Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu datang dengan cara yang berbeda bagi Alya. Bukan karena cuaca, bukan juga karena jadwal kuliah, melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan sejak ia membuka mata. Ada perasaan asing yang perlahan memenuhi ruang di dalam hatinya bukan gelisah, namun juga bukan sepenuhnya tenang.
Alya duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke arah jendela yang mulai disinari cahaya pagi. Namun pikirannya tidak berada di sana. Ia kembali mengingat percakapan kemarin.
“Kamu masih merasa terpaksa?”
Dan jawabannya...
“…Saya gak tau.”
Alya menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menghela napas panjang. “Kenapa jadi gini, sih…” gumamnya pelan.
Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membuka buku di meja. Namun beberapa menit kemudian ia sadar ia tidak membaca. Pikirannya kembali pada satu sosok.
Arka.
Cara ia berbicara. Cara ia memperhatikan. Cara ia hadir tanpa memaksa. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih rumit.
“Alya, kamu kenapa?”
Suara Mira membuatnya tersadar. Ia menoleh dan melihat sahabatnya berdiri di ambang pintu.
“Eh… gak kenapa-kenapa.”
Mira menyipitkan mata. “Itu muka kayak lagi mikirin skripsi tiga tahun ke depan.”
Alya tertawa kecil. “Lebay.”
Mira duduk di sampingnya. “Masih tentang itu?"
Alya tidak menjawab, tapi diamnya sudah cukup menjelaskan.
“Udah mulai nyaman, ya?” tanya Mira pelan.
Alya langsung menoleh cepat. “Siapa yang nyaman?”
Mira tersenyum tipis. “Gue gak nyebut nama.”
Alya terdiam, lalu akhirnya menghela napas. “…Gue gak tau, Mir.”
Mira menatapnya, memberi ruang untuk bicara.
“Awalnya gue ngerasa ini semua salah. Gue marah, gue nolak, bahkan gue gak mau lihat dia. Tapi sekarang…” Alya berhenti sejenak. “…gue gak bisa ngerasa hal yang sama lagi.”
Mira mengangguk pelan. “Dan itu bikin lo takut?”
Alya mengangguk. “Banget.”
Karena yang berubah bukan situasinya, tapi dirinya sendiri.
Hari itu Alya berangkat ke kampus dengan perasaan yang belum sepenuhnya stabil. Ia mencoba menjalani semuanya seperti biasa duduk di kelas, membuka buku, mencatat. Namun tetap saja, ada sesuatu yang ia tunggu. Pintu kelas terbuka. Arka masuk.
Seperti biasa tenang, tegas, dan sulit diabaikan.
Alya menunduk, namun kali ini tidak lama. Ia perlahan mengangkat kepalanya, dan tanpa disengaja, tatapan mereka bertemu. Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya, sebelum akhirnya Alya mengalihkan pandangan dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
Kuliah dimulai seperti biasa. Arka menjelaskan materi dengan jelas, sementara mahasiswa lain fokus mencatat. Namun di antara semua itu, ada dua orang yang tidak benar-benar fokus.
Alya dan Arka.
Sesekali, Arka melirik ke arah Alya. Dan meskipun Alya mencoba untuk tidak menyadarinya, ia tetap merasakan hal itu perasaan diperhatikan. Anehnya, ia tidak lagi merasa terganggu. Justru sebaliknya.
Waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Saat kelas selesai, Alya membereskan bukunya dengan lebih lambat, seolah tidak ingin segera pergi.
Dan seperti yang ia duga
“Alya.”
Ia berhenti. “Iya, Pak?”
Arka berdiri tidak jauh darinya. “Kamu ada waktu?”
“…Ada, Pak.”
“Ikut saya sebentar.”
Alya mengangguk dan mengikuti langkahnya. Mereka berjalan berdampingan, tidak terlalu dekat, namun juga tidak sejauh sebelumnya. Sesampainya di depan ruang dosen, Arka tidak langsung masuk. Ia berbalik menghadap Alya.
“Kamu kelihatan capek.”
Alya sedikit terkejut. “Capek?”
“Kamu kurang istirahat?”
Alya terdiam. Ia tidak menyangka yang diperhatikan bukan tugas, melainkan dirinya.
“…Sedikit.”
Arka mengangguk. “Jangan dipaksakan.”
Alya tersenyum kecil. “Saya gak ngerasa dipaksa, kok.”
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan. Dan beberapa detik setelahnya, ia sadar—itu adalah kejujuran.
Arka tidak langsung menjawab, namun sorot matanya berubah. Lebih lembut.
“Bagus kalau begitu.”
Hening sejenak.
“…Pak.”
“Iya kenapa?”
Alya ragu, lalu berkata pelan, “Kalau saya berubah pikiran… itu salah gak?”
Arka menatapnya lama.
“Perasaan itu gak pernah salah.”
Alya perlahan mengangkat kepalanya.
“Yang penting kamu jujur sama diri kamu sendiri.”
Kalimat itu sederhana, namun terasa sangat dalam. Dan untuk pertama kalinya, Alya merasa… diizinkan untuk berubah.
Sore itu, Alya berjalan keluar dari kampus dengan langkah yang lebih ringan. Bukan karena semuanya sudah jelas, tetapi karena ia mulai menerima bahwa perasaannya sedang berubah.
##
Di sisi lain, Raka berdiri di kejauhan, melihat Alya tanpa mendekat. Ia tidak lagi mencoba menghentikan sesuatu yang memang tidak bisa ia kendalikan.
Langit sore berubah warna.
Dan tanpa disadari, cerita mereka perlahan berubah arah dari keterpaksaan menjadi kemungkinan.
maaf lancang🙏🙏🙏