Raisa anak kedua dari keluarga dengan ibu tunggal bernama Sri, Sri telah lama menjadi tulang punggung keluarga setelah suami nya meninggal saat Raisa masih kecil.
Kakak nya yang lebih tua bernama Ratna menikah dengan Rio dari keluarga yang berada.
masalah muncuk ketika Ratna dan Rio yang sudah lima tahun menikah masih belum juga memiliki keturunan karna kesuburan Ratna kurang,, tekanan yang di berikan keluarga Rio membuat Ratna memiliki niat untuk membuat Raisa hamil anak suami nya ..
Niatan itu di ungkap kan Ratna kepada ibu dan adik nya walau pun tanpa sepengetahuan suami nya sendiri..
Apa yang harus di lakukan Raisa untuk bisa membantu kesulitan Ratna kakak nya,, Apa dia akan menerima nya dan setuju menjadi pelakor apa menolak nya..?
Jangan lewatkan cerita nya untuk mengetahui kelanjutan nya🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti_1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14: "PERNYATAAN YANG TERLAMBAT"
*****
Di kamar perawatan rumah sakit, Dokter Arif berdiri di sisi ranjang Ratna dengan wajah yang serius. Hasil tes terbaru menunjukkan bahwa kondisi kesehatan Ratna mulai memburuk—kontraksi menjadi lebih sering dan ada tanda-tanda bahwa bayi perlu segera dilahirkan melalui operasi caesar.
“Kita tidak bisa menunggu lagi, Ratna,” ucap Dokter Arif dengan suara lembut namun tegas. “Kondisi kamu dan bayi membutuhkan kita untuk melakukan operasi hari ini sore. Jangan khawatir, tim medis sudah siap dan kita akan melakukan yang terbaik untuk kamu berdua.”
Ratna mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dia mencoba untuk tetap tenang meskipun rasa takut mulai menghinggapi dirinya. “Baiklah, Dokter. Hanya saja saya khawatirkan Rio. Dia kemarin malam tidak pulang dan saya tidak bisa menghubunginya.”
Sementara itu, Rio telah menghabiskan malam di dalam mobilnya tanpa tidur. Dia telah membersihkan diri dan sedang berpikir keras tentang cara untuk meminta maaf kepada Raisa. Setelah mendapatkan kabar dari Sri Wahyuni tentang kondisi Ratna yang semakin memburuk, dia merasa harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Raisa sebelum pergi menemani istri nya.
Dia pergi ke kampus dengan hati yang penuh dengan harapan dan rasa bersalah. Saat tiba di depan gedung kuliah, dia melihat Raisa sedang berada di pelukan Reza di halaman kampus. Reza sedang membisikkan sesuatu di telinga Raisa dengan wajah yang lebih lembut dari biasanya, dan Raisa tampaknya sedang menangis sambil mengangguk.
Perasaan cemburu yang luar biasa kembali menyambar hati Rio. Dia menunggu dengan penuh kesabaran hingga Reza berpisah dan masuk ke gedung lain untuk mengikuti kuliahnya. Ketika Raisa berjalan menuju pintu masuk kelasnya, Rio dengan cepat mendekat dan menariknya ke arah pintu darurat tangga yang sepi.
“Kak Rio?! Apa yang kamu lakukan? Jangan tarik aku begitu!” teriak Raisa dengan terkejut, namun tangannya tetap ditahan oleh Rio yang kuat.
Rio membenturkan tubuh Raisa dengan lembut ke dinding tangga dan menahan kedua lengannya di atas kepalanya. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap langsung ke mata Raisa dengan penuh emosi.
“Aku tidak bisa menunggu lagi untuk berkata ini, Ras,” ucap Rio dengan suara yang penuh dengan kebencian dan rasa cinta yang bercampur. “Aku menyukaimu—lebih dari yang seharusnya. Aku mencoba untuk menolaknya, mencoba untuk melihatmu sebagai adikku, tapi aku tidak bisa lagi menutupi perasaanku!”
Raisa terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Matanya membesar saat mendengar ucapan yang tidak pernah dia duga akan keluar dari mulut Rio.
“Aku tahu aku telah melakukan kesalahan yang besar kemarin malam,” lanjut Rio dengan suara yang mulai bergetar. “Aku mabuk dan tidak bisa mengontrol diriku. Tapi itu bukan alasan untuk apa yang kulakukan padamu. Aku sangat menyesal dan ingin meminta maaf padamu dengan sepenuh hati.”
Dia sedikit melonggarkan cengkeramannya pada lengan Raisa dan menyentuh pipinya dengan lembut. “Tetapi aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku. Aku tidak ingin kehilanganmu, Ras. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu di dalamnya.”
Sebelum Raisa bisa memberikan tanggapan, Rio menarik wajahnya dan menciumnya dengan penuh hasrat. Kali ini dia tidak memaksakan diri terlalu lama, namun saat dia melepaskan ciumannya, dia perlahan menjilati leher Raisa dan memberikan gigitan lembut di bagian bawah telinganya—meninggalkan jejak merah yang jelas sebagai tanda kepemilikan.
“Kak Rio… ini salah,” ucap Raisa dengan suara gemetar setelah bisa melepaskan diri dari cengkeraman Rio. Dia menyentuh lehernya yang terasa sakit dan melihat Rio dengan wajah yang penuh dengan kejutan dan kebingungan. “Kamu adalah suami kakakku! Kamu sedang mengkhianati dia saat dia sedang berjuang untuk hidup dan kelahiran anak kita!”
“Aku tahu… aku tahu semuanya itu, Ras,” jawab Rio dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Tapi perasaanku padamu sungguh nyata. Aku mencintai Ratna, tapi aku juga menyukaimu dengan cara yang berbeda. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”
“Hanya ada satu cara yang benar, Kak Rio,” ucap Raisa dengan nada yang lebih tegas. Dia menoleh dari pandangan Rio karena tidak bisa melihatnya tanpa merasa sakit hati. “Kamu harus melupakan perasaanmu padaku dan fokus pada kakakmu. Dia membutuhkanmu sekarang lebih dari apa pun. Dan aku… aku harus menjaga jarak darimu untuk kebaikan semua orang.”
Rio merasa hatinya seperti hancur berkeping-keping mendengar kata-kata itu. Namun dia tahu bahwa Raisa benar. Dia mengangguk pelan dan mulai melepaskan cengkeramannya pada tubuhnya.
“Kamu benar, Ras,” ucap Rio dengan suara rendah. “Aku akan pergi menemani kakakmu sekarang. Dia sedang dalam kondisi yang sangat tidak baik dan membutuhkan dukungan saya.” Dia mengambil tangan Raisa dengan lembut dan menciumnya. “Aku sangat menyesal telah menyakiti kamu. Semoga suatu hari nanti kamu bisa memaafkanku.”
Setelah itu, Rio segera pergi meninggalkan Raisa yang masih berdiri sendirian di lorong tangga. Dia menyentuh lehernya yang masih terasa panas dan melihat jejak merah yang ditinggalkan Rio di cermin kecil yang terpampang di dinding. Hatinya sangat bingung—dia tidak bisa menghindari perasaan yang tumbuh di dalam hatinya terhadap Rio, namun dia juga tahu bahwa apa yang terjadi adalah salah dan tidak bisa diteruskan.
Di rumah sakit, Rio tiba dengan wajah yang penuh dengan rasa bersalah dan keputusasaan. Dia melihat Ratna yang sedang duduk di ranjang dengan wajah yang pucat namun tetap kuat. Dokter Arif sedang membahas langkah-langkah operasi dengan perawat ketika Rio masuk ke kamar.
“Sayang… aku datang,” ucap Rio dengan suara lembut, segera mendekat dan memeluk istri nya dengan erat. Dia menahan tangisan saat merasakan tubuh Ratna yang lembut di pelukannya. “Aku minta maaf telah pergi tanpa kabar kemarin malam. Aku akan selalu ada untukmu dan anak kita mulai sekarang.”
Ratna memeluknya kembali dengan erat. Dia merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Rio, namun dia memilih untuk tidak menanyakannya saat ini. Yang terpenting adalah dia memiliki suaminya di sisinya saat dia menghadapi masa-masa paling sulit dalam hidupnya.
Di kampus, Reza melihat jejak merah di leher Raisa saat dia masuk ke kelas. Wajahnya yang biasanya dingin menjadi penuh dengan kekhawatiran dan kemarahan. Dia mendekat ke meja Raisa dengan langkah yang cepat.
“Apa yang terjadi dengan lehermu?” tanya Reza dengan suara yang lebih keras dari biasanya. “Siapa yang melakukan ini padamu?”
Raisa hanya diam dan menurunkan pandangannya. Dia tahu bahwa dia tidak bisa menyembunyikan apa yang terjadi selamanya, namun dia juga tidak tahu bagaimana harus memberitahukannya kepada siapapun.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...