NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Ghazali Belajar Peduli

​Gema dari sambungan telepon yang terputus dengan Adrian masih tertinggal di udara apartemen Sudirman ini, berbaur dengan deru napas kami yang memburu.

​Aku menurunkan ponselku perlahan. Tangan yang menggenggam benda pipih itu bergetar hebat. Di hadapanku, Ghazali yang baru saja selesai menjalani debridement darurat pada luka bakar kimianya menatapku dengan sorot mata yang menuntut penjelasan.

​"Apa yang terjadi, Keana?" suara baritonnya yang serak memecah keheningan. "Apa manuver hukum terbaru yang dilakukan wanita iblis itu?"

​"Dia pergi ke LPSK—Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban," jawabku. Rasanya seperti ada segumpal abu panas yang tersangkut di tenggorokanku. "Maia mengajukan dirinya sebagai Saksi Mahkota (Kroongetuige) sekaligus Justice Collaborator. Dia melempar seluruh kesalahan pada ibumu, memposisikan dirinya sebagai korban ancaman yang dipaksa membeli racun dan mengeksekusi kakekmu."

​Wajah pualam Ghazali seketika mengeras. Otot di rahangnya menonjol tajam. Sebagai seorang penegak hukum, ia tahu persis betapa mematikannya manuver tersebut.

​"Bareskrim menerimanya?" desis Ghazali, tangannya yang sehat mengepal kuat.

​"Ya. Karena dia menyerahkan semua bukti transfer rekening offshore dari Nyonya Ratna kepadanya," aku menelan ludah dengan susah payah. "Status tersangka pembunuhan berencana pada Maia telah ditangguhkan. Dia kini berada di bawah perlindungan fisik penuh dari negara. Kita tidak bisa menyentuhnya."

​Ghazali membuang muka, mengumpat tertahan. Ia memukul sandaran sofa dengan tangan kirinya. Rasa frustrasi menguar pekat dari tubuhnya. Maia selalu selangkah lebih maju dalam mengeksploitasi celah birokrasi.

​Aku mencoba melangkah mendekatinya, bermaksud untuk mengambil rekam medis chart bayangan yang kubuat dari informasi Adrian. Namun, begitu aku menumpukan berat badanku pada telapak kaki kananku, sebuah rasa nyeri yang luar biasa tajam—seperti tersengat arus listrik—menembus telapak kakiku, menjalar hingga ke pangkal paha.

​"Akh!" eranganku lolos tanpa sengaja. Keseimbanganku goyah. Aku terhuyung ke samping, nyaris menabrak meja kaca di tengah ruangan.

​Dengan kecepatan refleks yang mengagumkan bagi seseorang yang baru pulih dari henti jantung, Ghazali melesat dari sofa. Ia menggunakan lengan kirinya untuk menangkap pinggangku tepat sebelum aku tersungkur ke lantai.

​"Keana! Kau kenapa?" kepanikan murni meledak di matanya.

​Ghazali memelukku, menahan bobot tubuhku. Untuk pertama kalinya, pandangan pria itu tidak tertuju pada wajahku, melainkan turun menyapu ke bagian bawah tubuhku. Matanya terbelalak horor.

​"Ya Tuhan... kakiku," bisiknya ngeri.

​Aku menunduk, mengikuti arah pandangannya. Di atas lantai kayu oak yang bersih, terdapat beberapa bercak darah segar. Telapak kakiku yang telanjang tampak mengerikan. Terdapat belasan serpihan kaca tempered glass—sisa dari pintu laboratorium rumah sakit yang dihancurkan oleh pasukan taktis Bareskrim—yang masih tertanam dalam di lapisan epidermis dan dermis telapak kakiku. Lumpur merah dari pemakaman Karet Bivak telah mengering di sela-sela luka itu, bercampur dengan darah yang kembali merembes.

​Adrenalin dan ketakutan telah membuatku mati rasa selama berjam-jam. Namun sekarang, saat badai sedikit mereda, sistem saraf pusatku mulai menagih hutang rasa sakitnya.

​"Aku... aku tidak apa-apa, Mas," ujarku terbata, mencoba berdiri tegak dan menarik diri dari pelukannya. "Hanya serpihan kecil. Aku bisa menanganinya sendi—"

​"Duduk," potong Ghazali dengan nada otoritas absolut yang tidak mentolerir penolakan.

​Ia tidak membiarkanku berjalan sendiri. Ghazali mengangkat tubuhku dengan hati-hati—meskipun ia harus menahan ringisan sakit di bahunya sendiri—dan mendudukkanku secara perlahan di atas bantalan sofa yang empuk.

​Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang Jaksa Penuntut Umum itu berlutut di atas lantai kayu tepat di depan kakiku.

​"Apa yang kau lakukan, Ghazali? Tangan kananmu baru saja dioperasi! Biar aku yang memanggil dokter jaga kenalanku secara diam-diam," aku mencoba menarik kakiku, merasa sangat tidak pantas melihat pria seangkuh dirinya berlutut di bawah lututku.

​Ghazali mengabaikan protesku. Ia menarik baskom kecil, menuangkan botol NaCL (salin steril) yang tersisa, dan menyambar pinset bedah panjang dari kotak P3K yang tergeletak di meja.

​"Tangan kananku mungkin hancur, Keana. Tapi tangan kiriku masih sangat mampu untuk merawat istriku," ucap Ghazali, menatap lurus ke dalam mataku dengan kelembutan yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan terkuat sekalipun.

​Ia meletakkan telapak kaki kananku di atas paha kirinya dengan sangat hati-hati.

​"Kau berlari sejauh itu... dari lobi rumah sakit, ke mobil Herman, lalu ke pemakaman yang berlumpur... dengan kondisi kaki seperti ini?" suara Ghazali terdengar bergetar. Ia menundukkan wajahnya, memfokuskan pandangannya pada serpihan kaca yang berkilau jahat di bawah cahaya lampu apartemen. "Dan setelah semua penderitaan ini, hal pertama yang kau lakukan saat sampai di apartemen adalah merawat luka bakarku? Mengapa kau begitu mengabaikan dirimu sendiri demi monster sepertiku?"

​Pertanyaan itu meluncur bersamaan dengan rasa perih saat pinset di tangan kirinya—yang bergerak agak kaku namun sangat berhati-hati—berhasil mencabut satu serpihan kaca yang cukup besar dari tumitku.

​Aku mendesis pelan, mencengkeram erat lengan sofa.

​"Sakit?" tanyanya cepat, menghentikan gerakannya. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa.

​"Tidak sebanding dengan rasa sakit di tanganmu," aku memaksakan sebuah senyum, menahan ngilu yang menderu. "Lagi pula... seorang dokter forensik terbiasa memprioritaskan pasien yang kondisinya lebih kritis. Hipokalsemia akibat Asam Hidrofluorik jauh lebih mematikan daripada infeksi bakteri lokal pada telapak kaki."

​"Berhentilah berlindung di balik buku teks kedokteranmu, Keana," Ghazali kembali melanjutkan pekerjaannya mencabut serpihan kaca berikutnya. "Di ruangan ini, kau bukan dokter forensik. Kau adalah wanita yang sedang kesakitan. Kau boleh mengerang. Kau boleh menangis di depanku. Mulai malam ini, kau tidak perlu lagi menjadi kuat sendirian."

​Kata-kata itu menghantamku jauh lebih keras daripada rasa sakit di telapak kakiku.

​Ghazali Mahendra sedang belajar peduli. Pria yang selama berbulan-bulan mengabaikanku di meja makan, yang menolak tidur dalam satu jangkauan tangan di ranjang kami, kini sedang berlutut membersihkan luka di kakiku.

​"Dulu," Ghazali bergumam pelan, sambil menyiramkan cairan antiseptik ke atas lukaku yang terbuka, membuatku meringis tertahan. "Dulu, setiap kali aku pulang ke rumah dan melihatmu tertidur kelelahan di sofa ruang tengah, masih memakai scrub rumah sakitmu... aku selalu memalingkan wajahku."

​Ia menatapku, matanya memancarkan penyesalan yang dalam. "Bukan karena aku jijik padamu, Keana. Tapi karena aku merasa sangat marah pada ketidakberdayaanku sendiri. Aku marah karena aku harus berpura-pura tidak peduli, sementara insting pertamaku selalu ingin mengangkatmu, membawamu ke ranjang, dan membasuh lelahmu. Aku membangun tembok es yang begitu tinggi, hingga aku tidak sadar kau berdarah-darah sendirian di baliknya."

​Air mata yang tidak kuundang kembali menggenang di pelupuk mataku. Aku mengulurkan tanganku, membelai rambutnya yang sedikit berantakan.

​"Tembok itu sudah runtuh sekarang, Mas," bisikku parau. "Kita sedang berdiri di atas puing-puingnya."

​Ghazali tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyentuh matanya. Ia menyelesaikan cabutan kaca terakhir, membersihkan sisa lumpur dengan kapas steril, lalu membalut kedua telapak kakiku dengan perban putih yang bersih.

​Setelah memastikan lukaku tertangani dengan baik, ia menggeser posisinya, duduk di sebelahku di atas sofa. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan menyelimuti kami selama beberapa menit.

​Namun, otak seorang dominus litis (pengendali perkara) tidak pernah benar-benar beristirahat.

​"Kita harus membatalkan status Justice Collaborator Maia," ucap Ghazali, matanya kembali terbuka, memancarkan kalkulasi hukum yang mematikan. "LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) tidak bekerja secara membabi buta. Ada syarat mutlak dalam Undang-Undang yang tidak bisa dilanggar."

​Aku menoleh ke arahnya, tertarik. "Syarat apa?"

​"Berdasarkan Pasal 10A Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, dan didukung oleh Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2011," Ghazali memaparkan dasar hukum itu dengan kefasihan yang menakutkan, "Syarat absolut bagi seorang tersangka untuk bisa mendapatkan perlindungan sebagai Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborator) adalah: dia bukanlah pelaku utama dalam kejahatan tersebut."

​Mata Ghazali menyipit tajam. "Maia berhasil meyakinkan penyidik bahwa Nyonya Ratna adalah intelectuele dader (aktor intelektual) atau pelaku utama di balik pembunuhan Kakek dan Bi Inah. Maia memposisikan dirinya hanya sebagai alat, pion yang diancam. Jika posisinya memang sebagai eksekutor yang berada di bawah paksaan, hukum memungkinkannya mendapat imunitas."

​"Lalu bagaimana kita bisa menghancurkan imunitas itu?" tanyaku.

​"Kita harus membuktikan bahwa Maia adalah pelaku utama." Ghazali menoleh padaku, ekspresinya sangat serius. "Kita harus mencari satu kasus pidana... satu pembunuhan saja, di mana Maia bertindak secara independen. Kasus di mana dia adalah inisiator tunggal, tanpa ada campur tangan atau perintah dari ibuku. Jika kita bisa membuktikan bahwa dia memiliki mens rea (niat jahat) yang mandiri di kasus lain, maka status Justice Collaborator-nya di Bareskrim akan batal demi hukum. Perlindungannya akan dicabut, dan dia akan langsung dieksekusi ke ruang tahanan maksimum."

​Kata-kata Ghazali berdengung di kepalaku.

​Satu kasus pembunuhan independen. Satu kasus di mana Maia adalah eksekutor sekaligus inisiatornya.

​Jantungku berdetak menyakitkan. Aku memiliki kasus itu. Aku memegang kuncinya di ujung lidahku. Kasus balita di Panti Asuhan Kasih Mahendra. Anak laki-laki berusia enam tahun yang disuntik mati sebagai tikus percobaan untuk menakar efektivitas racun Digoxin oleh Maia.

​Dan balita itu... adalah Gala. Anak kandung Ghazali.

​Rasa mual yang mengerikan kembali meremas isi perutku. Tanganku yang berada di atas pangkuan mengepal erat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan.

​Ghazali baru saja pulih dari henti jantung. Pria ini baru beberapa jam yang lalu menangis histeris di atas kuburan palsu, meratapi kematian bayinya yang ia kira digugurkan di klinik aborsi. Jika aku memberitahunya sekarang... jika aku membuka mulutku dan berkata bahwa Maia tidak menggugurkan anak itu, melainkan membunuhnya lima tahun kemudian sebagai subjek eksperimen berdarah dingin...

​Psikologis Ghazali tidak akan mampu menahannya. Sindrom Patah Hati (Takotsubo Cardiomyopathy) adalah kondisi medis nyata yang bisa dipicu oleh stres emosional ekstrem, menyebabkan gagal jantung mendadak yang fatal. Aku bisa membunuhnya dengan kebenaran ini.

​Aku harus berbohong lagi. Aku harus menyembunyikan identitas anak itu darinya, demi keselamatan nyawanya. Aku akan menanggung dosa kebohongan ini sendirian.

​"Ada satu kasus, Mas," suaraku memecah keheningan, terdengar begitu tenang dan kalkulatif, menutupi badai angst yang mengamuk di dalam dadaku.

​Ghazali menoleh dengan cepat. "Kasus apa?"

​Aku menarik napas dangkal. "Satu bulan sebelum kakekmu meninggal. Ada seorang anak panti asuhan yatim piatu... seorang balita laki-laki berusia enam tahun, yang dilaporkan meninggal karena gejala asfiksia hipoksia mendadak. Kasusnya ditutup sebagai kematian akibat kelainan jantung bawaan."

​Ghazali mengerutkan dahi. "Anak panti asuhan? Apa hubungannya dengan Maia?"

​"Aku menemukan data medis anak itu terenkripsi di dalam server Koh Bong di Glodok," aku menyusun kebohongan parsialku dengan presisi seorang ahli bedah. "Maia membeli dosis kecil racun Digitalis pada saat itu. Dia tidak langsung memberikannya pada kakekmu. Dia menguji dosis itu secara independen pada balita tersebut, untuk memastikan racun itu terlihat seperti serangan jantung alami."

​Wajah Ghazali seketika berubah. Rasa jijik dan kengerian absolut terpancar dari matanya. "Dia... dia menggunakan seorang balita miskin yang tidak punya keluarga sebagai tikus percobaan eksperimennya? Tanpa perintah dari ibuku?"

​"Ya," aku mengangguk pelan, menghindari kontak matanya agar ia tidak melihat rasa sakitku. "Nyonya Ratna tidak tahu-menahu tentang uji coba itu. Ini adalah inisiatif murni Maia untuk menyempurnakan senjata pembunuhnya. Di kasus balita panti asuhan ini, Maia Anindita adalah inisiator, perencana, dan eksekutor tunggal. Dia adalah pelaku utamanya."

​Ghazali mengepalkan tangan kirinya. Aura gelap seorang penuntut umum kembali menyelubungi tubuhnya. "Itu dia. Itu adalah novum (bukti baru) yang akan menghancurkan tameng LPSK-nya. Di mana anak panti asuhan itu dimakamkan?"

​"Di pemakaman umum dekat panti asuhan tersebut," jawabku. "Jika kita bisa melakukan ekshumasi (penggalian makam) secara diam-diam malam ini juga, dan aku berhasil mengekstraksi residu Digoxin dari tulang balita malang itu... kita memiliki bom atom untuk persidangan besok."

​"Aku akan menghubungi Komisaris Herman sekarang. Kita butuh tenaga orang kepercayaannya untuk membongkar makam itu tanpa menarik perhatian intelijen Bareskrim yang mengawasi kita," Ghazali segera meraih ponsel burner di atas meja.

​Saat suamiku sibuk memberikan instruksi kepada Herman melalui telepon, aku menyandarkan punggungku ke sofa, memejamkan mata dengan dada yang terasa mau meledak.

​Aku baru saja mengarahkan suamiku sendiri untuk menggali makam anak kandungnya. Malam ini, Ghazali akan berdiri di atas tanah pemakaman itu, berpikir bahwa ia sedang mencari keadilan untuk seorang anak yatim piatu tak bernama. Ia tidak tahu bahwa tulang belulang kecil yang akan kuangkat nanti, mengandung DNA yang sama persis dengan darah yang mengalir di nadinya.

​Ini adalah bentuk kepedulian yang paling menyakitkan yang pernah kulakukan. Aku menyembunyikan identitas mayatnya, agar pria yang kucintai ini tetap hidup.

​Di ranjang kami yang penuh luka ini, aku telah memutuskan untuk meminum semua racun masa lalunya. Biarlah aku yang menjadi penanggung dosa rahasia ini, asalkan Ghazali Mahendra tetap bernapas untuk melihat Maia Anindita dijatuhi hukuman mati.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!