NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Pagi itu, kantor Nasution Property Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Bunyi ritmis mesin fotokopi yang sedang bekerja menjadi satu-satunya musik latar di ruangan pantry yang menyatu dengan area administrasi. Sheila berdiri mematung di depan mesin besar itu, matanya lurus menatap lampu pemindai yang bergerak bolak-balik, namun pikirannya masih tertinggal di akhir pekan kemarin—tentang "Jaemin" gadungan yang menjemputnya di depan kafe.

Ia terlalu fokus menghitung lembar demi lembar dokumen tender hingga tidak menyadari derap langkah sepatu pantofel yang tegas mendekat dari arah koridor eksekutif.

Jeremy melangkah dengan kepercayaan diri tinggi. Dasinya sudah longgar sedikit, tipikal gayanya jika baru saja menyelesaikan kopi pertama. Matanya berbinar begitu menangkap sosok punggung asisten pribadinya yang sedang sibuk. Tanpa melihat sekeliling, tanpa mempedulikan sekat kubikel yang rendah, Jeremy membuka suara dengan nada yang sangat rendah, berat, dan penuh keintiman.

"Sayang, kamu lagi ap—"

Kalimat itu terputus tepat di tengah udara, menggantung seperti tali yang tiba-tiba diputus paksa.

Jeremy mendadak mengerem langkahnya hingga sepatunya mencit di atas lantai porselen. Pupil matanya membelalak kecil saat ia menyadari bahwa di balik pilar mesin fotokopi, tidak jauh dari posisi Sheila, ada Nilam yang sedang asyik mengisi botol minum di dispenser.

Nilam membeku. Botol minumnya meluap, airnya tumpah ke lantai, namun ia tidak peduli. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah sang CEO yang biasanya sedingin es itu.

"S-sayang?" gumam Nilam dengan suara nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat jantung Sheila seolah berhenti berdetak.

Sheila, yang tadinya berpura-pura tuli, langsung bereaksi dengan gerakan yang sangat kikuk. Ia menyambar tumpukan kertas yang keluar dari mesin, lalu mulai menghitungnya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Satu... dua... tiga... aduh, kok kurang ya? Empat... lima..." Sheila meracau, suaranya sedikit meninggi untuk menutupi kecanggungan yang luar biasa. "Eh, Pak Jeremy! Kaget saya, Pak. Tadi Bapak bilang apa? 'Sayang'?"

Sheila menoleh ke arah Jeremy dengan akting yang luar biasa dramatis—setengah bingung, setengah takut—seolah ia benar-benar tidak paham. Ia memberikan kode mata yang sangat tajam, sebuah sinyal "SOS" yang memerintahkan Jeremy untuk segera menyelamatkan situasi ini atau mereka berdua akan tamat.

Jeremy, yang merupakan master dalam negosiasi bisnis, langsung memutar otaknya secepat kilat. Ia berdeham keras, membetulkan letak dasinya, dan mengubah raut wajahnya kembali menjadi CEO yang otoriter dan menyebalkan dalam hitungan detik.

"Sayang... sayang sekali kertas itu terbuang-buang kalau kamu fotokopi bolak-balik tapi urutannya salah, Sheila!" bentak Jeremy dengan nada ketus yang dibuat-buat. "Saya tadi mau bilang, 'Sayang sekali waktu saya terbuang' nungguin laporan ini di meja kerja! Kamu ini asisten pribadi atau tukang fotokopi magang?!"

Nilam, yang tadinya sudah hampir yakin mendengar kata panggilan sayang untuk orang, kini tampak sangsi. Ia mengerjapkan mata, menatap Jeremy yang kini sedang berkacak pinggang dengan wajah galak.

"Oh... sayang sekali waktu Bapak terbuang ya, Pak?" tanya Nilam ragu-ragu sambil buru-buru mematikan dispenser yang tumpah.

"Iya! Memangnya kamu pikir saya mau bilang apa, Nilam?" Jeremy menatap Nilam dengan tatapan mengintimidasi, taktik klasiknya untuk membuat lawan bicara merasa bersalah. "Kamu juga! Itu air tumpah ke lantai, kalau ada yang terpeleset bagaimana? Bersihkan sekarang!"

"I-iya, Pak! Maaf, Pak!" Nilam langsung panik, menyambar tisu di meja dan berjongkok untuk membersihkan lantai.

Sheila menghela napas lega yang sangat panjang, meski tangannya masih sedikit gemetar memegang kertas. Ia melirik Jeremy dari sudut mata. Pria itu memberikan tatapan "kita bicara nanti" yang sangat intens sebelum berbalik dan berjalan pergi dengan langkah angkuh, seolah-olah kejadian memalukan tadi tidak pernah terjadi.

Begitu Jeremy menghilang di balik pintu kaca, Nilam berdiri dan mendekati Sheila.

"Sumpah ya, Shei. Gue kira tadi Pak Jeremy manggil lo 'Sayang' kayak pacaran gitu. Gue udah mau pingsan tadi," bisik Nilam sambil mengusap dadanya.

"Hah? Ya nggak mungkin lah, Lam! Lo liat sendiri kan mukanya galak gitu? Mana ada pacaran modelan begitu, yang ada gue batin terus tiap hari," sahut Sheila sambil memaksakan tawa. "Lagian dia kan emang aneh bahasanya. Pakai 'sayang sekali' segala, sok puitis tapi ujung-ujungnya ngomel."

"Tapi bener juga sih. J-nya di gelang lo kan Jaemin, bukan Jeremy," Nilam terkekeh, tampaknya ia sudah termakan oleh akting mereka berdua.

Sheila hanya bisa tersenyum kecut. Ia menyambar berkasnya dan berjalan cepat menuju meja kerjanya. Begitu duduk, ia merogoh ponselnya. Sebuah pesan singkat dari Jeremy sudah menunggu.

Bapak CEO Sengklek: "Hampir saja. Lain kali kalau aku mendekat, batuk atau apa gitu! Tapi jujur, ekspresi kaget kamu tadi cantik banget. Sampai ketemu di ruangan, 'Sayang sekali waktuku terbuang'."

Sheila menutup wajahnya dengan map, menahan tawa sekaligus rasa gemas yang luar biasa. Hidup backstreet dengan bos yang tidak bisa menjaga lisannya ini benar-benar menguji kesehatan jantungnya setiap detik.

***

Pintu ruangan CEO tertutup rapat dengan bunyi klik yang tegas, mengunci dunia luar dari drama yang baru saja terjadi di depan mesin fotokopi. Sheila berbalik dengan napas memburu, wajahnya merah padam antara malu dan emosi. Ia menunjuk wajah Jeremy dengan tumpukan dokumen yang masih digenggamnya.

"Kamu tuh ya! Tadi hampir aja Nilam tahu! Ini mulut kamu perlu dikasih rem deh kayaknya, Jeremy!" sentak Sheila dengan suara tertahan. "Untung aku cepat mikir, kalau nggak, habislah kita jadi bahan gosip satu kantor!"

Jeremy justru bersandar santai di meja kerjanya, menyilangkan tangan di dada dengan senyum miring yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Ya habisnya, aku lupa kalau ada orang lain. Mata aku cuma fokus ke kamu yang lagi serius banget ngitung kertas. Gemas, tahu nggak?"

"Gemas, gemas! Kalau ketahuan Papa kamu, yang ada aku didepak dari sini!" Sheila melangkah mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Pokoknya, kalau di kantor aku nggak mau kita deket-deket. Nanti malah ada yang tahu lagi. Kamu nggak usah tengil kalau dekat aku. Jaga jarak minimal dua meter!"

Jeremy terkekeh, ia justru melangkah maju, memangkas jarak yang baru saja Sheila tetapkan. "Dua meter? Itu mah jaga jarak sosial, Shei. Aku nggak bisa."

Ia menarik pinggang Sheila dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengusap tengkuk gadis itu. "Lagian, 'Sayang sekali waktuku terbuang' itu alasan yang cukup jenius kan?" bisiknya tepat di depan bibir Sheila.

Suasana di ruangan yang kedap suara itu mendadak berubah. Aroma parfum Jeremy yang maskulin seolah mengepung kesadaran Sheila. Gairah yang sempat tertunda akibat interupsi Nilam tadi kembali tersulut dengan intensitas yang lebih besar.

Jeremy tidak memberikan ruang bagi Sheila untuk membantah lagi. Ia mencium Sheila dengan lapar, sebuah ciuman yang menuntut kepatuhan sekaligus memberikan perlindungan. Sheila yang awalnya ingin marah, perlahan luluh. Jemarinya meremas kemeja Jeremy, mencari pegangan saat dunia di sekitarnya seolah berputar.

Jeremy mengangkat tubuh Sheila, mendudukkannya di atas meja kerja yang luas. Dokumen-dokumen yang tadi dikerjakan Sheila berhamburan ke lantai, namun tak satu pun dari mereka peduli. Tangan Jeremy mulai menjelajahi lekuk tubuh Sheila dengan berani, memberikan sentuhan yang membakar di balik blus kerja yang tipis.

"Jeremy... nanti kalau ada yang lihat gimana?" rintih Sheila di sela ciuman mereka. Napasnya memburu, matanya sayu menatap pintu ruangan yang untungnya tertutup rapat.

"Pintunya terkunci, Sayang. Nggak ada yang berani masuk tanpa izin aku," bisik Jeremy dengan suara parau yang penuh gairah.

Namun, Jeremy lupa satu hal. Di kantor ini, ada beberapa karyawan senior yang memiliki akses "darurat" atau setidaknya keberanian lebih untuk mengetuk di saat yang tidak tepat jika ada urusan mendesak.

BRAK!

Pintu ruangan itu tidak terbuka, namun kaca jendela besar yang menghadap ke koridor dalam—yang biasanya tertutup gorden otomatis namun saat ini sedikit terbuka celahnya—menampilkan pemandangan yang tak terduga.

Toni, salah satu staf senior dari bagian logistik yang kebetulan lewat untuk mengantarkan berkas fisik yang harus ditandatangani segera, berdiri mematung di luar kaca. Matanya membelalak sempurna melihat pemandangan di dalam: Bos besarnya sedang berada dalam posisi yang sangat kompromituh dengan asisten pribadinya di atas meja kerja.

Sheila yang pertama kali menyadari bayangan orang di luar langsung mendorong dada Jeremy dengan sekuat tenaga.

"Jeremy! Ada Toni!" pekik Sheila pelan namun penuh kepanikan.

Jeremy menoleh dan benar saja, ia melihat Toni yang sedang memegang map cokelat dengan mulut menganga. Toni langsung berbalik badan secepat kilat, berjalan hampir berlari menjauh dari ruangan itu tanpa menoleh lagi, seolah-olah ia baru saja melihat hantu.

Sheila segera turun dari meja, merapikan blus dan roknya dengan gerakan liar. Wajahnya yang tadi merah karena gairah kini menjadi putih pucat karena ketakutan.

"Tuh kan! Kamu ih! Aku bilang juga apa!" Sheila memukul bahu Jeremy berkali-kali dengan perasaan frustrasi. "Toni itu orangnya nggak bisa jaga rahasia, Jeremy! Besok pagi berita ini pasti sudah sampai ke telinga Papa kamu!"

Jeremy mengumpat pelan, ia menyugar rambutnya yang berantakan dengan kasar. "Sial. Aku pikir gordennya sudah tertutup rapat."

"Pikir! Pikir terus! Kamu tuh egois banget kalau sudah mau sesuatu!" Sheila menyambar tasnya, matanya mulai berkaca-kaca karena panik. "Kalau aku dipecat, aku nggak mau ketemu kamu lagi! Beneran!"

Jeremy langsung memegang kedua bahu Sheila, mencoba menenangkannya. "Tenang, Shei. Aku bakal urus Toni. Aku bakal kasih dia 'bonus' atau ancaman supaya dia tutup mulut. Percaya sama aku."

"Gimana mau percaya kalau tiap hari kita hampir ketahuan terus?!" Sheila melepaskan tangan Jeremy dan berjalan menuju pintu. "Mulai besok, aku nggak mau masuk ke ruangan ini sendirian lagi. Titik!"

Sheila keluar dari ruangan dengan langkah buru-buru, meninggalkan Jeremy yang berdiri mematung di tengah ruangannya yang kini berantakan dengan kertas-kertas yang berserakan. Jeremy tahu, kali ini situasinya benar-benar gawat. Toni bukan Nilam yang mudah dibohongi dengan kata "Sayang sekali".

Ia harus bergerak cepat sebelum asisten kesayangannya benar-benar menghilang dari hidupnya karena ulah tengilnya sendiri.

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!