NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Bertemu tapi tak saling kenal

Sementara itu, jauh di London Marsha baru saja keluar dari rumah sakit, langkahnya tenang, mantel putih masih melekat di tubuhnya, wajahnya terlihat lelah, namun tetap terjaga dalam ketenangan yang khas, Ia berhenti sejenak di depan gedung, menatap langit malam.

Angin dingin menyentuh wajahnya, membuat rambutnya sedikit berantakan dan tanpa alasan yang jelas dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang memanggil atau mungkin sesuatu yang perlahan mendekat. Marsha mengernyit kecil, lalu menggeleng pelan. “Perasaan aneh…” gumamnya. Ia tidak tahu bahwa di waktu yang sama, masa lalu yang pernah ia tinggalkan sedang mulai mencarinya kembali

Sore itu, suasana di London tidak terlalu ramai, namun cukup hidup untuk membuat orang-orang memilih singgah sejenak sebelum pulang, Marsha berjalan bersama beberapa rekan dokternya, langkahnya tenang seperti biasanya. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menanggapi percakapan ringan yang mengalir di antara mereka.

“Ada kafe yang lagi banyak dibicarakan,” ujar salah satu rekannya sambil melihat ponsel. “Katanya menyajikan makanan Indonesia, jarang ada yang seperti itu di sini.”

Marsha sedikit mengangkat pandangan. “Makanan Indonesia…?” nada suaranya pelan, nyaris seperti gumaman.

“Iya, namanya unik juga,” lanjut rekannya. “De'valerine.”

Langkah Marsha sempat tertahan sepersekian detik, nama itu terasa asing namun di saat yang sama, meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan, Ia tidak bertanya lebih jauh, hanya mengangguk kecil. “Kita coba saja.”

Kafe itu menyambut dengan suasana hangat begitu mereka masuk, aroma rempah yang lembut bercampur dengan wangi kopi, menciptakan nuansa yang berbeda dari tempat-tempat lain di kota itu, tidak mencolok, namun terasa dekat, seolah menyimpan cerita.

Marsha melangkah masuk, matanya menyapu ruangan dengan tenang, ada sesuatu yang membuatnya sedikit terdiam bukan karena ia mengenali tempat itu, melainkan karena perasaan yang muncul tanpa alasan yang jelas, seperti pernah berada dekat dengan sesuatu seperti ini.

Namun ia tidak memikirkannya lama, mereka memilih duduk di dekat jendela, Marsha membuka menu, namun jarinya berhenti pada satu bagian. “Makanan Nusantara.” Ia membaca perlahan, seolah kata-kata itu memiliki makna lebih dari sekadar hidangan. “…aku pesan ini saja,” ucapnya pelan.

Di sudut ruangan yang lain, tanpa disadari Archio sudah berada di sana sejak tadi, seperti biasa, ia duduk di tempatnya, dengan laptop terbuka di hadapannya, namun perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada layar, Ia terbiasa mengamati, bukan karena ingin tahu, melainkan karena kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Saat pintu terbuka, ia sempat melirik hanya sekilas, namun pandangannya tidak segera kembali, ada sesuatu yang membuatnya bertahan, seorang wanita masuk bersama beberapa orang lain. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, dengan pembawaan yang sulit dijelaskan tidak mencolok. Archio mengerutkan kening tipis perasaan itu tidak asing.

Ia tidak langsung menyadari apa yang menarik perhatiannya, hingga perlahan, tanpa sadar, ia mulai memperhatikan lebih jelas, rambut yang jatuh rapi, hara duduk yang tenang dan ketika wanita itu sedikit mengangkat wajahnya mata itu. Detak jantung Archio berubah pelan, namun pasti dan rasanya tidak masuk akal, Itu yang pertama kali terlintas di pikirannya, namun ia tidak bisa mengalihkan pandangan.

Di sudut lain, Marsha duduk tenang dengan tatapan kosong pada menu di depannya. Ia asyik mendengar celoteh ringan dari meja sebelah, tanpa menyadari riuh kecil di dekat gelasnya. Tiba-tiba, saat pelayan meletakkan pesanan, satu gelas hampir terjatuh. Refleks, Marsha langsung berdiri, tangan terulur cepat menahan gelas itu. Gerakannya singkat, tapi cukup membuat tubuhnya berbalik perlahan. Sekejap, wajahnya terlihat jelas oleh orang di sekitarnya tenang, tanpa beban, seolah tak terganggu oleh apa pun yang terjadi.

Detik itu rasanya waktu melambat, bahkan hampir berhenti. Archio terpaku di tempatnya, mata menatap tajam tanpa berkedip. Ia seperti takut, kalau saja ia mengedipkan mata, sosok itu akan lenyap dari pandangannya.

"...Marsha...?" suaranya serak, nyaris tak terdengar. Hanya sebatas bisikan yang tenggelam di antara heningnya ruang itu.

Marsha meluncur kembali ke kursinya dengan tenang, wajahnya tetap datar seolah tak ada gangguan. Tapi jarak beberapa meter di belakangnya, seorang pria menunduk dengan mata penuh tanda tanya, mencoba meraba-raba teka-teki yang selama ini mengusiknya dalam diam. Napasnya tertahan, seolah setiap detik mencari jawaban semakin mendekatkan dirinya pada sesuatu yang amat penting.

Archio menatap layar laptop yang mulai gelap. Perlahan, jarinya menekan tombol tutup. Ia berdiri, tetapi langkahnya tersendat di tengah ruang kecil itu. Dadanya sesak, ada bisikan keraguan yang jarang sekali mampir dalam pikirannya. "Kalau aku salah? Kalau semua ini cuma bayangan dari sesuatu yang lama sekali kubiarkan hilang..." gumamnya dalam hati. Namun sebaliknya, kalau semua ini nyata, dan aku membiarkannya pergi lagi? Tangannya mengepal erat, tubuhnya seakan menolak melangkah pergi begitu saja.?

Marsha berdiri lebih dulu, tanpa banyak bicara.

“Aku ke kasir,” katanya singkat, lalu melangkah perlahan, langkah kakinya tenang dan pasti, maju lurus ke depan, sementara itu, langkah mereka berdua semakin dekat, satu demi satu, Nafasku tiba-tiba terasa berat, seolah menahan gelombang menunggu, detik-detik itu terasa berhenti, menegangkan dan penuh kemungkinan yang menggantung di udara.

Namun saat Archio sedang berjalan, ponselnya tiba-tiba bergetar di saku. Ia menoleh sekilas, mata tertuju pada layar yang menyala. Nama itu membuat detaknya tercekat Andreas, ayahnya. Hanya satu detik saja. Satu detik yang terlalu singkat untuk diabaikan, namun cukup mengubah arah langkah dan hatinya seketika..

Marsha berjalan melewatinya dengan langkah ringan, wajahnya tak sedikit pun menoleh ke belakang. Matanya kosong, seolah tak menyadari keberadaan sosok itu. Suara pintu yang terbuka dan kemudian tertutup pelan mengikuti jejak langkahnya yang tanpa jeda, meninggalkan ruang itu dalam keheningan yang makin dalam.

Archio berdiri membeku di tempatnya. Matanya menatap kosong ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Nafasnya tertahan, terasa berat. Hanya beberapa detik saja terlambat. Jemarinya mengepal perlahan, seakan menahan badai di dalam dada. "...aku tidak mungkin salah," bisiknya pelan, suaranya kini teguh tanpa getar ragu..

Marsha melangkah menjauh, langkahnya tenang tanpa suara. Namun tiba-tiba, tubuhnya berhenti sejenak. Matanya menoleh ke belakang, bukan karena sesuatu yang terlihat jelas, tapi karena ada getar aneh dalam dadanya. Rasanya seperti ada yang hendak datang, atau seseorang yang hampir ia temui, meski ia sendiri tak bisa meraba apa itu. Ia menarik napas dalam, lalu menggeleng pelan seolah menepis bayangan itu, sebelum melanjutkan langkahnya. Tanpa sadar, waktu di antara masa lalu dan masa kini kini tinggal terpaut beberapa detik saja..

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!