NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Istri Diancam, Suami Turun Tangan

Jam 12 malam. Clarissa sudah tidur di kamarnya, di lantai dua. Hampir semua lampu di rumah dalam keadaan mati, gelap gulita. Namun di waktu inilah kesempatan itu ada. Alvian keluar dari kamarnya, berjalan ke halaman, lalu mengeluarkan sebuah HP bekas yang telah dibelinya di pasar luak.

Dia membuka HP itu, masuk ke situs dark web, forum "Info Joki Jakarta".

Hanya dengan berbasis foto, lalu sedikit keterangan, puluhan user langsung merespon dan mengirim pesan pribadi kepada Alvian.

Tidak Suka Kekerasan Hanya Suka Cari Uang. Nama yang panjang dan penuh makna. Pesannya, "Naga Hitam VIP."

Alvian zoom beberapa foto yang didapatkan oleh "Tidak Suka Kekerasan Hanya Suka Cari Uang". Terlihat RX-King 5588, jaket kulit, tato "B" yang sama persis di lehernya. Tidak salah lagi, itu memang orang yang sama.

"Info diterima. Uang akan masuk setelah dipastikan."

"Oke."

Balasan singkat mengakhiri obrolan. Alvian langsung mengenakan topi hitamnya, kemudian meninggalkan rumah dengan jalan kaki.

__

Sekitar jam satu dini hari, Alvian sampai di tempat karaoke "Naga Hitam".

Gedung empat lantai, lampu neon kerlap-kerlip, sepi, hampir tidak ada orang.

Dengan mengenakan hoodie hitam, topi dan masker, Alvian masuk melewati dua security yang berjaga di depan pintu. Dia langsung menyelinap naik ke tangga menuju lantai tiga, di mana ruang VIP berada.

Ada sekitar lima puluh ruangan. Alvian mengeceknya satu persatu sampai menemukan sosok "Bram" yang tampaknya sedang menikmati hasil jual obatnya bersama dua pemandu lagu.

Suaranya sangat keras hingga terdengar sampai ke luar. "HAHAHA! Dokter jantung itu pasti sekarang ketakutan, meringkuk di kamarnya. Dan untuk suaminya? Badut! Bilang aja ke bos, beres sebelum subuh!"

Tangan Alvian menggantung di pegangan pintu. Matanya menyorot ke kaca bulat kecil yang ada di bagian atas pintu.

Dia cek CCTV. Menemukan dua biji di ujung lorong, dia mencari pusat kabelnya yang ternyata berkumpul di box dekat tangga darurat.

Alvian buka box tersebut. Ctas! Memotong satu kabel gunakan cutter dan lampu lorong seketika mati. Sensor CCTV juga berkedip merah, tanda jaringan terputus.

Waktu yang dimiliki Alvian mungkin tidak lama sampai petugas menyadari masalah dan datang ke lantai tiga. Namun Alvian tidak pernah membutuhkan waktu yang lama untuk berurusan dengan targetnya.

Tok! Tok tok!

"Room service." Alvian berdiri di balik pintu sambil memegang ujung topinya.

Bram yang "sibuk" dengan urusannya di dalam ruang karaoke pun langsung marah mendengar suara ketukan pintu.

"Pergi! Tidak ada yang pesan room servis!" teriaknya.

Namun Alvian terus mengetuk pintu membuat Bram tidak bisa berpura-pura mengabaikannya.

"Sialan!" Pintu dibuka. Pria 30-an tahun, jaket kulit, tato "B" di leher, mata merah. Muncul dari balik pintu dalam kondisi mabuk.

"Pesanan apa anj—"

Tidak sempat mengatakan ucapannya, pandangan tiba-tiba gelap dan tubuhnya langsung jatuh terkulai.

Tidak ada teriakan. Tidak ada gerakan yang menarik perhatian. Cuma suara "Bug!" badan jatuh.

___

Satu jam kemudian. Gudang terbengkalai bekas pabrik tekstil.

Bram perlahan membuka mata setelah pingsan cukup lama. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya ingat sebelumnya masih di tempat karaoke sampai petugas room servis datang mengetuk pintu.

"Sial! Ini di mana?"

Bukan hanya tempat yang asing. Bram juga mulai menyadari jika tubuhnya tidak bisa bergerak. Bukan terikat, tapi ada yang salah dengan otot tangan dan kakinya.

"Bagaimana baksonya, enak?"

Sebuah suara membuat Bram memfokuskan pandangan ke tempat yang gelap. Di sana dia melihat bayangan seseorang yang sedang betdiri membelakanginya.

"Kau- ...."

Alvian mendekat. Meski begitu Bram tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup topi dan masker.

"Kau tahu kenapa kau berada di sini?"

Dengan sifatnya yang meledak-ledak, Bram pasti akan langsung teriak marah-marah. Namun, sebelum satu kata terucap, scalpel yang dingin menempel di lehernya, membuat pria itu berkeringat dingin dan tak berani bicara sembarangan.

"Te-tenang dulu. Di antara kita tidak ada masalah, kan? Jika pun ada masalah, bisa dibicarakan baik-baik."

Alvian sedikit menekan scalpel di tangannya ke leher Bram. Membuat satu tetes darah mengalir dari kulitnya.

"Kau melakukan tiga kesalahan."

Bram diam, Alvian berhenti sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.

"Pertama, kau menjual obat palsu. Kedua, kau mengusik banyak orang, membuat mereka ketakutan sampai tidak berani keluar rumah. Ketiga, ... Ini adalah satu hal yang seharusnya tidak kau lakukan. Kau tahu apa itu?"

Tubuh Bram gemetar hebat. Bukan karena marah, tapi takut setengah mati.

"A-aku tidak tahu. A-apa?"

Scalpel diputer 0,5 cm. Tidak melukai kulit, tapi seolah memberi sinyal, "Sekarang, aku bisa membedah tubuhmu hidup-hidup, Kau tidak akan mati, tapi kau yang bakal memohon untuk mati."

"Ja... jangan... ampun..."

Alvian tidak mendengar suara Bram yang memohon. Dia membuat sayatan dengan scalpel-nya, melukai tubuh Bram hingga pria kurus itu berteriak kesakitan.

Namun tidak ada yang mendengar suaranya, karena mereka berada di tempat yang sepi. Jauh dari pemukiman.

Total lebih dari satu jam Alvian memberikan 'pelajaran'. Bram sudah tidak kuat dan pingsan sejak setengah jam yang lalu, tetapi Alvian tidak berhenti menggerakkan scalpel-nya mengukir jejak di tubuh pria itu.

Setiap gerakan memiliki presisi yang tinggi. Terlihat sangat parah, tetapi sama sekali tidak akan membuatnya meninggal.

Sentuhan akhir, Alvian menggunakan bagian belakang scalpel-nya, memukul tengkuk kepala. Membuat tubuh Bram langsung tengkurap di lantai plester.

"Satu hal yang tidak seharusnya kau lakukan, adalah mengancam wanitaku."

Alvian berdiri. Bersihkan scalpel gunakan alkohol. Tak lupa menghapus sidik jari di botol gunakan tisu, lalu menyimpan tisu itu di saku. Sarung tangan lepas juga lepas, masukkan plastik, lalu masuk saku lainnya.

"Kantor polisi? Gudang terbengkalai bekas pabrik tekstil. Datang segera, ada buronan yang mabuk, membawa sajam."

Setelah menghubungi polisi Alvian tidak langsung pergi, melainkan berdiri di depan Bram. "Kau cukup beruntung bertemu denganku yang sekarang. Jika itu dulu, bahkan mayatmu tidak akan tersisa sampai tulang-tulangnya."

---

Jam 03.15 WIB polisi sampai di TKP. Mereka mengepung gudang dengan banyak anggota, akhirnya menemukan Bram yang masih dalam keadaan lemah di lantai dua.

Nafasnya memburu, kaki dan tangan tidak bisa bergerak.

"Pastikan identitas." Kapten polisi memberikan perintah.

Seorang polisi muda kemudian membuka iPad dan menunjukkan sebuah profil kepada kapten.

"Dia memang buron, Kapten. Apa kita akan membawanya?"

Kapten polisi tidak langsung menjawab dan malah fokus memperhatikan keadaan Bram. "Bagaimana dia berakhir seperti ini? Siapa yang melakukannya?"

Beberapa polisi datang dan melapor. "Kapten dari penyelidikan tidak ada CCTV satu pun di wilayah ini. Tidak ada jejak. Tidak ada petunjuk."

Dokter forensik polisi memeriksa Bram. Tetapi ekspresi mereka seakan tidak percaya dengan luka-luka di tubuh pria itu. "Lukanya... aneh, Pak. Yang di leher, tidak fatal, tapi kalau meleset 2 mm saja, arteri karotis akan putus. Mati. Yang di paha, kena femoral nerve branch. Lumpuh sementara. Saya menduga pelakunya adalah dokter bedah. Atau paling buruk, dia pembunuh bayaran yang kuliah kedokteran."

Komandan menyatukan dua alisnya. "Vigilante?"

"Mungkin, Pak. Karena dari lukanya orang ini sama sekali tidak punya niat untuk membunuh. Cuma beri pesan."

"..."

---

Di sisi lain, Alvian yang baru sampai rumah langsung masuk lewat belakang. Lepas sepatu, cuci tangan 3x dengan sabun dan betadine. Scalpel direndam alkohol, simpan di kotak P3K lagi. Hoodie masuk mesin cuci, putar lalu langsung keringkan.

Dia ke wastafel. Ada plester kecil di tangannya yang tergores saat membawa Bram dari tempat karaoke. Menatapnya sekilas, balik ke kamar, lalu tidur.

---

Jam setengah tujuh, Clarissa bangun seperti biasa lalu turun ke lantai satu. Dia melihat Alvian sudah berada di dapur, membuat sarapan.

Beberapa waktu terakhir pemandangan ini sudah menjadi hal biasa di rumah ketika pagi. Sikap Clarissa juga perlahan mulai menerimanya meski sebatas sarapan bersama.

"Aneh. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda."

Clarissa berhenti di tangga. Matanya semakin fokus menatap Alvian, seolah berusaha mencari tahu sesuatu.

"Istri, sudah bangun?"

Alvian menyapa. Clarissa mengalihkan pandangannya dan turun ke meja makan.

"Hari ini masak apa?"

"Hari ini kusus masak favorit Istri. Sop jamur daging kambing muda." Alvian menata sop yang sudah matang ke meja. Dia juga mengambilkan piring, dan sendok untuk Clarissa.

Namun perhatian Clarissa tanpa sadar fokus pada plester di tangan Alvian. Memperhatikan cukup lama.

"Tangan kamu kenapa?" tanyanya.

Alvian terkejut. Tapi terkejut seperti dibuat-buat. "Oh ini? Tadi tergores saat potong daging."

Clarissa diam masih menatap plester. Seolah sulit percaya jika Alvian bisa terluka karena pisau dapur.

Pada saat yang sama, Clarissa dapat kiriman dari Pak Dimas yang bilang Bram telah ditangkap di sebuah gedung terbengkalai bekas pabrik tekstil dalam kondisi lemas, dan luka-luka.

Clarissa baca pesan itu dua kali, kemudian cepat-cepat menyalakan televisi, melihat berita terkini.

Sama persis seperti yang dibilang Pak Dimas, berita juga melaporkan penangkapan Bram yang terjadi di gudang terbengkalai. Selain itu, dari keterangan polisi menjelaskan tentang dugaan kemunculan Vigilante Bertangan Dokter. Pelaku sebenarnya yang melumpuhkan Bram sehingga dapat ditangkap dengan mudah.

Ekspresi Clarissa terlihat rumit. Diam-diam melirik Alvian untuk mengetahui reaksinya, tetapi Alvian terlihat sangat tenang dan terkesan cuek seolah itu bukan urusannya.

"..."

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!