NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 23: "Jejak Sang Khalifah dan Gerimis di Gerbang Pesantren"

​Langit Kediri pagi ini tampak sedikit mendung, seolah-olah memberikan tirai pelindung dari sengatan matahari bagi para santri yang sedang melakukan kerja bakti. Shania berdiri di depan cermin, merapikan letak cadarnya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka memenuhi undangan Kyai sepuh di pesantren tetangga. Ada sedikit rasa gugup yang menyelip di hatinya. Menjadi istri Ustadz Zain berarti ia harus siap berdiri di samping pria yang sangat dihormati, sementara ia sendiri merasa masih banyak "noda" masa lalu dan ketidaktahuan yang menempel.

​Zain masuk ke kamar, sudah rapi dengan jas berwarna gelap yang dipadukan dengan sarung sutra bermotif minimalis. Ia berdiri di belakang Shania, menatap bayangan istrinya di cermin.

​"Gugup?" tanya Zain singkat, seolah bisa membaca pikiran Shania.

​Shania berbalik, jemarinya sedikit gemetar saat merapikan kancing lengan baju Zain.

"Sedikit, Mas. Aku, takut nanti di sana ditanya-tanya soal kitab oleh, Ibu Nyai. Bagaimana kalau aku memalukan, Mas Zain?"

​Zain meraih tangan Shania, menggenggamnya erat.

"Ilmu itu bukan untuk dipamerkan, Shania. Ilmu itu untuk menghiasi akhlak. Kalau kamu bersikap sopan, jujur, dan rendah hati, itu sudah menunjukkan bahwa kamu adalah wanita yang berilmu. Lagipula, kuis kita semalam soal Umar bin Khattab... kamu sudah belajar?"

​Shania menghela napas, mencoba mencairkan ketegangan.

"Sudah! Aku, sampai begadang baca sejarah beliau. Ternyata benar kata Mas, beliau itu 'liar' sebelum masuk Islam, tapi setelahnya... Masya Allah, jadi singa Allah yang paling ditakuti syaitan."

​Zain tersenyum puas.

"Bagus. Kalau begitu, kuis singkat sebelum kita berangkat. Sambil jalan ke depan."

"​Pelajaran Tentang Ketegasan dan Kelembutan"

​Mereka berjalan menyusuri selasar Ndalem. Beberapa santri yang sedang menyapu jalan langsung menepi dan menunduk saat melihat sang Ustadz lewat.

​"Pertanyaan pertama," Zain memulai kuisnya dengan nada berwibawa namun tetap santai.

"Umar bin Khattab dijuluki Al-Faruq. Apa artinya?"

​Shania menjawab dengan mantap,

"Sang pembeda. Karena beliau adalah orang yang secara terang-terangan membedakan mana yang benar dan mana yang batil, sampai-sampai syaitan saja takut lewat jalan yang sama dengan beliau!"

​Zain mengangguk.

"Bagus. Sebelum masuk Islam, ke mana Umar hendak pergi saat ia membawa pedang di tangannya?"

Shania terdiam sejenak, menggali ingatan dari buku yang ia baca semalam.

"Dia... dia mau membunuh Rasulullah! Tapi di tengah jalan ketemu seseorang yang bilang kalau adiknya sendiri, Fatimah, sudah masuk Islam."

"Dan surah apa yang dibaca Umar di rumah adiknya yang langsung meruntuhkan hatinya yang sekeras batu?"

​"Surah Thaha ayat satu sampai delapan."

Shania menjawab dengan nada bangga.

"Aku, ingat karena Mas pernah bilang, sekeras apapun hati seseorang, Al-Qur'an punya cara untuk melunakkannya. Seperti Mas melunakkan hatiku yang dulu... yah, Mas tahu sendiri."

"Benar. Lalu, ingatkah kamu kisah beliau yang berkeliling di malam hari, lalu menemukan sebuah keluarga yang kelaparan sementara ibunya memasak batu di dalam panci?"

​Suara Shania melirih, ia teringat bagian yang membuatnya menangis semalam.

"Iya, Mas. Umar, langsung lari ke baitul mal, mengangkut sendiri karung gandum di punggungnya. Saat pengawalnya mau membantu, Umar bilang, 'Apakah kamu mau memikul dosaku di hari kiamat nanti?'. Beliau memimpin dengan rasa takut kepada Allah, bukan rasa haus akan kekuasaan."

​Zain berhenti melangkah tepat di bawah pohon beringin besar dekat gerbang. Ia menatap Shania dengan dalam.

​"Itulah esensi dari 'liar' yang terarah, Shania. Umar bin Khattab, punya karakter yang keras, tegas, dan tak kenal takut. Tapi setelah mengenal Islam, kekerasannya berubah menjadi ketegasan untuk melindungi yang lemah. Keberaniannya berubah menjadi ketaatan yang mutlak. Saya, tidak ingin kamu menghilangkan sifat beranimu, sifat ceriamu, atau sifat kritismu. Saya, hanya ingin kamu mencontoh Umar; jadikan sifat itu sebagai perisai untuk kebenaran, bukan untuk menuruti ego semata."

​Shania tertegun. Ia merasa setiap kata-kata Zain adalah pupuk yang menyirami hatinya yang haus akan arah.

"Jadi, Mas tidak keberatan kalau aku tetap jadi Shania yang cerewet?"

​"Cerewetlah dalam hal yang baik. Proteslah jika saya melakukan kesalahan. Karena itulah gunanya istri, menjadi pengingat bagi suaminya. Umar, pun pernah diingatkan oleh seorang wanita soal mahar di dalam masjid, dan beliau mengaku salah di depan umum. Pemimpin besar saja mau mendengar wanita, apalagi saya yang hanya ustadz biasa di Kediri ini."

​Shania tersenyum di balik cadarnya. Rasa gugupnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa bangga yang sehat.

"​Pertemuan di Pesantren Tetangga"

​Perjalanan menuju Pesantren Al-Hidayah ditempuh dalam waktu tiga puluh menit. Sepanjang jalan, Shania banyak bertanya tentang bagaimana ia harus bersikap di depan Kyai Hamdan, sang tuan rumah.

​Sesampainya di sana, mereka disambut dengan hangat. Zain langsung digiring menuju ruang tamu utama bersama para ustadz dan Kyai, sementara Shania diantar oleh seorang santriwati menuju kediaman Nyai Maryam, istri Kyai Hamdan.

​Di dalam ruangan yang harum aroma kayu gaharu itu, beberapa Nyai dan ibu-ibu pengurus pesantren sudah duduk melingkar. Shania merasa seperti sebutir debu di antara permata. Mereka tampak begitu anggun dengan pembicaraan yang kental dengan istilah bahasa Arab.

​"Oh, ini istrinya, Ustadz Zain?" tanya Nyai Maryam dengan suara lembut namun berwibawa.

​Shania mencium tangan Nyai Maryam dengan takzim.

"Inggih, Nyai. Nama saya Shania."

​"Ustadz Zain, banyak bercerita. Katanya, istrinya ini sangat bersemangat belajar. Benar begitu?"

​Shania melirik sekilas ke arah para Nyai lainnya.

"Saya, masih belajar alif-alifan, Nyai. Masih sering merepotkan Mas Zain dengan pertanyaan-pertanyaan aneh."

​Para Nyai tertawa kecil, suasana yang tadinya kaku menjadi sedikit mencair. Nyai Maryam kemudian bertanya tentang perkembangan hafalan Shania. Saat Shania menyebutkan ia baru saja menghafal Surah Maryam, Nyai Maryam tampak terkesan.

​"Surah Maryam itu tentang keajaiban dan keteguhan hati. Nak Shania tahu, wanita itu tiang negara. Kalau wanitanya kuat, negaranya kuat. Jangan pernah merasa rendah diri karena baru belajar. Bahkan Umar bin Khattab pun butuh waktu untuk menjadi Al-Faruq."

​Mendengar nama Umar bin Khattab disebut, Shania merasa seolah mendapat energi tambahan. Ia teringat diskusi singkatnya dengan Zain di bawah pohon beringin tadi pagi. Ia pun mulai memberanikan diri untuk ikut dalam obrolan, meskipun lebih banyak mendengarkan dan bertanya dengan sopan. Ternyata, para Nyai ini tidaklah "seram" seperti yang ia bayangkan. Mereka adalah wanita-wanita cerdas yang memiliki pandangan luas namun tetap bersahaja.

"​Gerimis dan Pulang ke Pelukan"

​Acara selesai saat ashar menjelang. Gerimis mulai turun membasahi bumi Kediri saat Zain dan Shania berpamitan. Di depan mobil, Zain membukakan pintu untuk Shania, sebuah gestur sederhana yang membuat para santriwati di sana berbisik-bisik iri.

​Di dalam mobil, suasana terasa hangat meski di luar hujan semakin deras.

​"Bagaimana? Tidak ada kiamat di dalam sana kan?" goda Zain sambil menyetir pelan.

​Shania tertawa riang, ia melepas cadarnya sejenak karena kaca mobil sudah tertutup rapat.

"Ternyata asyik, Mas! Nyai Maryam, baik sekali. Beliau bilang aku tidak boleh minder. Dan tadi aku sempat cerita sedikit tentang Umar bin Khattab, beliau kaget aku tahu banyak soal sejarah itu."

​Zain mengusap kepala Shania dengan tangan kirinya saat mobil berhenti di lampu merah.

"Sudah saya bilang, ilmu itu perhiasan. Sekarang kamu sudah siap untuk hadiah kuis yang saya janjikan semalam?"

​Wajah Shania kembali memerah. Ia ingat bisikan Zain semalam di teras.

"Mas! Tadi kan kuisnya soal Umar bin Khattab, kenapa hadiahnya masih soal itu?"

Zain terkekeh rendah, suara yang selalu berhasil membuat perut Shania terasa seperti dikerumuni ribuan kupu-kupu. Ia menepikan mobil sejenak di bahu jalan yang sepi, lalu menoleh sepenuhnya ke arah sang istri.

"Lho, justru itu hadiah yang paling nyunnah dan berfaedah. Kamu, ingat tidak, apa yang dilakukan Umar bin Khattab untuk mendinginkan kepalanya dan menghibur keluarganya?"

​Shania mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat.

"Beliau... sangat menyayangi keluarganya?"

​"Lebih spesifik lagi. Umar, itu meski perkasa di medan perang, beliau adalah suami yang sangat romantis dan sabar di rumah. Beliau pernah bilang bahwa seorang pria harus menjadi seperti anak kecil (manja dan menyenangkan) di depan istrinya, tapi tetap menjadi laki-laki sejati di luar rumah."

​Zain sengaja menggantung kalimatnya, membuat Shania semakin penasaran sekaligus tersipu.

​"Jadi, hadiahnya adalah... Mas mau minta 'hak' Mas agar bisa bermanja-manja seperti anak kecil di depan istrinya malam ini? Sesuai bisikan semalam?" tanya Shania dengan suara yang nyaris hilang karena malu.

​Zain mengangguk pelan. Tangan kirinya mengusap lembut tangan Shania yang ada di pangkuan gadis itu.

​"Kamu, lulus ujian sejarah hari ini. Artinya, kamu sudah paham kan kalau singa Allah saja bisa luluh di depan istrinya, apalagi saya yang cuma singa pondok ini?"

"Umar bin Khattab, bukan hanya soal ketegasan, Shania," ucap Zain dengan nada yang mendalam.

"Beliau juga soal keberlangsungan. Beliau sangat peduli pada generasi setelahnya—generasi yang akan memikul beban dakwah dan menjaga nilai-nilai kebenaran."

​Zain meraih jemari Shania, menggenggamnya dengan penuh kesungguhan.

​"Kenapa saya meminta 'Zain Junior' sebagai hadiah kuis sejarah ini? Karena saya ingin anak-anak kita nanti memiliki ketegasan dan keberanian seperti Al-Faruq, namun tetap memiliki hati yang lembut dan ceria seperti Ibunya. Saya, ingin ada jejak kita yang terus hidup, yang nantinya akan berlarian di koridor pesantren, menghafal ayat-ayat-Nya, dan menjadi pembela agama seperti singa padang pasir itu."

​Mata Zain berbinar penuh harap, sebuah sisi yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

​"Mempelajari sejarah itu bukan hanya untuk mengenang masa lalu, Sayang. Tapi untuk membangun masa depan. Dan bagi saya, masa depan itu dimulai dari niat kita malam ini. Bagaimana? Masih mau protes soal korelasi antara Umar bin Khattab dan 'Zain Junior'?"

​Shania hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tak mampu lagi membalas argumen suaminya yang begitu rapi. Di balik cadarnya yang sudah ia pasang kembali, ia tersenyum tipis. Benar kata Zain, pria ini memang ahli dalam menaklukkan logikanya, sekaligus memenangkan hatinya.

​"Dasar... Mas Zain pinter banget cari celah," gumam Shania pelan, hampir tak terdengar.

​"Jadi, setuju?"

​Shania mengangguk pelan, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat senyum kemenangan terukir di wajah sang Ustadz.

​"Setuju, Mas. Asal... martabaknya tetap harus beli ya!"

​Hujan semakin deras, membasahi jalanan yang membelah persawahan. Di dalam mobil itu, di sela-sela suara wiper yang beradu dengan kaca, Shania menyadari satu hal. Ia mungkin belum menjadi "wanita saleha" yang sempurna menurut kitab-kitab tua, tapi ia sedang menuju ke sana, digandeng oleh seorang pria yang mencintainya bukan karena siapa dia di masa lalu, tapi karena siapa dia yang ingin berjuang di masa depan.

​"Mas Zain," panggil Shania.

​"Iya, Dek?"

​"Terima kasih ya."

​"Untuk apa?"

​"Untuk tidak mematahkan sayapku, tapi justru mengajariku cara terbang yang benar."

​Zain tersenyum, ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan genggaman tangan yang semakin erat.

Di bawah langit Kediri yang kelabu, cinta mereka justru bersinar lebih terang, sehangat doa yang dipanjatkan di sepertiga malam.

​Bersambung ....

1
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!