NovelToon NovelToon
Cara Hidup Di Masa Kiamat

Cara Hidup Di Masa Kiamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: Lloomi

Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.

​Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.

​Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?

Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau mengenalku?

Terbaring tanpa daya mata Rifana berkedut beberapa kali, cahaya halus menembus kelopak matanya memaksanya untuk membuka mata.

'Uh.. dimana?' Dia menyentuh kepalanya, perban menyelimuti sebagian kepalanya dengan lembut.

Rasa sakit masih membekas di seluruh tubuhnya. Dia bangun dari tidurnya, duduk di sisi kasur.

Ruangan asing menyambut matanya dengan tangan terbuka, poster-poster band direkatkan di tembok.

Rifana tak pernah menempelkan sesuatu seperti itu di kamarnya.

'Gua diselamatin orang ya' Dia tak tahu harus mengatakan apa, rasa takutnya akan kematian masih menghantuinya.

Emosinya campur aduk, Rifana bahkan tak dapat memikirkan apapun sekarang.

Ketenangan dalam kebingungan itu pecah saat dia teringat 'Tanganku!' Selimut ditarik ke samping, mengekspos tangannya dari balik.

Rifana ingat dagingnya dirobek oleh reptil itu, dia berkeringat menatap lengannya.

Perban putih digulung rapih tepat di robekan itu, bantuan tak terduga ini membuat Rifana khawatir.

Bagaimana jika orang ini berniat buruk? Emosinya bergejolak tak karuan, 'Sebaiknya gua waspada' Dia tak tau apa Motif orang yang membantunya.

Mengobati luka mengerikan itu saja sudah sangat membantunya, namun ditengah hancurnya dunia manusia dapat berubah dengan cepat.

Ha.. Itu membuat Rifana sedikit lega, dia harus berterima kasih pada orang itu.

Dia turun dari kasur, menghampiri sebuah cermin yang terpasang di lemari. Dengan bantuan cahaya retakan, dia melihat keadaannya yang menyedihkan.

'Sungguh pengalaman buruk' Memandang perban di kepala dan lengannya, Rifana tak bisa melakukan apapun selain menghela nafas.

Kini, rasa sakit di tubuhnya semakin berkurang seiring waktu 'Regenerasi' natural Rifana telah meningkat secara signifikan setelah mendapat skill dengan nama yang sama.

Rifana tahu, dia bisa saja membuka perban-perban ini, dia bisa merasakan seluruh bagian tubuhnya dengan jelas.

Mungkin itu efek dari modifikasi tubuh, sebelumnya. Saat reptil aneh itu merobek lengannya, dia memiliki perasaan hilang dan tidak lengkap di benaknya.

Namun saat ini, perasaan itu telah menghilang sepenuhnya.

Mungkin daging itu telah tumbuh kembali, Rifana tak yakin. Dia membiarkan perban itu terpasang tak mengganggunya lagi.

Saat Rifana hanyut dalam pikirannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka, seorang gadis cantik berdiri di pintu, rambut pendeknya memberikan aura aneh padanya, langkahnya terhenti dan dengan terkejut berkata.

"Oh" gadis itu melangkah masuk "lu bangun" Dia berjalan mendekati Rifana, entah apa yang dipikirkannya.

Tatapan mereka bertemu, situasi menjadi canggung dengan cepat. Rifana hendak mengatakan sesuatu namun gadis itu memotongnya.

"Rif, lu ngapain bengong sih, awas" Dia mendorong Rifana ke samping, 'apa yang terjadi?' Rifana tak mengerti apapun yang saat ini terjadi, dia melangkah mundur saat gadis itu mulai membuka lemari.

Melihat gadis itu sibuk mencari sesuatu, Rifana membuka mulutnya dengan ragu 'bag- eh ngomong lah' Tanpa sadar, dia malah berbicara sendiri.

'Sial' Rifana akhirnya membuka mulutnya "L-lu kenal gua?" Ucapnya heran, dia tak punya satupun teman bahkan selama ini dia hanya mengurung diri di rumah.

Bagaimana bisa seseorang mengenalnya, terlebih lagi. Dia seorang gadis! Tanda tanya besar muncul dalam benaknya, rasanya aneh saat seseorang yang tak kau kenal ternyata mengenalmu.

Gadis itu menatap Rifana dengan aneh "Maksudlu apa?" Dia berhenti menelusuri lemari, dan berdiri di hadapan Rifana.

"Apa? Ya, kok lu bisa kenal gua?"

Gadis itu hanya menghela nafas pendek, tatapannya mengejek. Matanya bergerak gerak mengarah ke tembok di belakang Rifana.

'Hah?' Rifana mengikuti arahannya dan melihat kebelakang, satu set baju SMA tergantung rapih disana.

Dia mengenal baju ini, ini SMA nya.

Tapi tetap saja, bagaimana bisa. Rifana hendak mengatakan hal lain namun gadis itu dengan cepat bicara "Gua ketua kelas lu dulu kocak" Dia mencibir dan berjongkok kembali, meneruskan pencariannya di lemari.

"Hah!" Itu mengejutkan Rifana, dia tak tahu harus mengatakan apa dan berakhir menggaruk kepalanya dengan linglung.

Rifana hanya diam tak bergerak, saat gadis itu membongkar isi lemari "Uh.. Anu.. Nama lu" Suara Rifana tergagap berusaha membentuk kata, dia telah melupakan sebagian ingatannya saat SMA.

Entah bagaimana itu terjadi, Rifana pun merasa tak ingin mengingat masa itu lebih jauh.

Tatapan gadis itu menusuk Rifana, membuatnya bergidik mundur ke sudut "Lu bahkan ga inget sama gua Rif?" Dia menggelengkan kepalanya "Ha.. Ziva, inget? Atau ngga?"Nadanya sinis.

"Oh.. Ya, ya itu.. Makasih udah bantu gua" Ucap Rifana cepat, dia tampak bodoh saat ini.

Melihat tingkah aneh Rifana, gadis itu memutar matanya "Lu sama sekali ga berubah ya." Dia akhirnya mengambil beberapa baju salin dan pergi ke pintu.

"Nunggu apalagi, ayo turun"

...

Mereka turun dari lantai dua, sepertinya ini rumah Ziva, dia membawa Rifana ke ruang tamu.

Di ruangan, sofa panjang ditempatkan di tengah, seorang pria bersandar di sofa mengelap tongkat bisbol besinya yang sedikit penyok.

Rambut hitamnya disisir kebelakang,

Mendengar suara langkah di belakangnya, pria itu berbalik.

Melihat Rifana berjalan turun dia menyapa dengan santai "Hei, akhirnya lu bangun sobat, lu tertidur selama seminggu tau?"

'Hah?' Alis Rifana mengerut "Seminggu!?" Apa dia benar-benar tertidur selama seminggu? Rifana terdiam, banyaknya nampaknya terjadi di kepalanya saat ini.

Dia seperti robot rusak yang menunggu untuk di reboot, dia menatap Ziva di depannya meminta penjelasan.

Pria itu hanya tertawa kecil melihat reaksi Rifana, dia kembali mengelap tongkatnya dengan wajah gembira.

Ziva menggelengkan kepalanya, terlihat muak "Ah udahlah Dam, gua kira lu becanda mau ngeprank dia"Ia tak menyangka saudaranya akan begitu blak blakan.

"Yah terserahlah, lu ga tidur selama itu, cuma sehari" Dia melanjutkan "Oh ya, dan itu kakakku Adam. Dia seniormu saat SMA kau ingat?" Jelasnya.

Rifana merasa sedikit lega setelah medengarnya "Itu.." Dia tak ingat siapa Adam ini dan hanya tersenyum canggung.

"Hahaha.. Sudahlah gua cuma becanda, bener kan bro" Adam menghampiri Rifana dan merangkul bahunya, dia tertawa puas.

"..." Ziva menatap kakaknya dengan ekspresi jelek, dia sepertinya tak mengharapkan itu.

Pada akhirnya mereka bertiga duduk bersama di sofa, dua kakak beradik itu.

Mereka ngobrol kecil untuk beberapa saat.

"Jadi bagaimana bisa kalian nyelamatin gua?"

Rifana bertanya pada mereka, ekspesinya tegang, dia masih waspada pada dua orang ini.

Meskipun mereka mengenalnya, Rifana tak memiliki ingatan yang jelas tentang itu, jadi dia banya bertindak secukupnya.

Pria itu berbicara pertama "Yah kami.."

...

Saat itu, Adam dan Ziva kebetulan sedang pergi mencari supply saat mereka mendengar suara itu.

Mereka tengah bersembunyi dibalik gang kecil diantara rumah, saat suara kasar itu muncul dari kejauhan.

Sreee...

Sesuatu diseret disepanjang aspal, Adam menyuruh Ziva untuk mundur ke belakangnya, dia mengendap perlahan mengintip melalui celah celah sempit.

Disanalah dia melihat makhluk itu.

Di ujung jalan yang kosong, reptil aneh itu merangkak menyeret mayat dengan mulutnya, ekornya yang tajam melambai lambai tak karuan.

Adam mencengkram tongkat bisbolnya dan mundur perlahan, dia menatap Ziva dan menempatkan jari telunjuknya di bibirnya "makhluk mutan" Bisiknya.

Ziva mengangguk dan berbalik, mereka harus pergi. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu makhluk mutan, namun Adam lebih memilih untuk menghindar daripada bertarung.

Demi menjaga adiknya, dia tak bisa menjadi impulsif dan bertarung semaunya lagi, jika tidak mungkin hal buruk akan terjadi.

Mereka mengendap pergi ke belakang, namun tiba-tiba suara langkah yang cepat terdengar di sisi lainnya.

Itulah saat Rifana berhenti berlari.

Dua bersaudara itu, saling menatap dan memalingkan wajah mereka. Adam memimpin jalan di depan, mewaspadai semua bahaya.

Adam sangat fokus, dia menarik Ziva untuk pergi. Namun gadis itu terdiam.

"Dia.." Ziva mematung, dia mengenali wajah itu. Di ujung, tepat di depan gang sempit Rifana berdiri diam menatap reptil itu.

Adegan kembali terulang saat Rifana diterkam, kedua saudara ini menyaksikan Rifana melawan dengan sekuat tenaga hingga dia terpental.

Ziva tiba-tiba menarik baju Adam, dia menengok ke arah pertarumgan itu dengan mata memohon.

Entah apa yang dipikirkan gadis ini, Adam hendak menolak dengan tegas sampai gadis itu berbicara "Dia temanku."

...Adam melepaskan pegangan Ziva dan mulai berlari keluar gang, Rifana tergeletak lemah saat makhluk itu hendak menusuknya dengan ekor tajamnya.

Adam berteriak dengan keras "Menghindar!!" Namun Rifana tak bergerak.

Dengan seluruh tenaganya, Adam melemparkan bola bisbol di tangannya ke arah makhluk itu.

Dengan lapisan sisik hitam yang tebal, Adam tau itu tak akan membuat dampak apapun.

Namun yang dia butuhkan hanya perhatian makhluk itu.

Swish.. Bola dilempar dengan kencang, mengenai kepala makhluk itu dalam sekali tembakan.

Reptil itu menoleh kebelakang, namun Adam telah sampai di belakangnya.

Swing... Bang.

Tongkat bisbol besi itu diayunkan sekuat tenaga, membuat makhluk itu terhuyung mundur.

Adam mengambil kesempatan ini, menghampiri Rifana yang terbaring tak sadarkan diri. Ia melihat perban penuh darah di dahinya dengan perasaan aneh.

"Apa dia mati?" Tanyanya bingung, tubuh Rifana dingin layaknya mayat. Adam menghiraukannya.

Ekor tajam makhluk itu tersangkut di aspal, satu centimeter dari wajah Rifana. Tanpa membuang waktu, Adam bergegas membawanya pergi.

Dia kembali ke gang kecil menggotong Rifana di pundaknya, Ziva menatap Rifana dengan aneh sebelum mereka berlari pergi dari tempat itu.

Di punggung Adam, sedikit kesadaran Rifana pulih.

'D..dingin..'

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!