Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Pagi yang seharusnya penuh dengan wibawa dan kedisiplinan itu mendadak terasa seperti panggung komedi bagi siapa pun yang menyaksikannya—kecuali bagi Anggara Widjaja. Sang anggota dewan itu berdiri di teras lobi dengan tangan bersedekap, wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa keterkejutan sekaligus amarah yang tertahan setelah mendengar pengakuan frontal Aurora beberapa menit yang lalu.
Dari arah paviliun, Langit melangkah dengan tegap. Meskipun hatinya tidak karuan karena sudah mendapat "bocoran" dari Bintang bahwa sang mertua sedang dalam mode siap meledak, wajahnya tetap menunjukkan profesionalisme tingkat tinggi. Seragamnya rapi tanpa cela, dan langkahnya mantap.
Anggara sudah menarik napas dalam, paru-parunya bersiap untuk mengeluarkan rentetan kalimat pedas yang sudah tersusun rapi di kepalanya untuk menguliti Langit hidup-hidup. Namun, tepat saat Langit berada lima langkah di depannya, sebuah suara nyaring bin ceria membelah udara pagi.
"MAS!!!"
Anggara memejamkan matanya rapat-rapat. Suara itu. Suara yang sejak tadi membuat tekanan darahnya naik-turun.
Aurora muncul dari pintu utama dengan langkah cepat, hampir berlari. Ia tidak peduli bahwa ayahnya sedang berdiri di sana dengan aura yang bisa membekukan air, ia hanya fokus pada satu titik: suaminya.
"Mas! Kok udah mau berangkat aja sih?" seru Aurora sambil langsung merapat ke sisi Langit. Tanpa rasa canggung, ia melingkarkan lengannya di lengan kekar Langit, menempelkan kepalanya di bahu pria itu seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.
"Izin, Ra. Aku harus segera siapkan mobil untuk Bapak," jawab Langit dengan suara rendah, mencoba menjaga wibawanya di depan sang atasan meski jantungnya berdebar melihat tatapan maut Anggara.
Anggara membuka matanya, menatap pemandangan di depannya dengan rasa geram yang memuncak. "Aurora! Lepaskan dia! Dia sedang bertugas!"
Aurora bukannya takut, malah semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Langit. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan wajah yang dibuat-buat heran.
"Papa kalau kepanasan mending ke mobil duluan aja, deh. Pak Bambang udah nyalain AC-nya tuh dari tadi. Aku mau sama suami aku dulu sebentar, masih kangen tahu!" celetuk Aurora enteng.
"Kamu..." Anggara menunjuk Aurora dengan jari yang gemetar. "Kamu ini tidak punya urat malu ya? Di depan umum begini!"
"Umur Papa berapa sih kok masih bahas urat malu? Di sini kan cuma ada Pak Bambang, Bintang, sama aspal jalanan. Mas Langit kan udah sah jadi milik aku, mau aku pelukin sampai siang juga hak aku dong," balas Aurora sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kemudian menatap Langit dengan mata berbinar. "Mas, semalem kamu keren banget deh. Tapi pagi ini kamu lebih ganteng kalau senyum sedikit buat aku."
Langit hanya bisa berdehem, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia melirik Anggara yang kini sudah seperti banteng yang siap menyeruduk. "Mohon izin, Pak. Saya akan segera—"
"Aduh, Papa jangan melotot gitu dong, nanti matanya copot susah carinya!" Aurora memotong ucapan Langit lagi. "Papa denger ya, aku itu anak kedua Papa yang paling cantik, paling sukses, dan paling berani. Papa harusnya bangga punya anak kayak aku yang jujur. Daripada aku diem-diem tapi nusuk dari belakang? Kan lebih enak begini, terbuka!"
"Terbuka katamu?!" suara Anggara meninggi satu oktav. "Kamu memalukan Papa dengan bicara soal... soal 'melayani' di depan tangga! Kamu pikir itu pantas?"
"Pantaslah, namanya juga pengabdian istri. Ya kan, Mas?" Aurora menyenggol lengan Langit, mencari dukungan.
Langit hanya bisa menunduk dalam, benar-benar ingin menghilang ke dalam tanah saat itu juga.
"Sudah, Pa. Kasihan Mas Langit, dari tadi Papa intimidasi terus. Mas, ayo anterin aku ke depan dulu sebentar, ada yang mau aku bisikin," Aurora menarik Langit menjauh dari teras, meninggalkan Anggara yang berdiri mematung di tempatnya.
"AURORA WIDJAJA! KEMBALI KE SINI!" teriak Anggara.
"Nggak denger, Pa! Lagi fokus sama masa depan!" sahut Aurora tanpa menoleh.
Begitu mereka sedikit menjauh dari jangkauan telinga Anggara, Aurora langsung melepaskan gelayutannya dan menangkup wajah Langit dengan kedua tangannya.
"Mas, kamu nggak apa-apa kan? Papa nggak mukul kamu tadi sebelum aku dateng?" tanya Aurora dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat lembut dan penuh kekhawatiran.
Langit tersenyum tipis, merasa terharu dengan perhatian istrinya yang unik ini. "Nggak apa-apa, Ra. Bapak cuma... kaget saja mungkin dengan ucapan kamu tadi di tangga."
"Habisnya aku kesel, Mas. Papa tuh masih aja anggep kamu ajudan bawahan yang bisa diinjek-injek. Padahal kamu itu segalanya buat aku," Aurora mengelus pipi Langit yang masih terasa sedikit dingin karena udara pagi. "Maaf ya kalau aku terlalu frontal tadi di depan Papa, aku cuma pengen dia tahu kalau dia nggak punya kuasa lagi buat misahin kita."
"Aku tahu, Ra. Tapi lain kali, tolong bahasanya sedikit diperhalus ya? Aku kasihan sama jantung Bapak, apalagi kalau ada Haura di sana, bisa-bisa adikmu itu tanya yang aneh-aneh nanti," Langit terkekeh pelan.
"Ih, Haura mah udah gede, dia pasti ngerti. Malah kemarin dia nanya ke aku, 'Kak, Mas Langit kalau di kamar kaku juga nggak?' terus aku jawab aja 'Nanti lo rasain sendiri kalau udah nikah'," Aurora tertawa renyah.
"Aurora!" Langit menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu benar-benar ya."
"Udah, Mas. Sana berangkat. Jangan lupa makan siang nanti, aku kirimin katering ke kantor Papa ya? Khusus buat kamu, jangan kasih Papa!" Aurora memberikan kecupan singkat di pipi Langit sebelum melepaskannya.
"Siap, istriku. Aku berangkat dulu," pamit Langit.
Aurora berdiri di pinggir jalan taman, melambaikan tangan saat mobil SUV hitam yang dikemudikan Langit perlahan bergerak keluar. Ia melihat ayahnya duduk di kursi belakang dengan wajah yang ditekuk habis-habisan, sementara Langit fokus menatap jalan di depannya.
"Galak boleh, Pa. Tapi kalau soal Mas Langit, Aurora perisainya!" gumam Aurora dengan senyum kemenangan.
Ia berbalik menuju rumah, berpapasan dengan Haura yang baru saja keluar mengenakan seragam sekolahnya dengan wajah ngantuk.
"Kak, tadi Papa teriak-teriak kenapa? Ada perang dunia ketiga?" tanya Haura sambil menguap.
"Nggak ada perang, Ra. Cuma ada singa tua yang lagi kaget liat anaknya udah jadi pawang naga," jawab Aurora santai sambil mengacak rambut adiknya. "Ayo sarapan, Kakak lagi seneng nih!"
Haura hanya menatap kakaknya dengan bingung. "Kak Aurora beneran udah gila gara-gara Mas Langit..." gumamnya pelan, namun ia tetap mengikuti langkah kakaknya menuju ruang makan, menyadari bahwa kehidupan di rumah Widjaja tidak akan pernah sama lagi sejak kakaknya memutuskan untuk menjadi istri sang ajudan.
***
Studio foto kali ini berada di sebuah rooftop gedung tinggi dengan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta sebagai latar belakangnya. Angin sepoi-sepoi mempermainkan gaun flowy berwarna pastel yang dikenakan Aurora, membuatnya tampak seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan. Namun, ada satu hal yang lebih bersinar daripada lampu studio maupun matahari sore itu: raut wajah Aurora.
Setiap kali kamera menangkap bayangannya, Aurora memberikan senyum yang begitu tulus. Bukan senyum profesional yang biasanya ia "pasang", tapi senyum yang datang dari hati yang sedang dipenuhi bunga-bunga asmara.
"Oke, perfect! Tahan posisinya, Ra! Gorgeous!" teriak fotografer dengan antusias.
Di pinggir set, Rio—manajer Aurora yang baru menggantikan Mayang untuk proyek ini—hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memegang segelas jus jeruk. Ia memperhatikan Aurora yang sesekali tertawa sendiri saat melihat ke arah ponselnya di sela-sela pergantian kostum.
"Bucinnya kumat lagi nih anak," sahut Rio pelan saat Aurora menghampirinya untuk touch-up.
Aurora menoleh, matanya berbinar. "Bukan kumat lagi, Kak Rio. Ini tuh namanya sustainable love. Cinta yang berkelanjutan dan tidak pernah padam!"
"Halah, istilah lo ketinggian," ledek Rio. "Tadi pagi diantar Pak Bambang kan? Suami 'kaku' lo itu ke mana? Tumben nggak nempel kayak prangko."
"Mas Langit lagi tugas negara, nemenin Papa ke pertemuan penting di kementerian," Aurora mencebikkan bibirnya sedikit. "Makanya tadi aku diantar Pak Bambang. Tapi nggak apa-apa, yang penting tadi sebelum berangkat, Mas Langit udah cium kening aku lama banget. Rasanya masih nempel sampe sekarang, tahu!"
"Duh, mual gue dengernya. Udah sana, ganti baju terakhir. Habis itu lo bebas mau jungkir balik telfonan sama dia," usir Rio sambil tertawa.
Begitu sesi pemotretan selesai dan memasuki waktu istirahat, Aurora tidak membuang waktu. Ia menyambar ponselnya, mencari tempat yang agak tenang di pojok rooftop, dan langsung menekan tombol panggilan video ke nomor suaminya.
Hanya butuh dua kali nada sambung, wajah tegas Langit muncul di layar. Langit tampak mengenakan seragam safarinya, latar belakangnya menunjukkan sebuah koridor gedung pemerintahan yang mewah.
"Mas! Lagi apa?" sapa Aurora dengan suara yang langsung berubah menjadi manis dan manja. "Udah makan belum? Tadi katering dari aku nyampe nggak di kamu?"
Langit tersenyum tipis, matanya melunak seketika saat melihat wajah istrinya di layar ponsel. "Lagi nunggu Bapak selesai rapat, Ra. Kateringnya sudah sampai, tadi aku makan di ruang tunggu. Enak sekali, makasih ya."
"Beneran dimakan? Bukan dikasih ke Bintang atau Rian kan?" selidik Aurora sambil memicingkan matanya.
"Beneran aku makan sendiri, Sayang. Sampai habis bersih," jawab Langit lembut. "Kamu sendiri gimana? Pemotretannya lancar? Pak Bambang jaga kamu dengan baik kan?"
"Lancar dong! Tadi fotografernya muji aku terus, katanya aura aku beda banget hari ini. Ya jelas beda, kan udah jadi istri orang paling ganteng!" Aurora tertawa kecil. "Pak Bambang tadi malah sempet tidur di mobil, tapi nggak apa-apa, aku aman kok."
Tiba-tiba, di latar belakang suara Langit, terdengar sebuah teriakan yang sangat familiar. Suara yang begitu keras dan penuh otoritas hingga sanggup menembus mikrofon ponsel Langit.
"LANGIT! MANA BERKAS YANG SAYA MINTA TADI?! KENAPA KAMU MALAH PEGANG PONSEL?!"
Suara Anggara Widjaja menggelegar, membuat Langit langsung menegakkan posisinya dan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Aurora yang mendengar itu langsung meringis, menutup sebelah telinganya dengan tangan.
"Duh, Mas..." bisik Aurora dengan wajah prihatin. "Bilang ke Papa nanti hipertensi itu kalau teriak-teriak terus pagi siang malam. Suaranya sampe sini lho, kenceng banget!"
Langit tampak sedikit panik namun tetap berusaha tenang. "Ra, sepertinya Bapak sudah selesai rapat. Aku harus kembali bertugas. Nanti aku telfon lagi ya kalau sudah di jalan pulang."
"Sabar ya, Suamiku sayang," ucap Aurora cepat sebelum Langit mematikan telfonnya. "Jangan dimasukin hati omongan Papa. Anggep aja itu suara radio rusak. I love you!"
"I love you too," balas Langit singkat sebelum layar menjadi gelap.
Aurora menghela napas, menatap layar ponselnya yang kini sudah mati. Ia merasa kasihan pada suaminya yang harus terus menjadi sasaran amarah ayahnya.
"Emang ya, Papa itu bener-bener butuh liburan ke kutub utara biar otaknya dingin dikit," gerutu Aurora.
Rio menghampirinya, membawa sebotol air mineral. "Gimana? Dimarahin mertua lagi ya suaminya?"
"Iya, Kak. Papa tuh keterlaluan banget. Masa Langit lagi telfonan sama istrinya aja diteriakin kayak buronan," curhat Aurora.
"Ya maklum lah, Ra. Bokap lo itu kan pejabat tinggi, gengsinya setinggi langit-langit Monas. Apalagi dia ngerasa 'kecolongan' karena ajudan terbaiknya malah jadi menantunya sendiri," Rio duduk di samping Aurora. "Tapi lo hebat sih, bisa bikin Langit yang sedingin es itu jadi sebucin itu sama lo."
"Karena cinta itu menular, Kak Rio!" Aurora berdiri dengan semangat. "Dulu Mas Langit emang kaku, tapi semenjak ada aku, dia jadi lebih... hangat. Ya meskipun kalau di depan Papa tetep kayak robot, sih."
"Tapi lo serius mau tinggal di rumah Papa terus? Gue denger bokap lo minta kalian tetep di sana dengan aturan ketat?" tanya Rio penasaran.
"Nggak akan lama lagi, Kak. Mas Langit lagi siapin rumah buat kami. Begitu rumahnya siap, aku bakal langsung bawa Mas Langit pindah. Aku nggak mau dia diinjek-injek terus di sana," Aurora menatap tajam ke arah cakrawala Jakarta. "Aku bakal buktiin ke Papa kalau aku bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang nama besar Widjaja."
"Gue dukung lo, Ra. Yang penting lo tetep profesional kerja, jangan sampe urusan rumah tangga bikin mood lo berantakan di set," pesan Rio.
"Tenang aja, Kak. Justru karena ada Mas Langit, aku makin semangat cari uang biar bisa beli perabotan rumah yang paling bagus!" Aurora tertawa riang, kembali masuk ke ruang ganti untuk mengganti bajunya.
Sore itu, di bawah langit Jakarta yang mulai berubah jingga, Aurora merasa beban di pundaknya terasa ringan. Meski ayahnya masih menjadi penghalang yang keras, keberadaan Langit di setiap frekuensi komunikasinya—meski hanya lewat panggilan singkat yang diganggu teriakan—sudah cukup untuk membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung. Ia bertekad, setelah pemotretan ini selesai, ia akan membelikan ayahnya vitamin saraf, berharap suara Anggara tidak lagi menggelegar dan mengganggu momen "bucin" mereka.