NovelToon NovelToon
Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Minaaida

Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.

Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.24 Kerja Sama Besar

Olivia.......

Setelah berpamitan dengan Alex dan Dave, aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di samping Sonya. Sonya tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya fokus mengemudi di sepanjang jalan dari rumah sakit menuju rumahnya.

Kami berdua saling berdiam diri sampai akhirnya dia berbicara.

"Apakah kamu sudah bilangin Alex tentang bayinya?"

Aku menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak bilang."

"Olivia, kamu tahu itu bukan ide yang bagus. Suatu hari dia pasti akan tahu juga."

Aku tahu, Sonya mencemaskan diriku tapi aku tahu apa yang terbaik kulakukan untukku dan bayiku.

"Tidak, dia tidak akan tahu," jawabku, aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapanku. "Karena aku berencana untuk pindah ke luar negeri."

Sonya berpaling menatapku dengan tatapan tak percaya setelah mendengar ucapanku.

"Sejak kapan kamu merencanakan semua ini?" suaranya penuh ketidak percayaan. "Kamu ingin pergi meninggalkan negara ini? Kemana?" tanyanya gamang, seakan enggan untuk mempercayai kata-kataku.

Aku tertegun, sebenarnya aku juga belum tahu kemana tujuanku. "Aku juga belum tahu, Sonya."

Ekspresi Sonya berubah dari kaget menjadi cemas. "Olivia, pikirkanlah sekali lagi. Kamu tidak bisa memutuskan meninggalkan kota ini tanpa tujuan yang jelas. Bagaimana dengan Alex, bagaimana dengan orang tuamu?"

Sonya, apa kamu tidak tahu, justru merekalah yang ingin ku hindari saat ini.

"Sonya, aku butuh suasana baru. Aku harus pergi sejauh jauhnya dari semua hal yang mengingatkan aku pada Alex dan kegagalan pernikahan kami. Aku harus melindungi bayiku."

Sonya menarik napas panjang. "Aku paham, tapi kamu tidak bisa melakukannya seorang diri. aku akan menolong mu."

Aku tersenyum, merasa bersyukur atas dukungannya. "Aku hargainya , Sonya. Tapi aku bisa melakukannya sendiri. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa Alex, aku bisa melakukan semuanya tanpa campur tangan orang tuaku."

Sonya mengangguk. Namun, aku bisa memastikan masih ada kecemasan yang menggangu di matanya. "Baiklah, tapi kamu harus berjanji padaku kita akan selalu berhubungan. Dan berjanjilah padaku kamu akan memikirkan kembali tentang keputusan gilamu ini!"

Dia mengeluarkan jarinya dan membentuk janji pinki promosi.. Meskipun aku tahu ini hanya sekedar gurauan, tapi aku melakukannya juga. Saat aku tiba di rumah Sonya, aku tidak bisa berhenti memikirkan tentang perjalanan baru yang akan kujalani setelah ini.

Aku tidak tahu apa yang aku harapkan dari hidup ini kelak, tapi satu hal yang pasti, aku harus lebih tegar lagi demi bayi yang kukandung.

***

Enam Tahun kemudian......

"Mama!"

"Mama.."

Suara Rain dan Rainer yang setengah berbisik bergema di tengah tidurku saat mereka menepuk-nepukku berkali-kali. Mataku berkedip-kedip terbuka nanar dan aku langsung terduduk di tengah-tengah kasur begitu aku terbangun.

"Selamat pagi, sayang." aku tersenyum seraya meraih keduanya dalam pelukanku. "Kenapa kalian bangun pagi sekali?" tanyaku ketika melihat kegembiraan di wajah - wajah imut mereka.

"Mama, bukannya mama sudah janji akan mengajak kami ke taman bermain hari ini?" Rain mengingatkan.

"Ya, mama sudah janji, loh." tambah Rainer.

Pada awal minggu lalu, aku memang sudah berjanji pada anak-anakku bahwa aku akan mengajak mereka ke taman bermain pada hari akhir pekan jika mereka berkelakuan baik.

Seminggu sudah berlalu, mereka semua sudah berkelakuan yang paling baik, mereka bahkan mengerjakan tugas sekolah mereka dengan serius. Dan sekarang, pagi-pagi pagi sekali mereka sudah menagih janji akan hal itu.

"Mama nggak lupa, sayang. Kita akan pergi ke taman nanti siang." ujarku, dan mata mereka berbinar senang. Rain and Rainer langsung melompat ke tempat tidurku dan memelukku.

Kami bertiga menghabiskan waktu di tempat tidur beberapa saat sebelum aku bangkit dari tempat tidur dan pergi ke dapur untuk mempersiapkan sarapan pagi untuk kedua anak kembarku itu.

Selesai sarapan pagi, kami mandi dan bersiap untuk pergi.

"Mama, aku duduk di depan bersama mama, ya?" kata Rainer saat kami berjalan menuju ke mobil. Dia berlari menuju ke mobil sehingga Rain tak bisa mengejarnya.

Begitulah yang selalu terjadi setiap kali aku mengantar mereka ke suatu tempat. Mereka selalu berebut untuk duduk di depan.

Taman bermain itu letaknya tak jauh dari rumah kami, maka dari itu, tak perlu waktu lama untuk sampai ke sana. Saat memasuki pintu masuk taman bermain, aku tak bisa menahan haru dan bahagia saat melihat pancaran kegembiraan dan semangat di wajah anak-anakku.

Mereka persis seperti seperti ayahnya, dengan rambut hitam dan sepasang mata biru yang tajam yang langsung mengingatkanku pada mantan suamiku, Alexander Stone.

Aku selalu membayangkan apa yang akan terjadi jika Alex mengetahui keberadaan mereka. Namun aku buru-buru mengusir semua pikiran itu dan fokus pada masa depan.

Sudah hampir enam tahun berlalu, dan kami tidak pernah lagi saling berhubungan. Ketika aku memutuskan pindah ke Australia, aku mengganti semua identitas diriku sebab aku tidak ingin seorang pun bisa menemukan keberadaanku.

Rasanya seperti aku memulai hidup baru, dan itu adalah hal yang terbaik yang aku lakukan selama hidupku. Hidupku amat menyenangkan dan aku merasa hidup kembali.

"Mama, bisakah kami membeli es krim?" tanya Rainer, dengan puppy eyes -nya. Dia tahu, aku tidak akan bisa menolaknya. Dia menarik tanganku dan membawaku ke gerobak es krim.

Baru saja aku akan memesan es krim, tiba-tiba ponselku berdering.

Aku mengeluarkan ponselku dari dalam saku bajuku untuk mengecek siapa yang meneleponku.

Ternyata David, bosku. Dia yang menelpon.

Ini akhir pekan dan aku tidak bekerja di akhir pekan, maka dari itu aku sedikit penasaran mengapa dia sampai meneleponku.

Aku melangkah menjauhi gerobak es krim untuk mencari tempat yang tenang sebelum menjawab panggilan David. "Hey, ada apa?" tanyaku begitu aku menjawab panggilan.

"Kamu harus segera datang ke kantor sekarang, kita baru saja mendapat job besar." aku menebak dia sangat senang dari nada bicaranya yang terdengar bersemangat, "Aku tahu, sekarang lagi weekend, tapi kamu harus datang sekarang, Olivia." tambahnya.

Aku menghela nafas sebelum menjawab. "Tapi aku bersama anak-anak sedang di taman bermain." Mereka pasti akan merasa kecewa jika aku mendadak menghentikan acara bermain mereka.

"Tidak bisakah kamu meminta pengasuh mereka untuk menjaga mereka?" David bertanya dan aku menggeleng meskipun David tidak bisa melihatku. Pada akhir pekan, pengasuh mereka libur.

"Baiklah, aku rasa aku akan datang bersama mereka."

Setelah itu, aku menutup telepon dan mendatangi anak-anakku dan memberi tahu mereka tentang kabar terbaru.

Selama perjalanan menuju ke kantor, mereka tidak mau berbicara padaku karena mereka marah sebab faktanya kami tidak jadi menghabiskan waktu liburan di taman bermain meskipun hanya satu jam.

"Mama janji, mama akan ajak lagi kalian ke sana di lain waktu, oke?" ucapku dalam rangka membujuk mereka namun sepertinya itu tidak berhasil. Jadi aku memutuskan untuk membiarkan mereka dan akan berbicara lagi nanti.

Akhirnya, kami tiba di kantor.

Aku meminta asisten David untuk menjaga mereka sebelum aku menemuinya. Wajahnya masih menampakkan kegembiraan saat aku membuka pintu dan melangkah masuk.

Aku tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya dengan siapa sebenarnya kami berhasil mencapai kesepakatan besar itu. "Ada apa?" tanyaku penasaran dan David langsung berdiri dari kursinya.

"Kita akan ke Jakarta!" serunya dan aku tercengang dalam ketidak percayaan. Apa maksudnya kembali ke Jakarta? Aku tidak ingin kembali ke sana.

Aku menganggapnya dengan tawa kering. "David, wait. Kamu tahu kan, aku tidak bisa kembali ke sana?"

Raut wajahku menjadi keras, dan David menghela napas kesal.

"Aku tahu, Olivia. Tapi tak seorangpun di sana yang akan mengenalimu. Setelah kita selesai dengan semua urusan di sana, kita langsung pulang." David mencoba menyakinkan diriku namun aku tetap tak bisa menghilangkan kegelisahanku.

"Ini adalah kesempatan besar, Olivia." tekan David, "Kita bekerja dengan salah satu perusahaan terbesar di dunia dan hal itu akan meningkatkan nama perusahaan kita di jaringan bisnis internasional dan menghasilkan lebih banyak kesepakatan untuk meraih kerja sama dengan perusahaan besar lainnya lagi di masa mendatang."

Aku menjatuhkan diri di sofa, merasa terjebak.

"David, aku tahu, tapi aku tidak bisa pergi denganmu."

Raut wajah David langsung menggelap. "Olivia, kapan aku bisa melakukan segala sesuatu tanpa dirimu." David langsung pada intinya; Kami memang selalu bekerja bersama-sama. Namun kali ini, aku tidak bisa ikut. Aku tidak ingin kembali ke Jakarta.

Aku harus memikirkan sebuah alasan agar David berubah pikiran dan aku tidak ikut ke Jakarta. "Aku bisa melakukan segalanya melalui online, jadi aku tidak harus berada di sana, kan?"

Tapi respon David sangat tegas. "Kamu harus berada di sana."

Aku menghela nafas kasar. "Okey, tapi bolehkah aku pikir - pikir dulu?"

"Tak ada waktu untuk berpikir lagi. Kita pergi sekarang, semuanya sudah disiapkan."

Aku berkedip beberapa kali dengan wajah tak percaya. "Apa? Bagaimana dengan anak-anak?'

"Mereka bisa ikut." jawab David santai, meninggalkan aku yang kebingungan sendiri.

1
rara
lanjut
Mariani Ajja
ini lakinya yg goblok nih
Mariani Ajja
lanjut Thor...
olyv
lanjut
Nessa
lanjut thor 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Nessa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!