“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan Takdir di Menara Valenor
Pukul 14:00 Siang – Rencana Gila Sang Sultan.
Kaelthas berdiri di depan Guntur dan tim peretas terbaik Virelion. Auranya begitu kelam, seperti iblis yang sedang merencanakan kiamat.
"Tuan, chip yang ada di tubuh Nona Ceisyra terhubung dengan satelit pribadi milik Nyonya Farida. Jika kita mencoba membedahnya secara paksa, nanobot itu akan meledak di dalam pembuluh darahnya," lapor Guntur dengan suara bergetar. Ia tahu nyawa Ceisyra adalah segalanya bagi tuannya.
"Aku tidak butuh penjelasan tentang kegagalan, Guntur!" bentak Kaelthas hingga meja kaca di depannya retak terkena hantaman tangannya. "Cari koordinat Farida sekarang! Dan kau..." Kaelthas menunjuk peretas seniornya, "Gunakan backdoor yang dibuat Ceisyra di pulau kemarin. Masuk ke sistem Farida dan buat looping pada sensor detak jantungnya!"
Kaelthas kembali ke kamar Ceisyra. Ia menemukan istrinya sedang mencoba duduk. Tanpa berkata-kata, Kaelthas langsung naik ke atas ranjang dan mengurung tubuh Ceisyra di antara lengan kokohnya. Ia memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Ceisyra, sementara tangannya meraba perut Ceisyra—tempat di mana chip terkutuk itu kabarnya tertanam.
"Kael, kalau aku nggak selamat... janji ya, jangan jadi monster lagi?" tanya Ceisyra lirih.
Kaelthas mengeratkan pelukannya hingga Ceisyra merasa sesak. Ia membalikkan tubuh Ceisyra agar menghadapnya. "Jika kau pergi, dunia ini tidak akan punya alasan untuk tetap berdiri, Ceisyra. Aku akan membakar Jakarta, menghancurkan Valenor, dan memastikan Farida memohon kematian di kakiku. Jadi, jika kau ingin dunia ini selamat, tetaplah bernapas untukku."
Kaelthas kembali menyerang bibir Ceisyra dengan ciuman yang lebih intens, lebih menuntut, dan penuh dengan obsesi yang gila. Tangannya mulai membuka kancing pakaian medis Ceisyra, ia ingin merasakan detak jantung istrinya langsung di telapak tangannya. Ia menciumi dada Ceisyra tepat di atas jantungnya yang terbelenggu, seolah ingin menyedot racun digital itu keluar dengan bibirnya.
"Jantung ini milikku," gumam Kaelthas di sela ciumannya. "Setiap detaknya adalah otoritas penuhku. Farida tidak punya hak atas satu denyut pun."
Tiba-tiba, seluruh layar monitor di Safe House berubah menjadi statis. Wajah Farida muncul kembali, kali ini ia duduk di sebuah ruangan mewah yang terlihat seperti markas besar bawah tanah. Di belakangnya, Clarisse tampak memegang sebuah remote kendali.
"Kaelthas, kau punya waktu 10 jam lagi," ucap Farida dingin. "Bawa Ceisyra ke Menara Valenor malam ini. Jika kau mencoba membawa pasukan atau melakukan peretasan lagi, aku akan menekan tombol shutdown pada jantung putriku sendiri."
Clarisse tersenyum licik ke arah kamera. "Dah, Kak Ceisyra. Sampai jumpa di pemakamanmu sendiri kalau suamimu itu masih keras kepala."
Layar mati. Kaelthas berdiri dengan kepalan tangan yang memutih. Ia menatap Ceisyra yang mulai berkeringat dingin karena efek samping nanobot yang mulai membebani kerja jantungnya.
"Guntur! Siapkan tim siluman. Kita berangkat ke Menara Valenor," perintah Kaelthas.
"Tapi Tuan, itu jebakan maut!" teriak Guntur.
Kaelthas mengambil jaket hitamnya dan menyelipkan pisau kerambit serta pistol peraknya. Ia mendekati Ceisyra, mengangkat tubuhnya dalam gendongan bridal style.
"Memang itu jebakan," bisik Kaelthas di dahi Ceisyra. "Tapi mereka lupa satu hal. Mereka mengundang iblis masuk ke rumah mereka. Dan malam ini, aku akan menunjukkan pada ibumu, apa artinya mengusik candu milik Kaelthas Virelion."
Saat mereka sampai di lobi Menara Valenor yang gelap gulita, Ceisyra tiba-tiba batuk darah. Jam di tangannya menunjukkan angka merah: 04:00:00.
"Kael... jantungku... sakit banget..." rintih Ceisyra sebelum pingsan di pelukan Kaelthas.
Di saat yang sama, pintu lift terbuka, memperlihatkan puluhan pasukan bertopeng Mawar Hitam yang sudah menodongkan senjata. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri Clara (ibu tiri) yang memegang sebuah suntikan berisi cairan hitam.
"Berikan Ceisyra padaku, Kaelthas. Atau kau akan melihatnya mati dalam pelukanmu sekarang juga," ucap Clara dengan senyum jahat.
Kaelthas menatap Ceisyra yang tak sadarkan diri, lalu menatap Clara dengan mata yang berubah menjadi merah padam karena amarah yang tak terkendali.
Pukul 19:30 Malam – Lobi Menara Valenor.
Kesadaran Ceisya timbul tenggelam seperti sinyal radio yang rusak. Di dalam kegelapan matanya yang terpejam, otaknya yang jenius berputar liar. Ini salah... ini semua salah! batin Ceisya menjerit. Di novel aslinya, Farida itu tokoh yang sudah meninggal sejak bab pertama! Dia hanya latar belakang untuk kesedihan Ceisyra! Kenapa sekarang dia hidup dan menjadi pimpinan sindikat? Alurnya berubah total! Apakah karena kehadiranku sebagai peretas dan santriwati?
Rasa sakit di jantungnya kembali menghujam, menariknya kembali ke realitas yang kejam. Ceisya membuka matanya perlahan, melihat rahang tegas Kaelthas yang mengeras dari bawah. Ia masih berada di pelukan pria itu, pelukan yang terasa seperti benteng terakhir di dunia ini.
"Berikan Ceisyra padaku, Kaelthas!" suara Clara, sang ibu tiri, menggema di lobi yang dingin itu. Ia berdiri dengan suntikan berisi cairan hitam, dikelilingi oleh pasukan maut.
Kaelthas tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap Ceisya yang baru saja tersadar. Matanya yang biasanya dingin kini berkilat dengan rasa takut kehilangan yang amat sangat. Tanpa peduli pada puluhan moncong senjata yang mengarah padanya, Kaelthas mencium bibir Ceisya—bukan sekali, tapi berkali-kali dengan penuh tuntutan dan rasa frustrasi.
Cup.
"Jangan tinggalkan aku."
Cup.
"Tetap bernapas untukku."
Cup.
"Kau canduku, Ceisyra. Milikku!"
Kaelthas menyesap bibir Ceisya dengan dalam, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa nyawanya melalui ciuman itu. Ceisya merasakan gairah dan kepemilikan Kaelthas yang meluap, membakar rasa sakit di jantungnya hingga ia merasa kekuatannya kembali secara ajaib.
"Mas Sultan..." bisik Ceisya parau, ia tersenyum tengil meski bibirnya berdarah. "Turunkan aku. Singa dan macan betina nggak seharusnya cuma diam, kan?"
Aksi Silat Sang Santriwati Dimulai.
Kaelthas menurunkan Ceisya dengan sangat berat hati, tangannya masih menempel di pinggang Ceisya sampai detik terakhir. Begitu kaki Ceisya menyentuh lantai, aura santriwati jago silat itu meledak.
"Kalian mau jantungku?" Ceisya memasang kuda-kuda Pasang Empat. "Ambil kalau bisa melewati tendanganku!"
Seorang pria besar dengan tongkat listrik menyerang. Ceisya melakukan gerakan Langkah Sempok, meluncur dengan licin di bawah serangan lawan. Dengan kecepatan kilat, ia melancarkan jurus Guntingan Bawah. Kakinya menjepit betis musuh, lalu dengan satu putaran pinggang yang kuat, ia membuat pria itu menghantam lantai marmer hingga retak.
DUKK!
Belum sempat yang lain bereaksi, Ceisya melompat, melakukan Tendangan Sabit di udara yang menghantam tiga wajah musuh sekaligus. Ia mendarat dengan anggun, lalu beralih ke jurus Pukulan Harimau. Jemarinya yang lentur namun sekeras baja menusuk titik saraf di leher musuh berikutnya, membuatnya lumpuh seketika.
"Luar biasa, bidadariku," gumam Kaelthas yang juga mulai bergerak. Kaelthas bertarung seperti iblis—brutal dan tanpa ampun. Ia mematahkan lengan siapa pun yang mencoba menyentuh Ceisya.
Ceisya terus merangsek maju menuju Clara. Seorang algojo bermata satu mencoba menahannya dengan pisau kerambit. Ceisya menyeringai. Ia melakukan Tangkisan Dalam yang memutar pergelangan tangan lawan, lalu dengan teknik Kuncian Sendi, ia merebut kerambit itu dan membuangnya jauh-jauh.
"Jurus Sodokan Inti!" Ceisya menghujamkan telapak tangannya tepat ke ulu hati algojo itu dengan tenaga dalam yang terfokus. Pria itu terpental lima meter ke belakang.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca