Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah ia benar dari masa depan?
Di sudut ruang tengah, aku sedang berjibaku dengan tumpukan buku yang tebalnya minta ampun. Bian duduk di depanku dengan wajah serius yang melampaui usianya.
"Fokus, Mbak. Ini hukum Newton, jangan dicampur sama perasaan," tegur Bian saat melihat mataku mulai meredup.
Aku mendesah panjang. Jujur saja, menghadapi materi kelas satu ini membuat jiwaku yang berusia tiga puluh empat tahun merasa sangat jenuh. Sebagian besar pelajaran terasa begitu kering, membosankan, dan sama sekali tidak menarik minatku. Rasanya seperti dipaksa membaca manual mesin cuci dalam bahasa kuno.
Namun, ada beberapa subjek yang sepertinya sudah tertanam permanen di sel otakku. Pelajaran itu mengalir begitu saja, membuatku tak perlu memeras keringat untuk memahaminya kembali.
Target Bian hari ini sangat ambisius: aku harus menuntaskan seluruh rangkuman materi kelas satu yang diprediksi keluar di Ujian Nasional nanti.
"Mbak harus paham dasarnya dulu. Kalau kelas satu saja masih bingung, nanti pas masuk materi kelas tiga bisa meledak kepala Mbak," ucapnya dengan nada otoriter seorang tutor profesional.
Aku menatap adikku itu dengan kagum sekaligus geli. Bayangkan saja, anak yang bahkan belum merasakan duduk di bangku ujian semester 2 kelas satu SMA ini begitu yakin membimbing kakaknya yang sebentar lagi akan ujian. Logika dan daya serapnya benar-benar di atas rata-rata. Di tahun 2012 ini, Bian adalah mesin pembelajar yang luar biasa.
"Iya, iya, Pak Guru," sahutku sambil membetulkan posisi duduk. "Lanjut ke soal berikutnya. Sebelum es krim di perutku jadi energi buat tidur, ayo kita selesaikan ini."
Bian hanya mendengus, lalu menyodorkan selembar kertas berisi latihan soal fisika. Di bawah bimbingan "si kecil jenius" ini, aku mulai merasa bahwa Ujian Nasional bulan April nanti mungkin tidak akan semenakutkan yang kubayangkan. Aku harus lulus dengan nilai yang layak, bukan hanya untuk masa depanku, tapi untuk membuktikan bahwa jiwa dewasa ini tidak kalah telak oleh soal-soal SMA.
Senin pagi kembali bergulir dengan ritme yang akrab. Setelah Bapak mengantar Cinta ke SMP, giliran aku dan Bian yang di bonceng motor bututnya menuju SMA.
Menjalani hidup sebagai siswi kelas tiga di semester terakhir ternyata memiliki pesonanya sendiri. Beban pelajaran mulai berkurang, digantikan dengan ulasan intensif untuk Ujian Sekolah dan Nasional.
Ini adalah masa-masa penuh nostalgia yang bercampur dengan kecemasan masa depan. Hampir setiap minggu, suasana kelas riuh oleh kunjungan berbagai lembaga; mulai dari sekolah pramugari, penyaluran kerja, hingga universitas-universitas yang gencar berpromosi mencari siswa berprestasi. Masa-masa ini memang krusial bagi mereka yang ingin menentukan arah hidup setelah seragam putih-abu ini ditanggalkan.
Usai upacara bendera yang terik, kami kembali ke kelas dengan tawa yang masih tersisa. Siska menjadi bahan ejekan karena hampir tersungkur akibat mengantuk saat amanat pembina upacara, sementara di sudut lain, sorakan "cie-cie" menggema menggoda Dudi dan Misel yang sedang hangat-hangatnya melakukan pendekatan. Jam pertama sepertinya kosong, memberikan kami ruang untuk bernapas sejenak.
Namun, ketenangan itu pecah saat Guru BK melangkah masuk. Di belakangnya, lima orang mahasiswa dengan almamater kebanggaan mengekor. Benar saja, sesi promosi kampus dimulai. Agar lebih efisien, Guru BK menginstruksikan untuk membuka sekat kayu antarkelas supaya presentasi bisa digabung.
Kami pun bergegas merapikan kursi dan membantu menggeser papan penyekat. Aku berdiri di dekat papan tulis, menarik salah satu sisi bidak kayu yang berat. Namun, karena guncangan yang terlalu keras saat sekat ditarik, bingkai foto Presiden yang tergantung di atas papan tulis goyah.
Kejadiannya begitu cepat. Foto itu meluncur jatuh, tepat mengarah ke kepalaku. Aku memejamkan mata, bersiap merasakan benturan kaca yang keras.
Tapi benturan itu tak pernah datang.
Seorang mahasiswa dengan sigap menangkap bingkai itu hanya beberapa sentimeter di atas rambutku. Aku mendongak, napasku tertahan. Mahasiswa itu memiliki rambut yang sedikit berantakan, namun wajah di balik kacamatanya itu...
Rain? batin ku menjerit.
Jantungku berdegup kencang secara tidak wajar. Rain—sosok yang kukenal di masa depan, entah sebagai siapa dalam ingatanku—kini berdiri nyata di hadapanku sebagai seorang mahasiswa tingkat awal. Rain segera memundurkan langkah setelah menaruh kembali foto presiden dengan aman. Aku yang sempat tersenggol teman lain saat membereskan papan sekat, berusaha menyeimbangkan diri.
Aku membeku di tempat. Mataku diam tak lepas mengikutinya, berusaha memastikan bahwa penglihatanku tidak menipuku.
Riuh rendah suara para siswa memenuhi ruangan saat mereka menyimak presentasi dari dua orang mahasiswa di depan kelas. Sementara itu, tiga orang lainnya termasuk sosok yang baru saja kukonfirmasi sebagai Rain saat sesi perkenalan singkat tadi berkeliling membagikan brosur kampus mereka yang mengilap.
Yang ku ingat, rombongan mereka tidak hanya berlima. Ada dua puluh orang yang datang, sebagian besar adalah tim basket yang akan melakukan pertandingan persahabatan di sekolahku. Turnamen itu akan berlangsung selama lima hari, melibatkan berbagai SMA dan beberapa perguruan tinggi. Yang dari dulu membuatku tertegun adalah asal kampus Rain: sebuah kampus dari kota besar di luar pulau yang jauh rela datang kemari. Itu Kota yang sama di mana aku menghabiskan hampir sepuluh tahun hidupku di masa depan. Kota tempat Rain dan Martin berasal.
Sesi tanya jawab pun dimulai. Suara-suara antusias teman sekelasku tentang kehidupan kampus dan beasiswa perlahan memudar, tertutup oleh lamunanku sendiri.
Jiwa tiga puluh empat tahunku mulai protes; jam-jam seperti ini biasanya adalah waktu sakral untuk menyesap secangkir kopi hitam atau memeras otak untuk pekerjaan kantor.
Duduk di pojok belakang kelas, aku merasa asing dengan segala obrolan tentang cita-cita remaja ini.
Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku sendiri, tak lagi peduli pada presentasi di depan.
Mataku sesekali mencuri pandang ke arah Rain yang sibuk membagikan brosur di barisan depan.
"Ah, urusan Rain bisa kupikirkan nanti," batinku, mencoba menenangkan diri. "Toh, belum tentu dia juga 'penumpang' dari masa depan sepertiku. Bisa saja ini hanya kebetulan semesta yang sedang gemar mempertemukan kepingan ingatan."
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, menatap langit-langit kelas yang catnya mulai mengelupas.
Suara riuh tepuk tangan membuyarkan lamunanku. Dua jam telah berlalu, dan kini kelas dibiarkan kosong untuk belajar mandiri hingga waktu istirahat tiba. Di luar, suasana sekolah mendadak gegap gempita; lapangan basket penuh dengan sorak-sorai siswi yang tampak begitu bersemangat melihat kedatangan para mahasiswa dari kota besar itu.
Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran. "Sis, titip tas ya," kataku pada Siska yang sedang sibuk merapikan rambut.
Aku butuh pelarian. Aku butuh kafein dan asupan gula untuk mengembalikan kewarasanku sebagai wanita tiga puluh empat tahun yang terjebak di tubuh remaja. Ini adalah waktunya me time, memikirkan diriku sendiri di tengah pusaran waktu yang membingungkan ini.
Kupakai jaket dan kusampirkan payung yang sudah kusiapkan sejak pagi. Dengan langkah santai, aku menyusuri jalanan desa selama sepuluh menit menuju satu-satunya bakery yang juga merangkap kedai kopi—satu-satunya tempat yang akan bertahan hingga belasan tahun mendatang.
Di sepanjang jalan, aku memasang earphone, mendengarkan siaran radio dari ponsel jadulku untuk mengalihkan kebisingan dunia.
Beruntung, suasana kafe sedang sepi. Cocok sekali untuk suasana hatiku.