Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Malam itu, waktu di dinding kamar sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit tepatnya. Jarum panjang dan jarum pendek pada jam antik itu bertemu tepat di angka dua belas dan enam, menandakan bahwa malam sudah semakin larut dan dunia luar sudah benar-benar memasuki waktu istirahat yang panjang.
Langit malam di luar jendela kaca besar yang membentang luas itu tampak begitu gelap pekat, hitam legam bagaikan hamparan kain beludru mahal yang sangat luas yang membentang tanpa ujung dan tanpa batas. Tidak ada satu pun awan yang terlihat, membuat pemandangan langit malam itu terlihat begitu bersih, begitu megah, dan sekaligus terasa begitu sunyi dan dingin.
Bertabur ribuan bintang yang berkelap-kelip, berkedip-kedip lemah seolah menyapa dunia dengan bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh hati, dan bulan purnama yang bersinar terang memancarkan cahaya keperakan yang lembut namun dingin, menerangi pekarangan rumah yang luas dan sunyi itu hingga terlihat jelas bayang-bayang pohon dan tanaman hias yang tertata rapi.
Suasana di dalam kamar tidur utama yang berukuran sangat luas itu terasa begitu hening, sangat sunyi, sampai-sampai suara detak jarum jam dinding antik yang tergantung di dinding sebelah barat terdengar sangat jelas dan nyaring memecah kebisuan.
Tik... tok... tik... tok... tik... tok...
Bunyinya berirama teratur dan pelan, seolah-olah jam itu ikut menghitung detak jantung dua manusia yang saat ini sedang berada di ruangan yang sama, namun saling menyembunyikan rasa gugup, rasa malu, dan rasa canggung yang begitu besar di dalam dada masing-masing. Setiap detak itu terdengar seperti menambah ketegangan yang melayang tipis di udara kamar itu.
Kamar tidur ini didesain dengan gaya modern minimalis yang sangat elegan dan mewah. semua perabotan yang ada di sana terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi yang pasti harganya sangat mahal, dipilih dengan selera yang tinggi dan rapi. Warna dominan di kamar ini adalah putih bersih, abu-abu gelap, dan sentuhan kayu cokelat muda yang memberikan kesan hangat namun tetap terlihat dingin dan serius, sangat sesuai dengan karakter pemiliknya yang dikenal sebagai pria yang dingin, tegas, dan berwibawa.
Di tengah ruangan yang luas itu, terdapat sebuah ranjang tidur berukuran super king size yang sangat besar, mungkin ukurannya dua kali lipat lebih besar dari ranjang biasa yang pernah Aira lihat sebelumnya di desa atau di rumah-rumah orang biasa. Kasurnya terlihat sangat empuk, sangat lembut, dan nyaman sekali, ditutupi dengan seprai berwarna putih bersih yang licin dan wangi, serta selimut tebal berwarna abu-abu gelap yang terlihat sangat menenangkan mata.
Namun, bagi Aira Maharani yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang itu, rasanya jantungnya mau copot saja rasanya.
Gadis itu duduk dengan posisi yang sangat sopan, kakinya disusun rapi ke samping dengan tertib, kedua tangannya yang lentik dan putih salju itu saling bertaut erat satu sama lain di atas pangkuannya, jari-jarinya bermain-main gugup, memilin-milin kain baju tidurnya sendiri karena tidak tahu harus meletakkan tangan di mana. Jari-jarinya yang mungil itu terlihat gemetar hebat, menandakan betapa gelisahnya hati gadis itu saat ini.
Wajahnya yang cantik, polos, dan berwajah bayi itu terlihat sedikit pucat pasi, pipinya merona merah padam menahan rasa malu yang luar biasa yang menyerbu seluruh hatinya saat ini. Matanya yang bulat dan indah itu terlihat berkaca-kaca sedikit karena gugup, bergerak ke kanan dan ke kiri tak tenang, sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi dengan rasa was-was yang tinggi, menanti sosok yang sebentar lagi akan keluar dan berada di ruangan yang sama dengannya.
Aira mengenakan baju tidur panjang berwarna soft blue atau biru muda yang longgar, bahannya terbuat dari katun yang sangat adem dan nyaman, modelnya sopan sekali, menutup seluruh tubuhnya dari leher sampai pergelangan kaki dengan sempurna, sangat menjaga auranya. Rambut hitam panjangnya yang lurus dan berkilau itu dibiarkan terurai lembut membalai bahu dan punggungnya, memberikan kesan yang sangat cantik alami, polos, namun juga terlihat sangat rapuh dan membutuhkan perlindungan.
"Hhuuuu..."
Aira menghela napas panjang dan berat sekali, dadanya terlihat naik turun dengan cepat karena detak jantungnya yang berpacu sangat kencang. Tangannya yang dingin itu mengusap dadanya sendiri perlahan, mencoba menenangkan organ di dalam tubuhnya yang seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
Dug... dug... dug... dug...
Jantungnya berdetak sangat kencang tak karuan, seolah-olah ada ribuan kuda yang sedang berlari kencang di dalam sana. Suhu tubuhnya terasa naik turun, kadang terasa panas sampai seluruh wajah dan lehernya, kadang terasa dingin hingga ujung jari tangannya terasa beku.
"Tenang Aira... tenang sayang... tarik napas panjang... buang pelan-pelan..." bisiknya pelan pada diri sendiri, suaranya bergetar hebat karena rasa takut dan malu yang bercampur menjadi satu menjadi perasaan yang sangat rumit. "Kamu kan sekarang sudah jadi istri sahnya mas Ekvano, kamu sudah halal, gak usah malu-malu banget kayak orang ketiga gini."
Ia mencoba menyemangati dirinya sendiri, mencoba menenangkan pikirannya yang sedang kacau balau ini. Tapi rasanya sungguh sangat sulit. sangat, sangat sulit.
"Tapi ya allah... gimana caranya ya? glGimana caranya bisa tenang kalau sebentar lagi aku bakal tidur sekamar, seranjang sama laki-laki asing yang sekarang berstatus sebagai suaminya?" batin Aira bertanya-tanya, matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Masih canggung banget rasanya, masih sungkan, takut salah ngomong, takut salah gerak, takut salah pandang."
Memang benar secara hukum agama dan negara, mereka sudah menjadi sepasang suami istri yang sah. Sudah terikat janji suci di depan penghulu, di depan saksi, dan di hadapan tuhan yang maha esa. Ikatan itu sudah terjalin kuat secara tertulis dan lisan. Namanya sudah tercatat satu di dalam buku nikah.
Tapi masih ada tembok tinggi dan tebal yang memisahkan keduanya saat ini. Masih ada jarak yang jauh di antara dua jiwa ini. Rasa canggung, rasa sungkan, rasa takut menyakiti, dan rasa belum mengenal satu sama lain dengan baik itu masih sangat kental terasa, menguar kuat di udara dingin kamar itu.
Mereka adalah dua orang asing yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan, dan sekarang dipaksa untuk hidup bersama dalam satu atap, satu ruang, dan satu tempat tidur. Situasi yang sangat mendadak, sangat intim, dan sangat menegangkan bagi hati seorang gadis desa yang polos seperti Aira.
Matanya kembali melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu. Pintu itu terbuat dari kayu jati yang dihiasi dengan kaca buram, tertutup rapat tanpa celah sedikitpun sehingga tidak bisa dilihat apa yang terjadi di dalam sana.
Dari balik pintu yang tertutup itu, terdengar sangat jelas suara air yang mengalir deras dengan suara yang cukup keras,
Byur... byur... byur...
Suara air yang membasahi tubuh dan jatuh ke lantai keramik terdengar begitu jelas dan nyata di telinga Aira.
Elvano.
Suaminya sedang mandi di sana sekarang.
Bayangan wajah tampan, dingin, dan tegas pria itu seketika muncul di benak Aira. Pria yang kini menjadi pemilik hidupnya, pemimpinnya, dan pelindungnya. Pria yang memiliki hak penuh atas dirinya.
"Sebentar lagi... sebentar lagi dia bakal keluar." batin Aira semakin panik, jari-jarinya semakin erat memilin kain bajunya hingga kain itu terlihat berkerut-kerut. "Nanti kalau dia keluar, aku harus ngapain? Aku harus senyum? Aku harus langsung tidur? Aku harus ngomong apa? Ya allah bimbing aku, jangan biarkan aku salah bersikap."
Rasa takut bercampur dengan rasa penasaran dan rasa malu itu membuat kepala Aira terasa pusing dan berat. Ia tahu, malam ini adalah malam pertama mereka benar-benar berbagi ruang pribadi sepenuhnya setelah semua keributan, semua drama, dan semua masalah yang terjadi belakangan ini, mulai dari kedatangan Natasha yang menyakitkan, sampai perasaan tidak aman yang menghantui pikiran Aira.
Malam ini adalah ujian kesabaran dan keberanian bagi Aira. Ujian untuk bisa menerima dan beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai seorang istri.
Beberapa menit kemudian, suara air yang mengalir deras di dalam kamar mandi itu pun akhirnya berhenti.
Suasana kembali hening sejenak, hanya terdengar suara gerakan samar dari dalam sana, suara handuk yang bergesekan, dan suara langkah kaki yang pelan.
Llek...
Suara kunci pintu diputar pelan. Sangat pelan.
Pintu kamar mandi itu pun terbuka perlahan, sangat pelan, seolah tidak ingin mengganggu suasana hening di luar.
Dan muncullah sosok tinggi besar, tegap, dan sangat gagah itu dari balik pintu.
Elvano Praditya.
Pria itu baru saja selesai mandi, wajahnya terlihat segar dan bersih. Kulitnya yang putih dan halus itu tampak sedikit kemerahan karena air, keringat dan rasa lelah setelah seharian bekerja sudah hilang terbawa air, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan lebih santai daripada saat ia mengenakan setelan jas kantornya tadi sore.
Tubuhnya yang tinggi, tegap, dan berotot padat itu terbalut satu setelan piyama katun berwarna hitam pekat yang sederhana, terdiri dari kaos oblong lengan pendek yang menempel pas di tubuhnya yang atletis, memperlihatkan lekukan otot-otot lengan dan bahunya yang kekar dan terbentuk sempurna, serta celana panjang bahan yang longgar namun tetap terlihat rapi dan mahal.
Pakaian yang sangat sederhana, tanpa aksesoris apapun, namun terlihat sangat seksi, sangat maskulin, dan sangat memancarkan aura ketampanan yang luar biasa dari pria itu. Hanya dengan penampilan sesederhana itu, Elvano sudah terlihat seperti model majalah atau pangeran dari dongeng yang turun ke dunia nyata.
Rambut hitamnya yang sedikit panjang dan bergelombang alami itu masih basah kuyup, tetesan-tetesan air kecil yang bening masih mengalir turun dari ujung rambutnya, membasahi leher jenjang dan putihnya, lalu mengalir turun melewati kerah bajunya, sedikit membasahi bahu kaos yang ia kenakan, memberikan kesan yang sangat liar, alami, dan sangat menggoda iman bagi siapa saja yang melihatnya.
Elvano berjalan keluar dengan langkah kaki yang pelan namun pasti, penuh wibawa dan kharisma yang khas miliknya. Ia tidak langsung melihat ke arah Aira, melainkan berjalan menuju meja riasnya terlebih dahulu untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, memberikan waktu bagi Aira untuk menyiapkan mentalnya.
Seketika itu juga, aroma wangi parfum maskulin yang segar, dingin, dan mahal bercampur dengan aroma sabun bersih yang khas langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan dengan cepat, menusuk hidung Aira dan memenuhi rongga napasnya.
Aroma itu sangat wangi, sangat maskulin, dan sangat... memabukkan.
Hidung Aira langsung menangkap aroma itu, dan seketika itu juga kepala gadis itu terasa sedikit pening dan berkunang-kunang, campuran antara rasa gugup yang luar biasa, rasa malu yang memuncak, dan ada perasaan aneh yang hangat yang tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Rasanya dadanya terasa sesak tapi nyaman, aneh tapi indah.
"Astaga..." batin Aira berteriak dalam hati, tangannya semakin erat mencengkeram kain bajunya. "Wanginya... masya allah, wangi banget sampai ke ubun-ubun, kayak... kayak aroma surga gitu ya allah..."
Aira langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, begitu melihat Elvano sudah selesai mengeringkan rambutnya dan mulai berjalan mendekati ranjang. Ia tidak berani, benar-benar tidak berani menatap wajah suaminya itu terlalu lama. Rasanya kalau ia menatap mata tajam dan wajah tampan itu sedikit saja, ia pasti akan meleleh dan hilang kesadarannya karena malu dan terpana.
Rasa malunya meledak-ledak, memahat as di seluruh wajah dan lehernya hingga terasa panas sekali.
Elvano berjalan pelan mendekati ranjang tempat Aira duduk. Matanya yang tajam dan dalam itu meli sekilas ke arah istrinya yang duduk mematung kaku di tepi ranjang dengan wajah yang tertunduk malu, rambutnya terurai, dan terlihat sangat kecil dan tidak berdaya di hadapannya itu.
Melihat pemandangan itu, ada sedikit senyum tipis yang terbit di sudut bibir Elvano yang tipis dan merah itu. Senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi ada rasa geli dan rasa sayang yang aneh yang muncul di dadanya melihat tingkah polos dan pemalu istrinya itu. Melihat Aira yang begitu menjaga diri dan begitu sopan membuat Elvano merasa sangat menghargai wanita itu.
Namun Elvano tidak berkata apa-apa. Ia memilih untuk diam saja. Ia pun merasakan hal yang sama persis. Rasa canggung itu juga menghinggapi dirinya. Rasa sungkan untuk bersikap terlalu akrab juga ada di hatinya. Ia sadar betul bahwa Aira bukan wanita yang mudah atau yang biasa berdekatan dengan lawan jenis.
Mereka berdua sama-sama masih berada di zona aman masing-masing. Sama-sama belum terbiasa dengan situasi baru ini yang begitu mendadak dan intim.
"Udah malem banget. Yuk tidur," ucap Elvano pelan memecahkan keheningan yang terasa begitu canggung dan mencekam itu. Suaranya berat, rendah, serak khas pria, dan terdengar sangat tenang namun berwibawa, mampu membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang.
"I... iya m... mas." jawab Aira terbata-bata, suaranya kecil sekali, nyaris seperti bisikan tikus yang ketakutan. Suaranya bergetar hebat menahan rasa malu yang luar biasa. "Iya siap mas."
Dengan gerakan yang sangat pelan, sangat ragu-ragu, sangat hati-hati, dan penuh dengan kewaspadaan yang tinggi, Aira pun akhirnya membaringkan tubuhnya yang mungil itu ke atas kasur yang empuk itu.
Ia berbaring menghadap ke arah dinding, memunggungi sisi tempat tidur lainnya di mana Elvano akan berbaring nanti. Punggungnya tegap lurus, kakinya disusun rapi sejajar, tangannya diletakkan rapi di samping tubuhnya atau di atas dadanya.
Dan yang paling penting, sesuai dengan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya saat ini, sesuai dengan rasa canggung yang masih membumbung tinggi, Aira menggeser tubuhnya sejauh mungkin ke pinggir ranjang.
Saking jauhnya, tubuhnya hampir menyentuh dinding kamar di sebelah kirinya. Ia memberikan jarak aman yang sangat lebar, sangat luas, dan sangat jelas terlihat di antara tubuhnya dan bagian tengah ranjang.
Jaraknya itu sangat besar, bahkan bisa muat untuk satu orang dewasa lagi tidur di tengah-tengah mereka berdua. Begitu lebar, begitu terbuka, begitu jelas batas wilayahnya.
Itu adalah tanda mutlak bahwa mereka masih sangat menjaga sopan santun, masih sangat menjaga batasan, dan masih sangat canggung satu sama lain.