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Ia menggenggam tangan Kakek Aran erat-erat.

"Terima kasih, Kakek... Terima kasih sudah datang," ucap Raka tegas. "Mulai sekarang... kami tidak akan lari lagi. Kami tidak akan mundur lagi. Mereka mau perang? Kami akan berikan perang. Kami akan buktikan bahwa bumi ini bukan tempat sampah bagi mereka. Dan kami bukan makhluk rendahan yang bisa mereka injak-injak sesuka hati."

Kakek Aran tersenyum bangga, menepuk bahu Raka.

"Benar sekali, Nak. Itulah semangat yang kami tunggu. Dan percayalah... Ini baru permulaan. Perang besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini... kami bertarung bersama-sama."

Kapal raksasa di atas sana perlahan bergerak, berputar mengubah posisi, menurunkan ratusan pesawat tempur baru yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari sebelumnya. Langit kembali berubah warna, kali ini menjadi hitam pekat tertutup armada perang yang tak terhitung jumlahnya.

Di tanah bumi, ribuan pasukan berdiri berbaris rapi, diapit oleh kekuatan teknologi militer canggih dan kekuatan elemen alam purba. Di barisan paling depan, Raka Pratama berdiri tegak, menjadi pusat harapan dan kekuatan.

Perang untuk nasib bumi... Perang untuk kebebasan umat manusia... Perang untuk menentukan siapa yang berhak menguasai semesta... akhirnya resmi dimulai kembali.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!