"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau Garam dan Amis Pengkhianatan
Malam itu, Jakarta kayak lagi nahan napas. Arka nggak bawa Rolls-Royce, nggak juga bawa motor matic-nya. Dia minta Kian buat nyediain mobil pick-up tua yang biasa buat angkut sayur.
"Tuan Muda, serius mau ke dermaga pake ini?" Kian nanya sambil benerin posisi jarum emas di lengan bajunya. Wajah Kian sekarang lagi menyamar jadi bapak-bapak kumisan.
"Musuh itu kayak hiu, Kian. Kalau lu bawa kapal pesiar, mereka bakal sembunyi. Tapi kalau lu bawa umpan kecil, mereka bakal muncul ke permukaan," jawab Arka santai sambil nyetir. Dia cuma pake kaos oblong hitam dan celana kargo.
Dermaga tua di ujung utara itu bener-bener mati. Lampu jalannya pecah, cuma ada suara ombak yang nabrak tiang pancang karatan. Arka turun dari mobil, bau garam dan amis laut langsung nyengat idung.
Di tengah dermaga, di bawah lampu sorot satu-satunya yang masih nyala, Reno berdiri. Tapi dia nggak sendirian. Di sampingnya ada Surya Kencana yang tetep kelihatan ramah dengan batik sutranya, dan ada sekitar sepuluh orang berbadan tegap yang auranya bukan kayak satpam, tapi kayak predator.
"Tepat waktu," Surya Kencana tersenyum, suaranya halus kebawa angin laut. "Arka, kamu beneran datang tanpa pengawalan? Keberanian atau kebodohan itu tipis batasnya."
Arka jalan mendekat, berhenti sekitar lima meter dari mereka. "Ngantuk, Om. Pengen cepet beresin ini terus pulang tidur. Mana ancaman 'bakar kantor' tadi? Saya udah bawa alat pemadamnya nih di bagasi pick-up."
Reno maju sambil ketawa ngejek. "Sombong lu! Lu pikir lu siapa?! Lu cuma bocah yang kebetulan dapet warisan! Mana 'Kunci' yang diminta Om Surya? Kasih sekarang, atau Nadia nggak bakal liat matahari besok pagi!"
Arka natep Reno datar. "Reno, lu itu kayak knalpot bocor. Berisik, polusi, tapi nggak bikin motor jalan lebih cepet. Lu beneran mau main ancam-ancaman nyawa?"
Surya Kencana ngangkat tangannya, tanda Reno harus diem. "Arka, 'Kunci' yang ditinggalkan Papa Nadia itu bukan cuma soal harta. Itu adalah akses ke jalur logistik Naga Utara yang selama ini ketutup. Kami cuma mau bagi hasil. Dunia ini cukup luas buat dua Naga, kan?"
"Dunia emang luas, Om Surya," Arka masukin tangan ke saku. "Tapi punggung Naga Utara nggak pernah suka ditumpangi parasit. Soal 'Kunci' itu... sebenernya nggak ada."
Muka Surya Kencana sedikit berubah. Senyum ramahnya agak luntur. "Maksud kamu?"
"Papa Nadia itu pinter. Dia tau kalian bakal nyari itu. 'Kunci' yang dia maksud di surat itu bukan benda, bukan password," Arka ngepalin tangannya, tiba-tiba ada suara kretek dari buku jarinya yang kedengeran jelas banget di tengah keheningan dermaga. "'Kunci' itu adalah aku. Akulah orang yang bakal nutup semua akses kalian kalau kalian berani sentuh Nadia lagi."
"Kurang ajar! Habisi dia!" Reno teriak histeris.
Sepuluh orang predator itu mulai gerak maju. Mereka nggak pake pistol, mereka pake pisau taktis. Tapi sebelum mereka nyampe ke Arka, Kian yang tadinya diem di bayangan mobil pick-up mendadak hilang.
Zapp! Zapp! Zapp!
Dalam hitungan detik, tiga orang tumbang tanpa suara. Mereka cuma megang leher mereka yang mendadak mati rasa karena tusukan jarum yang sehalus rambut.
"Om Surya," Arka tetep berdiri di tempatnya, suaranya makin dingin. "Jangan paksa aku buat ngirim kalian balik ke Selatan dalam kotak kayu. Aku masih mau minum teh bareng Om kapan-kapan."
Surya Kencana diem. Dia liat anak buahnya jatuh satu per satu dengan cara yang nggak masuk akal. Dia sadar, naga di depannya ini bukan cuma punya uang, tapi punya "kematian" di tangannya.
"Reno," Surya Kencana manggil pelan.
"I-iya, Om?" Reno gemeteran liat orang-orangnya tumbang.
PLAK!
Surya Kencana nampar Reno sampe tersungkur ke aspal dermaga yang kasar. "Kamu bilang dia cuma supir hoki? Kamu hampir bikin saya kehilangan muka di depan Naga Utara karena informasi sampahmu!"
Surya nengok ke Arka, dia benerin kerah batiknya. "Arka... sepertinya ada kesalahpahaman. Kami akan mundur. Tapi inget, ini bukan akhir. Laut Selatan nggak pernah bener-bener tenang."
"Saya tunggu ombaknya, Om," sahut Arka santai.
Surya jalan pergi, ninggalin Reno yang masih megangin pipinya sambil nangis. Arka nyamperin Reno, terus jongkok di depan mukanya.
"Reno, dengerin baik-baik," Arka bisik pas di kupingnya. "Besok, balikin semua uang yang lu colong dari Atmaja Group lewat Paman Bram. Kalau kurang satu rupiah... gue bakal bikin lu jadi supir angkot di pelosok daerah yang nggak ada sinyalnya seumur hidup lu. Paham?"
Reno cuma bisa ngangguk-ngangguk kayak ayam sayur.
Arka berdiri, natep langit malam yang mulai cerah. "Kian, beresin sampahnya. Kita pulang. Istri gue pasti udah bangun nungguin martabak."
Arka berjalan perlahan menuju mobil pick-up sayurnya, meninggalkan Reno yang masih tersungkur di aspal dermaga. Kian sudah menghilang lagi ke dalam bayangan, seolah-olah dia memang tidak pernah ada di sana.
"Oh iya, Reno," Arka tiba-tiba berhenti dan menoleh tanpa berbalik badan sepenuhnya. "Jangan lupa cuci muka. Lu kelihatan kucel banget buat ukuran orang yang katanya punya saham di mana-mana."
Gue masuk ke kabin pick-up yang bau bawang putih itu. Pas mau starter mesin, gue liat di spion Surya Kencana lagi masuk ke mobil mewahnya. Dia sempet natep gue lewat kaca film gelap. Gue cuma angkat dua jari—tanda peace—tapi gue tau dia paham itu artinya gue lagi ngetawain gertakannya.
Di perjalanan pulang, suasana Jakarta jam 2 pagi itu bener-bener sunyi. Gue mampir ke gerobak martabak langganan yang masih buka di pinggir jalan.
"Martabak manis satu, Bang. Kacang cokelat keju. Spesial ya," ucap gue sambil nyender di tiang listrik.
Sambil nunggu adonan matang, gue ngerasa ada yang merhatiin dari jauh. Gue nengok ke arah gang gelap di samping warung. Di sana berdiri seorang anak kecil, mungkin umur 7 tahun, lagi meluk kardus bekas. Matanya natep martabak yang lagi dimasak itu dengan lapar yang nggak bisa disembunyiin.
Gue diem sebentar. Gue teringat setahun ini gue makan nasi bungkus bareng Nadia di pinggir jalan, ngerasa susah karena cicilan. Tapi anak ini? Dia bahkan nggak tau besok pagi bakal makan apa.
"Bang, bikin satu lagi. Sama persis, bungkus beda ya," kata gue ke tukang martabak.
Begitu dua kotak martabak jadi, gue bayar dan gue nyamperin anak itu. Gue jongkok di depannya, sejajar sama dia biar dia nggak takut.
"Nih, buat kamu. Dimakan ya, mumpung anget," gue sodorin satu kotak.
Anak itu kaget, tangannya gemeteran nerima kotak itu. "Beneran, Om? Om nggak salah kasih?"
"Nggak. Saya cuma lagi senyum aja malem ini. Makan yang banyak ya, biar besok punya tenaga buat jadi orang hebat," gue usap kepalanya, terus gue balik ke mobil.
Pas gue mau jalan, gue liat dari spion anak itu mulai makan martabaknya sambil nangis pelan. Di situ gue sadar, kekuasaan Naga Utara itu nggak ada gunanya kalau cuma buat nakutin orang kayak Surya Kencana. Gunanya yang paling bener ya buat bikin anak kayak dia ngerasa punya harapan.
Gue sampe di depan rumah dinas Atmaja jam 3 subuh. Lampu teras masih nyala. Begitu gue buka pintu, Nadia lagi duduk di sofa sambil melukin bantal. Dia langsung bangun pas denger suara pintu.
"Lama banget, Ka? Kamu dari mana aja?" Nadia nanya, matanya masih merah karena nahan ngantuk.
"Tadi ban pick-up-nya drama dikit, terus antrean martabaknya panjang kayak antrean sembako," jawab gue sambil naruh kotak martabak di meja. "Nih, masih anget."
Nadia ngebuka kotaknya, aroma mentega langsung penuhin ruangan. Dia natep gue curiga. "Tapi kok baju kamu bau... laut? Kamu ke dermaga ya?"
Gue nyengir lebar. "Tadi mampir beli ikan asin buat stok besok, eh malah nemu temen lama. Udah, jangan banyak tanya. Makan dulu, nanti martabaknya sedih kalau didiemin."
Nadia akhirnya makan satu potong, dia merem sambil nikmatin rasanya. "Enak banget... makasih ya, Arka."
Gue duduk di sampingnya, ngeliatin dia makan dengan damai. Gue tau, besok Surya Kencana pasti bakal nyiapin strategi baru, dan Reno mungkin bakal makin gila. Tapi buat sekarang, ngeliat Nadia bisa makan dengan tenang tanpa tekanan dari keluarganya, itu udah jadi "Kunci" paling berharga yang pernah gue punya.
"Ka, besok kita ke makam Papa ya?" tanya Nadia tiba-tiba.
"Iya, kita ke sana. Kita kasih tau Papa kalau putrinya sekarang udah jadi penguasa yang hebat," jawab gue pelan.
Malam itu berakhir dengan aroma martabak dan janji rahasia yang gue simpen sendiri. Bahwa apa pun yang terjadi, nggak akan ada ombak dari Selatan yang boleh nyentuh ketenangan di dalam rumah ini.