NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Hamil

Dibuang Saat Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Single Mom
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku hampir kehilanganmu

Bruk!

Untung saja Niel cepat menarik tubuh Diana hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya erat, sementara motor tersebut melintas dengan sangat dekat.

Sreettt!

Motor itu tetap melaju pergi tanpa berhenti sedikit pun.

Diana membelalakkan mata, napasnya memburu cepat. Jantungnya berdetak sangat kencang karena syok.

Niel memeluk tubuh Diana erat, napasnya juga terdengar tak beraturan.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya dengan suara berat.

Diana masih sulit mencerna apa yang baru saja terjadi. Tangannya refleks memegang perutnya.

“A-anakku...” lirihnya panik.

Ucapan itu membuat Niel langsung menatap perut Diana.

“Kamu sakit?”

Diana menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Aku... aku nggak tahu.”

Niel langsung mengangkat tubuh Diana dengan panik.

“Eh, Niel!” pekik Diana terkejut.

“Kita ke rumah sakit.”

“Niel, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri.”

“Diam.”

Nada dingin Niel justru terdengar penuh kepanikan.

Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan mereka.

Niel membawa Diana masuk ke dalam mobilnya.

Tak lama kemudian, Rosa keluar dari restoran dan langsung terkejut melihat Diana yang tampak panik.

“Diana?! Ada apa?”

“Nanti saya jelaskan,” ucap Niel singkat.

Tanpa menunggu jawaban Rosa, mobil Niel melaju cepat menuju rumah sakit.

Di sisi lain—

Seorang pria yang mengendarai motor tadi menghentikan kendaraannya di tempat sepi.

Ia melepas helmnya dengan napas kasar.

“Sial... hampir saja berhasil.”

Pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Tak butuh waktu lama, panggilannya tersambung.

“Bagaimana?” suara Iren terdengar dari seberang telepon.

Pria itu menunduk gugup. “Maaf Nyonya... saya gagal.”

“Apa?!”

Wajah Iren langsung berubah gelap dipenuhi amarah.

“Kenapa bisa gagal?”

“Ada pria yang menyelamatkan Diana sebelum saya menabraknya.”

Deg.

Iren mengepalkan tangannya erat.

“Pria?”

“Iya, Nyonya.”

Wajah Iren dipenuhi amarah.

“Dasar tidak berguna!” bentaknya sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.

°°••°°

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa menyesakkan.

Niel menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke jalan dengan kecepatan mobil yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

Di kursi penumpang, Diana mulai meringis sambil memegang perutnya.

“Niel…” suaranya bergetar menahan sakit.

Niel langsung menoleh sekilas. Wajahnya yang biasanya dingin kini dipenuhi kepanikan yang berusaha ia tekan.

“Diana, sabar. Rumah sakit sudah dekat.”

Diana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menangis. Kepalanya dipenuhi ketakutan.

“Anakku…” lirihnya dengan air mata mulai jatuh.

“Tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Niel cepat, meski suaranya terdengar berat. “Kamu dan anakmu akan baik-baik saja.”

Di belakang mobil Niel, Rosa terus mengikuti dengan mobilnya sendiri. Wajah wanita itu penuh kecemasan sambil terus berdoa dalam hati.

“Tolong jaga Diana dan bayinya…” gumam Rosa penuh cemas.

Tak lama kemudian, mobil Niel berhenti mendadak di depan rumah sakit dengan suara decitan ban yang cukup keras.

Niel langsung turun dan berlari ke sisi Diana.

“Aku bisa jalan—”

Namun Niel tak mendengarkan. Ia kembali mengangkat tubuh Diana dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.

“Dokter!” teriaknya dengan suara keras hingga beberapa perawat menoleh. “Tolong dia!”

Para perawat segera membawa Diana ke atas brankar.

“Pasien hamil, segera bawa ke ruang pemeriksaan!” ujar salah satu perawat.

Diana menggenggam tangan Niel erat sebelum didorong pergi.

“Niel…” air matanya jatuh.

“Kamu akan baik-baik saja,” ucap Niel cepat.

Tak lama, pintu ruang penanganan tertutup.

Niel hendak masuk, namun seorang perawat menahannya.

“Maaf, Anda tidak boleh masuk.”

Niel menatap pintu itu dengan rahang mengeras.

“Dia sendirian di dalam.”

“Dokter sedang menangani pasien, mohon tunggu di luar.”

Niel mengepalkan tangannya kuat-kuat, tapi akhirnya mundur dengan napas berat.

Beberapa menit kemudian, Rosa datang tergesa-gesa.

“Niel!” panggilnya panik.

Niel menoleh.

Rosa mendekat dengan wajah pucat. “Apa yang terjadi pada Diana?”

Niel mengusap wajahnya kasar sebelum menjawab singkat.

“Ada motor yang hampir menabraknya.”

Mata Rosa langsung membelalak.

“Apa?!”

“Kalau saya terlambat sedikit saja…” suara Niel terputus, rahangnya mengeras menahan emosi.

Rosa ikut menatap pintu ruang penanganan dengan tubuh lemas.

“Ya Tuhan…”

Niel menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang berubah gelap.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia benar-benar ingin menghancurkan orang yang berani menyentuh Diana.

“Niel, apa yang terjadi dengan Diana?” ucap Dion sambil menghampiri dengan napas terengah-engah.

Niel menoleh sekilas. “Dia hampir ditabrak motor,” balasnya singkat.

Dion terkejut. “Ya Tuhan... lalu bagaimana keadaannya?”

“Dia masih ditangani.”

Lalu Niel menatap kembali Dion dengan tajam.

“Cari tahu semua tentang ini.”

Dion mengangguk cepat. “Baik. Lo temani Diana, gue akan urus masalah ini.”

Niel hanya membalas dengan anggukan singkat.

Tak lama kemudian, pintu ruang penanganan akhirnya terbuka.

Seorang dokter wanita keluar sambil melepas masker dari wajahnya.

Niel langsung berdiri paling cepat. “Bagaimana keadaannya, Dok?”

Rosa ikut mendekat dengan wajah penuh kecemasan. “Dokter, bagaimana Diana? Bayinya bagaimana?”

Dokter menatap mereka bergantian sebelum tersenyum tipis menenangkan.

“Syukurlah, kondisi pasien stabil dan bayinya juga baik-baik saja.”

Deg.

Tubuh Rosa langsung melemas karena rasa lega yang akhirnya datang. “Syukurlah…” lirihnya sambil menangkup kedua tangannya penuh rasa syukur.

Niel yang sejak tadi menahan napas berat akhirnya mengembuskannya perlahan. Bahunya yang tegang sedikit mengendur.

“Dia hanya mengalami syok berat akibat kepanikan tadi,” lanjut dokter. “Untung tidak ada benturan keras pada perut pasien. Tapi kami sarankan pasien banyak beristirahat dan jangan menghindari stres berlebihan.”

Niel mengangguk singkat. “Kapan saya bisa menemuinya?”

“Pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat. Anda bisa menemuinya sekarang, tapi jangan terlalu lama. Dia perlu istirahat.”

“Terima kasih, Dok.”

Dokter mengangguk lalu pergi.

Rosa langsung mengusap air matanya. “Ya Tuhan… aku benar-benar takut terjadi sesuatu pada Diana.”

Niel menatap pintu ruang rawat dengan sorot mata dalam. “Saya juga.”

Rosa menoleh, sedikit terkejut mendengar kejujuran itu keluar dari mulut pria sedingin Niel.

Tak lama, mereka berdua berjalan menuju ruang rawat Diana.

Di dalam kamar—

Diana terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan wajah pucat. Tangannya masih berada di atas perutnya seolah memastikan bayinya benar-benar baik-baik saja.

Saat melihat Niel masuk, matanya langsung berkaca-kaca.

“Niel…”

Pria itu melangkah mendekat dengan wajah dingin seperti biasa, tetapi sorot matanya penuh kekhawatiran.

“Dokter bilang kamu dan anakmu baik-baik saja.”

Air mata Diana jatuh begitu saja. “Aku sangat takut tadi…”

Niel tanpa sadar menggenggam tangan Diana erat.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi.”

Diana menatapnya dengan mata bergetar. “Niel…”

Rosa yang melihat suasana itu memilih mundur perlahan.

“Saya tunggu di luar dulu.”

Setelah Rosa keluar, ruangan menjadi hening.

“Niel, terima kasih. Jika kamu tidak ada, aku nggak tahu bagaimana nasibku dan anakku,” ucap Diana tulus.

Niel mengangguk singkat. “Itu sudah kewajibanku menjagamu.”

Deg!

“Maksud kamu...”

Niel menggeleng cepat. “Tidak usah dipikirkan. Sekarang kamu harus istirahat,” ucapnya sambil menarik selimut hingga menutupi tubuh Diana. Lalu ia menatap Diana lekat. “Boleh aku mengelus perutmu?” ucapnya dengan hati-hati.

Diana tertegun sejenak, lalu mengangguk pelan.

Setelah mendapat izin, Niel perlahan mulai mengelus perut Diana.

“Sehat terus, ya, Nak,” ucap Niel dengan suara jauh lebih lembut dari biasanya. “Jangan buat Bundamu terlalu khawatir lagi.”

Diana membeku.

Ini pertama kalinya ia melihat sisi Niel seperti ini—begitu hangat, begitu hati-hati, dan tulus.

Tangannya tanpa sadar menggenggam ujung selimut.

“Niel…” lirihnya pelan.

Niel masih menatap perut Diana dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Kamu harus kuat,” lanjutnya pelan. “Karena ibumu sudah berjuang sendirian sejauh ini.”

Air mata Diana kembali jatuh.

Ia tidak tahu kenapa kata-kata sederhana itu justru menghantam hatinya begitu keras.

“Sudah, jangan menangis lagi,” ucap Niel pelan.

Tangannya terangkat secara refleks, lalu menghapus air mata yang jatuh di pipi Diana dengan ibu jarinya.

Deg.

Diana langsung terpaku.

Jantungnya berdetak tak karuan saat wajah Niel begitu dekat dengannya.

“Niel…” lirihnya gugup.

Niel seakan baru tersadar dengan tindakannya. Tangannya perlahan turun, namun tatapannya tetap tertuju pada wajah Diana.

“Kamu harus banyak istirahat,” ucapnya kembali dengan nada lebih datar, seolah berusaha menutupi kegugupannya sendiri.

Diana menunduk pelan. “Iya…”

“Aku keluar dulu, Ibu Rosa akan menjagamu.”

Diana mengangguk. “Sekali lagi terima kasih.”

Niel hanya mengangguk singkat, lalu keluar dari ruangan.

“Ibu bisa masuk,” ucap Niel pada Rosa.

Rosa langsung masuk ke ruangan Diana.

“Niel.”

Niel menoleh saat Dion berlari menghampirinya.

“Gue sudah tahu siapa dalang di balik kecelakaan Diana.”

“Siapa?”

“Iren Dirgantara, mama Samuel Dirgantara.”

Niel mengepalkan tangannya erat. Sorot matanya menajam hingga membuat Dion merinding.

“Lagi-lagi dia,” ucap Niel dengan penuh tekanan.

1
Prafti Handayani
Lanjut thor..Gass tross....
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
Thor di tunggu lanjutannya...
Nona Jmn: Besok ya kak😋😍
total 1 replies
Prafti Handayani
FIX istrimu Pelacur Samm...
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Prafti Handayani
Calon suami dan Daddy buat Diana dan Debay.Mudah"an pria ini lebih berkuasa dri kel Samuel dan Citra.Biar Diana bs bls dendam.Dan calin Daddy bs melindungi Diana dan Debay slmnya.Niar debay nti gag bs diambil alih sm samuel dan keluarganya saat nti tau sam dan citra gag bs punya anak.
Mpusss...
Lia Rahmawati
katanya si Diana pergi jauh,tapi ko toko rotinya Deket sama toko rotinya yang punya si jahat?
Nona Jmn
Hai, kak. Akhirnya mampir di novel baruku😋😍
tia
jahat banget iren ,,makany toko u sepi
tia
semoga karma menghampir u Samuel sekuritas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!