NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 023

Dua jam pelajaran Biologi terasa seperti ribuan tahun bagi Ziva. Suara dengung proyektor dan penjelasan guru tentang struktur sel tumbuhan hanya lewat begitu saja di telinganya. Biasanya, Ziva akan sangat menikmati momen ini untuk terlelap, namun setiap kali kepalanya menyentuh meja, memorinya memutar ulang kejadian sepuluh menit sebelum bel masuk tadi.

Sentuhan ibu jari Aksa.

​Ziva mengusap pipi kanannya dengan ujung jari, seolah-olah bekas sentuhan itu masih meninggalkan jejak fisik. "Apa sih, Aksa..." gumamnya sangat lirih hingga nyaris tak terdengar.

​"Ziv," bisik Manda dari bangku sebelah, tangannya pura-pura mencatat tapi matanya melirik tajam. "Lo dari tadi megangin pipi mulu. Takut luntur ya bekas 'berkah' dari si Aksa ya?" sambil menaik turunkan alisnya.

​"Diem lo, Man," sahut Ziva tanpa tenaga. Ia menarik susu kotak pemberian Liana, menusukkan sedotan, dan meminumnya dengan rakus. Rasa cokelat dingin itu sedikit membantu menurunkan suhu di wajahnya yang masih terasa panas.

Sementara di koridor kelas XI suasana terasa canggung, di lantai bawah, tepatnya di ruang kepala sekolah, suasana jauh lebih tegang.

​Pak Baskoro, kepala sekolah SMA Pelita Bangsa, duduk di belakang meja jati besarnya dengan ekspresi yang sangat serius. Di hadapannya, seorang asisten pribadi yang dikirim oleh ayah Reygan duduk dengan wajah pucat. Reygan sendiri tidak ada di sana; ia sudah dipastikan tidak akan kembali ke sekolah hari ini setelah insiden di lapangan.

"Kami tidak bisa menoleransi perilaku taruhan yang melibatkan siswa lain, apalagi dengan motif manipulasi ekonomi," ucap Pak Baskoro dengan nada final. "Reygan resmi kami skors selama dua minggu. Surat peringatan keras akan dikirimkan ke kediaman Dirgantara sore ini. Dan mohon sampaikan, pihak yayasan—khususnya keluarga Erlangga—sudah memberikan atensi khusus pada kasus ini."

​Mendengar nama 'Erlangga' disebut, asisten itu hanya bisa menunduk. Ia tahu, jika Aksa sudah turun tangan hingga melibatkan data audit, maka posisi keluarga Dirgantara benar-benar di ujung tanduk.

...KRIIIING!...

​Bel istirahat pertama berbunyi. Murid-murid kelas XI-IPA 1 langsung berhamburan keluar, namun sebagian besar masih menyempatkan diri untuk melirik ke arah meja Ziva. Mereka menanti apakah akan ada "sekuel" dari drama pagi tadi.

​"Ziv, kantin nggak? Gue laper banget nih pengen siomay," ajak Tika sambil merapikan bukunya.

​Ziva baru saja hendak berdiri ketika bayangan besar menutupi cahaya matahari yang masuk lewat pintu kelas. Seluruh kelas mendadak hening.

​Aksa berdiri di sana.

​Ia masih dengan gaya santainya, tangan dimasukkan ke saku celana, dan wajah yang seolah tidak peduli bahwa ia baru saja menyebabkan kegemparan satu sekolah. Teman-teman sekelas Ziva yang tadinya mau keluar, mendadak balik lagi ke bangku masing-masing dengan dalih "ketinggalan pulpen" hanya demi mengintip.

"Aksa?" Ziva terpaku di kursinya. "Ngapain ke sini? Kelas lo kan di atas."

​"UKS," jawab Aksa pendek.

​"Hah?"

"Lo kelihatan pucat tadi di lapangan. Ke UKS sekarang, istirahat di sana," perintahnya. Nadanya tidak tinggi, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

"Gue nggak apa-apa, Aksa. Cuma laper dikit," protes Ziva. "Gue mau ke kantin sama Manda dan Tika."

​Aksa melirik Manda dan Tika sekilas. Kedua gadis itu langsung mundur selangkah secara sinkron. "Eh, iya Ziv! Kayaknya kita juga mau makan di tempat Pak Kumis yang agak jauh. Lo sama Aksa aja ya! Dadah!" seru Manda sambil menarik tangan Tika, lari menghilang melewati Aksa secepat kilat.

Ziva melongo. "Temen nggak ada yang setia..."

Aksa maju beberapa langkah, berhenti tepat di depan meja Ziva. "Lantai tiga perpustakaan atau UKS. Pilih."

​Ziva menghela napas pasrah. Ia tahu berdebat dengan Aksa hanya akan membuang energi. Ia pun bangkit, menyampirkan tasnya. "Perpustakaan. UKS bau obat, gue nggak suka."

Saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju perpustakaan, ponsel di saku Ziva bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Abian.

​Ziva menghentikan langkahnya sebentar. "Bentar, Aks. Abang gue telepon."

​Begitu tombol green ditekan, suara menggelegar Abian langsung terdengar tanpa perlu menggunakan loudspeaker.

"ZIVA! APA-APAAN INI?!" teriak Abian di seberang sana. "Gue baru buka grup alumni, ada video Aksa ngelus pipi lo di tengah lapangan?! Itu anak mau gue ajak one-on-one lagi apa gimana?!"

​Ziva langsung menjauhkan ponselnya dari telinga dengan wajah super malu. Ia melirik Aksa yang ternyata ikut mendengar teriakan itu karena koridor sedang sepi.

​Aksa hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu dengan tenang mengambil ponsel Ziva dari tangan gadis itu.

​"Ini Aksa," ucap Aksa ke arah ponsel.

​Suara di seberang sana mendadak diam seribu bahasa. Hening selama lima detik.

​"Eh... Aksa? Oh, lo sama Ziva ya?" suara Abi mendadak berubah jadi halus dan sopan.

"Enggak... itu... tadi gue cuma nanya. Pipinya Ziva nggak lecet kan? Ya udah, jagain ya, Sa. Jangan sampe dia telat makan. Oke, bye!"

...Tut....

Panggilan diputus sepihak oleh Abian. Ziva menutup wajahnya dengan kedua tangan, benar-benar ingin menghilang dari bumi. "Abang gue benarar nggak punya harga diri di depan lo ya, Aks?"

​Aksa memberikan ponsel itu kembali ke Ziva. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sangat samar. "Dia cuma tahu siapa yang lebih jago main basket."

Ziva hanya bisa mendesah pasrah, memasukkan ponselnya ke dalam saku dengan gerakan malas. "Tetap aja malu-maluin. Harusnya gue yang interogasi dia kenapa pagi-pagi udah bikin heboh, eh malah dia yang ciut duluan," gerutu Ziva sambil melanjutkan langkah.

​Aksa tidak menyahut, tapi ia sengaja memelankan langkah kakinya agar tetap sejajar dengan Ziva. Mereka berjalan melewati koridor kelas XII yang mulai ramai oleh kakak kelas yang ingin ke kantin. Aroma parfum yang bercampur dengan hiruk-pikuk suara remaja membuat Ziva sedikit pening.

Beberapa siswi kelas XII tampak berhenti berjalan, menepi hanya untuk memberikan jalan pada Aksa, sambil berbisik-bisik dan melirik Ziva dengan tatapan penuh selidik. Ziva yang biasanya akan merasa risih atau membalas dengan tatapan tajam, kini justru memilih mode "masa bodoh".

​Saat menaiki tangga menuju perpustakaan, Ziva merasa langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Mungkin efek adrenalin yang terkuras habis saat menghadapi Reygan tadi pagi.

​"Aksa," panggil Ziva tanpa menoleh.

​"Hm?"

​"Lo nggak capek ya? Maksud gue... setiap lo jalan, semua orang liatin lo seolah lo itu pameran berjalan. Gue yang baru ngerasain sehari aja udah pengen pindah ke planet lain."

​Aksa melirik puncak kepala Ziva. "Biasain aja. Mata mereka bukan tanggung jawab lo."

​"Gampang banget lo ngomong," Ziva mencebik. "Masalahnya sekarang mereka liatin gue juga. Dan itu gara-gara... lo tau lah, tangan lo tadi itu."

​Langkah Aksa terhenti tepat di depan pintu kaca perpustakaan. Ia berbalik badan sepenuhnya menghadap Ziva, membuat Ziva terpaksa ikut berhenti dan mendongak.

"Gue cuma mastiin lo nggak gemeteran," ucap Aksa datar, namun matanya menatap Ziva lekat-lekat. "Tadi di lapangan, lo kelihatan kayak mau pingsan tapi maksa tegak."

​Ziva tertegun. Jadi itu alasannya? Aksa memperhatikan sampai sedalam itu? Ia mengira Aksa hanya ingin pamer kekuasaan atau sekadar iseng menggoda seperti yang dibilang teman-temannya. Ternyata, itu adalah caranya yang sangat "Aksa" untuk memberikan dukungan moral.

"Gue nggak selemah itu kali," gumam Ziva, meski dalam hati ia mengakui kalau kakinya memang sempat lemas saat Reygan mulai berteriak tadi.

Aksa mendorong pintu kaca perpustakaan. Udara dingin AC langsung menyergap, membawa aroma buku dan keheningan yang menenangkan. Bu Endang, sang pustakawan, hanya menatap mereka lewat balik kacamatanya, lalu kembali sibuk mencatat tanpa memberikan teguran. Kehadiran Aksa di sini seolah sudah menjadi izin otomatis.

​Aksa menuntun Ziva ke lantai dua, menuju pojok ruangan yang tersembunyi di balik rak ensiklopedia besar—tempat yang sama saat mereka mengerjakan tugas tempo hari. Di atas meja kayu itu, sudah ada sebuah tas bekal berwarna gelap dan dua botol air mineral.

​"Lho? Itu punya siapa?" Ziva mengerutkan kening.

​"Punya gue. Tadi gue titip Kenan buat naruh di sini," jawab Aksa sambil menarikkan kursi untuk Ziva. "Duduk. Makan."

Ziva duduk dengan ragu, sementara Aksa membuka tas bekal tersebut. Isinya bukan makanan mewah, melainkan nasi kotak dengan lauk ayam bakar dan sayuran segar yang tampak sangat rapi. Ada juga wadah kecil berisi buah potong.

​"Lo... niat banget?" Ziva menatap makanan itu, lalu menatap Aksa bergantian.

Aksa duduk di kursi depannya, membuka botol air mineral dan memberikannya pada Ziva. "Mami yang nyuruh asisten rumah tangga buat packing dua. Katanya buat temen main basket Abi semalem."

​Ziva hampir tersedak ludahnya sendiri. "Mami lo... tau gue?"

Aksa terdiam sejenak, teringat interogasi Mami Saras semalam yang sangat menyudutkan. "Dia cuma tau lo adiknya Abian. Udah, makan aja. Jangan banyak tanya."

​Ziva mengambil sendoknya, mulai menyuap nasi itu perlahan. Rasa lapar yang tadi ia abaikan karena stres kini meledak. Ayam bakarnya terasa sangat enak—jauh lebih enak daripada makanan kantin manapun.

​Di seberangnya, Aksa juga mulai makan dalam diam. Tidak ada obrolan berat, hanya suara gesekan sendok dan keheningan perpustakaan yang damai. Ziva melirik Aksa diam-diam. Cowok itu makan dengan sangat tenang, matanya sesekali melirik buku sketsa yang ia letakkan di samping piring.

​Untuk sesaat, Ziva lupa kalau mereka adalah pusat perhatian satu sekolah hari ini. Di pojok perpustakaan ini, frekuensi mereka terasa selaras. Ziva merasa aman, dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun di tubuh ini, ia merasa bahwa ia tidak perlu lagi memakai topeng apa pun di depan cowok di hadapannya ini.

"Enak?" tanya Aksa tiba-tiba, memecah keheningan.

​Ziva mengangguk antusias dengan mulut yang masih sedikit penuh. "Banget. Bilangin makasih ya ke Mami lo."

​Aksa hanya mengangguk kecil, namun ada kilat kepuasan di matanya melihat Ziva makan dengan lahap. "Habisin. Terus tidur bentar sebelum bel masuk. Gue jagain."

​Ziva (Zura) tersenyum tipis, merasa bahwa hidup sebagai Ziva yang "baru" ini ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!