Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 007
Ia melirik jam dinding mewah di ruang tengah. Pukul 18:20 hari mulai gelap. Masih terlalu sore untuk membiarkan Ziva (Zura) "hibernasi" dengan seragam sekolah yang sudah kusut dan bau asap gerobak martabak. Sebagai kakak yang (merasa) bertanggung jawab, Gery tahu ia harus bertindak.
"Ziva! Bangun! Woi, Badut Ancol!" Abian mengguncang bahu Ziva dengan tidak santai.
Ziva (Zura) hanya melenguh, malah makin mengeratkan tubuhnya. "Bentar lagi, Bang ciloknya belum habis."
"Cilok palamu peyang!" Abian mencubit pipi Ziva yang sedikit chubby. "Bangun, bersihin itu muka, mandi! Lo bau telur bebek. Nanti Papa pulang liat lo kucel begini bisa dikira gembel nyasar."
Ziva (Zura) terpaksa membuka matanya. Pandangannya kabur, menatap wajah Abian yang sok ganteng di depannya. "Apaan sih, Bang? Sakit tau!"
"Mandi sana. Terus ganti baju. Gue nggak mau meja makan gue bau keringat anak sekolah. Cepat! Lima belas menit nggak turun, kamar lo gue kunci dari luar!" Ancam Abian sambil kembali menikmati martabaknya.
Ziva (Zura) menggerutu, menyumpah serapah dalam hati. Namun, ia tetap bangkit dengan langkah gontai menuju kamarnya di lantai dua. Ia butuh mandi air hangat untuk menyegarkan otaknya yang terasa seperti jeli.
Setelah ritual mandi yang singkat namun menenangkan, Ziva (Zura) turun dengan pakaian yang sangat berbeda dari Ziva yang biasanya. Tidak ada gaun tidur seksi atau piyama sutra yang mencolok. Ia hanya mengenakan kaos oversize berwarna putih dan celana training hitam—setelan andalan Zura di kehidupan lamanya. Rambutnya dicepol asal ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang bersih.
Di ruang makan, Baskara sudah duduk di kepala meja, sementara Abian sudah anteng menunggu. Suasana ruang makan itu biasanya kaku, tapi malam ini terasa berbeda karena Ziva duduk tanpa banyak suara.
"Papa dengar dari Abian, kamu tidak minta uang jajan tambahan minggu ini?" Ucap Papa Ziva (Baskara) membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya. Suaranya berat, tapi ada sedikit nada heran di sana.
Ziva menyendok nasi dengan tenang. "Masih ada, Pa. Sayang kalau buang-buang uang buat barang yang nggak berguna. Capek juga belanjanya."
Baskara berhenti mengunyah sejenak. Ia melirik Ziva. Tidak ada riasan menor, tidak ada permintaan manja yang tidak masuk akal, hanya anaknya yang makan dengan sangat lahap seolah nasi putih dan ayam goreng adalah makanan termewah di dunia.
"Papa senang kamu lebih... hemat," ucap Baskara (Papa Ziva) singkat. Itu adalah pujian terpanjang yang pernah Ziva (Zura) terima dalam ingatannya.
"Ziva emang lagi kesambet, Pa. Masa tadi dia beli martabak bebek sendiri ke pinggir jalan? Biasanya kan dia anti nyentuh debu aspal," timpal Gery sambil nyengir jahil.
Ziva (Zura) melirik Abian tajam, lalu kembali fokus ke piringnya. "Kaki dibuat jalan, Bang. Bukan buat dipajang."
Makan malam itu berlangsung lebih tenang dari biasanya. Tidak ada perdebatan sengit atau tangisan manja Ziva yang menuntut barang baru. Di kepala Zura, ia hanya berpikir satu hal: "Habis ini gue mau lanjut tidur sepuasnya."
Namun, sebuah pikiran tiba-tiba melintas. Ia teringat tatapan Aksa di gerobak martabak tadi. "Duh, kenapa gue malah kepikiran si tiang listrik itu sih?"
"Ziva, lo kok bengong? Keselek tulang ayam?" Tanya Abian membuyarkan lamunan adiknya.
"Nggak. Gue cuma lagi mikir besok di sekolah ada drama apa lagi ya?" Gumam Ziva (Zura) pelan.
"Drama? Lo kan sutradaranya, masa lo nggak tau?" Ledek Abian.
Ziva (Zura) tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat misterius sekaligus menawan. "Sutradaranya udah pensiun, Bang. Sekarang gue cuma mau jadi penonton sambil rebahan."
Skip.
Malam itu, di kamar pribadinya yang luas, Ziva (Zura) benar-benar tertidur pulas tanpa beban. Sementara itu, di grup chat angkatan SMA Pelita Bangsa, sebuah foto buram yang menampilkan Ziva dan Aksa di depan gerobak martabak mulai menyebar seperti api di musim kemarau.
Pagi itu, burung-burung berkicau dengan riang di luar jendela kamar Ziva (Zura). Namun, kedamaian itu segera hancur oleh suara alarm dari ponsel yang terus-menerus berbunyi. Bukan alarm jam weker, melainkan rentetan notifikasi dari grup chat sekolah yang sepertinya sedang mengalami ledakan nuklir digital.
Ziva (Zura) menggeliat, tangannya meraba-raba nakas dengan mata tertutup. Begitu tangannya menyentuh benda pipih itu, ia membukanya dengan satu mata yang masih lekat. "Apalagi sih ini? Orang-orang nggak punya kehidupan apa jam segini udah ngetik?" Gumamnya serak.
Layarnya menyala terang, menampilkan sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik pohon. Di foto itu, Ziva sedang berdiri menyandar di tiang listrik dengan wajah mengantuk, sementara di sampingnya, Aksa berdiri tegak sambil memegang helm, tampak seperti sedang membisikkan sesuatu yang sangat serius.
Caption di bawahnya: "BREAKING NEWS: Queen Bee Pensiun Galak karena Udah Pindah Hati ke King of Pelita Bangsa? Terpantau nge-date di gerobak martabak!" 🌯❤️
Ziva (Zura) langsung terduduk tegak. Rasa kantuknya terbang entah ke mana. "Nge-date? Di gerobak martabak?"
Ziva (Zura) memijat keningnya yang mendadak pening. "Aduh gusti mereka nggak liat apa Bang Jono lagi mecahin telur di situ? Itu bukan kencan, itu antrean sembako!"
Di Sisi Lain: Kediaman Aksa Erlangga.
Aksa baru saja selesai bersiap. Ia mengenakan seragamnya dengan rapi sangat berbeda dengan Ziva yang mungkin saat ini masih mencari kaos kaki. Ia duduk di ruang makan yang sunyi, hanya ada suara denting sendok dan garpu.
Ponselnya yang diletakkan di meja bergetar. "Dreet. Ting!" Sebuah pesan masuk dari Kenan.
[Kenan]: "Aks, lo beneran sama Ziva? Sumpah, grup angkatan lagi panas banget. Reygan tadi pagi subuh-subuh udah nanya di grup."
Aksa melirik pesan itu tanpa minat. Ia menggeser layar ponselnya, melihat foto yang viral tersebut. Matanya tertuju pada sosok Ziva di foto itu—gadis itu terlihat sangat tidak peduli dengan sekitarnya, sangat kontras dengan dirinya yang biasanya selalu waspada.
"Hanya martabak," gumam Aksa pelan, lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket kulit. Ia tidak peduli dengan gosip, tapi ia tahu, hari ini di sekolah tidak akan berjalan setenang biasanya.
Sekitar dua puluh lima menit kemudian, mobil Pak Jajang berhenti di depan gerbang. Ziva (Zura) turun dengan langkah yang lebih gontai dari kemarin. Ia sengaja memakai hoodie di luar seragamnya dan menarik tudungnya sampai menutupi sebagian wajah. "Misi hari ini: Menjadi transparan."
Tapi sayangnya, di dunia novel, menjadi transparan adalah hal yang mustahil bagi karakter seperti dia.
...ZIVA....
Baru saja tiga langkah, Manda dan Tika sudah menerjangnya dari samping. Mereka berdua tampak seperti habis minum sepuluh gelas kopi, mata mereka berbinar-binar penuh tuntutan penjelasan.
"Ziv! Lo berhutang penjelasan ke kita! Sejak kapan lo sama Aksa? Terus gimana nasib Reygan?" Serbu Tika sambil menarik-narik lengan baju Ziva.
"Nggak ada nasib, nggak ada hubungan," sahut Ziva (Zura) datar, terus berjalan menuju kelas. "Gue cuma beli martabak bebek. Kebetulan tiang lis—maksud gue Aksa, ada di situ juga."
"Tapi foto itu nggak bohong, Ziva! Aksa liatin lo kayak lagi liatin masa depan!" Manda histeris.
Ziva (Zura) berhenti mendadak, membuat kedua temannya itu hampir terjungkal. "Denger ya, Aksa liatin gue karena gue ngatain dia capek jadi orang keren. Udah, itu aja. Sekarang minggir, gue mau ke kelas sebelum gue pingsan karena kurang asupan oksigen di sini."
Namun, di tengah koridor, langkah Ziva (Zura) kembali terhenti. Di sana, Reygan berdiri dengan wajah yang tidak bisa dikatakan ramah. Di sampingnya ada Liana yang tampak bingung dan cemas.
Reygan menatap Ziva dengan tajam, tangannya masuk ke saku celana. "Ziva, bisa bicara sebentar?"
Ziva (Zura) menghela napas panjang, kepalanya mendongak menatap langit-langit koridor. "Ya Tuhan, drama apa lagi ini? Padahal gue cuma mau cari kursi empuk buat tidur."
"Mau bicara apa, Rey? Kalau soal Matematika, gue lagi nggak mood ngajar," ucap Ziva (Zura) santai, mengabaikan ketegangan yang mulai menyelimuti koridor yang mulai ramai itu.
Reygan mendekat satu langkah, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Soal foto itu. Jadi ini alasan lo belakangan ini pura-pura cuek ke gue? Biar Aksa tertarik sama lo?"
Ziva (Zura) terdiam sejenak. "Haha." Lalu ia tertawa kecil—bukan tawa jahat, tapi tawa yang benar-benar menganggap situasi ini lucu. "Reygan, denger ya. Lo itu cakep, tapi kepedean lo itu butuh obat. Gue nggak butuh narik perhatian Aksa, gue cuma butuh tidur delapan jam tanpa ada orang yang nanya kenapa gue nggak pake bedak. Paham?"
Liana di samping Reygan hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di saat yang sama, deru motor Black Eagle terdengar memasuki area sekolah. Suasana makin panas. Murid-murid mulai berkumpul di koridor lantai dua, menanti apa yang akan terjadi jika Aksa melihat Reygan sedang menyidang Ziva di tengah jalan.
Ziva (Zura) melirik ke arah parkiran, lalu kembali ke Reygan. "Minggir, Rey. Gue mau ke kelas. Bau drama lo ini lebih nyengat daripada bau telur bebek kemarin."
lanjut ya thor... 🤧