"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Sinar Mentari di Meja Makan
Cahaya matahari pagi yang hangat menyusup malu-malu melalui celah gorden, menyapu wajahku yang masih terbenam di balik bantal sutra. Aku mengerang pelan, merasakan pegal yang tidak biasa di sekujur tubuhku. Namun, rasa hangat di pinggangku membuatku urung untuk bergerak.
Sebuah lengan kokoh melingkar posesif di sana, menarikku semakin rapat ke dada bidang yang keras.
[Dia masih di sini... Dia tidak lari. Dia benar-benar tidur di pelukanku semalam. Ya Tuhan, bau rambutnya... aku ingin menghirupnya selamanya. Haruskah aku pura-pura tidur agar dia tidak pergi?]
Aku menahan senyum mendengar suara hati Liam yang begitu manja. Aku berbalik perlahan, mendapati wajah Liam yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Matanya terpejam, tapi bulu matanya yang lentik sedikit bergetar—dia sedang akting.
"Bangun, Liam. Aku tahu kau sudah sadar sejak tadi," bisikku sambil mencubit hidung bangirnya.
Liam tersentak, membuka mata obsidiannya yang kini berkilat penuh binar kebahagiaan—sesuatu yang sangat langka kulihat sebelumnya. Ia tidak melepaskan pelukannya, justru semakin mengeratkannya.
"Selamat pagi, Istriku," suaranya serak, rendah, dan sangat seksi khas bangun tidur.
"Pagi, Tuan Alexander yang Posesif," balasku sambil mencoba melepaskan diri. "Lepaskan, aku harus mandi dan menyiapkan sarapan untuk Axelle."
Liam merengek pelan—ya, CEO kejam ini benar-benar merengek di dalam hatinya.
[Jangan pergi dulu... Lima menit lagi saja. Aku sudah menunggu enam belas tahun untuk pagi seperti ini. Kenapa dia rajin sekali ingin memasak? Aku bisa membeli seluruh restoran jika dia mau, asal dia tetap di sini bersamaku.]
"Hanya lima menit," ucap Liam kaku secara lisan, mencoba menjaga wibawanya yang sudah runtuh semalam.
"Satu menit pun tidak boleh. Axelle akan segera berangkat sekolah, Liam. Aku tidak mau dia melihat ayahnya menjadi pemalas," aku memberikan kecupan singkat di pipinya, yang sukses membuat pria itu mematung seperti tersengat listrik.
[DIA MENCIUMKU! DIA MENCiumku duluan! Oke, aku akan bangun. Aku akan melakukan apa pun! Aku akan menaklukkan dunia hari ini karena kecupan itu!]
Tiga puluh menit kemudian, aku sudah berada di dapur, sementara Liam mandi di kamar atas. Bau harum nasi goreng mentega dan omelet keju memenuhi ruangan. Aku bersenandung kecil, merasa hidupku di dunia fiksi ini jauh lebih berwarna daripada saat menjadi pegawai bank.
"N-Nyonya... sarapannya biar saya yang hidangkan ke meja," ucap salah satu pelayan dengan wajah yang masih tampak heran melihatku begitu rajin.
"Terima kasih, Bi. Tolong panggilkan Axelle juga, ya," jawabku ramah.
Saat aku menata piring di meja makan, Axelle turun dengan seragam sekolahnya yang rapi. Langkahnya terhenti saat melihatku. Ia menatapku, lalu menatap meja makan, lalu menatap kursi kosong milik ayahnya.
"Pagi, Sayang. Kemari, sarapan dulu," sapaku lembut.
Axelle duduk dengan ragu. "Pagi... Ma. Di mana Papa?"
"Sedang mandi. Sebentar lagi turun," jawabku sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap terdengar dari tangga. Liam muncul dengan setelan jas hitamnya yang sangat rapi, namun ada yang berbeda. Auranya tidak lagi suram dan dingin. Ia tampak... bersinar.
Liam duduk di kursi utamanya, tepat di sebelahku. Ia melirik Axelle, lalu melirikku.
"Selamat pagi, Axelle," ucap Liam dengan nada yang jauh lebih bersahabat dari biasanya.
Axelle hampir menjatuhkan garpunya. Ia menatap ayahnya dengan mata membelalak. "Pagi, Pa. Papa... sehat?"
Liam berdehem, sedikit salah tingkah. "Tentu saja aku sehat. Kenapa bertanya begitu?"
[Anak ini... apa dia menyadari sesuatu? Apa wajahku terlihat terlalu bahagia? Aku harus tetap terlihat dingin. Tapi sulit sekali! Aku ingin tersenyum terus!]
"Wajah Papa... tidak seperti biasanya," gumam Axelle pelan, lalu kembali fokus pada makanannya.
Aku tersenyum geli melihat interaksi ayah dan anak tsundere ini. Aku mengambil sepotong omelet dan meletakkannya di piring Liam. "Makan yang banyak, Liam. Kau butuh tenaga untuk rapat hari ini."
Liam menatap omelet itu seolah-olah itu adalah batangan emas murni.
[Dia memperhatikanku di depan Axelle! Oh, hatiku mau meledak! Aku ingin memamerkan ini pada seluruh pemegang saham Alexander Group! Lihat, istriku yang jenius menyuapiku sarapan!]
"Terima kasih," sahut Liam pendek, namun sudut bibirnya tidak bisa berhenti berkedut naik.
"Axelle," panggilku tiba-tiba, membuat remaja itu mendongak. "Soal luka di bibirmu semalam... apa masih sakit? Mama sudah menyiapkan kotak P3K di tas sekolahmu kalau-kalau perih lagi."
Axelle tertegun. Ia menyentuh sudut bibirnya yang sudah mulai mengering. "Sudah tidak sakit, Ma. Terima kasih."
"Baguslah," aku mengusap kepala Axelle pelan—sesuatu yang membuatnya membeku namun tidak menolak. "Jika Lucas mengganggumu lagi, katakan pada Mama. Mama sudah memberikan 'peringatan' pada ayahnya semalam."
Liam langsung menoleh padaku, matanya menyipit protektif. "Kau bicara dengan Andreas semalam?"
"Hanya membuang sampah, Liam. Jangan khawatir," balasku santai.
[Istriku... dia begitu berani. Dia melindungiku, dia melindungi Axelle. Aku benar-benar pria paling beruntung di dunia. Aku akan memastikan Elodie dan Andreas tidak akan punya kesempatan untuk bernapas lega mulai hari ini.]
Suasana meja makan yang biasanya sunyi dan mencekam kini terasa hangat. Meskipun minim kata-kata, namun ada ikatan yang mulai tumbuh di antara kami bertiga.
"Aku berangkat," ucap Axelle sambil berdiri dan menyalami Liam—hal yang jarang ia lakukan. Kemudian, ia berbalik menatapku sejenak. "Ma... masakan Mama enak. Sampai jumpa nanti sore."
Axelle pergi dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Aku menghela napas lega, mataku berkaca-kaca.
"Dia bilang enak, Liam..." bisikku haru.
Liam menggenggam tanganku di bawah meja, meremasnya lembut. "Dia menyukaimu, Blair. Dia hanya butuh waktu untuk percaya."
[Dan aku juga sangat menyukaimu. Bukan, aku mencintaimu. Terima kasih sudah mengubah rumah ini menjadi rumah yang sebenarnya, Blair.]
Aku menatap Liam, dan untuk pertama kalinya, aku tidak hanya mendengar suara hatinya, tapi aku bisa melihat cinta itu di matanya yang dalam.
"Sekarang, giliranmu berangkat kerja, Tuan CEO," godaku sambil merapikan dasinya.
Liam berdiri, namun ia tidak langsung pergi. Ia merunduk, membisikkan sesuatu di telingaku. "Tunggu aku pulang. Aku punya kejutan untukmu sore ini."
[Aku akan membelikanmu berlian paling langka yang pernah ada sebagai tanda cintaku. Tapi itu rahasia!]
Aku tertawa kecil. "Berlian lagi? Kau tidak punya ide lain?"
Liam tersentak. "Bagaimana kau tahu aku mau beli berlian?!"
"Rahasia," sahutku sambil mengedipkan mata, membiarkannya pergi dengan wajah bingung yang menggemaskan.
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/