Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECERDIKAN
Menyusun kepingan yang belum lengkap
“Kalau kau pikir aku akan berhenti di sini…”
ucap Bima lirih,
“kau salah besar.”
Tanpa menunggu lagi, Bima melangkah pergi.
Namun kali ini
bukan sebagai orang yang mencari jawaban dengan emosi.
Melainkan seseorang…
yang mulai berburu kebenaran dengan tenang.
“Bima… tunggu kami!”
Suara Andi terdengar dari belakang, diikuti beberapa yang lain.
Langkah mereka cepat, mengejar.
Bima berhenti.
Ia tidak langsung menoleh.
Seolah memberi waktu…
apakah mereka benar-benar ingin ikut,
“Ada apa?”
tanyanya singkat saat akhirnya berbalik.
Andi menarik napas.
“Kami ikut.”
Bima menatap mereka satu per satu.
Wajah-wajah yang Sebelumnya berlumuran darah dan sama-sama terjatuh…
tapi hari ini memilih berdiri lagi.
“Ini bukan urusan yang bisa kalian hadapi lagi” kata Bima pelan.
“Kalau kalian ikut, artinya kalian siap menghadapi apa pun.”
Tak ada yang mundur.
Andi Bayu dan Dimas mengangguk.
“Kami sudah siap dari awal, Bima. Kami tidak akan berhenti di tengah jalan.”
Mari kita wujudkan cita-cita awal mu bersama kami, membuka latihan beladiri.
Hening sejenak.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak pagi itu
Bima mengangguk pelan.
“Kalau begitu… jangan banyak bicara,” ujarnya.
“Kita mulai dari sesuatu yang paling dekat.
Kita pulang dan lanjut latihan yang tertunda beberapa hari yang lalu."
Sementara itu Di depan rumahnya, Pak Kades masih berdiri dengan tenang.
Warga kampung perlahan mulai bubar setelah mendengar ucapannya.
“Kalian pulanglah…
masalah ini sudah selesai,”
katanya lembut.
Senyum tipis menghiasi wajahnya.
Tenang. Meyakinkan.
Dan seperti biasa warga percaya.
Satu per satu mereka pergi, meninggalkan halaman yang kembali sunyi.
Namun begitu orang terakhir menghilang
Senyum itu…
perlahan memudar.
Tatapannya berubah tajam.
Ia menoleh ke arah jalan tempat Bima pergi.
“Semakin jauh kau melangkah…” gumamnya pelan,
“semakin dekat kau dengan masalahmu sendiri.”
Ia berbalik masuk ke dalam rumah.
Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu tua di bagian dalam.
Pintu yang sejak tadi tertutup rapat.
Perlahan…
tangannya terangkat.
Ceklek.
Pintu itu terbuka sedikit.
Dari dalam, suasana gelap menyambut.
Dan samar-samar
terdengar suara seseorang.
Pak Kades tersenyum lagi.
Namun kali ini bukan senyum yang sama seperti di hadapan warga.
“Sepertinya… permainan kita belum selesai.”
Di sisi lain kampung Bima dan yang lainnya mulai menyusuri jalan sempit yang jarang dilewati warga.
“Kenapa ke sini?” tanya dimas pelan.
Bima tidak langsung menjawab.
Matanya mengarah ke tanah…
ke jejak yang hampir tak terlihat.
“Kalau mereka benar-benar pergi…” ucapnya,
“pasti ada arah yang mereka ambil.”
Ia berhenti.
Menunjuk samar ke arah jalan setapak di antara semak.
“Dan ini… bukan jalan keluar kampung.”
Andi mengernyit.
“Artinya?”
Bima menatap lurus ke depan.
“Artinya… mereka tidak pernah benar-benar pergi.”
Angin berhembus pelan.
Daun-daun bergesek, seolah menyembunyikan sesuatu yang lebih besar.
Dan tanpa mereka sadari Setiap langkah yang mereka ambil sekarang…
semakin mendekatkan mereka pada kebenaran.
Atau…
pada jebakan yang sudah lama menunggu.
tapi bima yang cerdik terburu-buru, dia mengambil jalan lain.
"sekarang kita kemana," tanya Bayu
"bukanya kita mau pulang untuk melanjutkan latihan," ucap bima.
"tapi bukankah kebenaran sudah ada di depan mata,?" kata Andi dengan penuh semangat.
"bukan kah ini jelas jebakan," ucap Dimas
"kau cukup pintar," bima tersenyum sambil memegang pundak Dimas
"aku sudah tau Mereka masih ada di rumah pak kades, aku hanya ingin melihat apakah mereka beneran berkelompok." bima menatap tajam ke arah jalan rumah menuju rumah pak kades