NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Tuntutan dan Debu

Layar ponsel Rana menyala, menampilkan sebuah notifikasi yang seharusnya menjadi kabar paling bahagia bulan ini: Transfer Gaji Masuk.

Namun, alih-alih tersenyum, Rana justru menghela napas panjang hingga bahunya merosot. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja yang sudah mulai terasa keras dan tak nyaman setelah delapan jam ia duduki tanpa jeda. Jam tangan di pergelangan kirinya sudah menunjukkan pukul enam sore. Di luar sana, matahari Kalimantan Selatan mulai turun, menyisakan langit berwarna oranye yang tertutup tipis oleh debu tambang.

Belum sempat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, getaran panjang kembali terasa di telapak tangannya. Sebuah pesan dengan nama "Ibu" muncul di layar, membuyarkan ketenangan singkatnya.

Ibu: Ran, gajian hari ini, kan? Bulan ini banyak kebutuhan. Uang sekolahnya Rani nunggak dua bulan, terus dia bilang butuh laptop baru buat tugas kelompok. Laptop lamanya sudah lemot.

Rana memejamkan mata sesaat. Bayangan tagihan yang tak pernah putus berkelebat di kepalanya. Tangannya gemetar saat mulai mengetikkan balasan. Ada rasa sesak yang merambat dari dada ke tenggorokan.

Rana: Kalau laptop baru sekarang, Rana belum ada uangnya, Bu. Tapi kenapa bulanan bisa nunggak? Bukannya setiap bulan sudah Rana kirim?

Hanya butuh dua menit sampai balasan berikutnya muncul. Kali ini lebih panjang, tajam, dan sanggup menyayat hati Rana lebih dalam dari luka mana pun.

Ibu: Kamu itu sudah kerja, Ran. Masa buat adik sendiri pelit? Ingat, kamu itu anak sulung. Sudah kewajiban kamu bantu Ibu urus Rani. Ibu kan nggak kerja, siapa lagi yang mau diharap kalau bukan kamu? Nunggak bulanannya gara-gara banyak tugas dari sekolahnya, harus beli ini dan itu. Lagipula, dulu Rani sudah banyak ngalah pas kamu sekolah.

Rana ingin tertawa getir membaca kalimat terakhir itu. Rani mengalah? Kapan?

Ingatan Rana melayang ke masa lalu. Ia ingat betul bagaimana ia tetap mengenakan seragam yang sudah menguning dengan jahitan tangan sana-sini agar Rani bisa mendapatkan seragam baru setiap tahunnya.

Ia ingat bagaimana ia mengubur impiannya ikut kursus menggambar hanya agar Rani bisa mengikuti les tari, yang ironisnya hanya bertahan tiga minggu karena adik tirinya itu cepat bosan. Ia juga ingat bagaimana ia harus menahan luka lecet di tangannya setiap kali mencuci pakaian orang untuk mendapatkan uang saku.

Di rumah itu, suara Rana adalah bisikan yang tak pernah didengar, sementara rengekan Rani adalah perintah yang tak boleh dibantah. Jika mungkin, begitu Rani buka suara maka saat itu juga akan terkabul bak sulap.

Rana tidak membalas lagi. Percuma. Ia segera membuka aplikasi perbankan, mentransfer setengah gajinya ke rekening sang Ibu tanpa ragu, lalu menambahkan satu juta lagi. Ia melakukannya bukan karena murah hati, melainkan karena ia tahu sang Ibu tidak akan berhenti menerornya dengan dalih bakti jika keinginannya tidak segera dipenuhi.

Kini, saldo di rekeningnya hanya menyisakan angka yang miris jika dibandingkan dengan kerja kerasnya selama sebulan ini. Rana menghela napas, berusaha menghibur diri. Setidaknya ia tinggal di mess karyawan. Makan dan tempat tinggal sudah terjamin oleh perusahaan. Di perantauan ini, ia hanya punya dirinya sendiri untuk diandalkan.

Rana bangkit, mematikan komputer, dan melangkah keluar menuju parkiran. Ia naik ke dalam bus jemputan yang sudah menderu, mesinnya membelah sunyi area tambang. Bus berhenti di halte mess sekitar pukul tujuh malam. Langkahnya terseret masuk ke kamar. Setelah mandi untuk meluruhkan debu yang menempel di kulit, ia segera melaksanakan sholat Maghrib yang waktunya hampir habis, kemudian menuju kantin untuk makan malam dalam diam.

Di sisi lain, ribuan kilometer dari bisingnya mesin tambang, suasana rumah terasa jauh lebih hangat; setidaknya bagi penghuninya.

Rani sedang duduk bersila di depan meja kayu, asyik mengunyah martabak manis yang aromanya memenuhi ruangan. Mentega cair menetes di sudut bibirnya, namun tak ia pedulikan. Di sampingnya, sang ibu sedang asyik menonton sinetron di layar televisi, sesekali mengomentari akting sang aktor.

"Uangnya sudah masuk, Bu!" seru Rani begitu melihat notifikasi m-banking di ponsel sang Ibu yang tergeletak di meja.

"Berapa?" tanya Ibu tanpa mengalihkan pandangan dari TV.

"Cuma dilebihi satu juta. Mana cukup untuk beli laptop baru, Bu?" Rani memanyunkan bibirnya, nafsu makannya pada martabak tiba-tiba hilang.

"Laptop yang Rani mau itu harganya hampir lima juta lebih."

Ibu mengernyitkan dahi. Ia mengambil alih ponselnya dan membuka aplikasi pesan.

"Padahal Mbakmu itu kerjanya di perusahaan tambang yang gajinya besar."

Ibu segera mengetikkan pesan protes, rentetan kalimat yang menuntut penjelasan mengapa jumlahnya tidak sesuai ekspektasi. Namun, centang satu. Pesan itu tidak terkirim sepenuhnya atau mungkin tidak dibaca.

Sementara itu, Rana yang telah kelelahan lahir dan batin tidak tahu tentang pesan itu. Setelah melaksanakan sholat Isya, ia langsung jatuh tertidur di atas kasur tipisnya tanpa sempat mengecek ponsel lagi.

"Kakakmu sepertinya mau menghindar," gumam Ibu gusar karena tidak kunjung mendapat balasan.

"Mungkin sudah tidur, Bu," sahut Rani acuh tak acuh sambil kembali mengambil potongan martabak.

"Mana ada? Ini baru jam delapan malam," bantah Ibu.

"Di sana kan sudah jam sembilan, Bu. Selisih satu jam," Rani mengingatkan.

Ibu tampak berpikir sejenak, wajahnya masih menyiratkan kejengkelan.

"Awas saja besok. Ibu akan telepon sampai dia angkat."

Keesokan harinya, alarm alami di tubuh Rana membuatnya terbangun tepat pukul empat pagi. Udara mess yang dingin menusuk tulang tak menghalanginya untuk segera mandi dan bersiap. Setelah sholat Subuh, ia melangkah menuju kantin dengan seragam kerja yang dibalut jaket untuk mengambil jatah sarapan.

"Seperti biasa kah, Mbak Rana?" tanya petugas kantin yang sudah hafal dengan rutinitasnya.

"Roti bakar pakai selai cokelat saja, Mbak. Sedang ingin yang manis-manis untuk memulai hari," jawab Rana dengan senyum tipis.

Ia butuh asupan gula untuk menghadapi tekanan hari ini.

"Ada bubur kacang hijau, Mbak. Bagaimana kalau bubur kacang hijau sama roti tawar ditambah susu kental manis?" tawar petugas itu ramah.

"Boleh, Mbak. Terima kasih," jawab Rana.

Petugas itu dengan cekatan membungkuskan bubur kacang hijau dan roti tawar secara terpisah, tidak lupa susu cokelat hangat pesanan tetap Rana. Rana menerima bungkusan itu dengan rasa syukur yang tulus. Di tempat ini, keramahan kecil seperti ini adalah kemewahan baginya.

Ia segera menuju halte jemputan. Ternyata bus sudah menunggu di sana, mesinnya menderu rendah di tengah kabut pagi. Rana masuk dan mencari tempat duduk, namun kursi-kursi mulai penuh. Matanya menangkap satu tempat duduk kosong di barisan kedua, di samping seorang laki-laki yang mengenakan seragam berbeda dengannya. Rana hanya mengira jika laki-laki itu adalah karyawan sub-contractor yang menumpang di bus karyawan office.

"Permisi, Mas. Boleh duduk di sini?" tanya Rana sopan.

Laki-laki itu mendongak sejenak, lalu mengangguk singkat.

"Silakan."

"Terima kasih."

Rana duduk dan memangku tas serta bungkusan bekalnya. Selama perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menit melewati jalanan tanah yang bergelombang, tidak ada pembicaraan di antara mereka. Rana lebih memilih memejamkan mata, mencoba mencuri waktu istirahat, sementara laki-laki di sampingnya tampak sibuk memainkan ponsel dengan ekspresi serius.

Sesampainya di area kantor, Rana turun dari bus dan memberikan anggukan kecil sebagai tanda permisi kepada teman sebangkunya tadi. Begitu ia memasuki ruangan kontainer, suara riuh rekan-rekan kerjanya langsung menyambut.

"Cie, Rana! Pagi-pagi sudah dapat gandengan baru," goda Kak Dino, salah satu senior di divisinya.

"Wah, selera Rana tinggi juga ya, langsung duduk sama orang dealer," sahut Mas Budi sambil tertawa kecil.

Biasanya Rana akan duduk di samping Mas Budi atau Kak Dino, tetapi karena bus penuh dan mereka duduk di barisan belakang, ia terpaksa duduk di depan dengan orang asing karena dirinya termasuk tidak dekat dengan karyawan perempuan lainnya.

"Aku saja tidak kenal, Mas. Kebetulan kursi yang kosong cuma di situ," elak Rana sambil meletakkan tasnya di loker.

"Jelas saja kamu tidak kenal. Mereka itu mekanik dealer yang baru saja datang kemarin untuk perbaikan DT 777," jelas Kak Dino.

"Lalu kenapa kalian menggodaku?" tanya Rana heran.

"Dia masih single, Na. Namanya Pradika kalau tidak salah. Siapa tahu kalian berdua jodoh. Sama-sama pendiam," celetuk Mas Budi yang disambut tawa rekan lainnya.

Rana tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan mulai menyalakan komputer. Pikirannya tidak pada laki-laki itu, melainkan pada tumpukan form safety briefing yang harus segera ia siapkan.

Rana teringat perjalanannya sampai ke sini. Dulu, ia hanya seorang customer service di sebuah percetakan di Bojonegoro. Gajinya pas-pasan, namun cukup untuk dirinya sendiri. Tetapi, setelah ayah tirinya meninggal, tuntutan sang Ibu yang ingin Rani masuk ke sekolah bergengsi dan gaya hidup yang terus meningkat memaksa Rana mencari jalan keluar. Berkat bantuan sepupunya yang menikah dengan seorang Trainer Operation di sini, ia nekat merantau ke luar pulau demi penghasilan yang lebih tinggi.

Namun ironisnya, setinggi apa pun gajinya, sebanyak itu pula tuntutan Ibunya bertambah. Ia merasa seperti berlari di atas treadmill; terus bergerak namun tidak pernah sampai ke mana-mana.

Selesai safety briefing, Rana duduk untuk menyelesaikan input data yang tersusun di mejanya. Itu adalah "pending-an" dari shift malam yang harus selesai sebelum jam sembilan pagi. Sambil memasukkan data, ia menyesap susu cokelat hangatnya. Manisnya susu itu setidaknya memberikan Rana sedikit tenaga tambahan.

"Ran, aku mau ke office untuk menyerahkan laporan. Tolong layani kalau ada yang mau ambil part, ya? Yang lain sedang di gudang belakang memilah barang," pesan Mas Budi sebelum pergi.

"Iya, Mas. Aman," jawab Rana mantap.

Tak lama setelah Mas Budi pergi, terdengar ketukan di meja bagian pengambilan barang. Rana segera berdiri dan merapikan seragamnya.

"Iya, ada yang bisa dibantu?"

Di depannya berdiri seorang laki-laki dengan kacamata hitam yang tersampit di kerah seragamnya. Rana ingat, dia adalah laki-laki yang tadi pagi duduk di sampingnya di bus. Laki-laki itu menyerahkan form work order (WO) yang berisi daftar beberapa suku cadang.

Rana menerima form itu dan segera mengecek ketersediaan di sistem sebelum mencari satu per satu barang di deretan rak yang tinggi. Setelah beberapa saat, Rana kembali ke depan dengan setumpuk barang di tangannya.

"Ini barangnya, Mas. Tapi ada satu yang kosong, seal-70133 tidak tersedia di stok kita. Mau diorderkan atau bagaimana?" tanya Rana profesional.

Laki-laki itu, yang kini Rana tahu bernama Pradika dari name tag di dadanya, menatap barang yang baru saja diletakkan Rana.

"Kalau order, lama tidak?"

"Tergantung. Kalau masih tersedia di area, bisa dua sampai tiga hari sampai. Tapi kalau stoknya kosong di Indonesia dan harus ambil dari luar, bisa sampai sebulan lebih," jelas Rana.

Pradika terdiam sejenak.

"Coba cek-kan dulu posisinya di mana."

Rana mengangguk. Ia menggunakan komputer Mas Budi yang memiliki akses lebih luas ke sistem logistik global. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard.

"Paling dekat ada di Singapura, Mas.” kata Rana setelah kembali ke meja depan.

"Wah, kelamaan kalau begitu. Aku akan koordinasi dengan atasan dulu untuk solusi daruratnya," sahut Pradika.

Suaranya terdengar berat dan tenang, kontras dengan kebisingan mesin-mesin berat di luar kontainer.

Rana mengangguk dan mengembalikan salinan form setelah menandatanganinya. Pradika menerima kertas itu, menatap Rana sekilas, lalu mengucapkan terima kasih sebelum pergi.

Rana menatap punggung Pradika yang menjauh, lalu kembali ke ruangan beralih ke layar ponselnya yang kembali bergetar. Sebuah pesan baru dari Ibu muncul di layar.

Ibu: Rana! Kenapa telepon Ibu tidak diangkat? Pokoknya besok Ibu tunggu tambahan uang buat laptop Rani. Jangan jadi anak durhaka yang lupa sama keluarga sendiri!

Rana meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan rasa sesak yang kembali menghimpit. Di tengah debu tambang dan tuntutan yang mencekik, Rana hanya bisa bertanya dalam hati: Kapan aku bisa memikirkan diriku sendiri?

1
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!