Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ann Arbor Michigan
Sedangkan di dalam jet pribadi Wilson Zelin sedang menyiapkan masakannya di salah satu meja yang ada di dalam jet. "Anak-anak waktunya makan." Teriak Zelin sambil menatap rapi masakannya.
Mendengar kata makan mereka semua bergegas menghampiri Zelin. "Uh gak sabar mu makan." Melissa menata semua masakan Zelin penuh binar.
Rachel mengusap-usap perutnya yang sedari tadi sudah minta di isi. "Keliatan enak banget gue jadi laper banget."
Mendengar ucapan Melissa dan Rachel Zelin terkekeh geli, sangat menggemaskan sekali tingkah mereka ber dua ini pikir Zelin.
"Kalian udah boleh makan, mama siapin ya." Ucap Zelin mengambil piring untuk Melissa.
"Kamu mau apa sayang?"
"Aku mau ayam rica-rica, nugget, sama sayur aja mah." Melissa menunjuk lauk yang ia pengen.
Tanpa berlama-lama Zelin segera mengambil lauk yang Melissa inginkan
"Nih sayang."
Begitupun dengan yang lainnya Zelin mengambilkan lauk pauk untuk mereka semua.
"Enak banget masakan lo Lin." Puji Henry yang memang masakan Zelin sangat pas di lidah mereka.
Matthew menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Henry. "Iya gak pernah berubah kamu tetep pintar masak." Pujinya.
"Gue nanti minta resep ayam rica-rica ya Lin gue mau coba bikin." Ucap Jenny.
Zelin mengangguk. "Boleh, nanti gue kasih."
"Gue juga mau ya Lin." Ikut Alina.
Zelin memang sangat pintar masak bahkan masakannya terbilang seperti chef. Zelin bis meracik bumbu sendiri sehingga membuat masakannya jadi lebih enak dan pas di lidah mereka. Hanya saja minusnya Zelin sangat sombong dan angkuh dengan kehebatan memasaknya, jika ia sedang makan di luar dan makanan itu tidak pas di lidahnya Zelin akan mengomentari dan menjelek-jelekkan masakan itu.
Beberapa menit kemudian mereka semua telah selesai dengan acara makan bersamanya, setelah makan mereka memutuskan untuk istirahat dan pergi ke kamarnya masing-masing.
"Hel, kita harus merencanakan sesuatu buat bales si cupu itu." Ucap Melissa yang sudah berada di dalam kamar.
"Lo benar, 3 Minggu ini kita bebasin si cupu itu nanti pulang dari liburan kita langsung sikat dia." Ucap Rachel dengan tersenyum miring.
"Gue punya rencana yang bagus buat nyingkirin dia dan buat dia di usir dari mansion." Ucapnya lagi
"Apa rencana bagus lo?" Tanya Melissa yang penasaran dengan rencana Rachel.
"Mengadu dombanya lalu menjebaknya." Jawab Rachel.
Seketika wajah Melissa menjadi cerah mendengar rencana Rachel, tidak perlu Rachel jelaskan secara detail apa rencananya karena dirinya sudah tau arah ke mana rencana Rachel itu
"Gue gak sabar buat menghancurkan dia secepatnya." Seringai Melissa ia mengalihkan pandangannya ke jendela dengan sorotan tajam dengan penuh kebencian.
"Dari kecil gue gak pernah suka sama Aretta, dia itu parasit buat keluarga kita. Tapi bagusnya rencana kita buat membunuh omah Naomi berjalan dengan lancar dan rencana kita buat Aretta di benci juga berjalan lancar." Ucap Rachel. Seringai terbit di bibir tebalnya menahan gejolak emosinya.
"Gue benci sama dia karena dia lebih cantik dari gue, bahkan cowok-cowok yang gue suka selalu naksir Aretta, yang lebih gue bencinya lagi cowok-cowok yang naksir Aretta jadiin gue jembatannya buat deketin Aretta walaupun cowok yang gue cinta sekalipun dia akan memuji Aretta di depan gue. Gue gak suka itu dan benci Aretta sialan itu." Ucap Melissa penuh dengan kebencian.
"Awas aja lo Aretta gue akan hancurin kehidupan lo dan gue akanbiat lo menginginkan kematian lo sendiri." Ucap Rachel penuh dengan penekanan di setiap kata.
Banyak rencana bermunculan di otak kecilnya untuk menghancurkan Aretta, berbagai cara ia lakukan untuk menghancurkan Aretta walaupun rencananya gagal Rachel akan mencoba rencana selanjutnya.
Obsesinya yang ingin menjadi seperti Aretta dengan di sukai banyak cowok membuat Rachel berkali-kali pergi ke luar negeri untuk melakukan operasi tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan keluarga Wilson tidak ada yang curiga dengan Rachel dan tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana bisa? Karena hanya author dan Rachel yang tau wkwkwk.
"Lebih baik kita tidur karena beberapa jam lagi kita akan sampai." Ucap Melissa lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Rachel pun nurut kemudian Rachel membaringkan tubuhnya dan mencari posisi ternyamannya. "Kita harus isi tenaga buat menyambut liburan kita dan memamerkan kesenangan kita pada si cupu biar dia iri.".
Melissa tersenyum miring. "Lo bener, bukankah si cupu bermimpi pengen banget liburan bareng kita tapi gak pernah terwujud."
"Dan itu gak akan pernah terwujud samai kapanpun." Ucap Rachel lalu memejamkan matanya menyelami dunia mimpi, begitupun dengan Melissa yang ikut menyelami dunia mimpi.
...----------------...
New York,,,
Setelah menempuh perjalanan selama 28 jam kini keluarga Wilson telah sampai di bandara Internasional John F. Kennedy New York. Sampainya keluarga Wilson di bandara mereka langsung di sambut dengan beberapa ajudan Matthew yang akan membawa keluarga Wilson ke rumah yangada di Ann Arbor Michigan.
"Hormat kami tuan besar." Ucap kompak semua ajudan kepada Matthew.
Matthew mengangguk. "Apakah sudah siap?" Tanya Matthew.
"Sudah tuan besar." Ucap salah satu ajudan.
"Baiklah." Ucap Matthew lalu berjalan ke arah mobil yang sudah di siapkan oleh para ajudannya
"Silahkan masuk tuan besar." Salah satu ajudan Matthew membukakan pintu mobil mempersilahkan Matthew masuk. Begitupun dengan yang lainnya mereka masuk ke dalam mobil yang berbeda.
Setelah 40 menit di perjalanan keluarga Wilson telah sampai di rumah yang berada di Ann Arbor Michigan mereka langsung di sambut dengan pemandangan taman yang di mana banyak berbagai jenis bunga di kawasan rumah keluarga Wilson
Matthew dan yang lainnya langsung turun dari mobil mereka mengalihkan pandangannya ke seluruh arah, merasa takjub dan kagum dengan pemandangan di depannya.
"Ini bagus banget opah." Ucap Robert yang masih dengan rasa kagumnya.
"Iya, di sini juga ada lapangan golf nya." Timpal Renan yang melihat lapangan golf dengan mata berbinar
"Opah terbaik deh, terimakasih opah." Ucap Melissa dan Rachel serempak lalu memeluk Matthew dengan erat.
Matthew tersenyum lebar melihat cucu²nya begitu bahagia "Apa kalian suka?"
Rachel dan Melissa langsung mengangguk antusias. "Suka opah suka banget, aku jadi betah di sini kalo kek gini suasananya." Ucap Melissa heboh.
"Opahhhhh kit liburan di sini 1 bulan ya opah, opah baik deh soalnya tanggung opah kalo cuma 3 Minggu doang." Rengek Rachel membujuk Matthew untuk menambahkan liburannya
"Hanya 3 Minggu dan tidak nambah." Tegas Matthew.
Rachel yang mendengar itu semakin sedih ia mencebikkan bibirnya kesal dan memasang wajah menjadi lebih sedih lagi, dan hal itu berhasil membuat mereka semua merasa kasihan terutama Matthew.
Matthew mencubit pipi Rachel gemas. "baiklah princess opah mengalah kita liburan di sini 1 bulan dan tidak boleh nambah." Putus Matthew dan tidak ada bantahan..
Tentu saja mereka sangat senang apalagi bagi para orang tua khususnya para bapak-bapak yang setiap hari selalu bekerja dan jarang liburan kini mereka di kasih liburan yang tidak tanggung-tanggung yaitu selama 1 bulan.
Tentu saja para bapak-bapak tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, huh kapan lagi ya kan bisa santai-santai seperti ini dan terbebas dari berkas-berkas. Biarkan saja para asistennya yang berpusing-pusing dan mengerjakan pekerjaannya sambil liburan pikir para bapak-bapak.
"Aaaaaaa terimakasih opah, opah memang terbaik." Pekik Rachel, Melissa dan Robert. Lalu mereka ber tiga langsung memeluk Matthew. Orang tua yang melihat Matthew tersiksa terkekeh tapi berbeda dengan Matthew yang sedang menggerutu kesal karena di peluk oleh tiga cucunya
"Sudah-sudah sekarang kalian ke kamar masing-masing kalian juga harus istirahat." Ucap Tristan memaksa melepaskan pelukan mereka dari Matthew. Karena Tristan merasa kasihan pada Matthew yang sudah tertekan.
"Baiklah, ayo kita ke kamar." Ajak Rachel pada Melissa. Mereka ber dua langsung menuju ke kamarnya, begitupun dengan yang lainnya berjalan meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya masing-masing.