NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Suasana langsung kembali hening.

Mirza yang sejak tadi menangis langsung mengangkat wajahnya cepat. “Mira…”

“Aku ingin berpisah.” Kalimat itu terdengar tegas. Tanpa ragu.

Dan justru itu yang membuat dada Mirza terasa semakin sesak.

“Aku enggak bisa lanjut hidup seperti ini.” Air mata Amira jatuh lagi, tetapi suaranya tetap stabil. “Setiap kali lihat kalian… aku cuma akan ingat pengkhianatan ini.”

Nurul langsung menunduk sambil menangis.

Sementara ibu Mirza memejamkan mata menahan sedih.

“Aku sudah terlalu hancur, Mas.” Amira akhirnya menoleh pada suaminya untuk pertama kali sejak beberapa menit terakhir. Tatapannya penuh luka. “Aku kehilangan anakku…” Napasnya bergetar. “Dan di saat aku paling rapuh, kamu justru menghancurkan aku lebih dalam.”

Mirza menangis sambil menggeleng kuat-kuat. “Aku bisa berubah…”

“Tapi aku sudah berubah duluan.”

Kalimat itu membuat Mirza langsung membeku.

Amira mengusap air matanya sendiri. “Dulu aku melihatmu sebagai imam. Seseorang yang aku hormati.” Amira diam sejenak. “Tapi sekarang…” suaranya mulai pecah lagi, “aku cuma melihat laki-laki yang membohongiku.”

Ruangan kembali dipenuhi keheningan menyakitkan.

“Aku enggak mau lihat kalian lagi setelah ini.”

Nurul langsung terisak keras. “Amira…”

“Tolong.” Amira menahan tangis sambil memalingkan wajah. “Kalau kalian masih punya sedikit rasa kasihan sama aku, biarkan aku pergi dengan tenang.”

Mirza terlihat seperti ingin mengejar dan memohon lagi. Namun kali ini bahkan ibu kandungnya sendiri menahan lengannya pelan. Karena beliau tahu. Hati Amira sudah benar-benar patah.

Ibu Mirza menghapus air matanya kasar. Wajah perempuan tua itu terlihat jauh lebih tua dalam satu hari ini saja. Tatapannya perlahan beralih pada Mirza dan Nurul. Lalu dengan suara dingin yang penuh kekecewaan, beliau berkata, “Kalian keluar.”

Mirza langsung menoleh cepat. “Bu…”

“Aku bilang keluar!”

Bentakan itu membuat Nurul langsung tersentak ketakutan.

Sementara Amira hanya diam mematung dengan mata kosong.

Ibu Mirza menunjuk pintu rumah dengan tangan gemetar. “Jangan injakkan kaki kalian di rumah ini dulu.”

“Bu, dengarkan aku,”

“Sudah cukup aku dengar!” air mata beliau jatuh lagi. “Dari tadi yang keluar dari mulut kalian cuma alasan!”

Mirza mulai panik. “Ibu mau aku ke mana?”

Pertanyaan itu justru membuat perempuan tua tersebut tertawa pahit. “Sekarang kamu bingung mau ke mana?” Tatapannya menusuk tajam ke arah anak lelakinya. “Waktu kamu tidur sama perempuan lain, kamu enggak bingung?”

Mirza langsung terdiam.

Sementara Nurul terus menangis sambil memegangi perutnya.

“Bawa perempuan itu pergi.” suara ibu Mirza kembali dingin. “Karena sekarang dia tanggung jawabmu.”

“Bu…” Nurul menangis lirih.

Namun beliau justru memalingkan wajah. “Aku terlalu malu melihat kalian.” Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Mirza mendekati ibunya lagi dengan mata merah penuh penyesalan. “Aku anak Ibu…”

“Tapi hari ini kamu juga sumber kehancuran rumah ini.”

Mirza sampai kehilangan kata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ibunya sendiri mengusir dirinya keluar rumah.

“Pergi.” suara beliau melemah karena lelah menangis. “Sebelum aku semakin sakit hati melihat kalian.”

Mirza memejamkan mata kuat-kuat. Tangannya mengepal. Namun akhirnya ia hanya bisa menunduk pasrah. Pelan-pelan ia menggenggam tangan Nurul yang masih gemetar. Lalu membawa perempuan itu keluar rumah.

Sementara di dalam Amira duduk diam sambil menatap kosong ke arah pintu yang perlahan tertutup. Seolah bersama pintu itu berakhir pula seluruh hidup yang selama ini ia pertahankan.

Rumah itu mendadak terasa sangat sunyi setelah Mirza dan Nurul pergi. Tak ada lagi suara tangis histeris. Tak ada lagi bentakan. Yang tersisa hanya sesak yang menggantung di udara.

Amira masih duduk diam di sofa dengan tatapan kosong.

Sementara ibu mertuanya perlahan terduduk di lantai sambil memegangi dada. “Astagfirullah…” lirihnya berulang kali. Tangis perempuan tua itu kini jauh lebih pelan. Tangis seseorang yang benar-benar kehabisan tenaga.

Amira menoleh. Dan entah kenapa, melihat ibu mertuanya seperti itu justru membuat hatinya semakin sakit. Sebab di tengah semua kehancuran ini perempuan tua itu juga korban. “Ibu…” Suara Amira serak.

Ibu Mirza langsung mengangkat wajah dengan mata sembab.

Namun sebelum beliau bicara, Amira sudah lebih dulu turun dari sofa lalu berlutut di hadapannya. “Maaf…”

Perempuan tua itu langsung menggeleng cepat. “Jangan bilang maaf, Nak.”

“Tapi rumah ini jadi begini…”

“Bukan karena kamu.” Tangis ibu Mirza pecah lagi. Beliau memegang wajah Amira dengan kedua tangan gemetar. “Kamu menantu terbaik yang pernah Allah kirim buat keluarga ini…”

Kalimat itu membuat Amira langsung menunduk menangis.

“Justru ibu yang minta maaf…” suara perempuan tua itu bergetar penuh penyesalan. “Karena gagal menjaga kamu.”

Amira langsung memeluk ibu mertuanya erat. Dan untuk beberapa saat mereka hanya menangis bersama. Dua perempuan yang sama-sama disakiti oleh orang yang mereka cintai.

Menjelang magrib, rumah masih terasa muram. Amira duduk sendirian di kamarnya. Kamar yang selama ini ia tempati bersama Mirza. Matanya perlahan menyapu isi ruangan. Lemari kecil mereka. Sajadah yang biasa dipakai Mirza. Buku-buku agama milik suaminya. Semua tiba-tiba terasa asing. Padahal dulu tempat ini adalah rumah paling nyaman baginya. Namun sekarang ia justru merasa sesak berada di dalamnya.

Tatapannya jatuh pada pigura foto pernikahan mereka di atas meja. Amira bangkit pelan. Tangannya mengambil pigura itu. Lama ia memandangi wajah dirinya dan Mirza yang tersenyum bahagia di hari akad dulu. Hari ketika ia berpikir telah menemukan imam terbaik untuk hidupnya. Dan perlahan air matanya jatuh lagi.

“Kenapa kamu lakukan ini, Mas…” bisiknya lirih. Dadanya kembali terasa nyeri. Namun kali ini bukan hanya karena dikhianati. Melainkan karena ia sadar setelah ini, hidupnya benar-benar akan berubah.

***

Malam itu tubuh Amira mulai panas. Mungkin karena terlalu banyak menangis. Terlalu banyak syok dalam satu hari. Kepalanya berdenyut hebat sementara tubuhnya menggigil meski udara tidak dingin.

Ibu mertuanya yang menyadari keadaan Amira langsung masuk ke kamar membawa baskom air hangat dan minyak kayu putih. “Ya Allah, badanmu panas sekali, Nak…”

Amira hanya tersenyum lemah sambil memejamkan mata. Tubuhnya benar-benar terasa remuk.

Perempuan tua itu duduk di sisi ranjang lalu mulai memijit pelan kaki Amira yang pegal. Gerakannya lembut. Penuh kasih sayang.

Justru itu yang membuat air mata Amira kembali mengalir diam-diam. “Ibu…” suaranya lirih penuh rasa bersalah. “Maaf merepotkan.”

“Hush.” Beliau langsung menggeleng. “Jangan bilang begitu lagi.” Tangannya terus mengusap betis Amira perlahan. “Kamu sudah terlalu banyak menanggung sendiri.”

Ruangan terasa hangat meski hati mereka sama-sama terluka. Amira memandangi langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. “Aku takut, Bu…” Kalimat itu akhirnya keluar juga. Suara seorang perempuan yang selama ini berusaha kuat.

Ibu mertuanya menghentikan pijatan sebentar lalu menggenggam tangan Amira erat. “Takut apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!