NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Jadi Ibu!

Tiba-tiba Jadi Ibu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Susiajaaa

"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Waktu terus merayap. Setelah perjuangan panjang, akhirnya tugas mereka selesai juga. Angin malam mulai menusuk kulit, dan jam dinding di ruang diskusi menunjuk angka 10. Kampus sudah lengang, seolah hanya mereka bertiga yang masih bertahan.

"Mel, lo gue anterin aja ya. Udah malam banget, dan lo ga boleh nolak. Titik." Diana menatap serius, setengah maksa.

Meli menggeleng cepat.

"Ga usah lah Na, serius. Rumah kamu sama kosan aku beda arah. Nanti malah muter jauh, aku malah ngerepotin kamu."

"Ngerepotin apaan sih? Gue bukan orang asing. Gue temen lo. Ayo, cepet sebelum gue gendong."

Akhirnya mereka bertiga pun melangkah keluar ruang diskusi. Lorong kampus yang biasanya ramai sekarang terasa seperti setting film horor kelas B. Lampu-lampu redup berkedip-kedip, dan suara angin malam menambah suasana mencekam.

"Ih, serem amat sih ini kampus kalo udah jam segini," celetuk Riki sambil celingak-celinguk.

"Berasa kayak masuk ke semesta Conjuring," Diana mengangguk cepat, lalu menempel lebih dekat ke Meli.

Meli berjalan di tengah, mencoba tetap tenang meski dadanya berdegup tak karuan. Bayangan pohon di luar kaca bergerak seperti siluet hantu penari.

"Pantes sepi banget... Ya Allah, udah jam sepuluh, pantas kepala gue udah migrain. Tadi kita terlalu niat banget ngerjain tugas," Diana menghela napas sambil mengusap pelipis.

Tiba-tiba— BRAKK!!

Sebuah suara keras bergema dari belakang mereka. Seperti benda jatuh atau pintu tertutup sendiri.

"AAAAK!!"

Riki dan Diana serempak memeluk Meli dari kiri dan kanan seperti trio bebek ketakutan.

"Apaan itu barusan?! Lo denger juga ga?! Jangan bilang... Jangan bilang—" Riki tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Udah jalan cepet aja. Jangan nengok ke belakang. Fokus ke depan. Biar cepet nyampe gerbang," ucap Meli, suaranya tenang tapi napasnya ngos-ngosan—tanda jelas bahwa dia juga panik.

"Lo kan cowok, Rik! Harusnya lo di depan dong. Kalo ada yang nongol, lo yang jadi tumbal!" seru Diana, mendorong Riki maju.

"Apa-apaan tuh konsep?! Gue cowok, bukan bodyguard! Lagian kalo hantunya cantik, gue boleh takut juga ga?"

"Gue tonjok lo ya kalo masih sempet mikir gituan!" balas Diana.

Baru saja mereka mau melangkah lagi, terdengar suara berderit panjang, seperti jendela yang dibuka paksa. Lalu...

DUSSH!!

Suara seperti sesuatu dilempar ke lantai.

"MAMPUSSS!!"

Tanpa aba-aba, Riki langsung lari sprint seperti atlet nasional. Diana dan Meli spontan ikut lari, teriak-teriak panik sambil membawa tas.

"WAAAAAA!!" jerit Riki di depan, suaranya pecah seperti bocah SD dikejar ayam.

"GUE BILANG JUGA APA, INI KAMPUS ADA PENUNGUNYA!"

"RIK, JANGAN LARI SENDIRI, TUNGGU KAMI!!"

Meli yang lari paling belakang sambil membawa dua tas nyaris jatuh karena Diana narik bajunya.

"AKU NGGA MAU JADI KORBAN TERAKHIR, MEL!"

Mereka bertiga akhirnya keluar dari gedung fakultas sambil ngos-ngosan, rambut berantakan, dan napas memburu. Beberapa satpam di pos depan sampai menoleh karena kegaduhan.

Setelah merasa aman, mereka duduk di trotoar depan kampus, tertawa terpingkal-pingkal, bukan karena lucu… tapi karena mereka sadar: tadi itu… ternyata hanya suara sapu yang jatuh di pojokan lorong.

"Sumpah... kita tuh parah banget..." ucap Diana sambil menahan perutnya.

"Dosen killer masih kalah serem sama imajinasi kita bertiga."

Setelah cukup lama beristirahat dan menertawakan kekonyolan mereka, ketiganya akhirnya bangkit, bersiap untuk pulang. Angin malam masih menusuk, tapi suasana sudah jauh lebih cair dibandingkan tadi.

"Mel, ini udah kesekian kalinya kita nawarin, lo jangan keras kepala deh. Gue antar, yuk!" Diana bersikeras sambil membuka pintu mobilnya.

"Iya, atau lo mau gue pesenin ojek online? Gue yang bayarin deh, tinggal duduk cantik doang," tambah Riki.

Namun, seperti sebelumnya, Meli tetap menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Enggak, beneran deh. Aku harus mampir dulu ke satu tempat, ga bisa langsung pulang. Besok kita ketemu lagi ya."

Ucapnya ringan—berbohong. Ia tak ingin terlihat merepotkan atau menyusahkan siapa pun, padahal sebenarnya ia hanya ingin pulang sendiri lewat jalan pintas.

"Yakin nih?" Diana menyipitkan mata curiga.

"Yakin. Aku kuat kok."

Setelah berpamitan, Meli pun melangkah sendirian, menyusuri gang kecil yang menjadi jalan pintas ke kosannya. Gang itu sepi, sempit, dan jarang dilalui. Hanya warga sekitar yang tahu jalanan itu ada. Cahaya lampu jalan pun tak merata, menciptakan bayangan aneh di dinding dan suara langkahnya bergema sendiri.

Awalnya, ia berjalan santai sambil menikmati dinginnya malam, tapi tiba-tiba...

Waaa... waaa...

Suara itu menghentikan langkahnya.

Tangisan. Tangisan bayi. Samar dan pelan, seperti tertiup angin.

Bulu kuduk Meli langsung berdiri. Otaknya masih terbayang kejadian horor di kampus tadi. Tapi ia berhenti, berdiri diam di tengah gang dan mencoba memperjelas pendengarannya.

Tangisan itu nyata.

Bukan halusinasinya.

"Itu… suara bayi? Malam-malam begini?" gumamnya pelan.

Rasa takut dan penasaran bercampur jadi satu. Ia menelan ludah dan melangkah perlahan, mengikuti sumber suara. Tangisan itu semakin jelas, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan saat ia membelok ke arah sudut gang, matanya menangkap sesuatu—tumpukan kardus di bawah tiang listrik yang redup. Kardus-kardus itu bergerak pelan, dan dari sanalah suara tangisan berasal.

Dengan hati-hati, Meli mendekat, lututnya sedikit gemetar.

"Ya Tuhan... itu... jangan-jangan—"

Tangannya meraih pelan pinggiran kardus. Begitu ia menyingkap sedikit penutupnya, napasnya tercekat.

Dua bayi.

Entah bayi kembar atau bukan, dengan tubuh mungil dan wajah memerah karena menangis. Mereka dibungkus kain tipis yang mulai basah karena embun malam.

"Ya ampun... Astaghfirullah... anak siapa ini?" ucap Meli tertegun. Ia menunduk, mendekat sedikit lagi. Napas bayi-bayi itu naik-turun cepat, tangannya mengepal kecil, dan suara tangisannya mencabik-cabik hati Meli.

Sempat terlintas rasa takut—bagaimana jika ini bukan bayi biasa? Bagaimana jika ini jebakan? Tapi ketika melihat tangan kecil salah satu bayi meraih udara, seolah meminta pelukan...

Semua rasa takut itu hilang.

Meli langsung melepas jaketnya dan menyelimuti keduanya mencoba menenangkannya, agar mereka sedikit tenang.

"Ssshhh... udah, udah... tenang ya, kalian aman sekarang..." bisiknya lembut, meski suaranya sendiri bergetar. Matanya berkaca-kaca.

1
Lisa
👍 Papanya Riki bisa bantu nih..jdi masalah mereka cpt beres.
Lisa
Ga terasa 2 baby itu skrg umurnya udh 3 thn..Meli benar² jadi Mama utk mereka berdua.
Lisa
Ethan & Evan udh mulai mengerti klo Meli adl mama mereka
Lisa
ya Meli telpn sahabatmu utk jelasin ke ortumu
Evi Lusiana
knp melisa gk lgsg tlp diana dn riki bwt njlasin k ortuny
Lisa
Wah berarti 2 baby itu diculik seseorang yg mungkin punya dendam pada 2 keluarga itu
Lisa
Sekarang Ethan & Evan aman di daycare..utk Melisa semangat kuliah lg y Mel 😊👍
Lisa
👍👍 persahabatan yg indah..rukun selalu y kalian bertiga
Lisa
😊 duo heboh dtg nih..
Lisa
Kasihan Meli jadi dituduh dia yg membuang anak itu..
Lisa
Bersyukur Melisa diangkat jadi karyawan tetap yg diperhatikan oleh managernya juga..semangat y Melisa,kerja lbh rajin lg y 😊👍
Lisa
Siap² y ortunya Melisa utk surprise dr Melisa😊
Lisa
Melisa udh menganggap Evan & Ethan anaknya..semangat terus y Melisa..moga aj ortu kandung mereka g bisa menemukan mereka.
Lisa
Gimana nih kelanjutannya..siap² y Melisa utk mengatakan pd ortumu.
Evi Lusiana
jd ethan dn evan anak² dr dua kluarga berpengaruh y thor
Susiajaaa: bisa jadi sih🤔🤭
total 1 replies
Anto D Cotto
gak sabar nungguin kelanjutan ceritanya
Lisa
Semangat y Meli
Lisa
Awal yg bagus nih
Lisa
Aku mampir Kak
Anto D Cotto
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!