Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 25
Ayunda difasilitasi sebuah apartemen termasuk mewah bagi dirinya terbiasa hidup sangat sederhana. Uang bukan lagi menjadi masalah, semua terselesaikan dengan sebuah kartu sakti pemberian sang suami.
Hari-hari berikutnya jauh lebih ringan, Ayunda juga berhenti dari pekerjaan mencuci piring. Jika Guntara melabelinya dengan sebutan Benalu – maka hal itu berlaku sempurna teruntuk Daksa Wangsa.
Istri masih berumur dua puluh tahun sangat menikmati semua yang diberikan suaminya tanpa sungkan.
Ayunda tidak ingin menjadi cangkang kosong, berusaha keras memantaskan diri bukan untuk dipilih suatu hari nanti melainkan dipertahankan hingga umurnya genap 26 tahun.
Ayunda ikut berbagai kursus sebagai modalnya selain berwajah cantik, fisik sempurna, dia harus memiliki value. Kelas komunikasi dan public speaking, sangat membantu Ayunda belajar berbicara dengan lugas, percaya diri, namun tetap lembut dan meyakinkan.
Kemudian kursus etiket (etiquette class) & personal branding: Mengajarkan etika pergaulan, etiket makan (table manner), dan cara membangun citra diri yang profesional serta anggun, Ayunda juga sangat giat dalam mendalaminya.
Disusul kursus makeup dan kecantikan, mengasah kemampuan merias diri agar selalu tampil sempurna, mempesona.
Terakhir les bahasa asing & pengembangan diri, sangat berguna bagi Ayunda membangun karir dari bawah nantinya.
Demi menjaga kecantikan, daya pikat, kebugaran, Ayunda menekuni olahraga pilates, dan yoga, dia juga ikut senam khusus menjaga area pribadinya tetap terasa menggigit. Ingin memberikan kepuasan supaya seorang Daksa Wangsa tidak pernah berpaling darinya.
Bertahun-tahun hubungan pernikahan itu berjalan lancar, daripada pasangan suami istri, mereka lebih mirip mitra kerja. Tinggal di tempat masing-masing, bertemu jika akhir pekan untuk melepaskan kebutuhan biologis.
Daksa Wangsa memiliki pola hidup teratur, ketat, disiplin, dan Ayunda bisa mengimbangi. Pintar menempatkan diri, tahu kapan menyenangkan dan mengerti waktunya memberi ruang.
Dia menepati setiap janji telah terikrar, tidak tertarik pada hubungan asmara layaknya wanita seumuran – pergi berkencan, melakukan hal-hal bersama diluar sana.
Bagi Ayunda, terpenting adalah tetap dipertahankan, jangan sampai dibuang sebelum waktunya. Maka dari itu, sebelum tumbuh keinginan menjadi seperti kebanyakan orang, sudah lebih dulu mematikan rasa yang menurutnya hanya merugikan diri sendiri.
Selesai pendidikan dan berhasil menyabet gelar sarjana, dia melanjutkan ke jenjang magister sambil bekerja di Wangsa group sebagai staf biasa.
Apa yang dulu dianggap sesuatu mustahil, bisa terwujud kala ada Daksa Wangsa sebagai penopang.
Semakin banyak pemberian sang suami, bertambah gigih Ayunda memerankan banyak tokoh.
Bila Vinira artis seni peran, maka Ayunda artis sesungguhnya di kehidupan nyata.
Di hadapan publik, Ayunda adalah bawahan Daksa Wangsa, hubungannya sebatas bos dan karyawan, mengelabui setiap pasang mata.
Namun, jika sedang berduaan di atas peraduan, mereka partner ranjang sama panasnya, setara.
Hal itu sudah berlangsung lima tahun lebih lamanya. Tidak pernah ada pertengkaran diantara mereka, intensitas pertemuan jarang, dan juga Ayunda sangat paham suasana hati pria memiliki rutinitas jelas, jarang berubah-ubah.
Flashback berakhir.
***
“Saya kira, setelah semua kemudahan diberi, akan membuatmu nyaman berakhir terlena lalu melupakan janji akan pergi seusai perjanjian itu berakhir.” Daksa terkekeh sumbang, menggenggam tangan istrinya yang benar-benar pulas. “Ternyata kamu tetap sama seperti dulu. Si wanita selalu menepati janji, enggan mengingkari.”
Tidak ingin sampai mengganggu tidur Ayunda, pria yang baru saja tiba dari perjalanan bisnis luar negeri, bergegas membuka koper mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke dalam mandi guna membersihkan badan. Baru setelahnya berbagi selimut dalam satu ranjang rawat inap bersama Ayunda.
.
.
“Jangan aneh-aneh deh, Ardo! Kepala gue lagi pusing mikirin perubahan sikap tuan Daksa, malah elu minta ditonjok. Nanti kalau gua khilaf, terus dirimu wasalam apa gak repot?” Iyan mengusap kasar rambutnya. Menolak permintaan salah satu pengawal dikhususkan bagi Ayunda.
Ardo masih belum puas hanya mendapatkan satu pukulan dampak dari tidak becus menjaga istri dari sang tuan, lalu meminta Iyan menambahi agar rasa bersalahnya sedikit berkurang.
Perjalanan bisnis kali ini sama sekali tidak hangat, malah dingin seperti kutub es. Entah apa penyebabnya, atau salahnya, tapi Iyan merasa tidak pernah berbuat kesalahan yang berakhir sang tuan sekaligus sahabat dari masa putih biru itu kesal luar biasa.
“Coba kamu inget lagi, apa saja yang sekiranya perkataan atau tindakan telah menyinggung tuan Daksa,” Yeri memberikan saran. Mereka bertiga duduk disebuah taman rumah sakit sembari menikmati kopi hangat.
“Apa ya?” Iyan menatap langit malam, berharap mendapatkan jawaban kegundahan hatinya. “Gak ada. Menurutku, semua hal harusnya biasa saja. Apa jangan-jangan tuan Daksa bertengkar dengan Ayunda?”
Iyan jelas mengetahui hubungan tersembunyi selama lima tahun lebih itu, dirinya juga menjadi saksi pernikahan Ayunda dan Daksa Wangsa.
Yeri dan Ardo mengedikkan bahu mereka, tanda tidak tahu, dan enggan mengorek informasi karena hal itu di luar tugas mereka. Privasi.
Iyan beranjak, lalu memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sia-sia meminta pendapat yang ada menambah rasa pusing Kepalanya.
***
Tepat sebelum matahari terbit, Ayunda mulai terjaga dari tidur entah sudah berlangsung berapa lama. Pertama yang dia lihat plafon kamar rawat, perlahan potongan kejadian telah menimpanya sampai kedatangan Daksa Wangsa.
Mata Ayunda membesar, gerakannya tidak terencana sudah langsung duduk membuat kepala sedikit pusing.
Tepat di sebuah sofa busa di samping gorden, seorang pria berpakaian santai sangat jauh dari penampilan sehari-hari di kantor, tengah mengetik sesuatu pada laptop, ditemani segelas minuman masih mengepulkan uap.
“Tuan ….” panggilnya ragu.
Daksa Wangsa meletakkan laptop pada meja bulat disebelah teh hangat. Kakinya kemudian menyilang dengan gayanya sangat tenang. “Saat ini, apa saya terlihat seperti tuan mu kala dikantor, Ayunda?”
.
.
Bersambung.
ingin bertanya ,apakah semua isu itu pada akhirnya kebenaran? ingin memaki dia begitu sayang pada ayunda meski mulutnya kadang terlalu mercon.
dan sudah pasti jawabannya di luar keingintahuan seila .
daripada dongkol lama2 mending menghindar🤣
kasihan pak satpam nanti jadi korban dak dik Duk der daksa kaya Iyan loh
eeh akhirnya di bikin Tekdung olala
okelah,menepati dulu
Kamu mungkin berpikir gak di anggap penting oleh Ayunda
tpi setiap orang punya privasi
nanti saatnya terbuka semua kamu pasti mengerti 🫂