Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkas Yang Terkubur Di Balik Saraf
Suasana di dalam jet pribadi menuju pusat Kota Metropol mendadak sunyi senyap. Padahal, seharusnya ada selebrasi kecil karena ingatan Diya sudah pulih. Feng Yan duduk di depan Diya, matanya menatap tajam ke arah jendela, sementara tangannya menggenggam jemari Diya yang sedingin es.
"Mutiara," suara Feng Yan rendah, "Jangan buka file itu sekarang. Rendy sedang melakukan enkripsi pelindung agar otakmu tidak mengalami kejutan listrik lagi."
Diya menggeleng pelan. Matanya yang biasanya tajam sebagai pengacara, kini terlihat kosong namun penuh tekad. "Tuan Feng, selama ini saya pikir orang tua saya meninggal karena kecelakaan rem blong biasa di jalan tol. Tapi pesan dari Arsitek tadi... dia tahu sesuatu yang bahkan saya, sebagai anak mereka, tidak tahu. Secara logika... kakek Anda terlibat, kan?"
Feng Yan terdiam. Chen Lian yang duduk di pojok kabin mendadak berhenti mengasah belatinya. Anitha pun berhenti menggoda Chen Lian dan menoleh dengan wajah serius.
"Rendy, jalankan simulasinya," perintah Feng Yan.
Rendy menekan tombol Enter di laptopnya. Sebuah hologram muncul di tengah kabin, menampilkan dokumen kuno tahun 1996 yang berlogo Mandala & Feng Corp.
"Tuan Feng, Kak Diya... ini gila," ucap Rendy sambil gemetaran. "Ayah Kak Diya, Tuan Lin, dulunya adalah kepala tim peneliti 'Proyek Pandora' milik kakek Tuan Feng. Dia adalah orang pertama yang menemukan bahwa chip itu bisa disalahgunakan untuk pengendalian massa. Dia ingin menghancurkan proyek itu, tapi..."
"Tapi apa, Rendy?!" desak Diya.
"Tapi ada pihak ketiga yang mengintervensi," sela Reyhan yang baru saja mendapatkan data intelijen tambahan dari kantor pusat. "Bukan kakek Feng Yan yang memerintahkan pembunuhan itu, tapi seseorang dari klan Ouroboros yang menyamar sebagai asisten pribadi kakekmu, Yan. Mereka menyabotase mobil orang tua Diya untuk mengambil prototipe chip yang dibawa ayah Diya."
Diya menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mulai menggenang. "Jadi... selama ini saya bekerja untuk perusahaan yang secara tidak langsung menyebabkan kematian orang tua saya?"
Feng Yan langsung berpindah duduk ke samping Diya, merangkulnya erat. "Dengar, Diya. Kakekku memang bersalah karena menciptakan teknologi itu, tapi dia tidak pernah menginginkan kematian ayahmu. Justru kakekku menghabiskan sisa hidupnya untuk menyembunyikan 'Kotak Pandora' itu agar tidak jatuh ke tangan Ouroboros lagi. Dia ingin melindungimu dari jauh."
"Melindungi saya dengan cara membiarkan saya jadi yatim piatu?!" Diya melepaskan rangkulan Feng Yan, amarahnya mulai meledak. "Secara hukum, Feng Group tetap bertanggung jawab atas kelalaian keamanan yang menyebabkan konspirasi ini!"
"Betul," sahut Feng Yan tenang, meski hatinya perih melihat Diya begitu terluka. "Dan karena itulah, aku memberikan seluruh akses 'Akses Langit' padamu semalam. Aku ingin kau yang menghancurkan klan itu dengan tanganmu sendiri, menggunakan kekuatanku."
Tiba-tiba, radar jet berbunyi nyaring. Anitha langsung melompat ke arah kokpit. "Gawat! Kita tidak terbang sendirian! Ada tiga jet tempur tanpa identitas sedang mengunci posisi kita! Dan mereka bukan dari militer!"
"Ouroboros," gumam Chen Lian. Ia berdiri, menarik jubah hitamnya. "Nona Diya, Anda adalah bukti hidup dari kegagalan mereka tiga puluh tahun lalu. Mereka tidak akan membiarkan Anda mendarat dengan selamat."
"Tuan Hantu! Kau urus sayap kiri, aku urus sayap kanan!" teriak Anitha sambil memakai parasut taktisnya. "Bos! Kau lindungi 'Mutiara'-mu! Jangan sampai seujung rambutnya pun lecet!"
Feng Yan berdiri, aura emasnya meledak hingga memenuhi seluruh kabin jet. "Mutiara, pegang tanganku. Kita akan melakukan 'Akses Langit' versi udara. Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana cara seorang Feng Yan membalaskan dendam mertuanya!"
Di tengah hujan peluru dan rudal yang mengejar jet mereka, Feng Yan membuka pintu darurat jet. Angin kencang menerjang masuk. Dengan satu tangan memeluk Diya dan tangan lainnya terangkat ke langit, Feng Yan memanggil petir emas yang langsung menghantam jet-jet musuh satu per satu di udara.
BOOM! BOOM! BOOM!
Diya menatap pemandangan gila itu dengan napas terengah. Di tengah ledakan di langit, ia sadar: takdirnya memang sudah terkunci dengan pria narsis dan sakti ini. Bukan karena kontrak, bukan karena pekerjaan, tapi karena darah dan sejarah yang sudah ditulis sebelum mereka lahir.
"Tuan Feng..." bisik Diya di tengah suara badai.
"Jangan panggil aku Tuan Feng lagi, Diya," sahut Feng Yan sambil menatapnya dengan cinta yang membara. "Panggil aku pria yang akan menghancurkan dunia untukmu."
Jet mereka melesat menembus asap ledakan, menuju babak terakhir: Markas Besar Ouroboros di bawah laut.