NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 - Si Perusak Rencana

Aga berdiri di depan pintu kamar tamu, sudah memakai kaos dan celana kargo milik Pandji. Rambutnya masih agak basah setelah mandi, sementara handuk kecil tergantung di lehernya.Ia menarik napas dalam sebelum mengetuk pelan.

“Baby?”

Tidak ada jawaban langsung.

Ia ketuk lagi, lebih keras. “Gwen, keluar dong. AC-nya rusak nih.”

Dari dalam terdengar suara langkah pelan. Pintu kamar tamu terbuka. Gwen muncul dengan rambut acak-acakan. Ia sudah berganti piyama satin merah yang berkilau lembut di bawah lampu, kontras dengan kulitnya yang terang. Celana pendek senada melengkapi setelan itu, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus membuat penampilannya terlihat santai namun menggoda.

Aga tanpa sadar menelan ludah. Matanya melebar, mulutnya sedikit terbuka. Ia tampak seperti remaja yang melihat crush-nya di depan mata, sebelum akhirnya mengumpat pelan.

"Kenapa?" tanya Gwen

Aga berdeham, berusaha mengembalikan fokus. Matanya berusaha tidak turun ke kaki jenjang yang begitu mengganggu itu. "AC rusak," katanya, suaranya sedikit lebih parau "Kamar Pandji panas banget. Aku nggak bisa tidur di sana."

Gwen menatapnya curiga, tapi akhirnya melangkah keluar dari kamar. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Ia berjalan melewati Aga menuju kamar Pandji, kaki jenjangnya bergerak dengan anggun di bawah celana pendek satin merah.

Aga mengikutinya dari belakang. Matanya tak bisa lepas dari lekukan kaki yang mulus itu. Ia bisa membayangkan bagaimana rasanya menyentuh, meremas, bahkan menciumi setiap inci kulit itu.

"Kamu yakin AC rusak?" tanya Gwen, berdiri di tengah kamar Pandji. Ia mengangkat tangan, merapikan rambut acak-acakannya—kerah satin itu melorot sedikit, memperlihatkan lekukan leher yang menggoda.

Aga berdeham lagi, berusaha fokus. "Coba kamu cek sendiri kalau tidak percaya."

Gwen menghela napas, mengambil remote AC dari nakas. Ia menekan beberapa kali—tidak respons. Ia berjalan ke unit AC di dinding, merasakan udara yang keluar. Memang hangat, tidak dingin seperti seharusnya.

"Aneh," gumamnya, mengerutkan dahi. "Kalau gitu kamu tidur di ruang tamu aja."

Aga mendekat selangkah. “Ruang tamu juga panas, Baby. Aku baru cek. Sofa itu kayak oven sekarang.”

Gwen mendengus, masih terlihat tidak percaya. "Memangnya apa yang rusak? Tadi masih dingin kok."

"Entahlah, mungkin ngambek karena aku tidur sendirian," jawab Aga santai, tapi matanya menatap Gwen dengan tatapan yang makin gelap dan lapar. Ia melangkah mendekat, menyudutkan Gwen kedinding.

Gwen merasakan jantungnya berdegup kencang. Aura Aga yang mendominasi membuat napasnya sedikit tersengal. “Terus kamu mau tidur di mana?”

Aga menunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gwen. Bibirnya hampir menyentuh telinga Gwen saat ia berbisik,

“Kita tidur bareng di kamar tamu aja. Kasurnya besar. Aku janji nggak macem-macem…”

Ia berhenti sejenak, senyum nakalnya muncul di sudut bibir.

“…kecuali kamu yang minta.”

Gwen belum sempat menjawab. Kata-kata yang hendak terucap lenyap begitu saja ketika Aga menunduk perlahan, seolah takut momen ini akan pecah jika terlalu cepat.

Bibirnya menyentuh bibir Gwen dengan sangat lembut — hangat, pelan, dan penuh kehati-hatian, seperti sedang menikmati sesuatu yang amat berharga dan rapuh. Gwen tersentak kecil, napasnya tertahan di tenggorokan. Namun ia tak menolak. Malah, kelopak matanya perlahan terpejam, menyerah pada kehangatan yang tiba-tiba membuncah di dada.

Ciuman itu tidak terburu-buru. Aga mencium sudut bibir Gwen dengan lembut, lalu kembali ke tengah, lidahnya hanya menyentuh ringan, meminta izin tanpa memaksa. Gwen mendesah pelan, suara kecil yang tak sengaja lolos dari bibirnya. Tangannya naik dengan ragu-ragu, meremas kaos di dada Aga, merasakan detak jantung pria itu yang ternyata sama cepat dan kacau dengan miliknya sendiri.

Napas mereka mulai bercampur, hangat dan semakin berat seiring ciuman yang perlahan mendalam, tapi tetap terkendali — penuh perasaan, bukan hanya hasrat. Aga menarik Gwen lebih dekat, tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu dengan lembut namun pasti. Gwen tanpa sadar melingkarkan tangannya di leher Aga, tubuh mereka menempel semakin rapat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh pria itu begitu dekat, meski hanya terpisah kain tipis pakaian mereka.

Tanpa melepaskan ciuman yang kini semakin manis dan dalam, Aga membungkuk sedikit. Kedua tangannya menyusup ke bawah paha Gwen, mengangkat tubuhnya dengan mudah seolah Gwen tak memiliki beban sama sekali. Gwen otomatis melingkarkan kakinya erat di pinggang Aga, tubuh mereka menempel rapat. Setiap langkah yang diambil Aga membuat tubuh mereka bergesekan lembut, menambah gesekan halus yang membuat kulit Gwen merinding.

Ciuman mereka tak terputus sedikit pun. Aga berjalan pelan sambil terus mencium Gwen dengan penuh perasaan, membawa tubuhnya keluar dari kamar Pandji menuju kamar tamu. Setiap hembusan napas Aga terasa seperti belaian di pipi Gwen, membuat dadanya berdesir aneh.

Sesampainya di kamar tamu yang hanya diterangi lampu temaram, Aga merebahkan Gwen ke kasur dengan sangat hati-hati. Tubuh Gwen mendarat lembut di atas seprai dingin, diikuti tubuh Aga yang menindihnya perlahan tanpa pernah melepaskan bibirnya. Bobot tubuh pria itu terasa menenangkan, bukan memberatkan.

Tangan Aga yang hangat perlahan menyusup masuk ke bawah piyama satin merah Gwen. Jemarinya merayap naik dengan lembut, membelai kulit perut yang halus dan hangat, seolah sedang menghafal setiap inci tubuh wanita itu. Sentuhan itu membuat Gwen menggeliat pelan, napasnya tersengal di antara ciuman. Pinggulnya tanpa sadar terangkat sedikit, menempel lebih erat ke tubuh Aga, mencari gesekan yang lebih dalam.

Udara di kamar tamu terasa semakin panas, bercampur dengan aroma manis samar dari parfum Gwen dan aroma maskulin dari tubuh Aga yang mulai menyatu.

"Krucuk..."

Bunyi perut Gwen terdengar jelas di tengah keheningan yang penuh gairah itu, membuat kedua tubuh mereka yang saling menempel seketika membeku.

Suasana yang baru saja meledak-ledak itu seketika mati suri.

Aga menghentikan semua gerakannya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Gwen dengan mata yang masih berkilat gelap, tapi sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum jahil yang tak tertahankan.

Gwen mematung di tempatnya, wajahnya yang tadi memerah karena gairah kini berubah jadi merah padam karena malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga.

“Maaf…” bisik Gwen, suaranya parau dan malu. “Aku… terlalu lama menangis jadi laper.”

Aga menatapnya sesaat, lalu tertawa kecil, dahinya bersandar ke dahi Gwen. Napasnya masih sedikit memburu. “Aku juga sebenarnya.”

Ia mengusap pipi Gwen dengan ibu jarinya yang masih hangat, senyumnya lembut meski matanya masih penuh kehangatan. “Ada mini market di bawah. Kamu mau makanan apa?”

“Kenapa nggak cek dulu di kulkas?” tanya Gwen.

Aga menggeleng pelan. “Nggak perlu. Isinya pasti kosong.”

Ia tahu betul kulkas di apartemen Pandji lebih sering jadi pajangan daripada benar-benar dipakai. Sahabatnya itu nyaris tak pernah menyimpan makanan.

“Aku beli aja di bawah. Kamu mau makan apa?”

“Biar aku aja. Sekalian lihat-lihat snack,” ucap Gwen berusaha bangkit.

Aga langsung menahan bahu wanita itu, senyum tampannya terulas lebar sambil membenahi anak rambut Gwen yang berantakan.

“Gak boleh,” tolaknya tegas tapi lembut. “Aku gak rela kamu keluar ketemu orang lain pakai piyama ini. Paha dan kaki kamu cuma boleh dilihat sama aku. Nanti aku masuk berita karena habisin orang yang natap kamu.”

Aga mengedipkan mata nakal. “Tunggu di sini, oke? Aku beli cepat.”

Tanpa menunggu Gwen menjawab, Aga langsung melesat keluar dari apartemen setelah mengambil dompet dari saku jasnya, meninggalkan Gwen yang tersenyum malu-malu di atas kasur.

Dia bersiul pelan sambil keluar dengan langkah bersemangat. Dia perlu membeli banyak minuman dan beberapa snack, kemungkinan mereka kelaparan setelah beraktifitas melelahkan semalaman, cukup besar.

Ia memborong banyak snack, terutama yang rasa keju—Gwen sangat suka camilan manis dan gurih seperti itu. Bahkan ia sudah memesan beberapa makanan berat lewat ojek online sebelum benar-benar menutup pintu apartemen.

Namun, saat sibuk memilih-milih camilan dan minuman, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan salah satu rak yang memajang kebutuhan pribadi.

Mata Aga terpaku pada deretan kotak berwarna-warni—kondom.

Pikirannya langsung melayang pada pertanyaan Hilman tadi sore.

'Bapak butuh kondom?'

Aga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menatap rak itu bimbang.

Haruskah dia membelinya?

Dan tanpa ragu, dia meraih satu kotak berisi dua buah. Cukup untuk jaga-jaga saja. Siapa tahu nanti malam butuh.

...__KejarTenggat__...

Sesampainya di apartemen, Aga langsung membuka pintu sambil membawa dua kantong belanja di tangannya. Namun langkahnya mendadak terhenti.

Pandji duduk santai di sofa ruang tamu, memegang sepotong ayam goreng yang masih mengepul. Di meja sudah ada dua porsi nasi, dua kentang goreng, dua burger, dan satu bucket ayam goreng cepat saji favorit Gwen—jelas itu pesanan ojek online Aga yang datang lebih dulu.

“Eh, Ga! Lo balik,” sapa Pandji dengan mulut penuh. “ Ayamnya enak banget, thanks ya udah pesenin buat gue juga. Kebetulan gue pulang cepet, Nadine demamnya udah mendingan setelah minum obat. Lo nggak apa-apa kan gue makan ini? Keliatan banyak banget pesanannya.”

Aga berdiri di ambang pintu, tas belanjaan masih di tangan, wajahnya pucat seperti melihat hantu sungguhan.

Pandji melanjutkan dengan polos, “Lo ngapain beli banyak snack? Mau party?”

Gwen menoleh ke arah Aga. Tatapannya sedikit bersalah, tapi ada geli yang nyaris tak bisa disembunyikan. “Tadi mbak lapar, jadi pengin ngemil.”

“Oh iya, mbak,” sambung Pandji, menoleh ke Gwen.

Lalu ia melirik Aga. “AC ruang tamu kok panas ya? Gue nyalain tadi, malah nggak dingin.”

Aga menghela napas panjang. Bahunya merosot lelah. Ia meletakkan kantong belanja di meja dengan gerakan pasrah.

“Iya... AC rusak,” jawabnya datar.

Pandji mengangguk santai. “Besok gue panggil teknisi. Malam ini kita tidur bertiga aja di kamar tamu. Kasur lipat juga ada, kok. Seru, kan?”

Aga hanya bisa duduk di sofa, meraih sepotong ayam dari kotak di meja, lalu mengunyah tanpa semangat. Dua bungkus kondom di dalam tas belanjaannya mendadak terasa seperti lelucon paling mahal malam ini.

Rencana ena-ena-nya gagal total.

Malam yang seharusnya membara karena gairah, berubah menjadi malam panas karena AC rusak dan kehadiran Pandji yang tidak terduga. Aga hanya bisa melirik Gwen sesekali, yang membalasnya dengan senyum kecil penuh arti—campuran malu, geli, dan sedikit lega karena selamat dari 'amukan' singa.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!