NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Mayat Tanpa Identitas

​Lampu fluorescent di langit-langit koridor rumah sakit berkedip-kedip, menciptakan ritme yang tidak sinkron dengan detak jantungku. Aroma antiseptik yang biasanya menenangkan kini terasa mencekam, seolah-olah molekul udara di sekitarku sedang berbisik tentang pesan singkat yang kuterima semalam.

​“Jangan terlalu percaya pada lencana yang kau temukan. Hati-hati dengan suamimu.”

​Aku merogoh saku jas lab-ku, memastikan ponselku masih ada di sana. Layarnya gelap, namun kata-kata itu seolah terpampang di retina mataku. Siapa yang mengirimnya? Dan apa maksudnya "jangan percaya pada suamimu"?

​"Dok? Anda melamun lagi. Ini kopi ketiga yang saya buatkan, dan Anda belum menyentuhnya sama sekali."

​Suara Adrian mengejutkanku. Aku tersentak, hampir menjatuhkan stetoskop yang sedang kupegang. Adrian berdiri di depanku dengan wajah penuh tanya, menyodorkan gelas kertas yang masih mengepul.

​"Terima kasih, Adrian," sahutku singkat, mencoba mengendalikan nada suaraku agar tetap stabil. "Aku hanya kurang tidur."

​"Kurang tidur atau karena makan malam keluarga semalam?" Adrian menarik kursi, duduk di hadapanku dengan ekspresi yang sulit kubaca. "Wajah Dokter pucat sekali. Kalau ini soal Jaksa Ghazali, saya rasa—"

​"Ini bukan soal dia, Adrian," potongku cepat, mungkin terlalu cepat. Aku tidak ingin asistenku ini masuk terlalu dalam ke labirin rumah tanggaku. "Ada perkembangan dari laboratorium toksikologi soal kartu memori semalam?"

​Adrian menghela napas, menyadari barikade yang kupasang. "Belum ada, Dok. Tim IT Kejaksaan Agung sudah mengambil alih datanya secara paksa tadi subuh. Mereka bilang itu perintah langsung dari JPU Utama."

​"Ghazali?"

​"Siapa lagi?" Adrian mendengus. "Pria itu benar-benar tidak sabar. Dia bahkan tidak menunggu tanda tangan resmi dari Dokter."

​Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Ghazali benar-benar mengabaikan prosedur hukum demi ambisinya. Ia bertindak seolah-olah hukum adalah miliknya sendiri, dan aku hanyalah hambatan administratif yang harus ia singkirkan .

​Tiba-tiba, suara sirene ambulans yang melengking memecah percakapan kami. Aku segera berdiri, insting medis-ku mengambil alih. Tak lama kemudian, pintu ruang emergency terbuka dengan sentakan. Komisaris Herman masuk dengan napas memburu, pakaian dinasnya basah oleh keringat meskipun pendingin ruangan sedang menyala maksimal.

​"Dokter Keana, maaf mengganggu lagi," ucap Herman tanpa pembukaan. "Kita punya penemuan baru. Di dermasaga lama, Sektor Barat."

​"Staf kejaksaan lagi?" tanyaku, jantungku berdegup kencang.

​Herman menggeleng, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dari kemarin. "Justru itu masalahnya. Mayat tanpa identitas. Tidak ada sidik jari yang terdaftar di database, tidak ada wajah yang dikenali, dan yang paling mengerikan... tidak ada lidah di dalam mulutnya."

​Aku merasakan hawa dingin merambat di tengkukku. "Mutilasi intra-oral?"

​"Sepertinya begitu. Dan ada sesuatu yang ditemukan di locus delicti," Herman merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kantong plastik transparan berisi potongan kain kecil berwarna perak. "Ini tersangkut di kuku korban. Ini bukan kain sembarangan. Ini sutra mahal, Dokter. Jenis yang hanya dipakai oleh orang-orang kelas atas."

​Aku menatap potongan kain itu. Pikiranku langsung melayang ke jamuan makan malam semalam. Maia Anindita mengenakan terusan hitam, namun Nyonya Ratna... Nyonya Ratna mengenakan kebaya sutra berwarna perak.

​"Adrian, siapkan ruang otopsi nomor dua," perintahku tegas, mencoba mengusir pikiran gila itu dari kepalaku. "Komisaris, bawa jenazahnya masuk sekarang."

​Di dalam ruang otopsi yang sunyi, mayat itu terbaring kaku. Tidak ada nama, tidak ada cerita, hanya ada raga yang telah menjadi corpus delicti . Aku mulai melakukan pemeriksaan eksternal dengan sangat teliti.

​"Luka memar di pergelangan tangan mengindikasikan adanya fiksasi mekanis," kataku, sementara Adrian mencatat setiap kata-kataku untuk laporan Visum et Repertum . "Korban diikat sebelum dieksekusi. Tidak ada tanda-tanda perlawanan yang signifikan di tubuh bagian bawah."

​"Dok, lihat ini," Adrian menunjuk ke area leher korban. "Ada pola lebam yang tidak lazim. Ini bukan bekas cekikan tangan."

​Aku mendekatkan lampu operasi, menggunakan lup untuk melihat lebih detail. "Ini pola... lilitan dasi. Sutra. Teksturnya meninggalkan pola mikro yang konsisten dengan potongan kain yang dibawa Komisaris Herman tadi."

​Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka lagi. Aku sudah tahu siapa yang akan muncul tanpa perlu menoleh. Suara langkah sepatunya yang angkuh adalah penanda kehadiran sang penguasa hukum.

​"Keana! Kenapa kau belum memberikan akses pada tim forensik kejaksaan untuk ikut memantau otopsi ini?" Ghazali berdiri di sana, wajahnya merah padam.

​Aku meletakkan pinset anatomi-ku perlahan, lalu berbalik menatapnya. Di balik masker medis, aku tersenyum pahit. "Karena ini adalah otopsi forensik independen, Ghazali. Aku bekerja di bawah perintah Kepolisian, bukan di bawah perintah Kejaksaan."

​"Jangan bermain-main dengan prosedur, Keana!" Ghazali melangkah masuk, mengabaikan garis batas steril. "Mayat ini berhubungan dengan kasus besar yang sedang kutangani. Aku punya hak untuk tahu hasilnya sekarang juga!"

​"Hak?" Aku melepaskan sarung tangan lateksku dengan bunyi snap yang tajam. "Kau bicara soal hak di rumah sakitku, setelah kau menginjak-injak martabatku di rumahmu sendiri semalam?"

​Ghazali tertegun sesaat. Matanya melirik ke arah Adrian, lalu kembali kepadaku dengan tatapan yang lebih tajam. "Ini urusan pekerjaan, jangan bawa-bawa masalah pribadi ke sini."

​"Masalah pribadiku adalah pekerjaanmu, Ghazali," balasku, suaraku kini bergetar karena emosi yang tidak bisa lagi kupendam. "Kau memaksaku menikah agar reputasimu bersih, tapi sekarang kau ingin aku mengotori integritas medis-ku demi ambisi kasusmu? Siapa sebenarnya mayat ini? Kenapa kau begitu takut jika aku yang menanganinya sendirian?"

​Ghazali tidak menjawab. Ia hanya menatap jenazah itu dengan sorot mata yang sulit diartikan—ketakutan, atau mungkin rasa bersalah yang sangat dalam?

​"Mas Ghazali," aku mendekatinya, suaraku merendah namun penuh penekanan. "Semalam aku menerima pesan. Seseorang memintaku untuk berhati-hati padamu. Katakan padaku, apakah lencana yang kutemukan di tubuh Bram semalam benar-benar miliknya? Atau itu milik orang lain yang sengaja ditinggalkan untuk menjebakmu?"

​Ghazali tersentak. Ia mencengkeram lenganku, cukup kuat hingga aku merasa perih di balik jas lab-ku. "Pesan apa? Siapa yang mengirimnya?"

​"Lepaskan Dokter Keana, Tuan Jaksa." Adrian melangkah maju, wajahnya yang biasanya ramah kini berubah mengintimidasi. "Ini ruang otopsi, bukan ruang interogasi Anda."

​Ghazali melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia merapikan jasnya, mencoba mengembalikan topeng perfeksionisnya yang retak.

​"Dengar, Keana," ucap Ghazali, suaranya kini kembali dingin dan berjarak. "Jangan pernah percaya pada siapa pun di luar lingkaran keluarga Mahendra. Pesan itu hanyalah upaya provokasi dari pihak Maia untuk memecah kita. Mereka tahu kau adalah titik lemahku sekarang."

​"Titik lemah?" Aku tertawa kecil, suara tawaku terdengar hampa di ruangan yang dipenuhi kematian ini. "Kau bahkan tidak menganggapku ada di ranjang kita, Ghazali. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi titik lemahmu?"

​Ghazali terdiam. Ia menatapku lama, seolah-olah sedang mencari sesuatu di wajahku yang selama ini ia abaikan. "Aku akan menunggumu di mobil jam lima sore nanti. Jangan terlambat. Ada hal yang harus kita bicarakan secara pribadi."

​Ia berbalik dan pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya yang kini berbaur dengan bau formalin—sebuah perpaduan yang sangat mewakili pernikahan kami: mewah di luar, namun berbau kematian di dalam .

​"Dokter tidak apa-apa?" tanya Adrian lembut setelah Ghazali menghilang.

​Aku menggeleng, meskipun bahuku sedikit bergetar. "Mari kita lanjutkan, Adrian. Aku ingin tahu kenapa lidah korban dipotong. Dalam simbolisme kriminal, memotong lidah berarti membungkam saksi kunci secara permanen."

​Aku kembali memegang scalpel. Kali ini, aku melakukannya dengan tangan yang sangat stabil. Luka ini, mayat ini, misteri ini... semuanya terasa lebih mudah dihadapi daripada satu jam bersamamu di bawah satu selimut, Ghazali.

​Saat aku mulai membedah rongga mulut korban, aku menemukan sesuatu yang terselip di balik geraham belakang yang sudah pecah. Sebuah gulungan kertas kecil yang sangat tipis, nyaris hancur karena air liur dan darah beku.

​Dengan tangan gemetar, aku membukanya menggunakan pinset.

​Hanya ada satu nama yang tertulis di sana, ditulis dengan tinta yang sudah luntur namun masih bisa terbaca: Maia Anindita.

​Darahku mendadak berhenti mengalir. Napasku terasa sesak, lebih sesak daripada saat Ghazali menghinaku sebagai wanita berbau mayat semalam . Jika mayat ini membawa nama Maia, dan Ghazali begitu panik ingin mengambil alih kasusnya... lalu siapa sebenarnya yang sedang mencoba membungkam siapa?

​"Adrian," panggilku, suaraku nyaris berupa bisikan.

​"Ya, Dok?"

​"Jangan catat temuan ini di laporan sementara. Dan jangan biarkan Komisaris Herman tahu sampai aku memverifikasi sesuatu."

​"Tapi Dok, itu pelanggaran prosedur—"

​"Aku tahu!" aku menoleh padanya dengan tatapan putus asa. "Tapi jika aku memberikan ini sekarang, aku mungkin baru saja menandatangani surat kematian suamiku sendiri... atau surat kematianku."

​Malam ini, ranjang kami tidak hanya akan menjadi medan perang dua luka. Malam ini, ranjang itu akan menjadi tempat di mana rahasia besar akan menentukan siapa yang akan tetap bernapas, dan siapa yang akan berakhir di atas meja logam dingin ini selanjutnya.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!