“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Sang Iblis dari Abu
Pukul 02:00 Dini Hari – Reruntuhan Gudang Tua Valenor.
Hening yang mematikan menyelimuti area yang baru saja luluh lantak. Api merah berkobar, melahap sisa-sisa kayu dan logam dari gudang tua yang kini rata dengan tanah. Ceisya jatuh terduduk di atas tanah yang dingin, matanya yang basah oleh air mata menatap kosong ke arah kepulan asap hitam. Dunianya seolah berhenti berputar saat ledakan itu menghancurkan segalanya.
"Kael... Mas Kael..." bisik Ceisya parau. Suaranya hilang di telan desis api.
Guntur berdiri di sampingnya dengan wajah yang hancur karena rasa bersalah. Tangan sang pengawal itu terkepal hingga berdarah, menyesali keputusannya mengikuti perintah Kaelthas untuk membawa Ceisya pergi.
Namun, di tengah puing-peting yang membara, sesosok bayangan mulai muncul. Langkahnya tegap, membelah kobaran api seolah api itu sendiri takut menyentuhnya. Ceisya menajamkan pandangannya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan.
Itu bukan Arkan.
Siluet itu terlalu besar, terlalu dominan. Kemeja hitam taktisnya sudah sobek di sana-sini, memperlihatkan otot-otot yang berlumuran debu dan darah, namun auranya jauh lebih mematikan dari sebelumnya. Kaelthas Virelion berjalan keluar dari neraka itu sambil menggendong tubuh Sebastian Valenor yang pingsan di bahunya.
"Kael!" Ceisya berlari tanpa memedulikan kakinya yang lecet. Ia langsung menghambur ke pelukan Kaelthas.
Kaelthas menurunkan Sebastian ke tanah dengan kasar—seolah nyawa mertuanya itu tidak ada artinya dibanding pelukan istrinya. Begitu tangan Ceisya menyentuh kulitnya yang panas, Kaelthas langsung merengkuh tubuh mungil itu dengan tenaga yang hampir mematahkan tulang.
"Sudah kubilang... aku tidak akan membiarkanmu... menjanda secepat itu, Sayang," bisik Kaelthas. Suaranya serak, berat karena menghirup asap, namun tetap terdengar sangat posesif.
Kaelthas mencengkeram tengkuk Ceisya, memaksa gadis itu menatap wajahnya yang kini penuh luka gores dan noda hitam. Tanpa memedulikan Guntur atau para pengawal yang masih siaga, Kaelthas membungkam bibir Ceisya dengan ciuman yang sangat kasar, menuntut, dan penuh dengan keputusasaan. Ciuman itu terasa seperti besi panas—beraroma darah dan abu, namun menjadi satu-satunya sumber kehidupan bagi Ceisya saat ini.
Kaelthas menyesap bibir Ceisya seolah ia sedang mengklaim kembali nyawanya yang hampir hilang. "Kau milikku, Ceisyra. Bahkan maut pun tidak punya izin untuk memisahkanku darimu," geramnya di sela ciuman mereka yang candu.
Pukul 04:30 Subuh – Safe House Rahasia Virelion.
Setelah memastikan Sebastian mendapat perawatan medis di bawah pengawasan ketat Guntur, Kaelthas membawa Ceisya ke sebuah kamar yang tersembunyi di balik dinding baja. Ia tidak membiarkan satu orang pun mendekati mereka.
Kaelthas melepas pakaian atasnya yang sudah hancur. Di bawah lampu temaram, Ceisya terisak melihat punggung dan dada suaminya dipenuhi lebam biru dan luka bakar kecil akibat reruntuhan.
"Sini," Kaelthas duduk di tepi ranjang dan menarik Ceisya untuk duduk di pangkuannya, menghadapnya.
Ceisya mulai membersihkan luka-luka itu dengan kapas dan alkohol. Tangannya gemetar. "Kenapa kamu nekat banget, Kael? Kalau tadi kamu nggak sempat keluar gimana?"
Kaelthas menangkap pergelangan tangan Ceisya, menghentikan kegiatannya. Ia menatap mata Ceisya dengan pandangan yang sangat gelap, penuh dengan obsesi yang kian mendalam. "Melihatmu menangis di depanku jauh lebih menyakitkan daripada ledakan itu, Ceisya. Dan aku tahu, jika aku mati, pria-pria brengsek seperti Arkan atau Sebastian akan mencoba memilikimu. Dan aku... tidak akan pernah membiarkan itu terjadi meski aku harus merangkak keluar dari neraka."
Kaelthas menarik kepala Ceisya, membenamkannya di pundaknya yang lebar. Ia mulai menciumi bahu Ceisya yang tertutup kain gaun tipis, lalu tangannya mulai meraba lekuk tubuh istrinya dengan posesif.
"Aku butuh kamu, Ceisyra. Aku butuh canduku sekarang untuk melupakan rasa sakit ini."
Kaelthas kembali menyerang bibir Ceisya, namun kali ini gerakannya lebih lambat, lebih dalam, dan penuh dengan gairah yang membakar. Ia membaringkan Ceisya di kasur, mengunci tubuh istrinya dengan berat tubuhnya sendiri. Setiap sentuhan Kaelthas terasa seperti api yang merambat di kulit Ceisya, membuatnya melupakan seluruh trauma malam itu.
"Kael... lukamu..." rintih Ceisya saat tangan Kaelthas mulai membuka pakaiannya.
"Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding rasa hausku padamu," bisik Kaelthas di telinga Ceisya, sebelum ia kembali menyesap bibir manis istrinya yang selalu berhasil membuatnya gila.
Pukul 07:00 Pagi – Realitas yang Menghantam.
Sinar matahari mulai masuk melalui celah ventilasi. Ceisya terbangun dengan tubuh yang masih terbungkus erat oleh lengan kokoh Kaelthas. Di meja samping tempat tidur, laptop Ceisya yang tersambung ke jaringan satelit berbunyi tanpa henti.
Ceisya merangkak pelan, mencoba tidak membangunkan sang Sultan yang akhirnya tertidur karena kelelahan. Ia membuka layar laptopnya dan matanya membelalak.
"Kael! Bangun!"
Kaelthas langsung terduduk, insting tempurnya aktif seketika. "Ada apa?"
"Arkan... dia tidak kabur sendirian," Ceisya menunjukkan rekaman satelit yang baru saja ia peroleh. "Dia membawa Clarisse ke pelabuhan internasional. Dan lihat ini... mereka tidak hanya membawa uang. Mereka membawa Microchip Prototype 01 milik perusahaan ayahku yang selama ini hilang."
Kaelthas mengepalkan tangannya. "Chip itu berisi algoritma untuk mengendalikan seluruh sistem logistik di Asia Tenggara. Jika Arkan menjualnya ke pasar gelap, Virelion dan seluruh aset Valenor akan hancur dalam semalam."
Namun, ada hal lain yang membuat Ceisya lebih terkejut. Di layar, terlihat Clarisse sedang memegang sebuah botol kecil berisi cairan ungu. Clarisse menatap ke arah kamera satelit (seolah tahu sedang diawasi) dan memberikan sebuah simbol tangan: Sebuah Mawar yang Dipatahkan.
"Clarisse... dia bukan cuma pengkhianat, Kael," ucap Ceisya dengan suara bergetar. "Dia menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya sendiri. Detak jantungnya di sensor termal... tidak normal. Dia berubah menjadi sesuatu yang lain."
Tiba-tiba, suara Sebastian dari ruang medis terdengar berteriak histeris. Kaelthas dan Ceisya segera berlari ke sana.
Di dalam ruang medis, Sebastian terduduk dengan mata melotot, menunjuk ke arah jendela. "Dia datang! Mawar Hitam yang asli... dia bukan Arkan! Arkan hanyalah pelayannya!"
Sebuah helikopter tanpa logo mendarat di halaman depan Safe House. Pintunya terbuka, dan seorang wanita dengan jubah hitam panjang turun. Begitu ia membuka tudungnya, Ceisya hampir terjatuh karena lemas.
Wajah wanita itu identik dengan Ibu Kandung Ceisya yang seharusnya sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Namun di lehernya, terdapat tato mawar hitam yang bersinar di bawah sinar matahari pagi.
"Halo, Ceisyra. Maaf ibu terlambat menjemputmu dari pria posesif ini," ucap wanita itu dengan senyum yang sangat dingin.
Kaelthas langsung menarik pistolnya dan berdiri di depan Ceisya, matanya berkilat penuh amarah. "Siapa pun kau, berani melangkah satu inci lagi, aku akan memastikan kepalamu meledak!"
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca