NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:108
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Nama yang Tidak Mati

Pagi datang bersama suara ketukan pintu.

TOK. TOK. TOK.

Nayra langsung bangun refleks.

Jantungnya nyaris lompat keluar.

Karena setelah semua yang terjadi…

suara ketukan sederhana saja sudah terasa seperti ancaman pembunuhan.

Ruang tengah masih gelap sedikit.

Arsen tertidur miring di sofa dengan selimut setengah jatuh ke lantai.

Sementara Zavian—

sudah berdiri dekat pintu sambil memegang pistol.

Cepat sekali.

Seolah cowok itu bahkan tidak benar-benar tidur semalaman.

TOK. TOK. TOK.

Ketukan terdengar lagi.

Tenang.

Pelan.

Namun justru itu membuat suasana makin tegang.

“Siapa?” tanya Zavian dingin.

Tak ada jawaban.

Deg.

Nayra langsung merinding.

Arsen akhirnya bangun sambil mengusap mata.

“Aku baru tidur dua jam…”

TOK. TOK. TOK.

Ketukan ketiga.

Dan kali ini—

terdengar suara perempuan dari balik pintu.

“Aku sendirian.”

Sunyi.

Tak ada yang bergerak.

Karena itu bisa saja jebakan paling bodoh sekaligus paling efektif.

Zavian memberi kode agar Nayra mundur.

Tapi Nayra malah mendekat sedikit.

“Aku kenal suaranya.”

“Hah?”

Nayra mengernyit.

Ia yakin pernah mendengar suara itu.

Namun samar.

Sangat samar.

Seperti memori lama yang tenggelam.

Zavian akhirnya membuka pintu sedikit.

Dan semua langsung membeku.

Seorang perempuan berdiri di luar apartemen.

Rambut hitam pendek.

Jaket abu-abu panjang.

Tatapan tajam.

Dan luka tipis di pipinya.

Perempuan itu terlihat sekitar akhir dua puluhan.

Cantik.

Tapi dengan aura seseorang yang terlalu sering bertahan hidup.

Begitu melihat Nayra—

perempuan itu membeku.

Tatapannya berubah aneh.

Campuran lega dan sedih.

“Jadi benar…”

Suara pelannya membuat dada Nayra langsung tidak nyaman.

“Kamu masih hidup.”

Deg.

“Siapa kamu?”

Zavian langsung berdiri sedikit di depan Nayra.

Protektif seperti biasa.

Perempuan itu melirik pistol di tangan Zavian.

Lalu tertawa kecil.

“Masih sama ternyata.”

“Hah?”

Tatapannya kembali ke Nayra.

Dan perlahan—

ia berkata sesuatu yang membuat dunia Nayra terasa berhenti.

“Aku kakakmu.”

Sunyi total.

“…apa?”

Suara Nayra nyaris tidak keluar.

Perempuan itu tersenyum tipis.

Pahit.

“Namaku Reina.”

Tatapannya melembut.

“Aku nyari kamu bertahun-tahun.”

Deg.

Napas Nayra langsung kacau.

Karena satu hal—

ia tidak pernah punya keluarga.

Setidaknya itu yang ia pikir.

“Ini jebakan?”

Suara Zavian tetap dingin.

Reina menghela napas kecil.

“Kalau aku mau nyerang kalian…”

Tatapannya ke pistol Zavian.

“…aku nggak bakal datang sambil ketuk pintu.”

Valid.

Namun tetap saja—

situasi ini terlalu absurd.

Arsen akhirnya berdiri sambil masih setengah ngantuk.

“Oke. Aku bangun dan langsung ada plot twist.”

“Diam dulu,” geram Nayra.

Matanya masih terpaku ke Reina.

“Kamu bohong.”

Kalimat itu keluar terlalu cepat.

Karena Nayra takut berharap.

Takut kalau ini cuma permainan baru.

Namun Reina tidak marah.

Ia malah perlahan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.

Sebuah foto lama.

Sedikit rusak.

Dan begitu Nayra melihatnya—

dadanya langsung terasa sesak.

Foto seorang anak kecil.

Dua anak perempuan.

Yang satu lebih besar.

Yang satu lagi memegang boneka kelinci kecil.

Deg.

Memori samar langsung menghantam kepala Nayra.

Taman.

Hujan.

Tawa kecil.

Dan suara seseorang memanggil—

“Nana!”

Nayra langsung memegang kepalanya.

Napasnya memburu.

“Nayra!”

Zavian langsung menangkap bahunya sebelum ia jatuh.

Sementara Reina membeku di tempat.

Matanya sedikit membesar.

“Kamu masih ingat nama itu…”

Air mata langsung muncul di mata perempuan itu.

Dan Nayra tidak tahu kenapa—

tapi dadanya ikut sakit melihatnya.

“Aku nggak ngerti…”

Suara Nayra gemetar.

“Kamu siapa sebenarnya…”

Reina menarik napas panjang.

Lalu berkata pelan—

“Dulu… sebelum Lazarus ngambil kamu…”

Tatapannya perlahan berkabut.

“…kita hidup bareng.”

Sunyi.

Dan Nayra merasa dunia di bawah kakinya goyah.

“Ayah meninggal waktu kamu masih kecil.”

Reina bicara perlahan.

“Habis itu kita tinggal sama ibu.”

Tatapannya turun.

“Lalu Lazarus datang.”

Deg.

“Mereka bilang kamu sakit.”

Suara Reina mulai pecah sedikit.

“Dan mereka bisa nyembuhin kamu.”

Nayra langsung merasa mual.

Karena ia bisa menebak akhirnya.

“Ibu percaya sama mereka.”

Tatapan Reina kosong sekarang.

“Tapi ternyata…”

Napasnya gemetar.

“…mereka nggak pernah niat nyembuhin siapa-siapa.”

Sunyi.

Tak ada yang bicara.

Bahkan Arsen sekarang terlihat serius.

“Aku nyari kamu bertahun-tahun.”

Reina tersenyum kecil pahit.

“Setiap ada rumor soal eksperimen manusia…”

Tatapannya ke Nayra.

“…aku selalu berharap itu bukan kamu.”

Deg.

Air mata Nayra langsung jatuh tanpa izin.

Karena suara perempuan itu terlalu tulus untuk jadi kebohongan.

Terlalu penuh luka.

“Kenapa baru sekarang?”

Suara Nayra kecil.

“Aku nggak tahu kamu masih hidup.”

Reina mengusap matanya cepat.

“Begitu berita Lazarus bocor…”

Tatapannya sedikit gemetar.

“…aku mulai nyari.”

Hening.

Lalu perlahan ia tersenyum kecil.

“Dan ternyata adikku keras kepala banget sampai nggak mati.”

Arsen langsung mengangguk.

“Itu fakta.”

“Diam,” geram Nayra sambil nangis.

Zavian masih terlihat waspada.

Namun tatapannya tidak setajam tadi.

Ia bisa melihat sendiri—

reaksi Reina terlalu nyata.

Terlalu emosional.

Sulit dipalsukan.

“Masuk dulu.”

Semua langsung menoleh ke Nayra.

Gadis itu bahkan terlihat kaget dengan keputusannya sendiri.

Tapi entah kenapa…

ia tidak ingin perempuan itu pergi.

Belum.

Reina masuk perlahan ke apartemen kecil itu.

Tatapannya langsung berkeliling ruangan.

Dan ia mendadak tertawa kecil.

“Kamu tinggal di tempat beginian?”

“HEY.”

“Lucu.”

“Itu penghinaan ya?”

“Sedikit.”

Dan anehnya—

cara perempuan itu bicara terasa familiar.

Terlalu familiar.

Beberapa menit kemudian—

mereka duduk di ruang tengah dengan suasana super canggung.

Arsen makan cereal.

Zavian diam mengawasi.

Nayra bingung harus mulai dari mana.

Sementara Reina memegang cangkir teh hangat seperti sedang menenangkan dirinya sendiri.

“Aku masih nggak percaya.”

Nayra akhirnya bicara pelan.

Reina mengangguk kecil.

“Aku juga.”

Tatapannya lembut sekarang.

“Kamu udah gede.”

“Hah?”

“Terakhir aku lihat kamu…”

Senyum kecil muncul di bibirnya.

“…kamu nangis karena boneka kelincimu jatuh ke got.”

Sunyi dua detik.

Lalu—

“ASTAGA ITU MEMALUKAN.”

Reina langsung tertawa pertama kalinya.

Dan tawanya hangat.

Sangat hangat.

Deg.

Nayra langsung membeku sedikit.

Karena suara itu…

terasa seperti rumah yang tidak pernah ia ingat.

“Aku punya sesuatu.”

Reina membuka tas kecilnya.

Lalu mengeluarkan sebuah kotak tua.

Sedikit rusak di ujung.

“Aku simpan ini selama bertahun-tahun.”

Tatapannya ke Nayra.

“Karena aku percaya kamu bakal balik.”

Perlahan Nayra membuka kotak itu.

Dan napasnya langsung tercekat.

Boneka kelinci kecil.

Tua.

Agak kusam.

Namun masih utuh.

Deg.

Memori langsung menyerang brutal.

Tangan kecil.

Pelukan hangat.

Suara tawa.

Dan seseorang berkata—

“Jangan nangis, Nana.”

Air mata Nayra langsung jatuh deras.

“Itu…”

“Tadinya mau dibuang ibu.”

Reina tersenyum kecil.

“Tapi aku sembunyiin.”

Nayra memeluk boneka itu erat tanpa sadar.

Dan untuk pertama kalinya…

ia benar-benar merasa punya masa lalu.

Punya keluarga.

Punya seseorang yang menunggunya pulang.

Namun di tengah suasana hangat itu—

ponsel Arsen tiba-tiba berbunyi keras.

Semua langsung refleks tegang.

Arsen melihat layar.

Dan wajahnya langsung berubah.

Buruk.

Sangat buruk.

“Ada apa?”

Arsen perlahan mengangkat pandangan.

“Mereka gerak lebih cepat dari dugaan.”

Deg.

“Kemana?”

“Ke sini.”

Sunyi.

Lalu alarm kecil dari laptop berbunyi.

Sistem kamera apartemen aktif otomatis.

Dan di layar—

terlihat tiga mobil hitam berhenti di ujung jalan.

Orang-orang keluar perlahan.

Berpakaian gelap.

Membawa senjata.

Dan salah satu dari mereka—

membuat simbol tiga garis ke arah kamera.

“Mereka nemuin kita.”

Suara Arsen langsung serius.

“Dan kali ini…”

Tatapannya ke layar.

“…mereka datang buat ambil Nayra.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!