NovelToon NovelToon
Keturunan Raja Alkemis

Keturunan Raja Alkemis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di sebuah desa tersembunyi bernama Desa Batu, hiduplah keluarga Chen, keturunan langsung dari Raja Alkemis legendaris yang menguasai rahasia kehidupan dan kematian. Harta terbesar mereka bukanlah emas atau perak, melainkan resep Ramuan Keabadian—cairan mistis yang dapat memberikan kekuatan tak terbatas dan hidup selamanya bagi yang meminumnya.

Namun, kekuatan besar selalu menarik bayangan gelap. Saat Chen Si, pewaris tunggal keluarga itu, baru berusia lima bulan, desa mereka diserang habis-habisan oleh sekelompok manusia bertopeng yang haus kekuasaan. Seluruh klan Chen dibantai tanpa ampun demi merampas rahasia suci itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: TIGA BELAS TAHUN DI DESA KAPAS

Waktu bagaikan air sungai yang terus mengalir tanpa pernah berhenti. Tiga belas tahun telah berlalu sejak malam darah yang mengerikan di Desa Batu. Tiga belas tahun penuh kesunyian dan kesabaran di sebuah tempat yang jauh berbeda.

Desa Kapas.

Berbeda dengan Desa Batu yang dingin, berbatu, dan dipenuhi aura misterius, Desa Kapas adalah surga yang damai. Terletak di dataran rendah yang subur, desa ini dikelilingi oleh hamparan pohon kapas yang putih bersih seperti salju saat musim panen tiba. Angin sepoi-sepoi selalu bertiup membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Penduduknya hidup sederhana, sebagian besar bekerja sebagai petani, penenun kain, atau nelayan kecil. Tidak ada yang tahu tentang alkemi, tidak ada yang tahu tentang kekuatan gaib, dan tidak ada yang tahu tentang dendam darah.

Di sebuah rumah kayu sederhana yang terletak di pinggir desa, tepat di bawah rindangnya pohon beringin tua, hidup dua orang yang telah menjadi bagian dari desa ini selama lebih dari satu dekade.

Matahari baru saja menampakkan wajahnya di ufuk timur, menyinari halaman rumah yang bersih dan rapi. Di sana, terlihat seorang pemuda sedang duduk bersila di atas sebuah alas anyaman bambu.

Pemuda itu bernama Liu Si.

Setidaknya, itulah nama yang dikenal oleh seluruh penduduk Desa Kapas. Tidak ada yang tahu bahwa nama aslinya adalah Chen Si, dan bahwa darah seorang Raja Alkemis mengalir deras di dalam nadinya.

Kini usianya menginjak tiga belas tahun. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun terlihat tegap dan berotot karena sering membantu pekerjaan rumah dan berlatih diam-diam. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas, namun matanya... matanya adalah yang paling istimewa. Matanya berwarna hitam pekat namun terlihat sangat jernih, seolah-olah bisa menembus ke dalam hati seseorang. Ada ketenangan yang luar biasa di dalam tatapannya, ketenangan yang tidak biasa dimiliki oleh anak-anak seusianya.

Liu Si sedang memejamkan mata. Napasnya teratur, panjang, dan tenang. Dadanya naik turun dengan ritme yang sempurna. Di sekitarnya, butiran-butiran debu halus yang terbawa angin seolah-olah bergerak mengikuti aliran napasnya, berputar perlahan membentuk pusaran kecil sebelum akhirnya jatuh kembali ke tanah.

Ini adalah cara Wu Ye mengajarinya mengolah energi dalam, atau Qi.

"Bagus... napas lebih dalam. Rasakan aliran energi di sepanjang tulang punggungmu. Jangan dipaksakan, biarkan ia mengalir seperti sungai," suara berat dan tenang terdengar dari teras rumah.

Wu Ye berdiri di sana. Penampilan pria itu kini jauh berbeda dari tiga belas tahun lalu. Rambutnya yang dulu hitam legam kini mulai memutih di pelipis, dan wajahnya dipenuhi keriput halus akibat waktu dan beban masa lalu. Namun, punggungnya tetap tegak seperti pedang yang terhunus, dan matanya tetap tajam seperti elang meski sering berpura-pura menjadi orang tua yang lemah lembut.

Di Desa Kapas, Wu Ye dikenal sebagai seorang tukang obat keliling yang baik hati. Ia sering membuat ramuan dari tanaman herbal untuk menyembuhkan sakit kepala, demam, atau luka ringan para warga. Tidak ada yang menyangka bahwa tangan keriput yang sedang memegang cangkir teh itu pernah memegang senjata pembunuh dan menari di antara hujan panah dan darah.

Liu Si membuka matanya. Seberkas cahaya keemasan yang sangat tipis melintas sekejap di pupil matanya sebelum menghilang. Ia menghembuskan napas panjang. Sebuah gumpalan uap putih keluar dari mulutnya, membentuk lingkaran sempurna sebelum menghilang di udara pagi.

"Selesai, Kakek," sapa Liu Si dengan suara yang sudah mulai berubah, terdengar lebih berat dan matang. Ia memanggil Wu Ye dengan sebutan 'Kakek' untuk menutupi identitas mereka sebagai ayah dan anak angkat, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Wu Ye tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkir tehnya. "Kemari, Nak. Hari ini kita tidak berlatih napas saja. Hari ini aku akan mengajarimu tentang dasar dari segala kehidupan."

Liu Si berdiri dan berjalan mendekat dengan langkah ringan. "Tentang tanaman obat lagi, Kek?"

"Bukan sekadar obat, Si. Ini tentang Alkemi," jawab Wu Ye pelan, namun kata itu terasa sangat berat di udara. "Meskipun di sini kita menyebutnya meramu, tapi kau harus tahu, apa yang kau lakukan adalah seni tertinggi yang pernah ada di dunia ini."

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah ruangan kecil di bagian belakang rumah. Ruangan ini adalah tempat favorit Liu Si. Di sana, rak-rak kayu penuh dengan toples-toples tanah liat yang berisi berbagai macam daun kering, akar tanaman, serbuk warna-warni, dan mineral. Udara di ruangan itu berbau tajam campuran aroma kayu manis, mint, akar manis, dan bau tanah yang khas.

Wu Ye mengambil sebuah buku tebal yang sampulnya sudah terlihat sangat tua dan usang. Buku itu bukan buku biasa, itu adalah catatan turun-temurun dari klan Chen, yang berhasil diselamatkan saat kejadian dulu.

"Dengar baik-baik, Si," kata Wu Ye serius. "Dunia ini terbentuk dari lima elemen dasar: Logam, Kayu, Air, Api, dan Tanah. Seorang alkemis tidak hanya mencampur bahan-bahan. Seorang alkemis harus bisa berbicara dengan alam. Kau harus tahu, tanaman mana yang bersifat Api, dan mana yang bersifat Air. Jika kau salah mencampur, bukan obat yang kau dapat, tapi racun yang bisa membunuh dalam hitungan detik."

Liu Si mengangguk antusias. Sejak kecil, ia memang memiliki ketertarikan yang aneh terhadap benda-benda ini. Ia tidak pernah merasa takut dengan bau-bauan yang aneh atau tanaman yang dianggap beracun oleh orang lain. Justru, ia merasa ada semacam ikatan batin. Seolah-olah tanaman-tanaman itu 'berbicara' padanya, memberitahu apa fungsinya.

"Coba kau ambil akar 'Shen Lan' itu," perintah Wu Ye sambil menunjuk ke sebuah toples.

Liu Si meraihnya dengan tangkas. Namun, saat jari-jarinya menyentuh akar tanaman kering itu, sesuatu yang aneh terjadi.

Tanpa ia sadari, telapak tangan Liu Si mengeluarkan cahaya hijau yang sangat samar. Akar tanaman yang tadinya kering dan rapuh seketika menjadi sedikit lebih segar, seolah-olah mendapatkan kembali kehidupan sebentar saja.

Wu Ye melihat itu semua, dan jantungnya berdegup kencang.

"Cukup kuat... Bakat ini bahkan melebihi ayahnya saat seusia ini. Darah Raja Alkemis benar-benar tidak bohong," batin Wu Ye berteriak, namun ia tetap menyembunyikan keterkejutannya di wajah.

"Kakek, kenapa akar ini terasa hangat?" tanya Liu Si bingung.

"Itu karena kau memberinya energi," jawab Wu Ye pelan. "Ingat, Si. Tanganmu adalah harta terbesarmu. Dengan tangan ini, kau bisa menyembuhkan, tapi juga bisa menghancurkan. Gunakanlah selalu untuk kebaikan."

Keesokan harinya, kehidupan di Desa Kapas berjalan seperti biasa. Liu Si membantu Wu Ye menjual obat-obatan di pasar kecil desa. Suasananya ramai dan akrab.

"Hei, Si Kecil! Obat sakit pinggang buat Kakekku ada tidak?" teriak seorang pedagang sayur.

"Ada, Pak! Ini, diminum malam ini pasti besok sudah bisa berladang lagi!" jawab Liu Si dengan ramah.

Liu Si sangat disukai oleh penduduk desa. Ia anak yang pintar, sopan, dan sangat baik hati. Seringkali ia memberikan obat gratis kepada orang-orang yang tidak mampu membayar. Namun, di balik keramahannya, ada satu hal yang membuat anak-anak lain sedikit menjauh atau bahkan membullynya.

Liu Si berbeda.

Saat anak lain bermain kejar-kejaran atau berkelahi dengan tongkat kayu, Liu Si lebih suka duduk diam mengamati bunga atau mengumpulkan batu-batuan aneh. Ia juga memiliki kemampuan penglihatan yang sangat tajam. Ia bisa melihat serangga kecil di atas pohon dari jarak puluhan meter, atau mendengar percakapan orang dari jauh.

"Hei, si Gila! Apa yang kau lihat lagi?"

Tiga orang anak laki-laki yang lebih besar dan gemuk mendekat. Mereka adalah anak-anak dari kepala desa dan tetangga kaya. Pemimpin mereka bernama Badu, anak yang sombong dan selalu iri melihat Liu Si dipuji orang banyak.

Badu mendorong bahu Liu Si dengan keras. "Dasar anak yatim piatu tak berguna! Kakekmu cuma tukang ramal sampah! Mungkin kalian berdua penyihir!"

Kata-kata itu menyakitkan. Namun Liu Si hanya menunduk, mengepalkan tangannya. Wu Ye selalu mengajarkannya untuk sabar dan tidak boleh memamerkan kekuatan.

"Jangan ganggu kami, Badu. Kami sedang berjualan," kata Liu Si pelan namun tegas.

"Oh? Berani melawan?" Badu tersenyum sinis. Ia lalu menginjak sebuah toples berisi serbuk bunga yang baru saja dibuat Liu Si. BRAKK!

Toples itu pecah berkeping-keping, bubuk warna-warni berceceran di tanah berlumpur.

"Itu...!" Mata Liu Si membelalak. Itu adalah ramuan yang ia buat selama tiga hari untuk menyembuhkan penyakit ibu Badu sendiri.

"Apa yang akan kau lakukan, hah?" tantang Badu sambil mendorong dada Liu Si lagi. "Pukul aku kalau berani!"

Teman-teman Badu tertawa mengejek.

Rasa marah mulai memuncak di dada Liu Si. Darahnya mendidih. Tiba-tiba, ia merasa kepalanya pusing, dan pandangannya menjadi aneh. Ia bisa melihat aliran energi di tubuh Badu. Ia bisa melihat titik-titik lemah di tubuh lawannya. Ia tahu, jika ia memukul tepat di samping tulang rusuk Badu dengan kekuatan sedikit saja, anak itu akan langsung jatuh dan tidak bisa bergerak selama setengah jam.

Tangan Liu Si terangkat perlahan.

'Jangan... Ingat pesan Kakek,' bisik suara kecil di hatinya.

Namun amarah sudah menguasai. Saat Badu mengangkat tangannya ingin menampar, tiba-tiba...

BUK!

Sebuah tangan besar menangkap pergelangan tangan Badu dengan mudah. Tidak keras, tapi sangat kuat hingga Badu menjerit kesakitan.

"Wahai anak muda, menghormati orang tua dan sesama adalah hal dasar. Atau kau ingin aku ajarkan sopan santun?"

Wu Ye berdiri di sana. Wajahnya tetap tersenyum ramah, tapi tatapan matanya membuat darah Badu dan teman-temannya membeku. Mereka merasa seolah-olah sedang ditatap oleh seekor harimau lapar.

"Ma-maaf, Tuan... Kami hanya bercanda," kata Badu terbata-bata, lalu ia dan teman-temannya lari terbirit-birit.

Setelah mereka pergi, Wu Ye melepaskan tangannya dan menatap Liu Si. Wajahnya kembali lembut.

"Marah itu wajar, Si. Tapi biarkan kemarahan itu menjadi bahan bakar, bukan asap yang membutakan matamu."

Liu Si menunduk malu. "Maafkan aku, Kakek. Aku hampir..."

"Hampir melakukan apa? Membalas? Kau bisa saja mematahkan tangan mereka dalam sekejap," potong Wu Ye. "Tapi ingat ini: Di dunia ini, yang paling kuat bukanlah yang bisa memukul paling keras, tapi yang bisa menahan diri saat paling marah. Kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah bencana."

Wu Ye lalu berjongkok, membersihkan pecahan kaca dan bubuk yang berceceran.

"Mereka memanggil kita penyihir, orang asing... Biarkan saja. Suatu hari nanti, saat waktunya tiba, dunia akan tahu siapa kita sebenarnya. Tapi bukan hari ini."

Malam harinya, saat bulan purnama kembali bersinar seperti malam tragedi itu dulu, Wu Ye membawa Liu Si ke halaman belakang. Ia membawa sebuah kotak kayu kecil yang terbuat dari cendana hitam. Kotak yang sama yang diselipkan ayahnya di selimut dulu.

Liu Si menatap kotak itu dengan rasa ingin tahu yang besar. Ia sering melihat Kakeknya menyimpannya rapat-rapat.

"Apa itu, Kek?"

Wu Ye membelai permukaan kotak itu dengan penuh haru. "Ini adalah warisan orang tuamu, Si. Warisan yang membuat keluargamu dibantai, dan membuat kita harus bersembunyi selama ini."

Liu Si tertegun. "Orang tuaku... Kakek pernah bilang mereka meninggal karena sakit."

"Itu bohong demi keselamatanmu," kata Wu Ye berat. "Mereka dibunuh. Dibunuh karena keinginan jahat orang lain akan kekuatan. Dan orang-orang itu... mereka belum mati. Mereka mungkin masih mencari kita sampai sekarang."

Udara malam seketika terasa dingin menusuk tulang. Liu Si menatap kotak itu, lalu menatap wajah Wu Ye yang terlihat sangat tua dan lelah malam itu.

"Jadi... apa yang harus aku lakukan?" tanya remaja itu dengan suara bergetar, bukan karena takut, tapi karena sebuah tekad yang mulai tumbuh di hatinya.

Wu Ye menatap mata cucu angkatnya itu dalam-dalam.

"Kau harus menjadi kuat, Liu Si. Kau harus menjadi lebih kuat dari siapa pun. Agar kau bisa melindungi dirimu, melindungi orang yang kau sayangi, dan suatu hari nanti... kau harus siap membuka kotak ini, dan menghadapi takdirmu sebagai Chen Si, Keturunan Terakhir Raja Alkemis."

Malam itu, di bawah sinar bulan, sebuah janji terucap. Perjalanan damai di Desa Kapas mulai mendekati akhir. Badai di masa depan sudah mulai bergulir, dan sang pahlawan muda mulai bersiap untuk melangkah keluar dari bayang-bayang.

1
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
😇😇😇😇😇😇😇😇😇
Tamima II
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪 bantai....
Tamima II
😂😂😂😂😂😂😂👍👍👍👍👍
Tamima II
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Tamima II
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍👍👍
Tamima II
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
mengejar cahaya
terimakasih saran nya nanti saya perbaiki.🙏🙏🙏
Tamima II
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waaahhh akan ada pembantaian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!