NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria Asing

Hana menyusuri jalan sepulang bekerja, ia ingin mengajak Salsa untuk bertemu, namun sahabatnya itu tak mengangkat teleponnya.

Ia memutuskan untuk duduk di taman usai membeli makanan.

Sesekali ia memandang ke arah beberapa pasangan yang sedang berkencan di taman, juga ada beberapa keluarga yang terlihat asyik bersenda gurau.

Rasa bahagia mereka seolah menular kepada Hana, gadis itu tanpa sadar tersenyum sembari menatap mereka.

"Hana? Kau Hana, kan?"

Suara asing yang memanggilnya membuat Hana menoleh.

Seorang pria muda mengenakan kemeja putih dengan tas selempang, seperti baru pulang dari bekerja.

Senyum cerah terlukis di bibirnya menyapa Hana yang duduk termenung seorang diri.

"Kak Ares?"

"Ternyata benar, ini kau."

Kedua manik Hana berbinar ketika bertemu dengan teman dari kotanya.

"Apa kabar, Kak?"

"Aku baik, kau bagaimana?"

"Seperti yang Kakak lihat."

"Apa yang kau lakukan di sini? Sedang menunggu seseorang?"

"Tidak, aku hanya menghirup udara segar."

"Kau sendiri?"

"Ya, apa kakak baru pulang bekerja?"

"Ya. Aku bekerja di kantor itu."

Hana memandang gedung yang ditunjuk oleh Ares. Ia tahu gedung itu adalah kantor pemasaran.

"Kau bekerja di mana, Na?"

"Di perusahaan real estate. Sebagai cleaning service."

"Oh, apa itu pekerjaanmu dari awal kau kemari?"

"Ya, itu pekerjaan pertamaku sampai sekarang."

Mereka mengobrol beberapa topik saat mereka terpisah.

Diketahui, Ares adalah tetangganya di kampung, pria itu sering menolongnya saat Hana dibully oleh teman-teman sebaya akibat hasutan Irza, adiknya.

Saat Hana masuk sekolah SMA, Ares pergi merantau setelah menyelesaikan kuliahnya di kota tersebut. Dan mereka terpisah hingga baru bertemu sekarang.

"Apa yang kau buat?" Luca menghampiri Hana yang terlihat sibuk membuat sesuatu.

"Ah, tuan. Saya membuat camilan untuk menonton tv."

"Apa itu enak?"

Hana mengangguk pelan sembari mengaduk adonan.

"Aku ingin mencobanya."

"Baik, tuan."

Luca beranjak meninggalkan Hana yang melanjutkan kegiatannya.

Waktu sudah hampir tengah malam, Hana yang masih menonton tv belum merasa mengantuk, sedangkan Luca sudah masuk ke dalam kamar sejak pukul 9 malam.

Kedua netra coklat itu semakin basah menatap layar televisi, ia terisak pelan.

Hatinya terasa sakit, ia tiba-tiba merindukan ibunya yang telah tiada, dirinya hanya memeluk diri sendiri sembari menenangkan hati yang menjerit rindu.

Setelah beberapa menit meluapkan semua rasa, ia beranjak menuju kamar mandi yang berada di sisi dapur, Hana mencuci wajahnya agar merasa segar lalu masuk ke dalam kamarnya setelah merapikan ruang tengah.

"Tuan, saya ingin mengambil cuti di kantor." Hana mengeluarkan suaranya setelah sekian lama hening di meja makan.

Luca sekilas melirik wajah Hana yang sembab, ia bahkan menerka apa yang terjadi pada perempuan ini, padahal semalam mereka bersama walaupun Luca lebih dulu pergi tidur.

"Kau akan ke mana?"

"Berlibur."

"Ya, apa kau sudah merencanakan liburanmu?"

"Ya, tuan."

"Ke mana?"

"Ya?" Hana bingung ketika Luca sangat ingin tahu rencananya.

"Aku hanya memastikan pekerjaku menggunakan cutinya dengan 'benar-benar liburan', bukan sesuatu yang dapat merugikanku di masa depan."

Hana memandang pria yang sibuk dengan sarapannya, bahkan saat berbicara hanya melirik sekilas ke arahnya.

"Saya ingin ke makam ibu."

"Pulang kampung?"

"Ya, tuan."

"Apa itu liburanmu?"

Hana diam, kenapa majikannya ini terlalu ikut campur.

"Kenapa?"

"Hana."

Kelopak mata tersebut mengerjap.

"Ya?"

"Kenapa kau pagi ini banyak melamun?" Luca meletakkan sendoknya dan menatap Hana dengan lekat.

"Aku sedang berbicara denganmu."

"Maaf, saya sedikit pusing."

"Kau sakit? Apa itu sebabnya kau menangis?"

"Ya, tuan." Hana mengangguk.

Menurutnya, dengan mengiyakan prasangka pria ini ia tak akan kesulitan menjelaskan sebab bentuk wajahnya pagi ini.

"Aku pergi, kau tidak perlu memaksa bekerja. Aku bermurah hati dari pada terdengar gosip di luar sana tentang citra burukku."

"Astaga, benar-benar pria itu." Gerutu Hana ketika pandangannya mengikuti langkah pria itu menuju pintu apartemen.

Tanpa pria itu sadari, citranya sudah jelek di mata para karyawannya.

Hana hampir seharian berbaring di kamar, kepalanya sedikit sakit akibat ia menangis semalam.

Dirinya memilih mandi lalu pergi keluar untuk menghirup udara segar.

Langkahnya terayun ringan menuju kedai es krim yang tak jauh dari apartemen di mana ia tinggal.

"Ya ampun, padahal aku sudah lama ingin es krim itu."

Hana melihat kedai es krim yang ia tuju sedang tutup. Ia tak kehabisan akal, dirinya melanjutkan langkah mencari kedai yang lain.

"Hana!"

Ia menoleh ketika mendengar namanya dipanggil dari kejauhan.

"Kak Ares." Hana menunggu pria yang berlari ke arahnya dengan senyuman cerah.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku sedang mencari kedai es krim, Kak."

"Kedai eskrim? Kau ingin es krim?"

"Tentu saja."

"Ayo, aku tahu di mana tempat es krim yang enak."

Ares menggandeng tangan Hana menuju tempat yang ia tahu. Perempuan itu hanya menurut.

"Apa Kakak tidak bekerja?"

"Aku sedang longgar, kebetulan aku ingin bersantai sambil menunggu waktu bekerjaku kembali."

Hana mengangguk paham.

"Itu, di sana!"

Mereka berjalan dengan terburu-buru karena cuaca yang mendadak panas.

Mereka memesan es krim favorite dan memilih meja yang tak jauh dari pintu masuk.

Kedai kecil yang berada di dalam gang kecil di tengah kota tersibuk, namun tak menutupi ketenaran kedai tersebut yang tak sepi dari pembeli.

Beberapa pembeli memilih bersantai di kedai, beberapa yang lain memilih take away.

"Kak Ares tahu dari mana kedai ini?"

"Dari mantan pacarku."

Senyum pria itu tak luntur dari bibirnya, lesung pipi yang terlihat jelas ketika Ares berbicara menambah kesan hangat kepribadiannya.

"Oh begitu."

Kedua netra Hana sibuk menelusuri desain kedai yang menurutnya lucu dan girly dengan cat berwarna kalem.

"Kami sering ke mari tiap akhir pekan. Awalnya kami pun sepertimu, tak tahu tempat ini."

Tangan pria itu mengaduk-aduk es krim yang berada di mangkuk kecilnya.

"Namun, saat hujan yang turun tiba-tiba. Kami tak tahu arah berlari hingga berteduh di depan kedai ini."

Hana diam mendengarkan pria yang sedang mengenang kisah cintanya.

"Na?" Ares menyentuh punggung tangan Hana yang berada di atas meja.

"Ya?" Hana perlahan menarik tangannya tanpa membuat Ares tersinggung.

"Kau punya pacar?" Hana menggeleng.

"Kau belum pernah pacaran?"

Sekali lagi perempuan itu menunduk lalu menggeleng pelan.

"Kenapa? Kau cantik, Na."

Hana menegakkan wajahnya menatap Ares yang menatapnya.

"Apa punya pacar itu penting, Kak?"

"Bagi sebagian orang penting."

"Artinya aku bagian dari yang lain."

"Kau bahagia sendiri?"

"Kenapa, Kak? Apa aku terlihat menyedihkan?"

"Oh, tidak. Bukan itu maksudku, Na. Aku hanya memastikan kau bahagia dengan atau tanpa kekasih."

"Bagiku hidup dengan uang lebih menjamin kebahagiaan, Kak."

Ares sontak tergelak, Hana sejenak terpana dengan tawa yang telah lama ia lupakan.

"Benar apa katamu."

"Kurasa waktu bekerjaku sebentar lagi, kita berpisah di sini."

"Baik, terima kasih sudah memberitahu kedai ini, Kak."

"Ya, ya. Aku pergi dulu. Ini aku yang akan membayarnya. Bye, Hana!"

"Bye! Terima kasih, Kak! Hati-hati di jalan."

Ares hanya melambaikan tangannya.

Hana menatap kepergian pria yang berlari meninggalkan dirinya di kedai es krim.

Hana tetap melanjutkan menikmati hari ini dengan bersantai di beberapa tempat. Ia tak akan membuang percuma sisa hari liburnya yang langka ia dapatkan.

"Apa kau bersama teman?"

"Ya?"

Hana menatap sekeliling memastikan pria blonde yang berdiri di depannya ini sedang berbicara dengannya.

"Ya, Kau."

"Tidak. Ada apa?"

"Ah, tidak. Aku boleh duduk di sini?"

Hana diam sejenak menelisik pria yang terlihat tampan namun masih muda.

"Aku ingin berkenalan denganmu."

"Aku Sergio."

Pria tersebut menjulurkan sebelah tangan, Hana menyalaminya dengan ragu dan cepat.

"Hana."

"Hana? Nama yang indah. Aku suka."

Tanpa izin Hana pria tersebut menarik kursi di depannya lalu duduk.

"Aku memperhatikanmu sejak kau datang bersama kekasihmu." Sergio menunjuk meja yang di sisi kasir, tempat yang agak tersembunyi.

"Ada yang bisa kubantu?"

"Mengobrol denganmu."

"Kau cukup berani mengobrol dengan kekasih orang."

Sergio terkekeh pelan.

"Kulihat interaksi kalian berdua tak romantis. Apa kalian hanya teman?"

"Itu privacy."

"Okay. Aku hanya ingin tahu dirimu. Boleh minta nomor telepon?"

"Apa kau buronan?"

"Apa?"

"Kau mendengarku."

"Kenapa kau bertanya itu? Apa wajahku, penampilanku seperti buronan?"

Hana mengedikkan bahu.

"Jika aku tahu tak akan ku bertanya padamu."

"Wah, kau cukup berani." Sergio tertawa kecil, ia semakin tertarik dengan Hana.

"Bagaimana?" Sergio menjulurkan ponselnya.

"Aku tak membawa ponsel?"

"Aku tak percaya."

Hana segera memperlihatkan isi tasnya yang hanya terdapat tisu, parfum, dompet dan cermin kecil.

"Baiklah. Kenapa kau tak membawa barang penting?"

"Aku membawanya." Hana mengambil dompetnya.

"Ponsel."

"Itu bukan barang penting."

"Astaga." Sergio lagi-lagi tertawa.

"Baiklah, kau bisa menyimpan nomorku." Sergio memberikan kartu namanya pada Hana.

"Aku tak memintanya."

"Suatu saat kau akan membutuhkanku."

Kerlingan Sergio membuat Hana risih.

"Aku pergi dulu, waktuku sudah terlewat jauh. Sampai jumpa."

"Kita takkan bertemu lagi."

"Aku juga senang berkenalan denganmu, Hana."

Sergio tersenyum sebelum akhirnya beranjak meninggalkan Hana yang masih bingung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!