Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Pagi itu, Agus terbangun bukan karena alarm ponselnya, melainkan karena rasa nyeri yang tajam di bahu kanannya. Kulitnya yang lecet akibat gesekan bata ringan semalam menempel pada kain kaos yang ia gunakan untuk tidur. Saat ia mencoba bangkit, rasa perih itu membuatnya mendesis. Ia harus melepas kaosnya perlahan-lahan, membiarkan kulit yang terluka itu terkelupas sedikit demi sedikit. Di cermin kusam kamarnya, Agus melihat pundaknya sudah menyerupai parutan. merah, kasar, dan mulai mengeluarkan cairan bening.
Ia teringat pesan yang ia kirimkan kepada Rahma semalam. Pesan penolakan untuk berkunjung ke rumah wanita itu. Agus merasa seperti seorang pengecut. Ia tahu bahwa alasan pekerjaan padat hanyalah tameng untuk menutupi rasa malunya. Ia takut jika ia melangkah masuk ke dunia Rahma, ia tidak akan pernah bisa keluar lagi dengan perasaan yang sama. Ia takut kenyataan akan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ia genggam.
Agus meraih ponselnya. Tidak ada balasan dari Rahma sejak semalam. Biasanya, Rahma adalah tipe orang yang cepat membalas, atau setidaknya memberikan ucapan selamat malam. Kesunyian di layar ponsel itu terasa lebih berat daripada beban bata ringan yang ia pikul setiap hari.
"Gus, sarapan dulu. Ada sisa nasi kemarin, Ibu gorengkan dengan sedikit garam dan bawang," suara ibu agus terdengar dari balik pintu kayu kamarnya yang tidak bisa tertutup rapat.
Agus segera mengenakan kemeja kerjanya yang lain. Ia keluar dan mendapati ibunya sedang menata dua piring nasi goreng pucat di atas meja. Bapak agus duduk di kursi plastik, tampak lebih segar dari kemarin, namun matanya masih cekung.
"Bapak sudah minum obat?" tanya Agus sambil menarik kursi.
"Sudah, Gus. Tadi pagi-pagi sekali Ibu sudah ingatkan," jawab bapak agus. Ia menatap anaknya. "Gus, wajahmu kusut sekali. Apa ada masalah di gudang?"
Agus menggeleng. Ia menyuap nasi goreng itu pelan. Rasanya hambar, namun ia butuh tenaga. "Cuma kurang tidur saja, Pak. Pekerjaan lagi banyak."
"Jangan terlalu dipaksakan. Ingat pesan Bapak, kesehatanmu itu modal satu-satunya yang kita punya sekarang. Kalau kamu ambruk, kita semua repot," ucap bapak agus dengan nada penuh penyesalan yang selalu ada di setiap kalimatnya.
Agus hanya mengangguk. Ia tidak ingin membahas soal ancaman pengurangan kuli di gudang. Biarlah beban itu ia pikul sendiri untuk sementara. Setelah menghabiskan sarapannya, Agus berpamitan. Ia menghidupkan motornya, namun kali ini motor itu butuh tiga kali tarikan gas sebelum akhirnya menyala dengan kepulan asap hitam yang pekat. Agus tahu, busi motornya sudah minta diganti, tapi uang lima ribu di sakunya tidak akan cukup untuk itu.
Di gudang, suasana mendung menyelimuti para pekerja. Kabar tentang masuknya alat berat bulan depan sudah menyebar luas. Banyak kuli senior yang mulai menggerutu, sementara yang muda seperti Agus hanya bisa bekerja lebih giat dengan harapan mandor akan mempertimbangkan mereka untuk tetap tinggal.
Agus sedang menyusun sak semen di pojok gudang ketika ponsel di sakunya bergetar. Ia segera menepi di balik tumpukan palet kayu agar tidak terlihat oleh Pak Jono.
Nor Rahma: "Selamat pagi, Mas Agus. Maaf baru balas, semalam aku ketiduran setelah menunggu kabarmu. Aku mengerti kalau Mas sibuk, tapi sepertinya Mas sengaja menjauh ya? Apa ada kata-kataku di taman kemarin yang menyinggung perasaan Mas?"
Agus menghela napas. Jarinya gemetar saat menyentuh layar yang retak. Rahma terlalu peka. Wanita itu bisa merasakan jarak yang sedang coba dibangun oleh Agus.
Agus: "Tidak ada yang salah, Rahma. Kamu tidak menyinggung saya sama sekali. Saya hanya sedang banyak pikiran karena kondisi di gudang sedang tidak stabil. Saya tidak ingin membawa beban pikiran saya kepadamu."
Nor Rahma: "Tapi kita ini teman, kan? Atau mungkin lebih? Kalau ada masalah, ceritakan saja. Siapa tahu aku bisa bantu, atau setidaknya aku bisa jadi pendengar. Jangan tiba-tiba menghilang begini. Ibu juga bertanya terus kapan kamu bisa datang."
Kata bantu dari Rahma justru membuat ego laki-laki Agus terluka. Ia tidak ingin dibantu. Ia ingin menjadi orang yang membantu. Di dunia Agus, seorang laki-laki yang menerima bantuan finansial atau dikasihani oleh wanita yang dicintainya adalah laki-laki yang sudah kehilangan harga diri.
Agus: "Terima kasih, Rahma. Tapi saya bisa selesaikan sendiri. Sampaikan maaf saya pada ibumu, mungkin lain kali saja kalau suasana sudah lebih tenang."
Agus memasukkan ponselnya kembali. Ia merasa sesak. Ia mencintai Rahma, namun setiap kali mereka berkomunikasi, ia semakin menyadari betapa jauhnya jarak antara meja kantor Rahma dan debu semen di gudangnya.
Sore harinya, saat Agus sedang mengangkut sak semen terakhir, sebuah kesalahan terjadi. Karena pikirannya yang bercabang, ia kurang fokus saat menginjak papan titian menuju truk. Papannya bergeser, dan Agus kehilangan keseimbangan. Sak semen seberat lima puluh kilogram itu jatuh menimpa kakinya sebelum akhirnya pecah di lantai, menyebarkan debu putih ke mana-mana.
Agh! Agus mengerang kesakitan. Ia terduduk di lantai gudang, memegangi pergelangan kaki kirinya yang seketika berdenyut hebat.
Pak Jono segera berlari menghampiri. "Gus! Kamu tidak apa-apa? Makanya, sudah saya bilang jangan melamun!"
Beberapa kuli lain membantu Agus berdiri. Kakinya tidak patah, namun pergelangan kakinya bengkak seketika. Yang lebih menyakitkan bagi Agus bukan kakinya, melainkan sak semen yang pecah itu.
"Maaf, Pak Jono. Saya tidak sengaja," ucap Agus dengan wajah pucat.
Pak Jono melihat semen yang berserakan di lantai dengan tatapan kesal. "Satu sak semen ini harganya dipotong dari upahmu hari ini, Gus. Aturan tetap aturan."
Agus hanya bisa tertunduk. Upah hariannya yang hanya delapan puluh ribu harus dipotong harga satu sak semen sekitar enam puluh ribu rupiah. Itu berarti hari ini ia hanya akan membawa pulang dua puluh ribu rupiah.
Ia duduk di pojok gudang, memperhatikan teman-temannya yang mulai pulang satu per satu. Ia melihat pergelangan kakinya yang membiru. Air mata hampir menetes, namun ia tahan. Ia merasa semesta sedang menghajarnya tanpa ampun.
Dengan kaki yang terpincang-pincang, Agus menghidupkan motornya. Ia pulang dengan membawa beban fisik dan mental yang luar biasa. Di tengah jalan, ia berhenti di sebuah warung kecil. Uang dua puluh ribunya hanya cukup untuk membeli satu butir obat pereda nyeri dan setengah kilogram telur puyuh untuk ayahnya. Tidak ada beras.
Sesampainya di rumah, Ibu Agus langsung menyadari cara jalan Agus yang aneh. "Ya Allah, Gus! Kakimu kenapa?"
"Terkilir sedikit di gudang, Bu. Tidak apa-apa," jawab Agus sambil duduk di lantai.
Ibu agus segera mengambil minyak urut. Saat ibunya mulai memijat kakinya, Agus merintih pelan.
"Gus, tadi ada orang dari koperasi datang," ucap ibu agus pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Mereka menagih cicilan bulan ini yang sudah lewat seminggu. Ibu bilang kamu belum ada uang, tapi mereka bilang besok akan datang lagi."
Agus menutup wajahnya dengan kedua tangan. Masalah datang bertubi-tubi seperti ombak yang tidak memberinya kesempatan untuk menghirup napas. Cicilan koperasi itu adalah sisa pinjaman untuk biaya pengobatan awal Pak Marjuki tahun lalu.
"Berapa yang harus dibayar, Bu?"
"Tiga ratus ribu, Gus. Itu sudah termasuk denda," jawab ibu agus.
Tiga ratus ribu rupiah. Bagi Agus, angka itu terasa seperti tiga miliar. Dengan upah harian yang sering terpotong dan ancaman PHK, ia tidak tahu dari mana harus mencari uang sebesar itu dalam satu malam.
Di dalam kamarnya yang gelap, Agus membuka ponselnya. Ada satu pesan baru dari Rahma.
Nor Rahma: "Mas Agus, aku baru saja kirim sesuatu lewat kurir ke alamat yang Mas kasih di aplikasi tempo hari. Isinya tidak seberapa, cuma vitamin dan sedikit camilan untuk Bapak di rumah. Semoga bermanfaat ya."
Agus tertegun. Ia belum pernah memberikan alamat lengkapnya secara rinci, tapi di aplikasi itu memang ada fitur lokasi sekitar desa. Rupanya Rahma benar-benar berusaha mencari tahu.
Bukannya senang, Agus justru merasa terhina. Ia merasa Rahma sedang mengasihaninya. Ia merasa seperti pengemis yang diberi sedekah oleh wanita yang ingin ia jadikan istri.
Ia menatap langit-langit kamarnya yang bocor. Di luar, hujan mulai turun dengan deras. Air mulai menetes dari sela genteng, jatuh tepat di samping bantalnya. Agus membiarkan air dingin itu mengenai tangannya.
"Rahma... kamu terlalu sempurna untuk hidup yang sehancur ini," bisiknya dalam gelap.
Ia ingin sekali membalas pesan Rahma dengan kata-kata kasar agar wanita itu menjauh dan tidak perlu ikut menderita bersamanya. Namun, ia tidak bisa. Ia terlalu mencintai Rahma, dan itulah yang membuat penderitaannya terasa berkali-kali lipat lebih sakit. Cinta itu kini bukan lagi menjadi penyemangat, melainkan menjadi cermin yang setiap hari memperlihatkan betapa gagalnya Agus sebagai laki-laki.