NovelToon NovelToon
Sisi Misterius Salsa

Sisi Misterius Salsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26.Jejak di balik kematian.

Udara dingin di ruang forensik seakan menusuk sampai ke tulang sumsum. Bau antiseptik bercampur dengan aroma khas jenazah yang membusuk membuat siapa saja yang berada di sana menahan napas. Namun Salsa berdiri tegak di samping meja pemeriksaan, matanya menatap lekat wajah pucat Riza Amalia. Di dalam hatinya, rasa sedih dan iba bergulir hebat. Gadis ini masih sangat muda, seumuran dengan dirinya, namun nyawanya direnggut dengan cara yang begitu kejam.

"Jadi namanya Riza Amalia... kasihan sekali, masih muda sudah meninggal dengan tragis," ucap Salsa lirih, suaranya terdengar berat.

Rian mengangguk pelan, tangannya bersilang di dada sambil menatap jenazah itu dengan tatapan tajam seorang penyidik. "Benar. Berdasarkan data identitas yang kami dapatkan, dia pekerja keras. Tinggal jauh dari orang tua, mencari nafkah sendiri. Tidak ada musuh, tidak punya masalah hutang, catatan hidupnya bersih. Itulah yang membuat kasus ini rumit. Motif pembunuhannya belum kami temukan."

Di sebelahnya, Bobby sibuk mencatat setiap perkataan ke dalam buku kecilnya. "Betul Pak. Biasanya pembunuhan berawal dari masalah pribadi atau ekonomi. Tapi kalau korbannya orang yang tidak punya masalah, kemungkinan besar ini kejahatan acak atau sindikat besar. Dan bekas lukanya... sangat sistematis. Pelakunya bukan orang sembarangan."

Salsa mendengarkan penjelasan mereka dengan saksama. Namun tiba-tiba, bulu kuduknya meremang seketika. Suhu udara di sekitar tubuhnya turun drastis, dingin menusuk hingga ke tulang belakang. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena ia merasakan kehadiran yang sangat akrab.

Perlahan, dari samping bahu kanannya, kabut tipis berwarna putih keabu-abuan mulai terbentuk. Bentuk itu perlahan menjadi jelas, hingga akhirnya sosok wanita muda dengan pakaian yang sama persis seperti dalam sketsa itu berdiri tepat di samping Salsa.

Itu Riza.

Arwah wanita itu kini ada di sana. Tubuhnya agak tembus pandang, wajahnya masih menyiratkan rasa sakit dan ketakutan yang mendalam. Matanya yang dulunya kosong dan bingung saat pertama kali bertemu Salsa, kini mulai menampakkan kilatan ingatan yang perlahan kembali.

Salsa menahan napas. Ia berusaha sekuat tenaga agar raut wajahnya tetap biasa saja, tidak ingin membuat Rian curiga atau panik seperti kejadian di desa dulu. Ia tahu betul suaminya itu sangat sensitif terhadap hal-hal gaib. Kalau Rian tahu Riza ada di sini sekarang, bisa-bisa dia langsung menarik Salsa pergi keluar dan melarangnya ikut campur lagi.

Dengan gerakan sangat halus, Salsa memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, seolah sedang mengamati jenazah lebih dekat, padahal matanya berbicara langsung pada sosok yang berdiri di sampingnya.

"Kamu ingat sesuatu, kan?" bisik batin Salsa, hanya terdengar di telinga arwah itu.

Riza mengangguk cepat. Air mata bening mengalir dari matanya, tapi jatuhannya tidak menyentuh lantai. "Ya... aku ingat... aku mulai ingat semuanya..." jawab Riza dengan suara gemetar yang hanya bisa didengar Salsa.

Salsa kembali menoleh ke arah Bobby dan Rian, berusaha mengalihkan perhatian mereka agar tidak melihat perubahan kecil pada dirinya.

"Kak Bobby... tadi kamu bilang ada catatan medis dan hasil pemeriksaan lengkap, kan?" tanya Salsa tiba-tiba, memecah keheningan. "Bisa ceritakan lebih detail lagi? Apa saja yang ditemukan di tubuhnya selain bekas cekikan itu? Mungkin... ada hal kecil yang terlewat, tapi sangat penting."

Bobby sedikit terkejut mendengar permintaan itu, tapi segera membuka kembali berkas tebal di tangannya. "Tentu saja. Mari saya bacakan lagi. Selain luka fatal di leher, tim medis menemukan banyak sekali luka sayatan di telapak tangan, kaki, dan dada. Tapi ada satu hal unik, Nona Salsa. Di sela-sela kuku jari tangan kirinya, ditemukan serat kain tebal berwarna cokelat tua, seperti bulu hewan atau kain kasar. Dan di kulitnya ada residu debu jerami serta tanah liat yang sangat basah. Artinya... sebelum dibuang di dalam koper, korban disimpan di tempat yang lembab, kotor, dan tertutup."

Saat Bobby menjelaskan itu, sosok Riza di samping Salsa makin gelisah. Ia melayang naik turun, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah udara seolah sedang menggambarkan sesuatu yang besar dan berjeruji.

"Kandang..." suara Riza bergetar hebat. "Tempat itu seperti kandang besar... bau kotoran hewan... jerami kering... kami dikurung di sana berdesak-desakan..."

Mata Salsa membelalak. Informasi itu persis cocok dengan apa yang dikatakan Bobby. Ia semakin fokus mendengarkan.

"Ada banyak dari kami..." lanjut Riza, ingatannya makin tajam. "Wanita-wanita lain, semuanya muda. Kami diculik dari tempat berbeda, diangkut dengan mobil tertutup, lalu dikunci di tempat itu. Pria itu... dia pemilik suara berat, besar badannya, dan selalu pakai topi lebar menutupi wajah. Dia datang setiap dua hari sekali. Selalu... selalu mengambil satu orang dari kami. Membawa pergi, dan tidak pernah kembali lagi."

Napas Salsa tertahan. Sindikat penculikan! Ini jauh lebih besar dari sekadar pembunuhan biasa.

"Dan kadang..." Riza menelan ludah, ketakutan mengingat hal itu. "Kadang dia membawa orang baru masuk ke sana. Hari itu... terakhir kali sebelum dia mengambil aku... dia membawa masuk seorang wanita. Berbeda dari kami. Wanita itu berani, matanya tajam. Aku sempat dengar namanya... Melati. Dia... dia Polisi."

Deg!

Jantung Salsa seakan berhenti berdetak. Polwan bernama Melati?

Tanpa membuang waktu, Salsa langsung menatap Rian lekat-lekat. Wajahnya serius, tanpa senyum sedikit pun.

"Kak Rian... Kak Bobby..." panggil Salsa tegas. "Dalam daftar orang hilang atau laporan dinas kalian... apakah ada nama Melati? Seorang Polwan? Katanya... dia hilang saat bertugas operasi penyamaran sekitar tiga bulan lalu?"

Pertanyaan itu membuat suasana di ruangan berubah drastis. Rian langsung terdiam. Matanya melebar, tatapannya berubah kaget. Ia segera berbalik badan dan menatap Bobby dengan cepat.

"Bob... data operasi khusus Divisi Intel," perintah Rian singkat namun tegas.

Bobby yang awalnya santai kini langsung pucat pasi. Ia buru-buru membolak-balik halaman berkas di tangannya sampai ke bagian paling belakang, halaman yang ditandai dengan garis merah.

"Benar... Pak Rian!" seru Bobby takjub dan kaget bercampur jadi satu. "Ada! Melati Anggraini, pangkat Brigadir Polisi. Hilang kontak sejak tanggal 12 Februari lalu. Dia ditugaskan menyamar sebagai gadis kota untuk menyusup ke jaringan penculikan manusia yang kami buru setahun terakhir ini. Semua jejak hilang begitu saja. Kami mengira identitasnya ketahuan dan dia sudah..."

Bobby tidak melanjutkan kalimatnya, tapi semua orang di ruangan itu mengerti maksudnya.

"Tapi bagaimana kamu tahu nama itu, Sal?" tanya Rian langsung, langkahnya mendekat ke arah Salsa. Matanya meneliti wajah istrinya, mencari jawaban. "Bahkan berkas ini saja rahasia negara, tidak sembarang orang bisa tahu."

Salsa menelan ludah. Ia melirik sekilas ke sampingnya, di mana Riza kini berdiri diam, menatap jenazahnya sendiri dengan sedih.

"Riza... dia ingat," jawab Salsa pelan, memilih kata-kata yang hati-hati. "Sebelum meninggal, dia sempat melihat dan mendengarnya. Dia bilang, dia dan beberapa wanita lain dikurung di sebuah tempat tertutup, mirip kandang hewan. Tempatnya penuh jerami, lembab, dan bau tanah. Penculiknya satu orang besar, bertopi lebar, dan bertindak sendirian saat mengambil korban satu per satu."

Rian dan Bobby saling pandang. Keterkejutan di wajah mereka berganti menjadi serius dan penuh perhitungan. Potongan kasus yang dulu terpecah belah, kini perlahan menyusun menjadi satu gambaran utuh.

"Pas persis sekali," gumam Bobby. "Deskripsi tempat itu cocok dengan ciri-ciri gudang tua atau peternakan terlantar yang kami pantau di pinggiran kota, arah utara dekat perbatasan hutan."

"Dan Melati... dia masuk ke sana, berarti dia hampir berhasil," tambah Rian, rahangnya mengeras menahan amarah. "Kalau apa yang Riza ingat itu benar, berarti masih ada kemungkinan... ada korban lain yang masih hidup dan ditahan di sana sampai sekarang."

Di samping Salsa, arwah Riza perlahan tersenyum lega. Beban berat yang membelenggunya selama ini mulai terangkat. Ia menatap Salsa dengan pandangan penuh terima kasih.

"Terima kasih... sekarang aku tenang. Tolong mereka... selamatkan mereka sebelum nasibku menimpa mereka juga..." bisik Riza terakhir kali.

Perlahan, kabut putih di tubuhnya mulai memancarkan cahaya lembut. Bentuknya makin samar, hingga akhirnya lenyap begitu saja, menghilang menembus dinding ruangan, pergi menuju kedamaian yang layak ia dapatkan.

Salsa menghela napas panjang, merasa lega sekaligus haru. Paling tidak, Riza sudah bisa tenang sekarang.

Ia kembali menatap Rian yang sedang berpikir keras. Wajah suaminya terlihat berat, tapi ada kilatan semangat baru di matanya.

"Sal..." panggil Rian pelan. Ia menatap gadis itu lekat-lekat. "Aku tidak lagi bertanya dari mana kamu tahu semua ini. Aku rasa... aku sudah mulai mengerti. Dan aku berterima kasih padamu. Informasi ini adalah kunci utama kami."

Bobby mengangguk setuju dengan antusias. "Betul banget! Kasus yang macet setahun ini bisa jalan lagi berkat kamu, Nona Salsa! Besok pagi kami akan langsung lakukan penggerebekan di lokasi yang diduga. Gudang tua daerah utara! Kalau sindikat itu ada di sana, kami pastikan mereka tidak lolos lagi."

Rian berjalan mendekat, lalu tanpa sadar tangannya menyentuh bahu Salsa dengan lembut. Sentuhan hangat itu membuat jantung Salsa berdeup kencang.

"Kamu hebat, Sal," ucap Rian tulus. "Meskipun dunia kita berbeda. Aku hidup dengan logika dan hukum, kamu hidup dengan kepekaan dan keajaiban. Tapi ternyata... gabungan keduanya justru membuat segalanya menjadi lengkap."

Wajah Rian kini tidak lagi menunjukkan rasa takut atau keraguan seperti dulu. Ia menerima Salsa apa adanya. Perbedaan mereka yang dulu dianggap jurang pemisah, kini perlahan berubah menjadi jembatan yang kuat.

"Kita tim yang hebat ya, Kak?" tanya Salsa sambil tersenyum malu-malu.

Rian ikut tersenyum, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Ya. Tim terbaik."

"Nah! Itu dia semangatnya!" seru Bobby memecah suasana haru itu. "Sekarang ayo kita keluar dari ruang ini. Udara di sini makin dingin, brrr... kita harus persiapkan segala sesuatu untuk operasi besok. Dan Nona Salsa... kamu wajib ikut kami lagi ya kalau ada kasus buntu lagi!"

Salsa tertawa renyah, mengangguk setuju.

Mereka bertiga pun berjalan keluar dari ruang forensik itu. Di balik pintu yang tertutup itu, jenazah Riza kini sudah tenang. Rahasia kematiannya terungkap, dan jejak yang ia tinggalkan menjadi jalan keadilan bagi orang lain.

Di luar gedung, langit sore berwarna jingga kemerahan. Angin bertiup lembut membawa kedamaian.

Salsa menatap sisi samping Rian yang berjalan tegap di sebelahnya. Di dalam hatinya, ia bersyukur. Pernikahan yang dimulai dari wasiat kakek, pernikahan yang penuh keraguan dan perbedaan besar, kini perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang indah.

Rahasia kemampuannya tetap terjaga, namun ia tidak lagi merasa sendirian. Dan Rian, si "Serigala Gila" yang ditakuti semua penjahat itu, kini punya kekuatan baru yang tak terlihat mata untuk menegakkan kebenaran.

Petualangan mereka baru saja dimulai. Masih banyak misteri, masih banyak rahasia, dan masih banyak jiwa yang butuh pertolongan. Dan bersama-sama, mereka akan menghadapinya.

1
💝F&N💝
lanjut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
💝F&N💝
ini kapan up lagi
paijo londo
thor mampir kyaknya seru nih🤭🤭
💝F&N💝
up lagi
💝F&N💝
good👍👍👍👍👍 aku suka alurnya.
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍
Sahabat Oleng
aku mampir thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!