Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Apartemen baru Isvara terletak di lantai tiga puluh sembilan sebuah gedung pencakar langit yang hanya dihuni oleh segelintir orang terpilih. Di sini, tidak ada suara bising klakson Jakarta, hanya ada kesunyian yang mewah dan pemandangan kerlip lampu kota yang terlihat seperti hamparan permata dari balik kaca besar. Kamar utama apartemen itu didesain dengan konsep minimalis maskulin dominasi warna abu-abu arang dan marmer hitam, mencerminkan selera Isvara yang dingin dan tak tersentuh.
Isvara menyandarkan tubuhnya yang masih terasa rapuh di atas ranjang king size dengan sprei sutra. Selang infus sudah dilepas, namun bekas tusukan jarum di punggung tangannya masih terlihat membiru, kontras dengan kulitnya yang seputih porselen. Baru saja ia berniat memejamkan mata untuk mencari sedikit kedamaian, ponsel hitam yang tadi ia aktifkan kembali bergetar hebat di atas nakas.
Layar ponsel itu menampilkan satu nama yang saat ini paling ingin ia hindari: Adrian Kalandra Prayudha.
Isvara menarik napas panjang, membiarkan ponsel itu bergetar hingga lima kali sebelum akhirnya ia menggeser tombol hijau. Ia tidak bersuara, hanya menempelkan benda tipis itu ke telinganya, menunggu badai yang ia tahu akan segera datang.
"BERANI-BERANINYA KAMU MENGHILANG, ISVARA!" suara Andra meledak dari seberang sana, begitu keras hingga Isvara harus menjauhkan ponselnya beberapa inci. "Satu minggu! Kamu menghilang satu minggu tanpa kabar setelah drama pingsan di depan para investor itu! Kamu pikir ini panggung sandiwara tempat kamu bisa datang dan pergi sesuka hati?"
Isvara masih tetap diam, mendengarkan setiap cacian yang keluar dari mulut suaminya. Ia bisa menangkap nada suara Andra yang tidak stabil ada kemarahan, frustrasi, dan sesuatu yang tersembunyi di balik ledakan itu. Isvara tahu, Andra mungkin ingin memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati, namun gengsi pria itu setinggi gedung pusat Prayudha Group, sehingga perhatiannya selalu terbungkus dalam bentuk amarah.
"Semua pekerjaan yang seharusnya kamu pegang sendiri, kenapa kamu limpahkan ke dua asistenmu yang tidak tahu sopan santun itu?" lanjut Andra dengan nada yang semakin meninggi. "Sinta dan Rima bergantian masuk ke ruangan saya seolah-olah mereka yang punya perusahaan! Dimana tanggung jawab kamu sebagai kepala proyek?."
Setelah Andra berhenti sejenak untuk mengambil napas, Isvara akhirnya bersuara. Suaranya sangat tenang, nyaris datar, kontras dengan emosi Andra yang meluap-luap.
"Sudah selesai meledak-ledaknya, Adrian?" tanya Isvara pendek.
"Jangan menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan, Isvara!"
"Saya hanya ingin bertanya satu hal," Isvara memotong dengan tegas. "Apakah ada yang tidak puas dengan hasil yang dipaparkan oleh Rima dan Sinta selama seminggu ini? Apakah ada data yang meleset? Apakah ada vendor yang komplain? Semua hasil yang mereka sampaikan adalah instruksi langsung dari saya. Mereka hanya menyampaikannya saja karena kondisi saya sedang tidak memungkinkan untuk berdiri di depan orang-orang yang hanya ingin melihat saya jatuh."
Andra terdiam sesaat di seberang sana, teringat bagaimana sempurna dan tajamnya presentasi Sinta tadi siang, meski tanpa nyawa Isvara di dalamnya.
"Lalu untuk apa kamu marah-marah sekarang?" lanjut Isvara. "Jika pekerjaan selesai dengan baik, bukankah itu tujuan utamanya? Atau kamu marah karena kehilangan sasaran untuk kamu intimidasi di ruang rapat?"
"Di mana kamu sekarang?" tanya Andra tiba-tiba, suaranya berubah menjadi rendah dan menuntut. "Saya sudah mengecek ke rumah sakit, ke apartemen lama kamu, bahkan ke panti asuhan tempat kamu dulu berasal. Tidak ada jejak. Di mana kamu bersembunyi?"
"Tidak usah tahu dan jangan terlalu penasaran dengan kehidupan saya, Adrian," jawab Isvara dingin. "Bukankah tujuan hidup kamu dan keluarga kamu saat ini adalah membuat saya hancur? Jadi nikmati saja apa yang seharusnya kamu lihat. Bukankah kehancuran saya adalah kemenangan bagi kamu?"
"Jangan bicara omong kosong!" bentak Andra. "Mau bagaimana pun, saya ini suami kamu secara sah, Isvara! Kamu punya kewajiban untuk melapor kepada saya! Dan satu hal lagi... kasih tahu dua asisten kamu yang lancang itu untuk menjaga mulut mereka. Sinta berani menantang saya di kantor saya sendiri!"
Isvara memberikan senyum tipis yang tak terlihat oleh Andra. Ia teringat laporan Sinta tentang bagaimana asistennya itu memberikan 'ultimatum' kepada Andra tadi siang.
"Rima dan Sinta itu jauh lebih penting di kehidupan saya daripada gelar seorang suami yang tersemat di nama Anda, Adrian," ucap Isvara dengan nada yang sangat menohok. "Mereka ada di sana saat saya bertaruh nyawa, sementara Anda hanya peduli pada saham dan citra keluarga. Jadi jangan harap saya akan menegur mereka karena telah melindungi saya dari orang asing seperti Anda."
"ISVARA—!"
Klik.
Isvara langsung memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak sebelum Andra sempat membalas. Ia mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali ke nakas, lalu memejamkan mata dengan napas yang terasa berat.
Di sisi lain kota, di dalam ruang kerjanya yang mewah, Andra menatap ponselnya dengan wajah yang mengeras. Tangannya gemetar karena menahan amarah yang luar biasa. Berani-beraninya Isvara menutup telepon saat dia belum selesai bicara? Dan apa tadi katanya? Dua asisten itu lebih penting daripadanya?.
Andra membanting ponselnya ke atas sofa kulit. Ia merasa kesal, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa hampa yang tidak bisa ia jelaskan. Malam ini, entah kenapa, suasana rumah terasa begitu dingin dan sepi tanpa kehadiran Isvara yang biasanya ia benci. Ia merindukan perdebatan tajam mereka, ia merindukan aroma lili yang tertinggal saat Isvara berjalan melewatinya.
"Kita lihat saja besok pagi," gumam Andra pada kegelapan ruangannya. "Kamu pasti akan datang ke kantor untuk membereskan kekacauan ini, Isvara. Dan saat itu terjadi, saya tidak akan membiarkan kamu pergi lagi tanpa penjelasan."
Andra memiliki harapan besar bahwa besok pagi, wanita berwajah pucat dengan mata elang itu sudah akan duduk di kursinya, siap untuk bertarung lagi. Namun, ia tidak tahu bahwa Isvara yang ia temui besok mungkin bukan lagi Isvara yang bisa ia kendalikan dengan kontrak pernikahan belaka.
Aku sesak Isvara...