Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui cinta..
Enggan berpikir yang bisa membuat kepalanya sakit, Hana memutuskan untuk memasukkan kartu nama Sergio ke dalam tasnya. Ia pun pergi keluar dari kedai.
Hana sedang menunggu lift, ia memutuskan untuk pulang setelah berjalan-jalan di sekitar taman usai dari kedai es krim.
"Apa kau dari luar?" Hana mendongak ketika menyadari pria tinggi berdiri di sisinya.
"Ya, tuan. Anda sudah pulang?"
"Kau kuberi waktu untuk istirahat tapi malah berkencan."
"Saya tidak punya kekasih, tuan."
"Berkencan tak harus punya kekasih." Luca masuk ketika lift terbuka, begitu juga Hana.
"Saya tidak begitu."
"Benarkah?"
"Apa ini maksudmu menolakku, karena ingin bebas bertemu dengan pria lain? Ah~ aku mengerti."
"Ti-tidak, tuan. Kami hanya tak sengaja bertemu."
"Sudahlah, akui saja. Aku tak apa."
Hana memilih diam, enggan memperpanjang urusan.
Luca melirik Hana yang tak lagi menjawab, ia sedikit kesal karena Hana tak lagi menyangkal tuduhannya.
"Kenapa kau tak keluar?"
"Anu.. Saya akan masuk setelah beberapa menit. Tuan masuk saja duluan."
"Ada apa? Apa pria lain sedang menunggumu?"
"Tidak! Jika kita masuk bersama, saya takut akan ada gosip buruk menimpa tuan."
Luca menampilkan smirknya. Ia melupakan hal ini.
"Baiklah." Luca melangkah pergi bersamaan dengan pintu lift yang tertutup. Hana memencet tombol lantai tertinggi, ia ingin ke atap sebentar.
Hampir dua jam Luca menunggu kedatangan Hana. Ia berpikir setelah ia mandi Hana sudah berada di apartemen, namun perempuan itu belum pulang. Ia memutuskan untuk menelepon, namun terdengar lirih suara nada dering dari kamar Hana.
Luca membuka pintu dan melihat ponsel milik Hana yang perempuan itu tinggalkan di atas nakas. Ia ingin memaki, tetapi fokusnya teralih dengan nama kontak nomornya di ponsel Hana
"Rentenir tampan"
"Astaga, tapi setidaknya dia mengakui aku tampan." Luca tersenyum kecil.
"Apa-apaan benda ini? Apa ini layak disebut ponsel?" Benda berdering itu membuat Luca bolak balik untuk mencari kemulusan fisiknya. Namun, yang ada hanya goresan-goresan kecil memenuhi body ponsel.
"Astaga, apa dia sangat miskin hingga tak mampu membeli ponsel yang bagus? Apa gajiku kurang banyak?"
Luca terus bergumam sampai ia mendengar password pintu disentuh. Ia bergegas keluar dari kamar Hana dan bersikap duduk tenang di atas sofa.
"Kenapa kau baru masuk?"
"Maaf tuan, saya ke atap dan lupa waktu."
"Apa kau bercinta di atas sana?"
"Tuan, itu sangat kasar." Hana lama-lama merasa muak dengan tuduhan yang Luca lontarkan. Ia merasa diinjak-injak oleh pria itu.
"Benarkan?"
"Tuan, apa anda tak diajari sopan santun?"
"Kau bertanya tentang itu padaku yang terdidik?"
"Apa orang terdidik seperti ini?"
Luca heran kenapa Hana menatapnya dengan berani. Apa yang membuat gadis ini seketika berubah?
"Seperti ini?" Kedua alis tebal itu bertaut.
"Ya! Anda menuduh saya tanpa alasan, tanpa bukti!"
"Kau berteriak?"
"Ya! Kenapa? Anda pikir saya tak berani melawan anda?"
Luca menyilangkan tangan di dada menatap Hana yang seperti marah.
"Saya sering diam tak menyangkal tuduhan anda, bukan berarti saya mengiyakan. Berhenti menuduh saya perempuan murahan!" Hana histeris, kepalanya berdenyut nyeri.
"Kalau begitu kenapa kau tak menyangkalnya saja, kenapa malah diam? Itu membuatku berpikir kau memang seperti itu."
"Saya tidak ingin berdebat, karena bagaimanapun saya menyangkalnya, anda akan tetap dengan pendapat anda."
"Lalu, kenapa sekarang kau mengamuk?"
Hana tak tahu harus mengatakan apa, emosinya sudah di ubun-ubun memilih untuk pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar mandi, Hana menjerit tertahan. Ia meluapkan semua emosinya yang terpendam.
"Benar-benar!"
"Kapan hutangku lunaaaas! Aku sudah tak tahan dengannya!" Hana menangis, ia menyedihkan menanggung beban hutang seorang diri di usianya yang masih muda.
"Hana."
"Apa kau tidur?" Suara bariton memanggilnya di depan pintu. Hana sedang mengeringkan rambut dengan alat pengering membuatnya tak mendengar panggilan tersebut.
"Hana." Luca beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban, ia memilih masuk untuk mengecek keadaan Hana, ia khawatir gadis itu melakukan perbuatan yang nekat.
Hana tak ada di ruang tidurnya, Luca melangkah menuju kamar mandi dan membuka pintu, suara bising dari pengering langsung menyapa pendengarannya, namun tubuhnya tiba-tiba kaku ketika melihat keadaan Hana yang membelakanginya.
"AAAAAAAKKKHH!!!" Hana berteriak sekencang yang ia bisa lalu mengambil handuk dan menutupi tubuh polosnya.
"Aku tak sengaja." Luca menutup pintu kamar mandi dan duduk di tempat tidur untuk menunggu Hana.
Degub jantung Hana berdetak kencang, wajahnya memerah malu dan marah.
Ia memakai kimono dan keluar dengan rambut yang tergerai setengah kering.
Hal itu membuat Luca yang sedari tadi menenangkan dirinya kembali dibuat pusing oleh penampilan Hana yang menurutnya seksi.
Hana benar-benar emosi sampai ia tak tahu harus berbicara apa pada majikannya yang dengan tenangnya duduk di atas tempat tidur.
"Kau marah?"
"Anda masih bertanya itu? Coba dibalik posisinya."
"Aku tak keberatan jika itu kau." Luca menatap tenang Hana yang wajahnya sudah merah padam.
"Anda seperti hewan yang tak tahu sopan santun." Hana sudah tak peduli dengan resikonya. Ia sudah sangat marah dengan perilaku Luca.
"Kau tak mendengar panggilanku, kupikir kau bunuh diri."
"Untuk apa saya melakukan hal yang merugikan diri saya sendiri?"
"Kau tanyakan itu pada dirimu."
"Tuan!" Hana tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap Luca.
"Aku di sini, masih mendengarmu. Kau bisa bicara dengan tenang. Tapi ganti dulu pakaianmu atau kau sengaja ingin kutiduri?"
"SIALAAAAN!! KELUAR DARI KAMARKU, BRENGSEK!!" Hana dengan kekuatan yang entah dari mana menarik tubuh besar Luca keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamar dengan dibanting.
Luca shock dengan sikap Hana yang baru ia lihat. Seperti bukan Hana yang terbiasa lemah lembut melayaninya.
Satu malam terlewati, mereka bersikap tak peduli satu sama lain. Interaksi mereka cukup singkat dengan kegiatan yang mereka lakukan di dalam apartemen.
Tanpa bicara, tanpa maaf tentang hari lampau mereka melanjutkan hari dengan sikap seperti tak ada masalah.
Hana masih marah dan semakin menjaga jarak, Luca berusaha mencairkan suasana yang terasa mencekam di dalam apartemen namun mendapat penolakan dari Hana.
Perempuan itu juga semakin terlihat bersinar usai memakinya tempo hari. Entah kenapa, Luca semakin jatuh hati pada Hana. Pria bermanik hitam tersebut seperti menganggap Hana seorang simpanannya.
"Kau akan pergi?" Luca melihat satu tas besar keluar dari kamar Hana. Gadis itu sudah siap dengan penampilan yang rapi.
"Saya mengambil cuti selama satu minggu."
"Ke mana kau akan pergi?"
"Tuan tak perlu khawatir, saya akan kembali saat masa cuti saya habis. Permisi."
Luca seperti melihat sikap Hana yang lain. Semakin perempuan itu acuh padanya, semakin Luca terikat pada Hana.
"Kirim anak buahmu untuk mengikuti Hana dan laporkan tiap jam apa yang dilakukan olehnya." Perintah Luca pada asistennya.
"Permudah liburannya, jangan ada yang mengganggu dan menghambat perjalanannya."
"Baik, tuan."
Luca tak tenang melepas Hana seorang diri, ia harus tahu apa saja kegiatan yang dilakukan Hana di luar sana.
Perempuan berambut panjang itu berdiri di terminal menunggu bus tujuannya, lalu ia memilih menaiki kereta dari pada penerbangan udara untuk perjalanannya kembali ke kota asal. Hana benar-benar ingin menenangkan pikirannya sebelum sampai di kampung halamannya.
Ia memejamkan mata setelah puas menatap hamparan sawah yang ia lewati dengan kereta.
Tubuhnya lelah dan matanya mengantuk, ia terlelap hingga dua jam lamanya, suara bising anak kecil membangunkan dirinya, perutnya merasa lapar dan ingin buang air. Perjalanan masih tersisa satu jam, masih ada waktu untuk mengisi perutnya yang kosong.
Tanpa disadari, tak jauh dari dirinya berada ada dua orang pria dengan tubuh kekar dan bertato mengawasinya, mereka adalah orang suruhan Ruby yang akan menjaga Hana dan melaporkan tentang perempuan itu.
Mereka berdua berbaur dengan penumpang lain yang berada di kereta.
Tak lama mereka sampai di stasiun tujuan Hana, mereka mengikuti dengan jarak aman agar tak dicurigai oleh orang sekitar.
Hana menaiki angkutan umum yang berdesakan, beberapa menit kemudian ia telah sampai di kampung halamannya.
Sekian tahun ia pergi merantau, banyak perubahan pada lingkungan tempat tinggalnya dulu. Hampir semua rumah-rumah berubah menjadi bangunan dengan gaya modern, jalanan pun semakin bagus dengan fasilitas yang lengkap.
Beberapa orang yang berpapasan dengannya seperti orang baru, Hana tak mengenali mereka. Ia berpikir mungkin beberapa anggota keluarga ada yang bertambah atau pendatang yang tinggal di sana.
Hari masih siang, Hana memilih langsung mengunjungi makam ibunya sebelum ke penginapan. Hana memutuskan untuk menginap di hotel terdekat dari pada harus ke rumah yang memungkinkan akan bertemu dengan ayah dan adiknya.
Langkah mantap memasuki area pemakaman umum yang dijaga oleh satu orang pria tua yang mengenal Hana. Setelah berbasa-basi sedikit, Hana mendekati kuburan dimana sang ibu dikebumikan. Ia berjongkok di sisi makam yang tak terurus, menaburkan bunga di atasnya dan berdoa.