NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Gilang berdiri kaku saat pria itu mendekat.

‎“Saya… cuma nganter Bu Valeria ke rumah sakit, Pak,” katanya, suaranya sedikit tertahan

‎Dimas tidak langsung percaya. Tatapannya turun ke noda darah di lengan jaket Gilang, lalu kembali ke wajahnya.

‎“Kamu tahu namanya,” ucapnya pelan, tapi tajam. “Kenal?”

‎Gilang sempat kehilangan kata.

‎“Nama itu, e... saya dengar dari polisi, Pak,” jawabnya akhirnya.

‎Dimas masih menatap, seolah menimbang jawaban itu.

‎Ketegangan terasa jelas di antara mereka.

‎Langkah kaki mendekat memecah suasana.

‎Seorang polisi datang, menoleh ke Dimas

‎“Bapak keluarga korban?”

‎“Saya suaminya,” jawab Dimas cepat.

‎Polisi itu mengangguk.

‎“Dari keterangan saksi di lokasi, korban tertabrak mobil. Pelaku langsung melarikan diri.”

‎Kalimat itu terdengar sederhana.

‎Tapi cukup membuat suasana semakin berat.

‎Dimas terdiam.

‎Tangannya mengepal tanpa sadar.

Dimas menarik napas pendek lalu menatap polisi itu serius. “Di situ ada CCTV, kan? Sudah dicek CCTV sekitar?”

Polisi itu mengangguk kecil. “Masih kami koordinasikan, Pak.”

“Saya mau pelakunya ditangkap secepatnya,” lanjut Dimas dengan nada menekan. “Apa pun caranya.”

“Kami usahakan, Pak. Tim sedang cari rekaman dari area sekitar lokasi.”

Dimas mengusap wajahnya kasar sebentar, jelas menahan emosi. Tatapannya sempat bergeser ke pintu IGD yang masih tertutup rapat. Belum ada kabar apa pun dari dalam.

Dimas kembali melirik ke arah Gilang. Tatapannya kali ini lebih lama, lebih tajam.

Ia melangkah mendekat. “Nama kamu siapa?”

“Ee...Gilang…” jawabnya pelan sedikit gugup.

Dimas mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih penuh curiga. “Kamu ngapain masih di sini?”

Gilang sempat membuka mulut, tapi belum sempat menjawab, polisi di samping mereka lebih dulu bicara.

“Mas ini tadi yang bantu korban di lokasi,” jelasnya. “Katanya juga kenal sama Bu Valeria.”

Jantung Gilang langsung terasa turun.

Ia menoleh cepat ke arah polisi itu, lalu kembali ke Dimas yang kini menatapnya lebih tajam dari sebelumnya.

Gilang refleks menggulung sedikit lengan jaketnya, gerakannya terlihat canggung.

“Hm… anu… saya pernah ketemu Bu Valeria sebelumnya,” katanya gugup. “Beliau dulu sempat datang ke kampus saya… beberapa bulan lalu.”

Dimas masih diam menatapnya.

Gilang cepat melanjutkan, berusaha terdengar biasa. “Ada seminar bisnis gitu, Pak. Kebetulan saya lihat beliau di sana.”

Tangannya kembali bergerak gelisah di ujung jaket.

“Jadi tadi pas lihat di jalan… saya kenal wajahnya.”

Dimas menatap Gilang beberapa detik lagi, seolah masih mencoba memastikan sesuatu. Alasan itu terdengar masuk akal, meski entah kenapa tetap terasa mengganjal. Tapi ia tidak memperpanjang. “Kalau begitu… kamu boleh pulang kalau masih ada urusan.”

Gilang langsung merasa sedikit lega. “Iya, Pak.”

Ia menoleh ke polisi sebentar lalu mengangguk sopan. “Saya pamit dulu, Pak.”

Polisi itu membalas anggukan kecil.

Gilang sempat melirik ke arah pintu IGD beberapa detik, lalu akhirnya berjalan pergi dari sana.

Gilang berjalan cepat keluar rumah sakit sambil mengacak rambutnya sendiri pelan. “Sial… sial…” gumamnya lirih. “Ngapain juga aku ke sini…”

Langkahnya makin cepat.

“Duh… makin ribet aja.” Ia menghembuskan napas kasar. “Viona pasti marah ditinggal gitu aja…”

Gilang langsung mengeluarkan ponselnya begitu keluar dari rumah sakit. Untung masih ada sedikit baterai setelah sempat ia nyalakan lagi dengan pinjaman charger satpam tadi.

Ia cepat memesan ojek online menuju stasiun.

Beberapa menit kemudian, motor datang dan Gilang langsung naik tanpa banyak bicara.

Tapi jalanan malam itu padat.

Lampu kendaraan memanjang di depan.

Macet.

Gilang melirik jam tangannya. Sudah jam 07.40 malam.

“Waduh…” gumamnya pelan. “Bisa telat nih…”

Gilang akhirnya sampai di stasiun tepat jam delapan malam.

Kereta sudah berhenti di peron. Orang-orang mulai ramai bergerak masuk dan keluar.

Gilang turun cepat dari ojek lalu melihat ke sekitar, matanya sibuk mencari di tengah kerumunan.

“Mana sih tuh anak…” gumamnya sambil sedikit berjinjit.

Ia mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Viona.

Sambungan masuk.

Lalu ditolak.

Gilang mengernyit, mencoba lagi.

Ditolak lagi.

“Sengaja banget…” gumamnya pelan.

Ia kembali menelpon.

Tetap direject.

Gilang menurunkan ponselnya pelan lalu menghela napas panjang. “Dasar cewek…” gumamnya sendiri. “Kalau marah malah ngindar gini.”

Ia kembali melihat ke arah peron yang semakin ramai, orang-orang berjejal masuk ke gerbong.

Tatapan Gilang menyapu satu per satu jendela kereta.

Sampai akhirnya,

ia melihat Viona.

Duduk di dekat jendela.

Tapi bukan sendirian.Ada seorang pria di sampingnya.Pria itu sedikit menunduk ke arah Viona, seperti sedang bicara sesuatu.

Gilang langsung berhenti melangkah.

Alisnya mengernyit.

“Lho…” gumamnya pelan.

Matanya menyipit sedikit, mencoba memastikan wajah pria itu.

“Dia kan…”

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!