Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - Si Paling Murahan
“Besok pagi jangan lupa pakai baju pink atau kuning, Baby.”
Kata-kata Aga masih bergema di telinga Gwen saat ia terbangun keesokan paginya. Cahaya matahari pagi menyusup lembut melalui tirai tipis kamarnya. Gwen duduk di tepi tempat tidur, tangannya tanpa sadar menyentuh leher dan dada yang masih meninggalkan jejak samar dari malam tadi. Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu cepat pudar ketika ia ingat omongan ibunya bertahun-tahun lalu.
Ia melangkah menuju lemari pakaian, membukanya perlahan. Deretan baju berwarna gelap menatapnya seperti teman lama yang setia. Tapi di sudut paling dalam, tersembunyi beberapa potong baju berwarna cerah yang ia beli diam-diam selama ini. Baju-baju yang belum pernah ia pakai di depan keluarga.
Tanpa pikir panjang, Gwen mengambil sebuah mini dress A-line berlengan panjang dari bahan katun lembut berwarna kuning butter—warna yang sedang tren saat ini. Warnanya lembut, tidak mencolok, tapi tetap cerah seperti mentega segar. Ia suka membeli baju pink dan kuning, tapi keberanian untuk memakainya selalu lenyap setiap kali bercermin.
Selesai mandi, Gwen mengenakan gaun itu. Kain katunnya jatuh lembut di tubuhnya yang kini ramping. Ia berdiri di depan cermin full body, mematut diri dari berbagai sudut.
“Apa warna ini bikin aku kelihatan gemuk? Cocok nggak sama warna kulitku? Terlalu norak, ya?”
Ya ampun, Gwen… ini cuma warna.
Rasanya ia ingin menendang jauh suara-suara yang terus mendengung di kepalanya itu. Tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Ia menghembuskan napas panjang, mengambil tas kerja, dan melangkah keluar kamar dengan hati yang berdebar.
Begitu keluar, tatapannya langsung bertemu dengan Pandji dan Aga yang sedang berdiri di koridor. Kamar Pandji memang berseberangan dengan kamarnya.
“Morning, cantik,” bisik Aga dengan suara rendah yang hanya terdengar oleh Gwen. Ia mendekat cepat, mencium pipi Gwen sekilas, lalu tangannya dengan nakal meremas pantat Gwen sebelum kabur ke arah tangga sambil tertawa kecil.
Gwen melotot, pipinya langsung memerah. “Aga!”
Pandji hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya. “Aku setuju sama si gila itu hari ini, Mba cantik banget.”
Gwen tersenyum malu-malu. “Makasih, Pandji.”
Mereka berdua turun ke meja makan. Cipto sudah duduk di kepala meja, membaca koran pagi sambil menyeruput kopi. Aga sudah duduk tenang di kursi sebelah kanan tempat Gwen biasanya duduk.
“Morning, Yah,” sapa Gwen sambil mendekat dan mencium pipi ayahnya.
“Morning, puteri kesayangan Ayah,” balas Cipto dengan senyum hangat.
Linda muncul dari dapur sambil membawa mangkuk nasi goreng. Begitu matanya jatuh pada mini dress kuning butter yang dikenakan putrinya, wajahnya langsung berubah.
“Gwen, Ibu kan sudah bilang jangan pakai warna pink dan kuning,” omelnya langsung dengan nada tajam. Ia meletakkan mangkuk nasi goreng ke meja dengan agak kasar. “Dua warna itu warna yang jahat. Bikin orang kurus sekalipun kelihatan gemuk, apalagi buat yang memang gemuk. Ibu lihat kamu sekarang kelihatan gemukan lagi. Stop makan nasi. Ibu buatkan salad saja.”
“Bu!” seru Pandji dan Cipto bersamaan.
Gwen merasa dadanya sesak. Ingin rasanya ia berteriak bahwa ia sudah tidak gemuk lagi. Bahwa meski dulu ia chubby, sekarang tubuhnya sudah berubah. Dan bahkan jika ia masih gemuk, apa salahnya memakai warna yang ia suka? Apa orang gemuk tidak boleh bergaya? Apa mereka harus selamanya bersembunyi di balik warna gelap?
Aga yang sudah duduk di meja makan sejak tadi angkat suara dengan nada lembut tapi tegas.
“Gemuk dari mananya, Tante?” ucapnya pelan, tatapannya tenang. “Gwen nggak gemuk kok. Langsing malah.”
Gwen memaksakan senyum, menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya. Untungnya, ia masih bisa bertahan.
“Langsing dari mananya?” balas Linda dengan nada sinis yang semakin tajam. “Pokoknya Gwen, Ibu nggak mau tahu. Sana ganti baju sekarang juga. Nanti kamu dihina orang, Ibu yang malu. Kamu itu belum nikah, pacar saja belum punya—bisa jatuh pasaran. Ingat, tenggat nikah kamu itu sudah kadaluarsa."
Cukup.
Gwen tidak tahan lagi. Dadanya terasa sesak, air mata nyaris jatuh. Ia meremas tas di tangannya erat-erat, menahan semuanya agar tidak runtuh saat itu juga. Ia tak ingin kedua orang tuanya bertengkar karena dirinya.
“Ibu, Ayah… aku ke kantor dulu.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Gwen berbalik dan berjalan cepat menuju pintu depan. Aga langsung ikut berdiri dari kursinya.
“Aku anter, searah,” ucapnya sambil mengejar Gwen dengan langkah panjang.
Sepanjang perjalanan di dalam mobil Aga, Gwen terus menangis. Air matanya mengalir tanpa suara, bahunya bergetar pelan. Ia menutup mulut dengan tangan agar isakannya tidak terlalu keras.
Aga sesekali meliriknya dengan khawatir. Begitu lampu merah menyala, ia menepikan mobil sebentar, mematikan mesin, lalu menarik Gwen ke dalam pelukannya yang hangat.
“Bagaimanapun bentuk tubuh kamu, confidence is a must,” bisik Aga lembut di rambut Gwen, suaranya penuh kasih sayang. “Itu bagian dari mencintai diri kamu sendiri. Nggak usah peduli omongan Ibu kamu untuk hal yang satu ini.”
Gwen mengangguk pelan di dada Aga, napasnya masih tersengal. Pelukan pria itu terasa seperti pelabuhan di tengah badai. Air matanya perlahan reda, tapi dada masih terasa sesak.
Aga melepaskan pelukan dengan enggan ketika lampu hijau menyala lagi. Tapi tangan kirinya tetap memegang tangan Gwen sepanjang perjalanan. Ia melirik Gwen dengan mata penuh kelembutan, lalu berbicara pelan.
“Kamu tahu, Baby… aku bangga banget sama kamu hari ini,” katanya dengan suara rendah yang hangat.
"Kamu nggak langsung lari ke kamar buat ganti baju meski Ibu ngomel keras. Itu bukan hal kecil. Kamu berani menghadapi suara-suara di kepalamu dan tetap keluar rumah dengan warna yang kamu suka. Itu keberanian yang besar.”
Gwen menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum di antara sisa air mata. Pujian Aga kali ini terasa berbeda — bukan sekadar kata manis tentang penampilan, tapi pengakuan atas perjuangannya.
“Terima kasih…” bisiknya pelan. “Kadang aku merasa bodoh karena hal sesederhana memakai baju warna kuning bisa bikin aku takut setengah mati.”
“Bukan bodoh,” jawab Aga tegas tapi lembut. “Itu luka lama yang butuh waktu buat sembuh. Dan aku di sini, mau nemenin kamu langkah demi langkah. Besok coba pink ya? Aku mau lihat kamu terus berani. Atau kalau kamu mau, kita belanja bareng akhir pekan ini. Kamu pilih baju warna apa pun yang bikin kamu senyum waktu lihat cermin.”
Mobil terus melaju pelan. Gwen menghembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan rileks. Kata-kata Aga kali ini terasa seperti pelukan yang lebih dalam—bukan hanya memuji penampilan, tapi juga mengakui perjuangannya.
Terkadang ia merasa, meskipun usia mereka terpaut jauh, Aga jauh lebih dewasa dari yang terlihat. Di balik kemesumannya, pria itu tahu kapan harus serius… dan bagaimana memperlakukan Gwen dengan cara yang membuatnya merasa aman.
“Terima kasih,” gumam Gwen akhirnya, suaranya lebih tenang. “Bukan cuma karena pujiannya… tapi karena kamu selalu ada di sampingku.”
“Anything for you, Baby,” ucap Aga pelan, suaranya tenang dan hangat.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Aga terus memegang tangan Gwen dengan erat. ia sengaja bercerita tentang Pandji yang menggodanya habis-habisan, menyebut dirinya sebagai cowok paling murahan karena cintanya pada Gwen sejak dulu. Cerita-cerita konyol itu mengalir, berusaha mengalihkan perhatian Gwen dari air mata yang masih membasahi pipinya. Suaranya yang tenang perlahan membuat bahu Gwen rileks, meski sesekali isakan kecil masih lolos. hapus ia
"Nanti malam aku jemput ya?" tanya Aga penuh harap.
Gwen menggeleng pelan. "Nanti malam aku lembur, Ga."
Aga langsung merajuk. Bibirnya manyun seketika, alisnya bertaut, dan matanya memandang Gwen seperti anak kecil yang kehilangan permen kesukaannya.
"Ya ampun... lembur lagi? Tiap hari lembur mulu sih," protesnya dengan suara manja yang dibuat-buat, sambil menggoyang-goyangkan tangan Gwen pelan.
"Aku mau ngajak kamu makan malam, terus pulang peluk sambil enak - enak di sofa. Eh malah ditinggal kerja. Jahat banget sih calon istriku."
Gwen tak bisa menahan senyum melihat ekspresi Aga yang berlebihan itu.
"Kalau gitu aku nunggu di lobi sampe kamu selesai, boleh? Aku rela jadi patung hidup di depan kantor kamu. Atau aku bawa bantal sama selimut, tidur di sofa ruang tunggu kamu."
Gwen tertawa "Nggak usah lebay. Pulang aja, istirahat." Ucapnya sambil mengusap pipi Aga.
Aga menghela napas panjang dengan sangat dramatis, bahunya melorot lemas. "Ya udahhh... tapi besok malam kamu harus pulang tepat waktu ya? Kalau enggak, aku bakal datang ke kantor kamu bawa spanduk besar 'Gwen pulang sekarang juga, ini calon suaminya kesepian'."
Gwen terkekeh, matanya berbinar geli. "Ya ampun, Aga... kamu ini aku kerja loh bukan lagi main. Aku ingin membuktikan sama Ibuku bahwa aku masih bisa bersinar meskipun sudah 30 tahun."
Aga mendengus, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Gwen lebih erat, seolah tak rela melepaskannya.
Sesampainya di depan gedung kantor, Gwen merapikan make-up yang berantakan karena tangis tadi. Ia melepaskan sabuk pengaman dengan satu gerakan halus, lalu tubuhnya mendekat. Aroma vanila menyeruak ke hidung Aga.
Tanpa banyak kata, Gwen meraih tengkuk Aga dengan tangan lembutnya, jari-jarinya menyusup ke rambut pendek pria itu.
Ciuman itu datang seperti badai manis yang tak terduga. Bibir Gwen menekan bibir Aga dengan lembut namun penuh tuntutan. Lidahnya menyelinap masuk pelan, menggoda, menjelajah. Aga sempat terkejut sepersekian detik sebelum membalas dengan sama panasnya. Tangan besarnya langsung meraih pinggang Gwen, menariknya lebih dekat meski terhalang sabuk pengaman dan console mobil.
Ciuman mereka dalam, penuh gairah, dan penuh kepemilikan. Lidah mereka saling menari, napas bercampur menjadi satu, gigi sesekali bergesekan karena terlalu bersemangat. Aga bisa merasakan denyut nadi Gwen yang cepat di lehernya, merasakan tubuh wanita itu sedikit gemetar dalam pelukannya.
Tangan Gwen menelusuri dada Aga, meremas kemeja hitamnya seolah ingin menarik pria itu lebih dalam lagi.
Ciuman itu berlangsung lama — panas, basah, dan sarat emosi yang tak terucapkan. Saat akhirnya mereka berpisah, keduanya sudah kehabisan napas. Bibir Gwen sedikit bengkak dan mengkilap, pipinya merona merah.
Gwen menatap mata Aga dari jarak sangat dekat, napasnya yang hangat menyapu wajah pria itu.
"Terima kasih karena selalu ada disampingku," bisiknya lembut.
Ibu jarinya mengusap bibir bawah Aga yang basah dengan penuh kasih sayang.
"Aku kerja dulu, Cinta."
Ia turun dari mobil dengan anggun, dress kuningnya jatuh rapi membalut tubuhnya.
Pintu mobil tertutup pelan. Aga tetap duduk di kursi supir, pipinya memerah, jantungnya berdegup kencang—perasaan yang belum sepenuhnya reda, bercampur hangat hingga memenuhi dadanya.
“Brengsek… bener kata Pandji, gue emang murahan kalau soal Gwen,” gumamnya sambil tersenyum tipis. Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri, masih hangat, masih terasa ciuman Gwen.
“Cuma gitu doang… tapi bisa bikin gue meleleh.”
inilah inti perjalanan ke depan
good job thor
lanjuttt
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍