Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
revolusi baru
Satu bulan telah berlalu sejak seminar akbar itu, dan atmosfer Pesantren Darul Hikmah telah berubah total. Jika dulu pembicaraan tentang "perjodohan" adalah hal yang lumrah dibisikkan di pojok-pojok asrama, kini topik pembicaraan berganti menjadi "jurusan kuliah" dan "rencana bisnis".
Aku berdiri di depan papan pengumuman besar yang baru saja kupasang di dekat gerbang masuk. Papan itu bertuliskan: Pusat Informasi Karir dan Konsultasi Psikologi Santri. Ini adalah tindak lanjut nyata dari usulanku kepada Abah. Berkat lobi-lobiku yang tak kenal lelah, dibantu oleh koneksi Bapak Bupati Hasan Abdullah, kami berhasil menggandeng dinas kesehatan setempat untuk menyediakan konselor yang datang dua kali seminggu.
Namun, tantangan terbesar muncul di minggu ketiga. Pak Haji Mansur kembali datang. Kali ini dia tidak membawa kemarahan, melainkan kesedihan. Putrinya, Sarah, yang sudah menikah setahun lalu di usia 18 tahun dan tinggal di sebelah pesantren, mengalami komplikasi kehamilan yang serius.
"Dia di rumah sakit, Nak," suara Pak Haji Mansur parau, tidak ada lagi nada sombong yang dulu kudengar. "Dokter bilang rahimnya lemah. Dia kehilangan bayinya, dan sekarang dia depresi berat. Dia tidak mau bicara pada siapa pun."
Hatiku mencelos. Inilah realita pahit yang ingin kupencegah. Tanpa membuang waktu, aku meminta izin Abah untuk mengunjungi Sarah bersama Dr. Gunawan, yang kebetulan sedang melakukan kunjungan kerja ke Puskesmas sekitar.
Di rumah sakit, aku melihat Sarah. Wajahnya yang dulu dikenal ramah dan ceria kini pucat dan kosong. Dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang menghancurkan hatiku. Aku duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya yang dingin.
"Sarah, aku aleea," bisikku.
Dia tidak merespons untuk waktu yang lama, sampai akhirnya setetes air mata jatuh dari sudut matanya. "Aku takut, Mbak. Aku merasa gagal menjadi istri. Aku merasa tubuhku mengkhianatiku."
Dr. Gunawan masuk dan dengan lembut menjelaskan bahwa apa yang terjadi bukan salahnya. Beliau menjelaskan secara medis bahwa tubuhnya memang sedang dipaksa melakukan sesuatu yang belum waktunya. Saat itulah, aku menyadari bahwa edukasi ini tidak boleh berhenti hanya pada mereka yang belum menikah, tapi juga bagi mereka yang sudah terlanjur masuk ke dalam sistem itu.
Kejadian Sarah menjadi titik balik bagi para penentang di pesantren dan menjadi contoh nyata di kehidupan realita, Pak Haji Mansur sendiri yang akhirnya berdiri di mimbar setelah salat Jumat, menyatakan penyesalannya dan mendukung penuh program yang sedang kususun. "Jangan sampai ada Sarah-Sarah yang lain," ucapnya di hadapan para jamaah.
Beberapa hari kemudian, kabar besar datang. Bapak Bupati Hasan Abdullah kembali berkunjung, kali ini membawa rombongan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mereka mendengar tentang "revolusi sunyi" yang terjadi di Darul Hikmah.
"Kami ingin menjadikan pesantren ini sebagai model nasional," kata perwakilan kementerian itu kepadaku dan Abah. "Pesantren Ramah Perempuan dan Anak. Tempat di mana tradisi agama dan perlindungan hak asasi berjalan beriringan."
Aku merasa seperti bermimpi. Dari sebuah keresahan melihat Laila menangis di balik pilar masjid, kini berkembang menjadi sebuah gerakan nasional. Namun, di tengah semua keriuhan itu, aku tetaplah "Mbak" bagi santri-santriwati di sini.
Hari pengumuman kelulusan Aliyah tiba. Halaman pesantren dipenuhi dengan santriwati yang mengenakan baju terbaik mereka. nisa berlari ke arahku, melambaikan sebuah amplop besar.
"Mbak! Aku diterima! Aku diterima di jurusan Kebidanan!" teriaknya sambil memelukku erat.
Aku memeluknya balik, merasakan jantungnya yang berdegup kencang karena antusiasme, bukan lagi karena ketakutan. "Kamu akan menjadi bidan yang luar biasa, nisa. Kamu akan menjaga rahim-rahim wanita lain agar tidak merasakan apa yang kamu takutkan dulu."
nisa yang dulu aku kenal tidak memiliki bakat dan sempat bekerja di butik kini ia percaya diri dan menemukan jati dirinya.
Satu per satu santriwati lain mendekat. Ada yang diterima di jurusan Hukum, ada yang memilih Pendidikan Guru, bahkan ada yang berencana membuka usaha konveksi sendiri setelah mengikuti kursus menjahit di pesantren. Gerbang pesantren yang dulunya terasa seperti batas akhir dunia bagi mereka, kini menjadi pintu masuk menuju petualangan yang luas.
Sore itu, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, aku berjalan menuju gerbang utama. Aku melihat spanduk besar acara perdana kami sebulan lalu sudah diturunkan, diganti dengan papan nama permanen: Pesantren Darul Hikmah - Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan.
Abah berdiri di sana, menatap papan itu dengan senyum tipis. "Sudah selesai, leea?"
Aku menggeleng pelan. "Belum, Abah. Ini baru permulaan. Masih banyak pesantren lain, masih banyak desa lain yang perlu mendengar suara ini."
Abah menepuk bahuku. "Kamu benar. Tapi hari ini, kamu sudah membuktikan bahwa pena dan suaramu lebih kuat daripada ketakutan. Kamu telah memberikan mereka masa muda yang berharga."
Aku menatap langit yang berwarna jingga keunguan. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara tawa santriwati yang sedang berdiskusi di taman. Aku tahu, perjuangan ini tidak akan selalu mudah. Akan ada tantangan baru, tapi melihat senyum Laila dan ribuan santriwati lainnya, aku tahu bahwa setiap kata dalam undangan yang kubuat, setiap debat yang kujalani, dan setiap tetes air mata yang jatuh, semuanya sepadan.
Mereka bukan lagi objek perjodohan. Mereka adalah subjek masa depan. Mereka adalah wanita-wanita berdaya yang akan menulis sejarah mereka sendiri. Dan aku, aku akan tetap di sini, menjaga agar gerbang ini selalu terbuka lebar bagi setiap mimpi yang ingin terbang. Masa muda mereka kini benar-benar menjadi milik mereka, diisi dengan pembelajaran, pengalaman, dan kedewasaan yang sesungguhnya.
Aku akan ijin pada ibu setelah ini, mungkin untuk beberapa bulan kedepan aku tidak bisa menemaninya untuk mengurus dear alea, dan juga akan ijin pada editor karna mungkin untuk beberapa bulan kedepan juga aku sedikit lambat untuk mengirim bagian bagian dari novel comebackku, kesempatan dan peluang saat ini dibutuhkan membersamai para santri dan anak-anak lainnya yang membutuhkan uluran tanganku sebagai penolong kehidupan selanjutnya. Aku menyenderkan tubuhku ke Abah, aku butuh penopang saat ini, tubuhku yang lelah namun di ujung bagian terdalam aku menemukan rasa klimaks yang tidak bisa di ungkapkan melalui naskah maupun kata-kata. Aku merangkulku dan aku merasakan tangan abah membelai kepalaku.
" semangat leea.... Abah dan ibu akan selalu ada untuk memeluk aleea ketika lelah, maka istirahat dulu lalu mulai kembali dengan langkah yang berani lagi " ucap Abah berbisik lirih, tapi sangat jelas di telingaku, aku menepuk punggung Abah yang tetap merangkulku itu.